Mendukung Vaksinasi Covid-19 dan Partisipasi Lembaga Keagamaan

19
Presiden RI Joko Widodo saat divaksin.

Narwastu.id – Tahapan vaksinasi Covid-19 di Indonesia resmi dimulai pada Rabu, 13 Januari 2021 lalu. Presiden RI Ir. H. Joko Widodo menjadi orang pertama yang disuntik vaksin Covid-19 buatan Sinovac Biotech Ltd tersebut. Bertempat di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jokowi mendapatkan suntikan vaksin Covid-19 pertama sekitar pukul 09.42 WIB. Dokter yang melakukan penyuntikan kepada Jokowi, yakni Wakil Ketua Dokter Kepresidenan sekaligus Staf Divisi Hematologi Onkologi Medik RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Prof. dr. Abdul Muthalib, S.p PD-KHOM.

Penyuntikan berlangsung singkat, hanya beberapa menit. Usai disuntik, Jokowi spontan memberikan pendapat bahwa vaksinasi yang dialaminya tidak terasa sakit. “Enggak terasa sama sekali,” ucap Jokowi yang mantan Gubernur DKI Jakarta yang Pancasilais itu. Mereka yang divaksin bersama Jokowi itu menandai dimulainya rangkaian vaksinasi untuk mengatasi pandemi di Indonesia. Selain Jokowi, sejumlah pejabat dan tokoh juga ikut menjalani vaksinasi perdana Covid-19 di Istana Kepresidenan pada Rabu pagi itu. Mereka semua berasal dari berbagai elemen masyarakat, baik pejabat, tokoh agama, petugas kesehatan, perwakilan pengusaha, perwakilan guru, artis, buruh hingga pedagang pasar.

Adapun mereka adalah Ketua Umum PB IDI Daeng M. Faqih, Sekjen MUI Amirsyah Tambunan, Kyai Ishomuddin dari PBNU, Panglima TNI Hadi Tjahjanto, Kapolri Jenderal Idham Azis, dan artis Raffi Ahmad. Selain itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Ketua PGRI Unifah Rasyidi serta perwakikan dari PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia), KWI (Konferensi Waligereja Indonesia), PHDI, Permabudhi dan Matakin. Kemudian, Kepala BPOM Penny Lukito, Ketua Kadin Rosan Roeslani, Sekjen Ikatan Bidan Indonesia Ade Zubaedah, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito, Juru Bicara Vaksinasi Reisa Brotoasmoro.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadini.

Untuk perwakilan perawat ada Nur Fauzah, perwakilan buruh oleh Agustini Setiyorini, dan Ibu Narti yang mewakili pedagang pasar. Dilanjutkan penyuntikan di berbagai daerah. Dan Presiden Jokowi menyampaikan pesan dan harapannya terhadap vaksinasi di Indonesia. Jokowi mengatakan, vaksin Covid-19 sudah lama ditunggu-tunggu masyarakat. Setelah ini, proses vaksinasi akan dilanjutkan kepada masyarakat di seluruh daerah. “Setelah kita melakukan vaksinasi perdana ini nanti akan terus dilanjutkan vaksinasi di seluruh provinsi, kabupaten dan kota di seluruh Tanah Air,” kata Jokowi.

Vaksinasi penting untuk memutus mata rantai penularan virus corona. Selain memberikan perlindungan terhadap kesehatan masyarakat, vaksinasi juga diharapkan dapat membantu percepatan pemulihan ekonomi. Meski vaksinasi sudah dimulai, Jokowi tetap meminta masyarakat disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan pencegahan virus. “Ini tetap terus kita lakukan, memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak dan menghindari kerumunan,” kata mantan Wali Kota Solo itu. Pemerintah menargetkan vaksinasi akan dilakukan kepada 70 persen populasi masyarakat di Indonesia. Artinya, ada 181,5 juta jiwa yang akan disuntik vaksin. Dengan sasaran vaksinasi tersebut, butuh 426 juta dosis vaksin karena setiap orang harus mendapatkan dua kali suntikan untuk vaksinasi Covid-19.

Selain Sinovac, Indonesia sudah menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan penyedia vaksin Covid-19. Beberapa perusahaan itu antara lain Novavax, AstraZeneca, Pfizer, dan COVAX/GAVI. Vaksin Novavax dan Pfizer berasal dari Amerika Serikat, sementara AstraZeneca dari Inggris. Adapun COVAX/GAVI merupakan vaksin yang diinisiasi oleh aliansi vaksin Gavi serta didukung WHO dan Koalisi untuk Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi (CEPI).

Ketua Umum PGI Pdt. Gomar Gultom, M.Th.

