Narwastu.id – Sekitar 150 anak sekolah minggu mewakili gereja-gereja di wilayah DKI Jakarta merayakan Hari Doa Sedunia Anak (HDSA) 2026, yang dilaksanakan oleh Komisi Perempuan dan Anak (Kompera) Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Wilayah (PGIW) DKI Jakarta, di Gereja Kristen Pasundan (GKP) Jemaat Rehoboth, Jakarta Timur, pada Sabtu, 14 Maret 2025. HDSA 2026 disusun oleh saudari-saudari kita di Nigeria, sebagai bagian dari gerakan oikoumene global yang mengajak anak-anak di berbagai negara untuk berdoa bersama. Tahun ini, tema yang diangkat adalah “Aku akan memberi kelegaan kepadamu, datanglah! (Matius 11:28),” sebuah undangan dari Yesus bagi setiap anak yang merasa lelah, sedih, atau memikul beban.

Acara berlangsung semarak. Anak-anak tidak hanya mengikuti khotbah interaktif yang disampaikan Kak Yenni dari Jaringan Peduli Anak (JPA) menilik kisah Chioma dan pengalaman anak-anak di Nigeria, yang mengingatkan bahwa tidak ada anak yang seharusnya berjalan sendirian, dan bahwa Tuhan menghadirkan kelegaan melalui kasih, iman, dan kebersamaan. Mereka juga mendalami Alkitab secara berkelompok seputar pergumulan dan tantangan yang dihadapi sehari-hari, serta memahami kondisi mereka dapat menerima dan memberikan kelegaan dari Allah kepada orang lain.
Menurut Ketua Kompera PGIW DKI Jakarta, Dr. Ir. Serirama Butarbutar, HDSA 2026 penting dilaksanakan mengingat tantangan yang akhir-akhir ini semakin berat dihadapi anak-anak. “Di sinilah peran orang tua, termasuk kaum perempuan, dituntut untuk bisa menanamkan pembelajaran iman kepada anak-anak untuk menguatkan anak-anak dalam menghadapi tantangan.”katanya.

Dia pun melihat muatan dari HDSA 2026 relevan dengan keadaan sekarang, yang mengajak anak-anak untuk bisa mengasihi, serta melihat betapa pentingnya membangun kuantitas dan kualitas pertemuan anak dalam keluarga agar anak-anak tidak merasa sendiri atau kurang diperhatikan.
Sementara itu, Kepala Biro Keluarga dan Anak (BKA) PGI, Equivalent Pangasi Rajagukguk menegaskan, di berbagai belahan dunia, ada anak-anak yang bertumbuh di tengah perang, hidup dalam kemiskinan, dan juga anak-anak yang diam-diam bergumul dengan kesepian, tekanan bahkan Kesehatan mental. “Bahkan di berbagai tempat, kita mendengar kabar yang menyedihkan tentang meningkatnya angka bunuh diri di kalangan anak dan remaja. Fakta ini menegur kita bahwa ada anak-anak yang memikul beban terlalu berat untuk usia mereka, dan sering kali mereka merasa harus menanggungnya sendirian,” ujarnya.

Sehingga, lanjut Alen, biasa dia disapa, tema HDSA 2026 menjadi semakin relevan jika kita melihat kenyataan hari-hari ini. Banyak anak bertumbuh dalam kesendirian, tekanan, dan rasa tidak dipahami. Karena itu, HDSA bukan sekadar acara tahunan. Melainkan momen untuk merayakan dan menghayati kembali panggilan kita, memastikan setiap anak tahu bahwa mereka tidak berjalan sendiri. Sukacita anak-anak semakin purna karena di akhir acara mereka mendapatkan hadiah dari beberapa lomba yang dilakukan, di antaranya penilaian oleh para juri terkait lomba yel-yel serta keseriusan dan keaktifan dalam diskusi kelompok.
Melalui kegiatan HDSA 2026 ini, kiranya Tuhan memberikan kelegaan bagi setiap anak, dan memakai kita sebagai sahabat perjalanan mereka. KL

























