Diskusi Seputar Media Bersama Pdt. Dr. dr. Ruyandi Hutasoit, Sp.U., M.A.

142
Pdt. Dr. dr. Ruyandi Hutasoit, Sp.U., M.A. di kantor Majalah NARWASTU.

Narwastu.id – Baru-baru ini, tokoh nasionalis yang juga dokter, pendeta dan Ketua Dewan Pembina Partai Damai Sejahtera (PDS) bertandang ke kantor Majalah NARWASTU. Kunjungannya ke kantor NARWASTU sebenarnya sudah direncanakan sejak Februari 2020 lalu, namun karena DKI Jakarta dan sekitarnya dilanda wabah Covid-19, akhirnya baru pada bulan Juli 2020 lalu ia punya kesempatan berkunjung ke kantor NARWASTU. Mantan Ketua Umum DPP PDS dua periode ini pernah disebut-sebut sebagai Capres RI pada 2003 lalu. Dan dalam polling “SCTV” namanya memang cukup populer sebagai tokoh politik yang saat itu mulai muncul dengan PDS.

Ketika berkunjung ke kantor NARWASTU, Pdt. Dr. dr. Ruyandi Hutasoit, Sp.U, M.A. yang akrab dipanggil Pak Ruyandi, didampingi lima orang dekatnya dari Yayasan Doulos yang dipimpinnya, yaitu Ir. Ferry Regar, mantan Sekjen DPP PDS yang juga Ketua Harian Yayasan Doulos, dr. Hartman Hondo, Rustika Sianturi, S.H. (Salah satu Ketua DPP PDS dan pengurus Seknas Jokowi), Pdt. Herly Kaloh dan Pdt. Liliek Sudibio. Kunjungan Ruyandi Hutasoit cs ini diterima dengan hangat oleh tim NARWASTU yang dipimpin Jonro I. Munthe,  S.Sos (Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU).

Saat itu mereka berdiskusi sambil menyeduh teh hangat dan menyantap kue-kue basah. Bagi Majalah NARWASTU, Ruyandi Hutasoit bukan sosok yang asing lagi, karena pria Batak ini pernah terpilih sebagai salah satu dari “20 Tokoh Kristiani 2008 Pilihan Majalah NARWASTU” dan ia pun termasuk anggota Forum Komunikasi Tokoh-tokoh Kristiani Pilihan NARWASTU (FORKOM NARWASTU). Dan di acara diskusi FORKOM NARWASTU pada medio 2016 lalu, ia pun pernah dihadirkan sebagai salah satu narasumber tentang bahaya narkoba. Selain itu, buku-buku karya Ruyandi soal kesehatan dan politik sejak dulu selalu diresensi di NARWASTU.

Pertemuan dan diskusi mereka yang memakan waktu lebih dari dua setengah jam itu tentu tak lepas dari diskusi politik, terutama soal kehadiran partai Kristen di Indonesia. Namun Ruyandi juga bicara banyak tentang eksistensi media Kristen, apalagi dulu sebelum memimpin PDS ia memimpin Majalah “Esok” dan Tabloid “Jemaat Indonesia” yang kini tidak terbit lagi. Menurutnya, warga gereja, termasuk partai politik sangat membutuhkan media Kristen, karena informasi-informasi penting selalu disuarakan media. Dan suara-suara politisi pun diberitakan media. Dan, katanya, Majalah NARWASTU adalah media Kristen yang cukup menonjol di kalangan warga gereja di Indonesia, apalagi bisa menghimpun tokoh-tokoh dari berbagai kalangan.

Menurut Ruyandi yang juga peraih penghargaan dari Presiden RI sebagai “Tokoh Nasional Anti Narkoba 2001,” menerbitkan media Kristen itu perlu perjuangan, komitmen dan dana yang tidak kecil. “Saya sudah pengalaman memimpin Tabloid ‘Jemaat Indonesia’ dan Majalah ‘Esok‘, tak mudah menerbitkannya. Saya selama ini memperhatikan pemberitaan-pemberitaan Majalah NARWASTU banyak tentang keluarga dan gereja serta bisa melihat pangsa pasar. NARWASTU juga berani mengangkat tokoh-tokoh Kristen yang sebelumnya tidak dikenal masyarakat. Bahkan saya perhatikan ada tokoh-tokoh itu kemudian menjadi bupati atau gubernur, seperti Nikson Nababan, S. Laoli dan Ahok. Dan diangkat juga sekarang Ketua Umum PSI Grace Natalie dan Ketua Umum PDS Tilly Kasenda.” terangnya.

