Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST Mantan Ketua STT HKBP yang Layak Menjadi Sekjen HKBP

1169
Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST. Cerdas dan visioner.

Narwastu.id – Menjelang Sinode Godang ke-65 HKBP pada akhir 2020 ini, gereja terbesar di Indonesia ini selain sibuk mempersiapkan jemaatnya menyambut Natal di masa pandemi Covid-19, juga sekarang jemaat antusias membicarakan calon-calon pemimpin HKBP mendatang. Pasalnya, Ephorus dan Sekjen HKBP, Pdt. Dr. Darwin Tobing dan Pdt. David Sibuea, M.Th sudah habis masa jabatannya pada 2020 ini, sehingga mulai dibahas calon-calon potensial dan mumpuni untuk meneruskan kepemimpinan HKBP ke depan. Sejumlah nama telah muncul untuk posisi Ephorus HKBP, seperti Pdt. Dr. Robinson Butarbutar dan Pdt. Dr. Martongo Sitinjak.

Sedangkan calon Sekjen HKBP santer dibicarakan nama Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST, dan beberapa nama lainnya. Khusus Pdt. Victor Tinambunan, yang merupakan anak desa dari keluarga sederhana di Parlilitan, Kabupaten Humbang Hadundutan, Sumatera Utara, ia merupakan putra dari seorang sintua dan pegawai negeri sipil. Keluarga Victor Tinambunan saat itu hidup dengan keterbatasan. Namun kesulitan tak menghalangi Victor untuk meraih cita-citanya. Justru kesulitan hidup memacunya menjadi anak muda pekerja keras, jujur dan disiplin serta selalu berserah kepada Tuhan.

Hingga saat ini, Pdt. Victor Tinambunan yang pernah dipercayakan dengan jabatan strategis di HKBP sebagai Ketua STT HKBP, Pematang Siantar, Sumatera Utara, dikenal seorang figur pendeta yang punya capaian akademis yang cemerlang, punya pengalaman berorganisasi dan kepemimpinannya teruji, terutama kala memimpin STT HKBP. Dan banyak hal yang sudah dilakukannya saat memimpin STT HKBP yang sudah melahirkan banyak pendeta di HKBP itu, sehingga dia dipuji banyak kalangan, termasuk mendapat penghargaan dari pimpinan HKBP atas kepemimpinannya di STT HKBP. Selain itu, Pdt. Victor yang hidup dengan dua anak dan seorang istri dalam suasana harmonis, juga selama ini mampu menjalankan perannya dengan baik membina kerjasama dengan lembaga dan gerakan oikoumenis di dalam dan luar negeri. Mottonya dalam pelayanan: Melayani dengan hati, karena dari hati yang bersih akan muncul kebaikan dan keteraturan.

Suami tercinta Tima Warni boru Pangaribuan ini punya dua anak, Dorothy Christy Lois Tinambunan, kini menjalani kuliah tahun ketiga di University Sains Malaysia. Sedangkan anak kedua, Sundermann William Penn Tinambunan, kini masih kelas 2 SMU Budi Mulia, Pematang Siantar. Istrinya dulu pernah jadi guru sekolah minggu di HKBP Sidorejo, Medan. Mereka dipertemukan Tuhan dalam sebuah ibadah di gereja. Berbicara tentang masa kecilnya, Pdt. Victor mengenang ia dan 7 saudaranya dibesarkan ayahnya yang merupakan seorang pegawai negeri sipil dan ibunya yang tangguh.

Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST bersama keluarga tercinta.

Dan untuk membesarkan kedelapan anaknya itu, gaji ayahnya tak cukup, sehingga saat ia liburan panjang mesti ikut bekerja di kebun kemenyan teman sekampungnya. Untuk mencapai kebun yang berada di hutan belantara itu mereka menempuh perjalanan hingga 9 jam. Dan mereka menginap di hutan itu antara tiga atau empat malam di sebuah pondok sederhana. Tak heran, saat malam tiba sering mereka mendengar suara auman binatang buas seperti harimau. Dan itu sangat membuat mereka ketakutan.

