Drs. Tigor Tampubolon: Kita Harus Punya Satu “Rumah Politik” Bersama Umat Kristiani

574
Drs. Tigor Tampubolon figur nasionalis dan religius.

Narwastu.id – Pria Batak kelahiran Deli Serdang, Sumatera Utara, 14 Desember 1968 ini adalah figur anak bangsa yang nasionalis, religius, kritis dan selalu menggaungkan agar umat Kristiani berani bersuara lewat panggung politik untuk menyampaikan aspirasinya. Karena Indonesia adalah negara yang berdasarkan Pancasila serta majemuk, dan negara menjamin bahwa warga gereja sama hak dan kedudukannya dengan warga negara lainnya untuk menyampaikan aspirasinya demi Indonesia yang damai, rukun dan sejahtera. Sejak duduk di bangku SMA (SMA Swasta Aeknabara) Aek Nabara, Labuhan Batu, Sumatera Utara, Tigor sudah dikenal aktivis, pemberani dan kritis. Dulu guru pelajaran PSPB dan  Sejarahnya sampai menegurnya karena ia megatakan bahwa film “G 30 S/PKI” (yang diwajibkan ditonton oleh seluruh siswa secara massal di bioskop pada saat jam pelajaran sekolah) berunsur hiperbola dan bermuatan propaganda politik Suharto sebagai penguasa Orde Baru sehingga tidak memberi pencerahan sejarah yang objektif berdasarkan fakta sejarah pada penonton. Dan saat ini apa yang dikatakan dulu terbukti.

Lalu saat ada kampanye Pemilu. Kepala sekolah yang memobilisasi seluruh siswa turun berkampanye dengan wajib memakai baju seragam Golkar, Tigor melakukan protes keras kepada kepala sekolah. Sekolah tidak boleh dijadikan sebagai media berpolitik praktis apalagi melibatkan dan memaksa siswa untuk mengampanyekan hanya satu partai politik, yaitu Golkar.  Selain itu, siswa SMA juga belum semua berumur 17 tahun (masih di bawah umur sehingga tidak boleh dilibatkan berkampanye). Sebagai aksi protes, saat semua siswa di sekolah sudah dipaksa memakai baju Golkar sebelum berangkat ke lokasi kampanye nasional Golkar, Tigor hadir dengan memakai baju PDI. Kepala Sekolah marah besar dan melarang Tigor untuk ikut ke lokasi kampanye Golkar.

Tigor Tampubolon yang merupakan lulusan Sastra Batak Fakultas Sastra USU (Universitas Sumatera Utara) Medan memang terinspirasi dari kiprah ayahandanya Ardin Tampubolon (almarhum) yang dulu dikenal aktivis di Partai Kristen Indonesia (PARKINDO). Bahkan, stempel PARKINDO dulu masih disimpan di rumah mereka. Ayahnya dulu aktif juga sebagai pengurus  Pertakin (Persatuan Tani Kristen) di daerahnya. Anak ke-3 dari 7 bersaudara ini memang sejak muda sudah gelisah dengan situasi dan kondisi negeri ini, terutama saat berada di era kekuasaan Orde Baru yang otoriter dan sarat KKN (Kolusi, korupsi dan nepotisme) serta memanipulasi sejarah. Bahkan, seorang petinggi Orde Baru yang juga seorang purnawirawan ABRI (Kini: TNI) pernah dikritiknya secara keras dalam sebuah seminar di Kampus USU Medan yang saat itu sedang membahas masalah pemilu. Saat itu Tigor mengatakan bahwa  pemilu yang diselenggarakan oleh penguasa Orde Baru merupakan dagelan politik yang hasilnya sudah dipastikan Golkar menang sebelum hari pencoblosan. Seluruh PNS dan keluarga dekatnya serta keluarga TNI dan Polri wajib hukumnya memilih Golkar. Lokasi TPS sengaja dibuat di sekolah dan perkantoran serta pemungutan suara sengaja dipilih di hari kerja. Semua anggota MPR utusan daerah dan golongan adalah pilihan penguasa sehingga sudah dipastikan Suharto menjadi Presiden karena saat itu Presiden dipilih oleh MPR.

Selanjutnya, saat Tigor Tampubolon kuliah ia aktif dalam organisasi kampus. Ia pernah menjadi Wakil Ketua BPM (Badan Perwakilan Mahasiswa) Fakultas Sastra USU Medan. Selain itu, juga ia bergabung di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Medan dalam Komisariat Khusus yang dikenal aktif menggembleng para kadernya supaya tinggi iman, tinggi ilmu, dan tinggi pengabdian.

