Narwastu.id – Harmonius Concert Faith Beyond Fear 30 Year United Evangelical Mission (UEM) sukses diselenggarakan di SMESCO Convention Hall, Jakarta, pada Sabtu, 20 Juni 2026. “Iman yang Melampaui Ketakutan (2 Timotius 1:7)” yang menjadi tema acara tersebut dijelaskan secara gamblang lewat khotbah yang disampaikan oleh Pdt. John Christian Saragih, S.Th., M.Sc (Ephorus GKPS) yang terambil dari 2 Timotius 1:7. Menurutnya, satu hal yang diajarkan bagi mereka para hamba Tuhan, kegiatan yg dilakukan oleh UEM dalam konteks di Indonesia, UEM adalah kita. Pesan tersebut bagi GKPS adalah buah misi dari RMG yang bertransformasi menjadi UEM sampai sekarang.

“Awalnya diterjemahkan agak kaku, karena jumlah jemaat gereja kami kecil, jumlah wilayah pelayanannya juga tidak seluas gereja yang lain, jangkauan pelayanannya juga kebanyakan masih ke dalam GKPS sendiri. Tapi semangat internasionalisasi yang UEM kita rayakan di usia 30, ternyata semangat itu juga perlahan-lahan bergerak dan bekerja bahkan dengan nyata dengan saling bergandengan tangan. Kami juga merasakan bahwa sebenarnya tidak hanya gereja-gereja UEM, tapi gereja apapun yang ada di muka bumi ini gereja tersebut harus bermisi. Maka spirit yang dibangun adalah ‘the best thing we do in our mission is doing evangelical together. Melakukan misi secara bersama dan merayakan internasionalisasi 30 tahun, lantas semangat apakah yang hendak dibagikan oleh firman Tuhan ini bagi kita,” tukasnya.
Ada hal yang diingatkan kembali bagi jemaat, ujarnya, bagaimana supaya faith beyond fear itu bukan sesuatu yang perlu kita khawatirkan, maka secara bersama-sama kita sedang merayakan ada tiga hal yang dikaruniakan oleh Allah kepada kita melalui rohNya melalui acara hari ini. Pertama, membangkitkan kuasa rohani dan keberanian untuk memberitakan Injil. Bahwa ketika dunia dengan kuasa yang ada padanya sering dipakai untuk menindas, kerap digunakan untuk menunjukkan kekuatan dirinya. Tapi sebagai gereja yang lahir dari misi, maka dia harus menerjemahkan kehadirannya di tengah-tengah dunia. Karena Allah memberi kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan.

