
Narwastu.id – Pemimpin Umum/Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos pada Senin, 27 Oktober 2025 lalu, mendapat kehormatan diundang Perkumpulan Wartawan Media Kristiani Indonesia (PERWAMKI) yang bekerjasama dengan STT REM Kelapa Gading, Jakarta Utara, untuk berbicara tentang ilmu jurnalistik dan media sosial (Komunikasi publik). Acara yang diikuti sekitar 50-an mahasiswa dan dosen ini juga diikuti para anggota dan pengurus PERWAMKI. Ketua STT REM Pdt. Dr. Yogi Dewanto hadir memberi sambutan dan membuka acara ini. Dalam paparannya, Jonro banyak membahas tentang perbedaan media massa (Pers) dengan media sosial (Medsos). Menurutnya, aturan main di pers atau jurnalistik diatur oleh Undang-Undang Pokok Pers No. 40/1999. Jadi saat ada pemberitaan yang terasa mencemarkan nama baik individu atau kelompok, atau berita hoax, bisa diberi hak jawab atau hak koreksi bagi pihak yang dirugikan. Tapi jika tak ada solusi atas hal itu dari pihak media yang bersangkutan, bisa dilaporkan ke Dewan Pers.

Sedangkan di medsos jika sampai ada postingan yang mencemarkan nama baik seseorang atau kelompok, atau diposting ujaran kebencian (Hate speech) atau hoax, maka bisa dipidanakan atau dilaporkan ke polisi sesuai dengan Undang-Undang ITE No. 8/2008. Sehingga para mahasiswa sekolah tinggi teologi mesti tahu aturan main tersebut, dan mesti berhati-hati menggunakan jarinya saat memanfaatkan medsos, termasuk saat mengupload video. Dikatakannya juga, media sosial adalah anugerah Tuhan, sehingga mesti dipakai untuk hal yang berguna, seperti menyuarakan kabar baik, kedamaian, kerukunan, sesuatu yang menginspirasi dan memotivasi.

Di awal sambutannya, Ketua Umum PERWAMKI, Stevano Margianto menegaskan, acara ini merupakan salah satu program PERWAMKI yang pada 28 Oktober 2025 sudah genap berusia 22 tahun. PERWAMKI, ujar Margianto, akan ikut membekali para mahasiswa atau intelektual muda dalam hal pemberitaan yang sesuai dengan kaidah jurnalistik, termasuk pembuatan video rohani menarik. Pemimpin Redaksi Victoriousnews.com ini pun mengenang, pada September 2003 lalu di STT REM inilah pertama kali digagas pendirian PERWAMKI, kemudian pada Oktober 2003 nama PERWAMKI diputuskan, lalu dipilih pengurusnya. Margianto menuturkan, seperti tahun-tahun lalu, PERWAMKI peduli membekali kaum intelektual, mahasiswa, pelajar, aktivis gereja dan calon-calon pendeta supaya terampil menulis dan membuat video rohani.

Kalau tahun-tahun lalu, imbuh Margianto, PERWAMKI sudah memberi pembekalan jurnalistik terutama dalam hal tulis menulis, sekarang diadakan pembekalan dalam hal pembuatan video atau audio visual. “Apalagi saat ini terjadi transformasi media yang radikal. Dan publik tak hanya menikmati berita dalam bentuk media versi cetak dan portal berita, tapi juga melalui audio visual, seperti tayangan di kanal atau channel YouTube,” tambah Jonro Munthe. Hadir pula di acara ini, Valentino Abednego, pakar editing video untuk memberi tips guna membuat video menarik. Bagi Jonro, bisa berbagi ilmu dan pengalaman seputar dunia jurnalistik adalah sesuatu yang mulia. SH

























