Kala PGI dan PBNU Bicara Dampak Kemenangan Taliban Bagi Indonesia

8
Situasi di Afganistan saat Taliban hadir.

Narwastu.id – Pasukan Taliban berhasil mengambil alih pemerintahan di Afganistan pada Agustus 2021. Hal ini menjadi salah satu berita yang menggemparkan dunia, termasuk di Indonesia. Kekhawatiran pun menyeruak mengingat sepak terjang pasukan Taliban di masa lalu yang dianggap sebagai kelompok radikal dan teroris. Tidak mengherankan jika warga Afganistan yang berusaha ke luar dari negara tersebut khawatir akan kebijakan yang akan dilakukan oleh pemerintahan Taliban di Afganistan. Meski demikian, ada juga yang berpendapat Taliban yang sekarang beda dangan yang lalu. Meski belakangan banyak tindakan Taliban yang dianggap melanggar hak asasi manusia (HAM) seperti kebijakan yang baru saja dikeluarkan, yaitu larangan bagi perempuan Afganistan untuk berpartisipasi dalam olahraga, termasuk tim olahraga kriket perempuan nasional negara itu, karena dinilai tidak pantas dan tidak perlu.

Kecurigaan pun muncul, dan Taliban akan menerapkan kembali aturan Islam versi keras yang pernah mereka lakukan sebelum digulingkan pada 2001. Komisioner Hak Asasi Manusia PBB Michelle Bachelet pada Selasa (24 Agustus 2021) mengatakan, hak-hak wanita Afganistan berada di “bawah garis merah”. Ia sangat prihatin atas hal itu. Selain mengungkapkan keprihatinan atas hak-hak perempuan, Bachelet juga mengatakan dia telah menerima laporan perekrutan tentara anak dan eksekusi oleh Taliban. Dia berbicara pada pertemuan darurat Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa, Swiss. Setelah itu, dewan mengesahkan sebuah resolusi yang menegaskan “komitmen tak tergoyahkan” untuk hak-hak perempuan dan anak perempuan. Namun, resolusi tersebut tidak memenuhi apa yang diminta oleh banyak kelompok hak asasi manusia, khususnya tidak merekomendasikan penunjukan penyelidik khusus PBB untuk Afghanistan.

Michelle Bachelet.

Kekhawatiran juga datang dari kalangan aktivis Kristen di Pakistan, sehingga mendesak masyarakat internasional untuk menyelamatkan kelompok minoritas agama yang kini berada dalam ketidakpastian setelah Taliban memegang kendali di Afganistan. Umat Kristen termasuk minoritas agama yang turut mengalami perlakuan tidak adil di Afganistan. Banyak dari mereka yang telah meninggalkan kota-kota utama di Afganistan, dan hal ini tidak mendapat perhatian internasional, menurut Pastor Irfan James, yang sempat mengunjungi wilayah Shahr-e Naw di kabul, Afganistan. Diperkirakan sekitar 5.100 orang Kristen, bersama pengungsi lainnya telah diterbangkan keluar Afganistan oleh the Nazarene Fund, sebuah organisasi yang memberi perhatian pada upaya penyelamatan orang-orang yang berada dalam tawanan. Umat Kristen di Afganistan diperkirakan berjumlah 10.000 sampai 12.000 jiwa, kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang pindah agama dari Islam ke Kristen.

Karena itu, selama beberapa dekade, mereka harus menjalankan keyakinannya secara sembunyi-sembunyi (underground) mengingat pindah agama dianggap sebagai tindakan kriminal di bawah hukum Sharia yang berlaku di Afganistan.

Irfan James.

Dalam diskusi daring bertajuk “Taliban Menang, Indonesia Tegang,” yang diinisasi oleh PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) bersama PB NU pada Rabu (25 Agustus 2021), aktivis kemanusiaan Alto Labetubun, yang selama 10 tahun menetap di Afganistan, mengungkapkan, mudahnya pasukan Taliban dapat dengan cepat masuk dan mengambil alih kekuasaan, karena rakyat Afganistan sangat loyal kepada suku atau klan, bukan kepada negaranya.