Drs. Tigor Tampubolon bersama Pemimpin Umun/Pemimpin Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos.

Saat kuliah ia merasa terusik ketika salah satu unit kegiatan mahasiswa di kampus di fakultasnya, yakni Kebaktian Mahasiswa Kristen (KMK) dilarang beribadah di gedung aula kampus oleh Dekan sehingga sebagai wujud protes mahasiswa, ratusan anggota KMK mengadakan ibadah di halaman kampus. Kala itulah hati Tigor terdorong untuk membela KMK sehingga ia mengirim surat ke petinggi kampus dan menyampaikan bahwa kegiatan KMK itu semata-mata untuk meningkatkan kerohanian mahasiswa sebagai bagian dari pembangunan mental dan spritual mahasiswa sebagai generasi masa depan bangsa. Karena itu tak ada alasan bagi Dekan melarangnya. Surat protes yang disampaikan Tigor ke Dekan ini tembusannya sampai ke rektor dan petinggi negeri di Jakarta, termasuk ke Pangdam Bukit Barisan dan Panglima TNI. Dekan langsung merespon dan akhirnya mengizinkan kembali pemakaian fasilitas kampus FS USU untuk melakukan pembinaan kerohanian mahasiswa Kristen oleh pengurus KMK. “Bahkan, peralatan ibadah seperti sound system yang tadinya biasa dibawa pengurus KMK, akhirnya oleh Dekan diizinkan memakai milik fakultas.

Sejak itulah saya ikut bergabung di KMK, meskipun waktu itu orang KMK selalu merasa dirinya ‘anak-anak Tuhan’ sedangkan mahasiswa GMKI disebut ‘anak-anak duniawi.’ Di situlah pengurus KMK melihat kepedulian GMKI berjuang untuk keadilan dan kebenaran,” ujar Tigor Tampubolon, ayah tiga anak dan suami tercinta Lasmaria Gultom ini.

Tigor Tampubolon mulai merantau ke Jakarta tahun 1995 dengan tujuan melanjutkan studi S-2 sambil bekerja. Tahun 1996 memulai kuliah di Fakultas Pascasarjana IKIP Negeri Jakarta. Pria Batak yang gigih dan ulet ini, bersama teman-temannya alumni USU, UI, dan ITB mendirikan usaha bersama tahun 1998 yang ditekuninya hingga sekarang. Mengandalkan Tuhan di dalam setiap nafas langkah  kehidupan menjadi motto dalam hidup. Tigor merasakan begitu besarnya mukjizat Tuhan yang terjadi dalam kehidupannya karena usaha bersama yang dibangun bersama kawan-kawan beliau justru dimulai ketika perekonomian bangsa ini runtuh akibat krisis ekonomi dan krisis kepercayaan kepada penguasa.

Berbicara tentang dunia mahasiswa, Tigor Tampubolon dulu sering berada di garda terdepan untuk memimpin rekan-rekannya mahasiswa guna menuntut keadilan dan kebenaran. Ia bersama mahasiswa se Kota Medan menuntut pemerintak supaya menutup Indorayon (pabrik pulp & rayon raksasa) di Porsea, Toba, Sumatera Utara karena  merusak lingkungan kawasan hutan sebagai di daerah tangkapan air di kawasan Danau Toba dan limbahnya mencemari lingkungan. Kehadiran Indorayon (kini namanya: Toba Pulp & Paper) merusak segalanya termasuk tatanan kehidupan masyarakat di kawasan tersebut.

Tak hanya itu, Tigor turun langsung mengorganisasi Pemuda HKBP Sumbagut sebagai garda terdepan menentang pemerintah yang saat itu mengintervensi pengangkatan pejabat ephorus HKBP oleh Panglima Kodam Bukit Barisan atas permintaan pemerintah pusat. Kala itu Tigor berada di barisan pembela kelompok Setia Sampai Akhir (SSA) yang dipimpin Ephorus HKBP Pdt. Dr. SAE Nababan, LLD, yang memang dikenal tokoh gereja yang berani mengkritisi kebijakan-kebijakan penguasa. Tigor bersama rekan-rekannya sering berhadapan dengan militer dan preman pendukung kebijakan pemeritah. Bahkan Tigor pernah ditangkap aparat dan ditahan satu malam di Polres Tarutung ketika Tigor bersama pemuda HKBP melakukan perbaikan rumah jemaat yang dirusak akibat mempertahankan konstitusi HKBP dan tidak mau tunduk pada kebijakan Pangdam Bukit Barisan.  “Yang benar mesti didukung. Dan kami tegas menyampaikan supaya tentara atau Kodam jangan mencampuri urusan internal gereja HKBP. Urusan gereja HKBP biarlah itu urusan umat HKBP,” ujar Tigor yang pernah dipercaya sebagai Wakil Sekjen DPP Partai Kristen Indonesia (Parkindo) 45.