Kemudian ia mengikuti pendidikan SD dan SMP di kampungnya di Parlilitan, sedangkan TK saat itu tak ada. Sementara pendidikan SMA ia ikuti di Tarutung. Setamat SMA ia sempat ingin masuk ke fakultas pertanian, tapi tangan Tuhan bekerja lewat ayahnya, lalu ia diarahkan masuk ke STT HKBP, apalagi dulu Victor senang dengan pelajaran agama Kristen dan nilainya pun bagus. Dan pada 1984 ia mengikuti seleksi masuk STT HKBP. Orangtuanya saat itu sangat gigih untuk menyekolahkan mereka ke perguruan tinggi. Sementara abangnya kuliah di Universitas Dharma Agung, Medan, dan adiknya di Universitas HKBP Nommensen.

Setelah selesai kuliah sembari melayani, Victor juga menekuni studi S2 di UKDW Yogyakarta (1994-1996). Selain itu, ia mengikuti program Master Sacred of Theology di Lutheran Theological Seminary, Philadelphia, Amerika Serikat (1996-1998). Tentu pengalaman kuliah hingga ke luar negeri, baginya, yang merupakan seorang anak desa, adalah jalan-jalan Tuhan yang tidak terselaminya. Selama kuliah ia aktif di organisasi kemahasiswaan, misalnya ia pernah dipercaya menjadi ketua seksi kerohanian di Senat Mahasiswa dan pernah juga jadi Sekretaris Senat Mahasiswa. Ia pun pernah aktif di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Pematang Siantar.

Ketika kuliah S2 di Yogyakarta ia banyak belajar dari tokoh-tokoh intelektual yang dikenal religius, seperti Prof. Gerrit Singgih, P.hD, Romo Mangun Widjaya, Th. Sumartana, J.B. Banawiratma, dan Pdt. Dr. John Titaley, yang menurutnya sangat menginspirasi. Saat kuliah di Amerika Serikat ia mendalami Konfessi Lutheran dan di Yogyakarta ia mengambil bidang Teologi Kontekstual. Karena sudah rindu untuk pulang ke Indonesia, pada 1998 setelah mengikuti studi S2 di Amerika Serikat ia pulang ke tanah air. Sempat ia disarankan agar tetap melayani orang-orang Kristen asal Indonesia di sejumlah kota di negeri Paman Sam itu, namun ia tetap kembali ke tanah air.

Lantaran Pdt. Victor cerdas dan punya semangat untuk belajar, ia kembali mendapat keberuntungan karena mendapat beasiswa dari UEM (Jerman) sehingga ia bisa kuliah program doktor di Trinity Theological College (TTC) Singapura. Melalui perjuangan yang berat dan bantuan dari sejumlah pihak ia kemudian bisa menyelesaikan studi S3-nya. Dan selama masa tugas belajar itulah ia bisa menulis empat buku. Kemudian sejak tahun 2010 pimpinan HKBP menugaskannya untuk ketiga kalinya melayani sebagai dosen di STT HKBP. Ia sudah dua setengah tahun melayani sebagai pendeta resort di HKBP Resort Sihorbo Barus, 8 tahun studi lanjut dan hampir 12 tahun dosen di STT HKBP dan STT BNKP Sundermann, Nias, Sumut. Ia memandang semuanya itu karena kemurahan Tuhan, dan hanya untuk Tuhan.

Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST bersama tokoh-tokoh senior (Ephorus Emeritus) di HKBP.

Di STT HKBP ia pernah mengajar mata kuliah Teologi Kontekstual, Teologi Komunikasi dan Arkeologi. Atas arahan dari Ephorus HKBP saat itu, Pdt. Dr. J.R. Hutauruk ia melayani selama empat tahun di Nias. Di Nias ia tak hanya mengajar, tapi juga banyak belajar tentang sejarah gereja Nias. Di situ ia belajar pula bagaimana sepenuhnya berserah ketika mengalami dahsyatnya gelombang laut yang ganas, dan saat itu ia pun mengalami gempa dahsyat yang mengguncang Nias. Ketika ia dipercaya pimpinan HKBP sebagai Ketua STT HKBP Pematang Siantar pada 2015-2019, ia bersama dosen, staf, pegawai dan mahasiswa berhasil menata kampus dan berbagai program peningkatan mutu perguruan tinggi ini dengan baik. Di STT HKBP ia banyak membangun peningkatan pembangunan kerohanian, pembentukan pelayanan praktis, pembentukan akademis, pengembangan kampus, termasuk menjalin kerjasama dengan universitas di Korea Selatan, Lutheran Australia, Lutheran Amerika Serikat, UEM dan menjalin kerjasama dengan Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama RI.

