Kompera PGIW DKI Jakarta Gelar Ibadah Memperingati ACWC 2025

11
Suasana acara memperingati ACWC 2025 di GPIB Shalom, Jakarta Barat.

Narwastu.id – Komisi Perempuan dan Anak (Kompera) PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) Wilayah DKI Jakarta melaksanakan ibadah dalam rangka memperingati Asian Church Women’s Conference (ACWC) 2025, yang mengusung tema “Melayari Badai Kehidupan: Bertahan, Pulih, dan Menjalani Hidup dengan Baik” di Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Jemaat Shalom, Jakarta Barat, pada Senin, 17 November 2025. Melalui tema tersebut, kaum perempuan sebagai bagian dari persekutuan gereja di Asia, meski dalam derasnya gelombang badai kehidupan yang saat ini melanda dunia, meliputi peperangan yang berkepanjangan, krisis ekologi yang mengancam alam dan manusia, ketidakstabilan ekonomi, keretakan keluarga, tantangan dalam pelayanan gereja, serta bencana yang terjadi di berbagai penjuru, perempuan dan anak-anak sering kali menjadi korban yang paling rentan, dan terdampak, dipanggil untuk bertahan, pulih, serta menjalani hidup dengan baik.

Ketua Kompera PGI Wilayah Jakarta, Dr. Ir. Serirama Butarbutar.

Mengawali acara, Ketua Kompera DKI Jakarta, Dr. Ir. Serirama Butarbutar menyampaikan terima kasih kepada Majelis Gereja GPIB Shalom yang telah menyediakan tempat untuk kegiatan ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Kompera Sektor Barat yang telah menjadi tuan rumah.  “Perayaan ACWC bukan hal baru, karena selalu kita laksanakan setiap tahun, dan tahun ini tetap berjalan seperti biasa meski di tengah kondisi ekonomi yang tidak baik-baik saja. Meski demikian ACWC bisa kita laksanakan bukan karena kekuatan pengurus, tetapi kerjasama kita semua, mulai dari bimbingan MPH-PGIW DKI Jakarta, ibu-ibu di semua sektor, serta pertolongan Tuhan,” tukas Dr. Serirama Butarbutar yang termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani Inspiratif 2022 Pilihan Majalah NARWASTU.”

Ia menambahkan, selain ibadah ACWC, dan Hari Doa Se-Dunia (HDS), Kompera PGIW DKI Jakarta siap melaksanakan Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak yang akan dilaksanakan pada Desember nanti. “Kita patut bersyukur karena perempuan gereja di DKI Jakarta dipakai untuk melayani. Mari sikapi dengan pelayanan yang terbaik sesuai talenta dan keberadaan masing-masing,” pungkasnya.

Memperingati ACWC 2025 di GPIB Shalom, Jakarta Barat.

Sementara itu, Kepala Biro Perempuan (BP) PGI, Pdt. Mezisita Herlina mengatakan, kegiatan ini sebagai momentum meneguhkan komitmen bersama untuk memperjuangkan martabat dan kesetaraan bagi perempuan di Asia. “Jadi tidak sekadar acara kebersamaan kita semata, tetapi acara ini adalah bentuk kebersamaan persekutuan lintas gereja, negara, dan budaya, yang mendorong kebersamaan untuk membebaskan dari kehidupan yang diskriminatif,” katanya. Menurutnya, perjumpaan lewat kegiatan ACWC mengingatkan bahwa Tuhan berkarya melalui kehadiran kaum perempuan, untuk terus menjadi pembawa hidup yang berkeadilan dan membuahkan damai serta terang.

Setara di Mata Tuhan

Pada kesempatan itu, Pdt. Mircea Laurens dalam khotbahnya yang mengutip Keluaran 15:19-21 mengingatkan 3 hal. Pertama, meskipun kita ada di posisi kuat, baik materi maupun jabatan, tetap memiliki kesadaran diri bahwa semua itu berasal dari Tuhan, kita setara di mata Tuhan. Hal ini penting agar tidak jatuh kepada kesombongan. “Apalagi melihat orang hanya sebagai objek, bukan subjek. Ketika ada di posisi kuat, punya, jaya, tetaplah sadar diri bahwa semua dari Tuhan,” tuturnya.

Kedua, sesulit apapun kondisinya, yakinlah kita punya Tuhan yang hidup. Sehingga saat kita mengimani kepala kita tetap tegak, hati kita tetap merendah di hadapan Tuhan. Selalu memohon kepada Tuhan di tengah kesulitan hidup, tetap bersyukur, bersabar, dan bertekun dalam doa. Sesulit apapun hidup kita tidak tergoda untuk melanggar prinsip-prinsip kehidupan.

Ketiga, hadir sebagai komunitas yang selalu memberi pujian. “Hal ini perlu karena perempuan kadangkala saling menjatuhkan. Miryam mengajak kita untuk selalu memuji Tuhan, maka kita harus saling menyemangati. Yang bisa menguatkan dan membangkitkan perempuan itu adalah perempuan itu sendiri. Mari menjadi perempuan yang memuji Tuhan,” tegasnya.

Selain para perempuan gereja yang tergabung dalam Kompera dari 5 wilayah di DKI Jakarta, kegiatan yang berlangsung hikmat ini, turut pula diikuti oleh perwakilan dari Badan Kerja Sama Wanita Kristen Katolik (BKS WKK). Ibadah berjalan lancar mengikuti tata ibadah yang telah disiapkan oleh tim ACWC. Sekilas tentang ACWC, bahwa para anggota ACWC mulai memperingati Hari ACWC pada 1984 untuk mengenang Sidang Raya ACWC pertama yang diadakan di Hongkong pada 1958. Karena Sidang Raya tersebut dibuka pada tanggal 15 November, tanggal itu kemudian dijadikan hari tahunan perayaan ACWC hingga tahun 2002, ketika kemudian ditetapkan bahwa Hari ACWC dirayakan setiap Hari Minggu ketiga bulan November.  Negara-negara anggota dapat bersikap fleksibel terhadap tanggal ini apabila tidak sesuai dengan program kegiatan mereka.

Menyongsong perayaan 70 tahun Gerakan Doa Fellowship of the Least Coin (FLC) pada 2026, dan diingatkan kembali akan hubungan erat yang terjalin antara ACWC dan FLC. ACWC dan FLC menjadi organisasi saudari pada bulan November 1958 dalam Sidang Raya ACWC yang pertama. Pada Konferensi Perempuan Gereja Asia yang pertama itu, FLC merupakan satu-satunya proyek yang diterima oleh para peserta; awalnya untuk masa percobaan selama empat tahun. FLC dimaksudkan sebagai program pelayanan keluar dari ACWC. Dengan demikian, lahirlah hubungan erat antara ACWC dan FLC. KL

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here