Drs. Tigor Tampubolon dalam sebuah diskusi dan ngopi bersama tokoh nasionalis dan pendiri PDKB Gregorius Seto Harianto, yang kini juga anggota Komisi Ketatanegaraan MPR-RI. Tampak pula Drs. Alidin Sitanggang, Isaac Pangihutan Manullang dan Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos.

Saat kekuasaan Orde Baru masih kokoh, Tigor pun sering mengikuti kegiatan-kegiatan kelompok prodemokrasi yang mengkritisi penguasa Orde Baru. Misalnya, saat diadakan mimbar bebas di kantor PDI pada 1996 silam, ia sering hadir di sana menyemangati teman-temannya. Dan kala kerusuhan 27 Juli 1996 meletus ia saat itu tak berada di sana. “Tuhan masih melindungi saya. Andai saja saat kerusuhan itu saya berada di sana, saya mungkin sudah tak ada lagi,” kenang Tigor yang pernah aktif bersama sejumlah pimpinan parpol Kristiani di FORKRIS untuk mengupayakan penyatuan parpol-parpol Kristiani, seperti PDKB, PDS, Parkindo 45, PKDI, Partai Kristen Demokrat dan beberapa parpol lain supaya bersatu menghadapi Pemilu 2014. Namun perjuangan Tigor saat itu bersama Pdt. Shepart Supit, Jerry Sirait, Alex Paat (sekarang almarhum) dan tokoh Kristen lainnya belum menghasilkan kesepakatan sehingga tidak ada partai berlatar Kristiani yang ikut dalam pemilu.

Berbicara tentang keaktifannya di Gereja HKBP,  pada 16 April 2000 ia bersama Pdt. Armin Tulus Sihite (sekarang almarhum) mendirikan gereja HKBP Filadelfia, Tambun, Bekasi. HKBP Filadelfia menginduk ke HKBP Resort Duren Jaya di bawah pimpinan Pdt. Armin Tulus Sihite pada tanggal 16 April 2000. Tigor didaulat sebagai pimpinan jemaat (guru huria) HKBP Filadelfia sejak didirikan hingga tahin 2003. Rapat rapat proses pembentukan dan pendirian jemaat HKBP Filadelfia dilakukan di rumah Tigor Tampubolon di Perumahan Villa Bekasi Indah 2, Tambun, Bekasi. Bahkan rumah beliau iniliah sebagai tempat peribadatan pertama dan sebagai pusat administrasi HKBP Filadelfia. Namun dalam perjalanannya, HKBP Filadelfia  mengalami teror masif dari sekelompok massa intoleran sehingga peribadatan HKBP selalu terganggu. Bahkan, rumah Tigor sempat digeruduk sekelompok massa dan diancam dibakar sehingga anak-anak dan istrinya ketakutan. Waktu itu, aksi massa begitu massif untuk menghentikan kegiatan ibadah HKBP Filadelfia yang kala itu Tigor Tampubolon dipercaya sebagai pimpinan jemaat atau guru huria dan ia ditahbiskan jadi sintua pada Oktober 2000. Karena begitu massifnya penganiayaan terhadap gereja saat itu karena penegakan hukum kurang tegas, akhirnya Tigor Tampubolon melibatkan diri dalam politik atas ajakan Pdt. Armin Sihite, yang saat itu melayani di HKBP Duren Jaya, Bekasi, agar bisa memperjuangkan masalah peribadatan itu lewat jalur politik. Tigor berjuang melalui Parkindo 45 yang pada tahun 2000 diaktifkan kembali sebagai partai politik. Tigor berharap melalui jalur partai politik diharapkan bisa mewarnai setiap kebijakan pemerintah untuk melindungi setiap warga negara melaksanakan hak beribadah. Awalnya sebagai Ketua DPC Parkindo 45 Kabupaten Bekasi, kemudian menjadi wasekjen DPP hasil Kongres Parkindo 45 di Surabaya. Dalam Kongres Parkindo di Surabaya, Tigor menjadi moderaror dalam persidangan AD dan ART partai. Dan pada saat Kongres Parkindo di Cibubur, Jakarta, Tigor berperan sebagai sekretaris pengarah kongres. Dalam melaksanakan tugas-tuhas partai, Tigor aktif membentuk DPD-DPD dan DPC-DPC Parkindo 45 di Sumatera dengan segala daya, upaya dan jaringan yang dimilikinya dan dengan menggunakan biaya sendiri. Sayang, Parkindo 45 tidak bisa lolos dalam verivikasi faktual KPU sehingga tidak pernah ikut pemilu sejak diaktifkan kembali tahun 2000. Tigor hingga kini tetap punya obsesi agar umat Kristiani (Kristen dan Katolik) harus memiliki rumah politik sendiri agar kita bisa menyuarakan aspirasi umat-Nya. “Saya bukan ingin menjadi anggota DPR RI atau agar menjabat di parpol, tetapi saya hanya ingin supaya umat Kristen punya rumah politik sendiri sehingga kader-kader gereja, termasuk kader mahasiswa dari GMKI atau PMKRI bisa masuk ke rumah politiknya sendiri untuk melanjutkan perjuangan saat di GMKI dan PMKRI. Mereka tidak lagi menjadi penumpang di rumah politik orang lain. Perjuangan untuk membangun satu parpol Kristiani ini memang berat, tetapi harus wujudkan, tegas Tigor Tampubolon.