Selain itu, ia berjuang membenahi bidang sarana dan prasarana STT HKBP. Dan pada 6 November 2019 lalu Pdt. Victor Tinambunan mendapat penghargaan dari pimpinan HKBP atas “Pengelolaan Keuangan yang baik di STT HKBP Pematang Siantar Periode 2015-2019” Bicara tentang kiprahnya di dalam menjalin kerjasama dengan lembaga oikoumenis, Pdt. Victor Tinambunan pun aktif hingga ke tingkat nasional dan internasional. Di Sumatera Utara (Sumut), selain giat berkhotbah ia pun sering ikut dalam pembinaan iman yang diadakan gereja-gereja di Sumut seperti Sinode AMIN, BNKP, GKPI, GKPS, HKI, GBKP, GMI dan GKPA. Sedangkan di tingkat internasional selaku pribadi dan saat menjabat sebagai Ketua STT HKBP ia pernah menjalin kerjasama dengan United Evangelical Mission (UEM Jerman), Evangelical Lutheran Church in Amerika (ELCA), Lutheran Church in Australia  (LCA), Presbyterian Church of Korea (PCK) dan Christian Conference of Asia (CCA).

Sedangkan dalam karya tulis, Pdt. Victor Tinambunan cukup produktis menulis, baik dalam bentuk buku, tulisan pada buku bunga rampai, artikel di surat kabar dan majalah dan blogspot. Ia juga rutin menulis Evangelium dan Epistel dalam “Impola ni Jamita” yang secara berkala terbit setiap 6 bulan yang dikelola oleh Percetakan HKBP. Selain itu, tiga artikelnya dalam Bahasa Inggris masuk dalam Dictionary of Luther and the Lutheran Traditions yang digunakan dalam aras internasional. Tiga artikel itu, yaitu Batak Church, Confession of Faith of the HKBP dan Ludwig Ingwer Nommensen. Bahkan, ia pun ikut menulis dalam Martin Luther’s Small Catechism in the Asian Context yang terbit pada 2019.

Buku-buku yang sudah ditulisnya, seperti “Bergereja dan Berteologi dalam Konteks Indonesia.” Buku ini lebih banyak membahas seputar HKBP dan tugas panggilannya. Buku lainnya “Gereja dan Orang Percaya: Oleh Rahmat Menjadi Berkat di Tengah Krisis Multi Wajah“, di buku ini teolog senior yang saat itu menjabat Ketua Umum PGI, Pdt. Dr. A.A. Yewangoe memberi kata pengantar. Buku ketiga “Menjadi Gereja Pro-Kehidupan“, dan di buku ini Pdt. Dr. Robinson Butarbutar, kini calon Ephorus HKBP memberi kata sambutan. Dan buku lainnya, “Bohal ni Parhalado dohot Ruas ni Huria“, “Engkel Sipature Nasega“, “Berkomunikasi dengan Hati“, “Kiat Merawat Hubungan Sehat dengan Sahabat, Jemaat dan Masyarakat“, dan “Apa yang Kamu Cari?.

Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST dalam sebuah acara di luar negeri.

