Pdt. Marihot Siahaan, S.Th Termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2014 Pilihan NARWASTU”

35
Pdt. Marihot Siahaan, S.Th. Setia Melayani di tengah tantangan.

Narwastu.id – Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan PT Gramedia Pustaka Utama, ada ditulis, seseorang disebut Tokoh: kalau ia pemimpin yang baik, yang dapat dijadikan contoh, dan dapat diteladani sifat-sifat baiknya. Begitu juga figur-figur Kristiani yang ditampilkan dalam 21 tokoh edisi kali ini, kami anggap sosok yang patut dijadikan contoh dan punya sifat-sifat baik yang patut diteladani. Dan seperti tokoh-tokoh pilihan tahun yang lalu, mereka adalah sosok yang mampu mengispirasi dan mampu memotivasi sesuai dengan bidang yang ditekuni.

Pembaca yang budiman, sepanjang tahun 2014 ini, kita saksikan bersama ada banyak peristiwa mengejutkan plus menarik dalam perjalanan gereja dan bangsa ini. Apakah itu di bidang sosial, politik, hukum, HAM, kemasyarakatan, ekonomi, budaya dan pendidikan yang patut dicermati dan direkam. Berbarengan dengan itulah muncul sejumlah figur pejuang (Baca: tokoh) yang bersentuhan dengan peristiwa itu, termasuk figur-figur dari kalangan Kristen atau Katolik. Dilatarbelakangi itulah, seperti tahun-tahun lalu, pada akhir 2014 ini, Majalah NARWASTU yang kita cintai ini kembali menampilkan tokoh-tokoh Kristiani “pembuat berita” (news maker).

Sama seperti tahun-tahun lalu, ada tiga kriteria yang dibuat tim redaksi NARWASTU untuk memilih seseorang agar disebut tokoh pembuat berita. Pertama, si tokoh mesti populer dalam arti yang positif di bidangnya. Kedua, si tokoh mesti peduli pada persoalan gereja, masyarakat dan nasionalis (Pancasilais). Ketiga, si tokoh kerap jadi perbincangan dan muncul di media massa (terutama di NARWASTU), baik karena pemikiran-pemikirannya yang inovatif, aktivitasnya atau ide-idenya kontroversial. Si tokoh pun jadi figur inspirator dan motivator di tengah jemaat atau masyarakat.

Bagi tim NARWASTU, tak mudah untuk memilih seseorang agar menjadi “tokoh Kristiani”. Soalnya, kiprahnya harus kami ikuti pula lewat media massa, khususnya media Kristen, termasuk mencermati aktivitas dan track record-nya. Pada akhir 2014 ini, kami pilih lagi “21 Tokoh Kristiani Pembuat Berita Sepanjang 2014.” Figur yang dipilih ini, seperti tahun lalu, ada berlatarbelakang advokat, politisi, jenderal, tokoh lintas agama, pengusaha, aktivis HAM, pemimpin gereja, aktivis gereja, pimpinan ormas, dan aktivis LSM.

Setelah diseleksi tim NARWASTU secara ketat dari 112 nama yang terkumpul, berikut kami tampilkan 21 tokoh, yakni Pdt. DR. Bambang H. Widjaja, Ir. Sahat P. Pasaribu, M.Pdk, Pdt. DR. Benny B. Nenoharan, Pdt. Naomi Purayaw Suatan, St. Sahala R.H. Panggabean, MBA, Said Damanik, S.H., M.H., Pdt. Dr. Jaharianson Saragih, Drs. S. Laoli, M.M., Drs. Nikson Nababan, Anton Anatona Zagota, DR. Tema Adiputra Harefa, M.A., B. Halomoan Sianturi, S.H., Pdt. Mulyadi Sulaeman, Dr. Sigit Triyono, M.M., Pdt. Marihot Siahaan, S.Th,  Pdt. Wilfred Soplantila, Pdt. Lusiana Harianja Pella, M.Th, DR. Lukman Astanto, Pdt. Jefri Tambayong, S.Th, Jimmy Simanjuntak, S.H., M.H., dan Y. Deddy A. Madong, S.H.

Pelopor Persekutuan Gereja-gereja Lutheran di DKI Jakarta  

Tokoh-tokoh Kristiani pilihan Majalah NARWASTU hadir saat acara pemberian penghargaan di Jakarta.

Hamba Tuhan berjambang lebat ini bukan sosok yang asing  di kalangan aktivis gerakan oikoumene di DKI Jakarta. Sejak dulu ia kerap hadir di acara-acara gerejawi di DKI Jakarta. Ia pun salah satu pelopor PGLJ (Persekutuan Gereja-gereja Lutheran di DKI Jakarta). Sebagai mantan Sekretaris Umum Sinode Gereja Punguan Kristen Batak (GPKB), Pdt. Marihot Siahaan, S.Th yang kini dipercaya sebagai Sekretaris Majelis Pertimbangan PGI Wilayah DKI Jakarta, pernah menuturkan, ia punya gagasan agar suatu saat kelak di PGI DKI Jakarta ada semacam forum diskusi bulanan yang bisa jadi media komunikasi antara pimpinan gereja, jemaat, pemerintah dan anggota dewan.

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos di sebuah acara pemberian penghargaan kepada tokoh Kristiani pilihan Majalah NARWASTU.