Tigor mengatakan pada saat era reformasi bergulir,  Gus Dur langsung mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebagai rumah politik umat NU. NU mengurusi mengurusi keumatan dan PKB berjuang di panggung politik. Prof. Amin Rais, tokoh sentral Muhammadiyah juga membentuk Partai Amanat Nasional (PAN).

Umat Kristiani yang jumlahnya puluhan juta seharusnya memiliki rumah politik sendiri. Dulu kita punya Parkindo, PDKB dan PDS yang bisa tampil di DPR. Itu dulu. Sekarang tak ada lagi. Karena itu kita harus menyatuksn kekuatan. Jangan nyamsn sebagai penumpang di rumah politik orang lain. Kita bisa kembali memiliki rumah politik sendiri,” ujar mantan Wakil Ketua Panitia Deklarasi Relawan Alumni USU untuk mendukung Jokowi-Amin ini.

Tigor Tampubolon juga adalah orang yang sangat peduli dengan pelestarian dan pemajuan kebudayaan Batak. Sebagai alumni Sastra Batak, Tigor selalu melibatkan diri dalam setiap kajian kajian ilmiah yang bertujuan untuk melestarikan dan memajukan kebudayaan Batak. Dalam waktu dekat (20 sampai 22 Oktober 2022), Tigor bersama pemerhati dan akademisi kebudayaan Batak akan menyelenggarakan kongres pertama Kebudayaan Batak di Balige, Sumatera Utara. Kongres ini diketuai oleh Prof. Dr. Robert Sibarani, M.S., yang juga alumni Sastra Batak (dulu namanya jurusan Sastra Daerah, Program Studi Sastra Batak Fakultas Sastra USU Medan) yang sekarang  menjabat sebagai Ketua Lembaga Penelitian USU setelah mengakhiri masa tugasnya sebagai Direktur Sekolah Pascasarjana USU. Baru baru ini, Prof. Robert Sibarani, M.S. terpilih menjadi 100 peneliti terbaik di dunia bidang sosial budaya. Dalam kongres ini Tigor Tampubolon berperan sebagai sekretaris panitia.

Tigor Tampubolon juga adalah orang yang sangat peduli dengan kemajuan pendidikan anak anak yang akan menjadi pemimpin bangsa ini di masa depan. Melalui Kelompok Kerja Maduma (beranggotakan Alumni USU), Tigor Tampubolon dan kawan-kawan melakukan pembelajaran tambahan khusus persiapan masuk Perguruan Tinggi Negeri secara daring (karena sedang pandemi Covid-19) ke seluruh siswa kelas 12 SMA HKBP di SMA HKBP Pematang Siantar, SMA HKBP Tarutung 1, SMA HKBP Tarurung 2, dan SMA HKBP Sibolga yang berada di bawah naungan Badan Penyelenggara HKBP yang dipimpin oleh Ny. Luhut Binsar Panjaitan Ibu Devi Simatupang dan Prof. Dr. Robert Sibarani, M.S.