Tak hanya menulis, Pdt. Victor Tinambunan sudah lebih dari 200 kali memberikan ceramah yang umumnya untuk pembinaan dan pembekalan sintua di HKBP. Ceramahnya lebih banyak seputar spiritualitas. Pdt. Victor secara sederhana menggambarkan spiritualitas seperti sebuah ceret berisi teh yang sudah pasti akan mengeluarkan teh. Tidak mungkin, katanya, ceret berisi teh mengeluarkan jus atau tuak. Demikian juga manusia. Kata-kata, ekspresi wajah dan perbuatannya ditentukan oleh isi di dalamnya. Isi di dalamnya terkait erat dengan spiritualitas. Spiritualitas berasal dari kata: Spirit, yang dalam hal ini berarti Roh Kudus. Dalam hal ini spiritualitas dapat diartikan: Kehidupan orang beriman yang didiami, disucikan dan dipimpin Roh Kudus sehingga menghasilkan buah-buah Roh. Jadi pelayan gereja yang memiliki spiritualitas adalah pelayan yang isi dalamnya adalah Roh Kudus dan pekerjaanNya, sehingga membuahkan buah-buah Roh.

Di acara “Mimbar Agama Kristen” yang ditayangkan TVRI Nasional ia sudah pernah diundang memberi pencerahan rohani pada Maret dan April 2020, dan topiknya saat itu “Beriman yang Sehat di Tengah Dunia yang Sakit” dan “Kasih Jarak Jauh.” Pendeta yang dikenal energik, nasionalis, hobi membaca dan berpenampilan tenang ini, ditahbiskan menjadi pendeta pada 26 Desember 1991, dan pada 8 Januari 2000 ia menerima pemberkatan nikah di HKBP Sudirman, Medan, yang dilayankan Pdt. DR. WTP Simarmata, M.A., yang saat itu menjabat Sekjen HKBP. Pdt. Victor Tinambunan yang pernah dipercaya sebagai Ketua Komisi Liturgi HKBP (2012-2016) dinilai sejumlah pihak sosok pemimpin gereja masa depan, lantaran ia visioner yang peka terhadap pelayanan jemaat. Pria Batak yang punya ayat emas, “Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku (1 Timotius 1:12). Ia memaknai ayat itu dalam menjalani kehidupan dan pelayanannya sebagai pendeta.

Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST bersama Pdt. Dr. Robinson Butarbutar dan Prof. Jimly Assiddiqie (Ketua Umum ICMI).

Terkait dengan fenomena saat ini, Pdt. Victor Tinambunan berpendapat, kemajuan teknologi komunikasi dan digital adalah berkat Tuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai alat dalam pelayanan gereja. Dalam ketaatan kepada Tuhan, sudah saatnya gereja memadukan digitasi (membuat versi digit yang sifatnya analog (foto, video, dokumen); digitalisasi (seperti komunikasi, live streaming ibadah, aplikasi musik, aplikasi pembelajaran dan lain-lain) dan transformasi Digital (dalam aktivitas organisasi dan pelayanan).

Dan katanya, penting memadukan SPIRITUAL, INTELEKTUAL, DIGITAL untuk kehidupan yang lebih baik dan kemuliaan Tuhan. Sesungguhnya, tanpa kita pun Kerajaan Allah atau pelayanan GerejaNya tetap bisa berjalan. Kebenaran ini mengingatkan kita sebagai hamba Tuhan sedikitnya pada lima hal. Pertama, kita bersyukur karena kita diikutsertakan dalam pelayanan Tuhan. Bukan karena kita layak, tetapi karena dilayakkan. Kedua, kita harusnya rendah hati. Sebab, bukan karena kebaikan dan kemampuan kita tetapi sepenuhnya karena kasih karunia Tuhan.

Ketiga, gereja dan segala tugas pelayanan di dalamnya adalah milik Tuhan. Ia tidak pernah melakukan serah terima kepemilikan gereja dan tugas pelayanan kepada siapa pun. Ia tetap Pemiliknya dulu, sekarang sampai akhir zaman. Keempat, setiap kali Tuhan mengutus, Ia selalu menyertai dan memperlengkapi. Yang kita butuhkan adalah kesediaan dan komitmen mengikut Dia sepenuh hati. Kelima, meski tanpa kita pun kerajaan Allah dan pelayanan gereja bisa tetap berjalan, tetapi hidup dan pelayanan kita berharga bagi Allah. JG.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here