Selain itu, pemerintah Indonesia sendiri melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional bekerja sama dengan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman serta sejumlah institusi lain sedang mengembangkan vaksin yang didasarkan pada strain virus di Indonesia, yakni vaksin merah-putih. Pemerintah telah menetapkan tahap vaksinasi Covid-19 di Indonesia membutuhkan waktu sekitar 1,5 tahun untuk menuntaskan vaksinasi Covid-19 di Indonesia. Namun, Presiden Joko Widodo mendorong percepatan proses vaksinasi dalam waktu satu tahun saja.

Dalam rangka itulah semua pihak diharapkan dapat terlibat untuk melaksanakan program vaksinasi ini. Seperti yang dilakukan oleh Kementerian Agama RI bersama Kementerian Kesehatan RI yang menggelar vaksinasi kepada tokoh lintas agama di Basement Masjid Istiqlal, Jakarta, pada Selasa, 23 Februari 2021 lalu. Kegiatan bertajuk “Pekan Vaksinasi Tokoh Lintas Agama” ini, berlangsung selama satu minggu.  Dalam siaran pers yang dikeluarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kemenkes RI, pada Selasa, 23 Februari 2021, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan, semua umat beragama akan divaksinasi, dan bukan hanya vaksinasi untuk pemuka agama tapi vaksinasi ini bertujuan untuk merajut kebersamaan dari seluruh keberagaman.

Sebuah pemandangan masyarakat yang menerima vaksin untuk melawan Covid-19.

Pelaksanaan vaksinasi di Masjid Istiqlal bagi tokoh agama akan menjadi pilot project untuk dilaksanakan di tempat lain. “Vaksin yang sudah didistribusikan ke seluruh ibu kota provinsi sebanyak 4 juta, nanti 3 juta lagi akhir bulan ini dan salah satu target yang divaksinasi memang pemuka agama jadi nanti ini sebagai pilot project mudah-mudahan bisa segera kita replikasi ke daerah-daerah lain,” tambah Budi.

Vaksinasi di Masjid Istiqlal menargetkan 1.100 sampai 1.200 orang setiap harinya. Plt. Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu, DHSM, MARS mengatakan, pelaksanaan vaksinasi di Masjid Istiqlal akan mencoba dilakukan selama sepekan. “Saya kira ini contoh yang sangat baik, para tokoh-tokoh agama semua bersatu di sini untuk divaksin dan bisa kita lakukan juga di tempat-tempat lain di seluruh Indonesia,” ucapnya.

Vaksinasi ini dilaksanakan dengan kerja sama Kemenkes, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), Poltekkes, rumah sakit vertikal Kemenkes, kemudian dari tenaga kesehatan TNI-Polri, dari rumah sakit keagamaan NU dan Muhammadiyah bergabung di Masjid Istiqlal. Secara teknis pelaksanaan vaksinasi dilakukan melalui 5 tahapan, tahapan pertama penerima vaksinasi menuju ke Meja 0 untuk verifikasi data, tahapan kedua dilanjutkan ke Meja 1 untuk pendaftaran, tahapan ketiga ke Meja 2 untuk skrining kesehatan, tahapan keempat ke Meja 3 vaksinasi, dan tahapan terakhir observasi. Tokoh agama menjadi salah satu prioritas program vaksinasi Covid-19. Peran para tokoh agama, baik Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Khonghucu memiliki tugas yang langsung berhubungan dengan masyarakat dalam melakukan pembinaan keagamaan.

Tokoh gereja Pdt. DR. Anna B. Nenoharan dan Pdt. DR. Benny Nenoharan sudah menerima vaksin.

Dr. Maxi mengatakan, tokoh agama merupakan kategori petugas pelayanan publik mengingat tugas dan fungsinya di Indonesia adalah sebagai pemuka agama yang langsung berhadapan dengan masyarakat. Namun demikian, secara kebetulan para tokoh agama ini kebanyakan sudah lansia. Selain itu, dengan divaksinnya tokoh agama bisa menjadi contoh bagi masyarakat untuk divaksinasi.

Melibatkan Lembaga Keagamaan

Pemerintah melalui Kemenkes RI juga menggandeng sejumlah lembaga keagamaan, seperti Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI). Khusus pelaksanaan vaksinasi di PGI, selain para rohaniwan tetapi juga para lansia yang menjadi target. Tercatat sebanyak 400 orang lansia dan rohaniwan menerima vaksinasi yang dilaksanakan di Grha Oikoumene, Jakarta Pusat, pada Kamis, 4-5 Maret 2021 lalu. Kegiatan vaksinasi dilaksanakan dengan mengikuti protokol kesehatan yang ketat.  Ketua Umum PGI Pdt. Gomar Gultom, M.Th, mengaku sangat beryukur dan berterimakasih kepada  pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan RI, karena diberi kepercayaan untuk melaksanakan program vaksinasi. “Bagi kami di PGI demikian pula gereja-gereja di seluruh Indonesia melihat vaksin ini merupakan panggilan iman kita untuk mensukseskannya karena di tengah ketidakpastian kapan pandemi ini akan berakhir, dan salah satu hasil dari vaksinasi ini adalah meningkatkan daya tahan tubuh. Sebab itu, segala upaya untuk menghentikan penyebarannya harus didukung dan diupayakan,” jelasnya.