Drs. Tigor Tampubolon tak berhenti berbuat sesuatu untuk masyarakat.

Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Ephorus HKBP. Pembelajaran ini dilakukan dengan menggandeng lembaga bimbingan belajar terbaik di Indonesia saat ini sebagai pelaksana, yakni Lembaga Konsultasi dan Bimbingan Belajar Prosus Inten Wilayah Bandung. Prosus Inten adalah lembaga pendidikan luar sekolah yang mendedikasikan diri mendampingi dan membimbing siswa SMA di seluruh Indonesia yang bercita-cita melanjutkan kuliah di perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia, seperti UI, ITB, IPB, Unair, ITS, USU, dan PTN lainnya yang bersifat umum maupun kedinasan. Prosus Inten memang mengkhususkan diri dalam bidang ini dan menjadi yang terbaik di Indonesia saat ini.

Target kita, seluruh siswa SMA HKBP di bawah naungan BPP HKBP akan lulus ke perguruan tinggi negeri, kecuali ada cita-cita lain seperti masuk sekolah pendeta, kata Tigor Tampubolon, sosok yang multitalenta ini mengakhiri perbincangan.

Berikut ini adalah perbincangan Tigor Tampubolon dengan wartawan Majalah NARWASTU baru-baru ini di kawasan Kota Bekasi, Jawa Barat.

 Mengapa Anda sering mengatakan, kita perlu, bahkan harus memiliki rumah politik bersama umat Kristen dan Katolik untuk berjuang di tengah bangsa yang majemuk ini?

Rumah politik ini menjadi sangat penting dan strategis karena bangsa kita adalah bangsa yang majemuk dalam bingkai NKRI yang berazaskan Pancasila yang dirangkai dalam Bhinneka Tunggal Ika. Aspirasi umat Kristen dan Katolik untuk serta dalam membangun bangsa melalui jalur politik menjadi sebuah kekuatan dalam membangun keseimbangan dan sinergitas. Bersama dengan warga NU dalam rumah politik PKB, warga Muhammadiyah dalam rumah politik PAN, dan rumah politik lainnya kita membangun NKRI dari Sabang hingga Merauke berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Melalui rumah politik bersama ini, aspirasi umat akan bisa langsung sampai ke Sidang Paripurna untuk didengar dan diberikan solusi. Bila aspirasi kita titipkan melalui rumah politik lain, belum tentu aspirasi ini sampai ke Sidang Paripurna. Menitip dengan mengantar langsung sangat berbeda hasilnya. Pertanyaan: Apakah bisa membangun rumah politik ini? Saya dengan mantap menjawab: BISA. Syaratnya: BERSATU.

Apa yang membuat Anda selalu gelisah melihat parpol bernuansa Kristen yang sulit bersatu sejak masa Reformasi?

Ego pribadi yang ditempatkan di atas kepentingan kolektif. Harus saya, bukan dia. Lebih hebat saya dibanding dia, mengapa dia pula yang memimpin. Sebagai generasi muda, saya sangat gelisah melihat perilaku berpolitik umat Kristen dan Katolik yang seperti ini. Hanya mendirikan satu rumah saja, kita harus bersatu dan bekerja sangat keras. Kuncinya kita harus bersatu. Jangan dirikan lebih dari satu. Bila lebih dari satu, tak satupun yang jadi rumah yang bisa didiami.

Ini karena Undang-Undang Pemilu yang menetapkan persyaratan yang sangat berat: memiliki kepengurusan dan kantor di 100% provinsi, 75% kabupaten/kota di tiap provinsi, 50% kecamatan di kabupaten/kota tersebut dan memiliki keanggotaan 1/1.000 jumlah penduduk di kabupaten/kota tersebut. Harusnya kita bahu-membahu membangun satu rumah kita. Kalaupun kita merantau ke kampung atau rumah orang, kita hadir dengan tegak kepala karena sesungguhnya kita memiliki rumah, bukan gelandangan tanpa rumah sehingga harus mencari tumpangan.

Bagaimana Anda melihat perjuangan parpol Kristen selama ini di panggung politik?

Secara orang per orang sudah luar biasa. Hanya saja, perjuangan itu tidak memiliki kekuatan karena orang per orang itu menumpang di rumah orang yang kita di sana tidak sebagai pengambil dan penentu kebijakan. Ibarat lidi, bahannya sudah bagus, tetapi karena tidak disatukan, tidak bisa digunakan menyapu untuk membersihkan sampah.