Hal itu disampaikan Pdt. Marihot, lantaran ia kerap menghadiri acara Forum Diskusi Daniel Indonesia (FDDI) yang digelar Penasihat dan Pimpinan Majalah NARWASTU sejak awal 2010 lalu. Menurutnya, FDDI amat baik, karena bisa mempertemukan para tokoh Kristen, politisi, tokoh ormas dan kaum awam secara rutin dalam sebuah diskusi. “Dari diskusi itulah nantinya bisa dicari apa solusi yang dihadapi, lalu disampaikan ke dewan atau pemerintah,” ungkap bekas anggota Majelis Pertimbangan PDKB (Partai Demokrasi Kasih Bangsa) dan Sekretaris PGLJ ini.

Pdt. Marihot menuturkan, banyak persoalan jemaat di DKI Jakarta yang perlu dibicarakan dalam forum diskusi, lalu dicari solusinya. “Jadi kita tak bisa hanya mengikuti ibadah di gereja secara rutin. Tapi, kita harus melakukan sesuatu yang bermanfaat. Di sinilah perlunya organisasi seperti PGI Wilayah berperan. Makanya melalui PGI Wilayah DKI Jakarta kita harapkan ada diskusi rutin, misalnya, sekali sebulan dengan tokoh. Dan itu bisa jadi wadah pencerdasan bagi jemaat,” ucap pria lajang yang senang mengenakan batik lengan panjang ini.

Pdt. Marihot sebelum menjabat sebagai Sekretaris Majelis Pertimbangan PGI Wilayah DKI Jakarta, ia pernah menjadi anggota MPL PGI Wilayah Sumatera Utara (1995-2002), anggota MPL PGI DKI Jakarta (2002-2010), dan sudah pernah mengikuti sejumlah pertemuan oikoumenis di luar negeri. Alumni STT HKBP Sumatera Utara ini kini melayani di GPKB Pulomas, Jakarta Timur, dan pendeta Distrik GPKB Distrik Jakarta. Dia merupakan pemrakarsa Komunitas Katharina Luther dan pernah jadi anggota Tim Revisi Bibel Batak Toba bersama mantan Ephorus HKBP Pdt. Dr. J.R. Hutauruk.

Kemudian saat ramai diperbincangkan publik soal ulah anggota DPR-RI dari Partai Demokrat, Ruhut Sitompoel, S.H. yang menikah lagi, lalu meninggalkan istri pertamanya, rohaniwan yang dikenal ramah namun tegas dalam memegang prinsip ini menuturkan, “Saya ingin memposisikan diri sebagai seorang rakyat yang beriman Kristen di tengah-tengah bangsa ini daripada seorang pendeta.”

“Tanggapan spontan saya sebagai umat Kristiani adalah, kecewa dan malu. Kalau kabar itu benar, maka merupakan tamparan bagi Ruhut sendiri, bagi orang Kristen dan khususnya bagi masyarakat yang ikut memilih dia menjadi anggota dewan terhormat. Terus terang walaupun saya tidak pengagum Ruhut, tapi sebagai orang Kristen dan orang Batak saya bersyukur karena beliau menjadi seorang terpandang di DPR dan Partai Demokrat,” ujarnya.

“Saya kecewa sekali karena beliau tidak mempergunakan posisi dan kesempatan itu dengan baik. Sikap beliau sebagai wakil rakyat jauh dari harapan kita dan harapan Tuhan. Keadaan makin parah dengan kasus terakhir. Sungguh batu sandungan datang dari seorang yang sering bangga memperkenalkan diri sebagai aktivis gereja. Sungguh peluang Ruhut menjadi terang dan garam di tengah-tengah bangsa ini telah tekubur begitu saja. Saya berharap ini pelajaran mahal bagi figur Kristen, kalau kita masih ingin berkarya bagi bangsa dan negara kita,” ucapnya.

Dalam jejaknya sebagai pendeta yang giat melayani di GPKB Pulomas, Jakarta Timur, Pdt. Marihot Siahaan tak jarang menghadapi tantangan alias badai dari pimpinan sinode dan rekannya sesama pelayan. Ia pernah dilecehkan dan diusir oleh seorang oknum pendeta, lantaran Pdt. Marihot dianggap saingan di Gereja GPKB Pulomas. Akibat dirinya diperlakukan tidak adil, Pdt. Marihot selain berdoa meminta pertolongan kepada Tuhan, ia pun meminta bantuan kepada advokat Kristen yang selama ini dikenal tulus dan berani saat mengadvokasi gereja-gereja yang tertindas T.P. Jose Silitonga, S.H., M.A.

Menurut Pdt. Marihot, ia tahu soal aturan dan tata tertib di sinode tempatnya melayani. Sehingga kalau ada pendeta yang bersikap sewenang-wenang, maka pendeta itu harus dilawan agar mata dan hatinya terbuka untuk melihat kebenaran. “Kalau seseorang pendeta bertindak sewenang-wenang dan bersikap seperti orang dunia, maka dia bukan Hamba Tuhan yang dikuasai Roh Kudus. Tuhan Yesus pun menentang orang-orang yang bersikap tidak adil dan bersikap sewenang-wenang,” paparnya.

Melalui proses yang berliku-liku, dan pendekatan yang persuasif, serta doa yang tidak putus-putusnya, Pdt. Marihot yang didukung Jose Silitonga memang berhasil “meredam” orang-orang yang berniat jahat terhadap pelayanannya. “Saya sangat menghargai dukungan dari Pak Jose Silitonga untuk mengatasi persoalan hukum di gereja kami. Apalagi gereja kami ini jemaatnya dari suku Batak yang rentan dengan konflik. Pak Jose itu saya imani dikirimkan Tuhan untuk menolong kami,” cetus Pdt. Marihot. CS 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here