Ketua Umum PGI menambahkan, vaksinasi Covid-19 yang dilaksanakan oleh PGI ini juga melibatkan tenaga kesehatan yang terlatih dari Rumah Sakit PGI Cikini, Rumah Sakit FK UKI, dan Persekutuan Dokter GBI. Kegiatan serupa rencananya juga akan dilaksanakan bersama di antaranya dengan GKI Pondok Indah, dan JPCC.

Kegiatan vaksinasi Covid-19 di PGI ditinjau langsung oleh Menteri kesehatan RI Budi Gunadi Sadini. Pada kesempatan itu, Budi Gunadi yang didampingi juga oleh MPH-PGI, sempat berdialog kepada seluruh peserta vaksinasi. Menkes RI menyampaikan terima kasih atas kegiatan yang telah dilaksanakan bersama PGI. Karena, menurutnya, begitu banyak lansia yang harus divaksinasi, dan tidak mungkin pemerintah melakukannya sendiri. Tidak mungkin Kementerian Kesehatan melakukannya secara eksklusif, tetapi kita harus melakukannya secara inklusif.

Pdt. DR. Tema Adiputra Harefa (Akademisi dan rohaniwan) saat menerima vaksin.

“Tidak mungkin kita melaksanakannya hanya dalam bentuk program, tetapi harus membangun bersama seluruh komponen bangsa. Sebab itu, kami berharap dapat disampaikan ke seluruh anggota PGI sehingga seluruh jemaatnya yang lansia bisa segera divaksinasi,” katanya.

Lanjut Menkes RI, vaksin yang diberikan kepada masyarakat merupakan alat pelindung bagi individu dan masyarakat. “Pesan saya hanya satu, kepada teman-teman saya rakyat Indonesia bahwa vaksin ini adalah alat yang bisa dipakai untuk melindungi kita,” ujar Budi di Istana Kepresidenan, Jakarta, baru-baru ini. “Tetapi yang lebih penting vaksin ini juga digunakan untuk melindungi keluarga kita, tetangga-tetangga kita, rakyat Indonesia dan peradaban umat manusia di dunia,” ucap dia.

Masyarakat tetap diharapkan mengikuti protokol kesehatan dengan memakai masker dalam aktivitas sehari-hari.

Budi Gunadi menambahkan, tantangan dalam menghadapi pandemi Covid-19 adalah bagaimana mengubah perilaku dari yang sebelumnya tidak menggunakan masker sekarang menggunakan masker, jaga jarak, cuci tangan dan lainnya. Ajakan untuk mengubah perilaku ini hanya bisa diajarkan oleh ibu, guru dan tokoh agama. “Jadi itulah sebabnya Kemenkes RI pendekatan ke lembaga-lembaga keagamaan, karena merekalah yang dapat menggerakkan perubahan perilaku, termasuk untuk mau divaksin. Kami meminta pada PGI, sebelumnya pada KWI dan tokoh-tokoh pemuka agama untuk membantu pemerintah dalam menyebarkan proses vaksinasi, khususnya bagi lansia,” jelasnya.

Kegiatan vaksinasi Covid-19 kepada lansia dan rohaniwan yang dilaksanakan oleh PGI bersama Kemenkes RI mendapat apresiasi dari salah satu rohaniwan, Ketua Umum Sinode Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Pdt. Hendra Gunawan. Menurutnya, semua dilakukan dengan luar biasa dan profesional. “Saya sebagai lansia merasa sangat senang karena difasilitasi dengan bagus, tanpa antri, nyaman dan semuanya teratur dengan baik, sangat profesional. Berharap ini akan dilakukan kontinyu. Memang pekerjaan tidak ringan, tapi saya percaya kerjasama antara pemerintah dengan organisasi keagamaan seperti PGI pasti menjadi jaminan kesuksesan vaksinasi,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Amelia (57 tahun) dari lembaga Mision 21. Dia mengaku sangat bersyukur karena bisa menerima vaksinasi. Menurutnya, vaksinasi yang berlangsung di PGI berjalan lancar dan baik. “Proses vaksinasi sangat baik, tidak ada efek samping yang saya rasakan, bahkan setelah proses observasi setelah vaksin. Semua berjalan lancar dan rapih, meski sempat ada beda data saya tetapi semua bisa diselesaikan dengan baik,” tukasnya. Amelia berharap seluruh rakyat Indonesia juga bisa segera menerima vaksin tanpa curiga atau kekhawatiran apapun. JH

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here