Kedua, Roh yang membangkitkan kasih. Maksud kasih di sini adalah kasih agape. Kita paham bahwa kasih yang terbaik adalah kasih untuk bersama-sama melayani dan biarlah kasih agape yang kita rayakan ini adalah juga kasih yang memberi kekuatan kepada kita untuk menyingkirkan ego dan kecemasan. “Ketiga, penguasaan diri. Adalah sebuah pemikiran yang sehat, kemampuan untuk mengambil keputusan dengan jernih dan biarlah pengendalian diri itu juga adalah sebuah disiplin dan ketertiban yang senantiasa dipahami telah dikaruniakan oleh Tuhan bagi kita,” katanya di ujung khotbah.
Setelah ibadah dilanjutkan pada puncak acara yang dibuka dengan Tarian Somba dari Kabupaten Simalungun yang melambangkan penghormatan rasa syukur serta sukacita dalam menyambut tamu dan perayaan istimewa.
Tarian ini juga menjadi simbol kebersamaan, penghormatan, dan ungkapan syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Dalam kata sambutannya Ketua Panitia Harmonius Concert Faith Beyond Fear 30 Year, Pdt. Dr. Jenny Rossy C. Purba mengatakan, perayaan 30 Tahun Internasionalisasi UEM adalah sebuah perjalanan teologis yang sangat berani. Kita mau beranjak dari misionaris atau perjalanan sangat kuno dan lama dengan kolaborasi yang unik antara Asia, Afrika dan Eropa bersama-sama bahwa UEM adalah miliki kita bersama. “Kami memilih tema Faith Beyond Fear (Iman yang melampaui ketakutan) adalah perayaan kita bersama, menjadi sebuah kekuatan kita bahwa kita dari Asia juga mampu untuk melakukan misi ini bersama-sama,” tukasnya.
Mari kita melangkah dengan iman dan mengatakan, iman kita melampaui ketakutan kita. Banyak ketidaksetaraan terjadi, namun kita akan mengalahkan ketidaksetaraan itu. “Event ini menjadi sebuah petunjuk bagi kita semua bahwa GKPS mencintai UEM,” tukasnya.
Sekjen GKPS, Pdt. Dr. Janhotner Saragih menuturkan, menjadi refleksi kita bersama ternyata dalam keberimanan pun rasa takut masih ada. Tapi jangan pernah takut untuk berjalan bersama, itu pesan yang disampaikan di tengah-tengah kebersamaan kita selama 30 tahun, dan biarlah ini untuk kemuliaan nama Tuhan saja.
Pdt. Dr. Andar Parlindungan Pasaribu sebagai Sekjen UEM tak bisa menutupi sukacitanya melihat begitu banyak yang hadir dalam acara tersebut sebagai bukti bahwa semangat misi dan kecintaan terhadap gereja masih terus hidup dan menyala. “Perjalanan iman tidak berhenti pada masa misionaris 30 tahun lalu. Pada 1996 lahirlah visi baru, yaitu UEM tidak lagi dipahami sebagai lembaga misi dari Jerman, melainkan sebagai persekutuan internasional yang menghapus sekat-sekat pemberi dan penerima antara gereja tua dan gereja muda. Kita diingatkan kembali bahwa setiap gereja dipanggil bukan hanya untuk menerima tetapi juga untuk memberi. Sebab seperti itulah yang diajarkan Injil kepada kita. Lebih berbahagia memberi daripada menerima,” ujarnya.
Sementara itu pengacara kondang sekaligus Wakil Menteri Koordinator Bidang Hukum dan HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan RI, Prof. Dr. Otto Hasibuan, S.H., M.M. yang ikut hadir mengungkapkan, 30 tahun perayaan UEM adalah sebagai bukti nyata bahwa ada pelayanan umat secara konsisten, baik pelayanan rohani maupun kegiatan kemasyarakatan. “Banyak tantangan yang kita hadapi, salah satunya adalah soal narkotika yang sangat berbahaya bagi bangsa dan negara. Saya meyakini betul bahwa sesungguhnya gereja mempunyai kemampuan dan peran yang besar untuk dapat membantu pemerintah menyelesaikan persoalan ini. Jadi betul-betul mimbar gereja adalah mimbar yang paling penting untuk bisa menyelesaikan masalah ini,” tegasnya.

“Harapan saya bahwa kita dapat memperkuat hal ini, dan saya juga selalu mengikuti ini sehubungan dengan narkotika adalah salah satu Asta Cita keempat dan ketujuh dari Presiden Prabowo Subianto. Saya menyadari dan memahami bahwa UEM dan gereja bukanlah penegak hukum. Namun saya memohon dengan hormat agar gereja-gereja di mana pun dapat berpartisipasi aktif dalam menyelesaikan persoalan-persoalan ini,” terangnya. Sinode GKPS yang menjadi tuan rumah acara menghadirkan kemeriahan yang tak terlupakan.
Selain dipandu oleh Tabitha C. Napitupulu (Putri Indonesia 2023), ada pula parade budaya dari 17 gereja Indonesia pendukung UEM, di antaranya HKBP, GKPS, GBKP, GKPI, BNKP, GKJTU, GKE, GKITP, GKPPD dan sebagainya, penampilan teater trikal, Manne Koor HKBP Menteng, Paduan Suara Solagratia, PS Kaum Bapak HKI Cawang, Jakarta, dan penampilan pujian lainnya. Dilakukan juga peneguhan komitmen bersama para pimpinan UEM dan pimpinan anggota dalam penyalaan lilin sebagai simbol bahwa orang percaya dipanggil sebagai terang di manapun berada. BTY
























