Narwastu.id – Dengan mengusung tema “Agar Semua Satu Adanya,” Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) menggelar dies natalis ke-75 di Ballroom Graha Oikoumene, Jakarta, pada Jumat, 14 Februari 2025.Perayaan berlangsung meriah dengan berbagai penampilan seni, seperti tarian, paduan suara dari anggota GMKI dan juga senior GMKI, serta penampilan dari Band Maxima. Tampak hadir Staf Ahli Menteri Pemuda dan Olahraga, pengurus GMKI pusat, cabang, anggota, serta para senior GMKI. Selain itu, turut hadir kelompok Cipayung Plus dan berbagai organisasi kepemudaan lainnya.
Dalam khotbahnya yang terambil dari Markus 2:1-12, Ketua Umum PGI, Pdt. Jacklevyn Fritz Manuputty, M.A. mengingatkan agar anggota GMKI terus berkomitmen menjadi berkat bagi bangsa melalui pikiran, sikap, dan perilaku mereka.
Selain itu, GMKI hendaknya hadir bagi mereka yang membutuhkan tanpa dibatasi oleh berbagai sekat. “Inilah panggilan di dalam pengabdian selama 75 tahun, menjadi sesuatu bagi mereka yang bukan sesuatu di tengah masyarakat, melampaui batas-batas agama, batas-batas etnis, karena cinta kasih Tuhan di dalam Kristus tidak bisa dibatasi pada tembok-tembok eksklusivitas dan perbedaan,” ujarnya. GMKI juga penting menghadirkan wajah Tuhan dalam sikap dan tindakan mereka. “Ketika orang berjumpa dengan semua komponen GMKI, adik-adik, para senior, mereka harus merasakan kehadiran Tuhan, karena di dalam pikiran, kata-kata, dan tindakan kita adalah surat-surat Kristus yang terbuka,” tukasnya.
Dia pun mengisahkan teladan orang-orang Kristen pada abad ke-2 dan ke-3 di kekaisaran Romawi yang tetap memberikan diri mereka untuk melayani dan menunjukkan kasih tanpa batas (unconditional love) meskipun dalam kondisi sulit akibat wabah penyakit. Ia menekankan, hal ini menjadi inspirasi bagi GMKI untuk terus berperan bagi gereja dan bangsa, terlebih di tengah situasi sulit. “75 tahun GMKI, kita mempersiapkan seluruh kader, mempersiapkan adik-adik kita, dan menghidupkan dinamika gerakan agar hadir di tengah gereja dan bangsa untuk menarasikan harapan, bahkan di tengah situasi di mana orang-orang merasa tidak dicintai, tidak dipedulikan, dan tidak disahabati,” lanjutnya. LK

