Bagaimana Anda melihat kiprah atau perjuangan tokoh-tokoh Kristen yang ada di parpol nasionalis besar selama ini?

Luar biasa. Akan tetapi, mereka tak berdaya membawa partai yang ditumpanginya angkat bendera ketika ada kebijakan publik yang mengorbankan sekelompok orang, misalnya, melarang beribadah, melarang mendirikan rumah ibadah, bahkan membakar rumah ibadah.

Apa harapan Anda pada parpol Kristen atau politisi Kristen dalam menyambut Pemilu 2024?

Harapan dan doa saya, kalahkan ego, bantulah membangun rumah politik bersama umat Kristen dan Katolik. Bila rumah itu sudah terbangun, lalu kita merasa kurang pas tinggal di rumah itu, kita bisa pergi ke rumah orang lain dan kawan-kawan kita boleh tinggal di rumah bersama itu.

Anda seorang pengusaha/profesional, namun cukup peduli pada perjuangan parpol Kristen di tengah bangsa ini. Apa sesungguhnya yang menjadi kegelisahan Anda?

Saya adalah pekerja mandiri, buka usaha kecil-kecilan bersama kawan-kawan. Bukan pengusaha. Saya sedih melihat adik-adik yang belajar berorganisasi di GMKI dan PMKRI. Setelah keluar dari kampus, mereka tak lagi memiliki tempat bernaung. Mereka dengan caranya sendiri-sendiri harus mencari tumpangan di rumah orang lain. Sementara teman-teman dari PMII selesai dari kampus bisa langsung masuk ke rumah barunya PKB, dan yang dari IMM bisa masuk ke rumah barunya PAN. Yang dari GMNI bisa masuk ke rumah barunya PDIP.

 Pemilu atau Pilpres 2024 sudah dekat dan calon-calon Presiden RI pun mulai bermunculan. Apa pendapat Anda soal fenomena ini?

Sangat bagus. Semakin banyak yang mendeklarasikan diri, semakin mudah kita menemukan calon pemimpin yang benar-benar berjiwa Pancasila dan konstitusional serta visioner untuk membawa bangsa ini menuju kemakmuran yang berperikemanusiaan dan berkeadilan.

Apa harapan Anda kepada para pemimpin gereja terkait dengan adanya parpol Kristen saat ini?

Pemimpin gereja harus mendorong umatnya membangun rumah politik bersama ini, tetapi mereka tidak boleh berpolitik praktis. Mereka tetap berpolitik, yaitu politik kebangsaan. Saya bangga melihat Gus Dur sebagai tokoh sentral NU yang turun tangan langsung membangun rumah politik bersama warga NU, PKB. Setelah berdiri, NU membuat jarak secara organisasi. Memandirikan PKB. Layanan kerohanian umat diurus NU dan layanan politik umat diurus PKB. Sungguh indah dan sangat luar biasa.

 Apa yang Anda harapkan dari para pimpinan parpol Kristen dalam menghadapi Pemilu 2024?

Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Saatnya kita membuka hati untuk duduk bersama. Bila kita mengaku memiliki roh yang sama, yaitu Roh Kudus, dalam tindakan pun kita bisa sama. Jadilah menjadi pemimpin yang meninggalkan jejak sejarah yang selalu diikuti generasi kemudian, bukan jejak yang disesali oleh generasi kemudian.

 Lalu apa harapan Anda kepada para cendekiawan Kristen atau pimpinan ormas Kristen dalam melihat situasi bangsa kita, apalagi di masa pandemi Covid-19 dan pertarungan menyambut Pilpres 2024 mendatang?

Harapan saya kepada seluruh pemimpin umat Kristen dan Katolik harus mengerahkan seluruh kekuatan organisasinya membantu pemerintah mewujudkan keadilan dan kemakmuran atas dasar peri kemanusiaan. Kita juga harus bahu-membahu dalam menanggulangi pandemik Covid-19 dengan mematuhi seluruh protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah. Sebagai pemimpin, kita harus di garda terdepan memberi contoh dan teladan.

Dalam memilih pemimpin Indonesia di Pemilu 2024, setiap orang yang berstatus warga negara Republik Indonesia harus menjunjung tinggi konstitusi dalam memilih dan menetapkannya. Adalah tugas kita bersama untuk mengedukasi seluruh rakyat Indonesia pemegang hak pilih agar memilih pemimpin yang negarawan, melindungi segenap tumpah darah Indonesia. HG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here