“Tokoh-tokoh ini kemudian dihimpun NARWASTU dalam sebuah forum, dan mereka ini dilibatkan untuk ikut membesarkan NARWASTU. Saya melihat Pak Jonro Munthe sebagai pimpinan NARWASTU cukup cerdik di sini, dan ini tidak bisa dilakukan media lain, seperti yang lain. Namun di masa sekarang NARWASTU harus lebih maju dan berkembang terus. Saya dulu melihat ada Majalah ‘Bahana‘ dan Tabloid ‘Reformata‘, namun kurang bergaung dalam mengangkat tokoh-tokoh Kristen,” tukas Ruyandi.

Sebagai media Kristen, Ruyandi menyarankan agar NARWASTU terus mencermati kehidupan umat yang berada di berbagai daerah supaya masyarakat yang di perkotaan mengetahui keberadaannya. Dulu, ujarnya, saat ia memimpin Tabloid “Jemaat Indonesia” ada banyak berita tentang umat yang teraniaya dan gereja-gereja yang tertindas mereka angkat, sehingga masyarakat dan pemerintah tahu.

“Tapi saat ada wartawan ‘Jemaat Indonesia‘ bilang, Pak, ada pendeta besar yang punya kasus dan beritanya perlu diangkat agar oplah kita naik. Di situ saya tidak setuju, karena media Kristen bukan untuk memberitakan kasus pendeta atau hamba Tuhan, tapi mesti memberitakan keadilan, kebenaran dan kedamaian serta memberitakan Firman Tuhan. Sehingga dulu saya membina para wartawan kita agar mereka juga semakin tahu tentang Firman Tuhan. Bukan untuk mengangkat kasus atau aib Hamba Tuhan. Dan saya sebagai pembaca NARWASTU tentu berharap supaya NARWASTU terus maju dan berdoa supaya majalah ini maju. Untuk saat ini misalnya, bisa diangkat cerita kehidupan di masa PSBB atau masa wabah Covid-19 ini tentang orang Kristen yang menginspirasi,” cetusnya.

Kunjungan Pdt. Dr. dr. Ruyandi Hutasoit, Sp.U., M.A. di kantor Majalah NARWASTU dan diterima Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos.

“Juga tentang pola hidup sehat, termasuk tulisan agar kaum muda bisa mendapatkan jodohnya. Jadi apa yang dibutuhkan jemaat saat ini perlu diberitakan NARWASTU. Di sisi lain, para wartawan yang menulis di media Kristen harus terus di-charge agar semakin memahami Firman Tuhan dan berkembang serta bisa memiliki nilai-nilai Kristen,” ucapnya. Ruyandi pun menyampaikan, porsi untuk anak-anak muda Kristen yang sedang meniti karier pun perlu diperhatikan untuk ditulis. “Anak-anak muda adalah pemilik masa depan dan nantinya jadi pemimpin, sehingga mereka harus diangkat di media,” paparnya.

Sementara Rustika Sianturi mengatakan, kalau ditanya tentang eksistensi media Kristen saat ini, mereka pasti akan melihat Majalah NARWASTU sebagai salah satu media yang tak bisa dipandang sebelah mata. Dari sisi manajemen, Majalah NARWASTU di tangan Jonro Munthe cukup berkembang dan diakui banyak kalangan, apalagi bisa menghimpun tokoh-tokoh Kristen dari berbagai kalangan. “Kami di PDS pun merasakan dampak dari pemberitaan Majalah NARWASTU selama ini. Dan kami berterima kasih pada Majalah NARWASTU,” ujar Rustika Sianturi yang juga mantan Caleg DPR-RI.

Ferry Regar juga menyampaikan, Majalah NARWASTU perlu juga ke depan meningkatkan pemberitaannya tentang pelayanan pada korban narkoba. Seperti Yayasan Doulos, katanya, di masa wabah Covid-19 tetap melalukan pelayanan pada korban narkoba tentu dengan mentaati protokol kesehatan. Dan saat ini Yayasan Doulos punya cabang di Jakarta, Surabaya, Batu-Malang dan Makassar dalam melayani korban narkoba.

“Di sisi lain, kita perlu mencermati keadaan masyarakat kita yang banyak mengalami PHK (Pemutusan hubungan kerja) akibat wabah Covid-19. Banyak sekarang perusahaan tutup, sehingga berdampak pada PHK, dan nanti yang menjadi korban adalah keluarga-keluarga. Selain itu, ketahanan pangan kita perlu kita cermati supaya kehidupan masyarakat tidak mengalami krisis pangan. Di tengah kesulitan sekarang kita hanya mampu memberi dukungan kepada masyarakat agar kuat, semangat dan bisa melakukan inovasi. Tentu yang paling penting agar masyarakat bisa terus mengandalkan Tuhan di masa sulit ini, tetap bisa bertahan karena Tuhanlah sumber kehidupan kita,” ujar Ferry Regar. GH

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here