“Inilah yang menyebabkan Taliban dapat dengan cepat masuk dan mengambil alih kekuasaan. Ditambah lagi pemerintahan Afganistan sebelumnya dibangun dari pondasi yang tidak stabil. Sehingga penegakan hukum dan rasa nasionalisme di negara ini sangat rendah, dan budaya demokrasi yang diciptakan tidak kuat. Sementara korupsi dan konflik juga sangat tinggi,” jelasnya. Lanjut Alto, yang menjadi pertanyaan, apakah Taliban yang dulu sama dengan yang sekarang?Menurutnya, Taliban sekarang memang menciptakan wajah yang sedikit berbeda secara optik, seperti melakukan negosiasi atau dialog. Ini wajah politik yang cukup berbeda dengan Taliban zaman sebelumnya. “Kedua, ada narasi-narasi Taliban untuk tidak mau lagi menjadi safe heaven bagi kelompok teror. Namun saya tidak yakin perubahan radikal ini akan diterjemahkan dalam proses good government. Karena kekuatan Taliban adalah kekuatan yag direkatkan dengan kepentingan pragmatis,” jelasnya. Lebih jauh dijelaskan, dirinya tidak melihat adanya korelasi signifikan terhadap perubahan pola dan trend terorisme di Indonesia.

Mayjen TNI (Purn.) Anshory Tadjudin.

“Sebab itu, kita tak usah tegang. Karena harus percaya kepada penegak hukum kita yang luar biasa untuk memetakan jaringan terorisme. Beberapa hari terakhir kita lihat sudah menangkap lebih dari 50 orang. Kemenangan Taliban memang bisa memunculkan narasi glorifikasi oleh kelompok teroris, juga politikus di Indonesia. Ini yang perlu disikapi supaya tidak lagi terjebak dalam kerangka berpikir pragmatis yang sangat mengedepankan politik identitas,” tegas Alto.

KH Dr. Marsudi Syuhud.

Sementara itu, mengawali paparannya, KH Dr. Marsudi Syuhud mengungkapkan hubungan yang terjalin selama ini antara PB NU dengan Taliban. Menurutnya, dalam sejumlah pertemuan yang pernah dilakukan dengan kelompok ini, terakhir pada 30 Juli 2019 di Jakarta, PB NU selalu menyampaikan masukan yang intinya agar Taliban dengan suku atau klan yang ada di Afganistan bersatu. “Kami juga mendorong untuk segera melakukan musyawarah agar bisa mendapatkan kata yang sama seperti di Indonesia ada konsensus nasional. Supaya dari macam-macam organisasi ke-Islaman yang ada di sana bisa mengimplementasikan cinta tanah air adalah sebagian daripada iman. Juga agar jangan lagi Taliban punya potret seperti masa lalu. Saya lihat Taliban hari ini ingin melakukan apa yang disampaikan PB NU. Sehingga pesan-pesan yang mereka sampaikan sangat berbeda dengan Taliban pada masa lalu,” katanya.

Lantas apakah kemenangan Taliban dapat mempengaruhi Indonesia? Menurutnya, fakta menunjukkan Indonesia telah lebih dulu merdeka, dan Taliban melakukan studi ke Indonesia termasuk ke NU, agar bisa membuat negara yang berdiri kokoh. Sehingga diharapkan Indonesia yang bisa mempengaruhi Taliban untuk bisa mendirikan negara. “Karena mereka butuh pengakuan, maka akan ada dialog. Ketika dialog bisa ketemu kata yang sama, sekarang menemukan kata yang sama tidak gampang. Begitu mereka bisa menemukan kalimat kenegaraan yang tepat seperti Pancasila, ini akan membantu mereka. Kita doakan agar Afganistan berdiri menjadi negara yang kuat dan bisa diakui. Jadi kita biasa-biasa saja,” tukas Marsudi. Sedangkan Mayjen TNI (Purn.) Anshory Tadjudin melihat, kemenangan Taliban untuk yang kedua kalinya ini, tidak perlu menimbulkan ketegangan di Indonesia. Tetapi justru kita dapat mengambil pelajaran karena sudah 40 tahun Afganistan dilanda konflik sehingga muncul kemiskinan dan masyarakatnya tercerai berai. “Saya berharap Taliban bisa menepati janji untuk menjunjung tinggi HAM. Sekaligus berharap NU dengan anggotanya di Afganistan dapat terus membangun jejaring dan membantu mereka,” pungkasnya. GH

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here