Viktus Y.K. Murin, S.Pd Masuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2018 Pilihan NARWASTU”

62
Viktus Murin, S.Pd. Nasionalis

Narwastu.id – Seperti tahun-tahun yang lalu, Majalah NARWASTU yang kita cintai ini kembali menampilkan “21 Tokoh Kristuani 2018 Pilihan NARWASTU.” Dan 21 figur pilihan ini selama ini kami ikuti jejak rekamnya, aktivitasnya (pelayanannya) di tengah gereja, masyarakat dan bangsa. Dan tentu saja mereka adalah sosok yang pernah muncul di dalam pemberitaan Majalah NARWASTU. Kami tak bakal mempublikasikan figur-figur yang sehebat apa pun kalau belum pernah muncul di dalam pemberitaan NARWASTU. Karenanya, sekali lagi, tokoh-tokoh pilihan di akhir tahun ini adalah pilihan Majalah NARWASTU, bukan pilihan media lain atau lembaga tertentu.

Satu hal yang kami lakukan sebelum mengangkat figur-figur ini adalah menanyakan ke sejumlah pihak tentang kiprah mereka, termasuk kepada sejumlah Pembina/Penasihat NARWASTU. Karena, bagi kami, masukan atau komentar dari pihak lain atau Penasihat BARWASTU pun perlu didengarkan dan pertimbangkan. Seperti tokoh-tokoh terdahulu, 21 tokoh yang tampil kali ini kami pilih lantaran punya pemikiran, gagasan atau karya yang mampu mempengaruhi banyak pihak. Dan kriteria yang kami patok untuk memilih seseorang tokoh, pertama, si tokoh mesti seorang figur Pancasilais dan mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta memahami Bhinneka Tunggal Ika.

Kedua, si tokoh mesti peduli terhadap pelayanan di tengah gereja, masyarakat, bahkan bangsa, serta tak jarang menjadi perbincangan banyak orang. Dengan istilah lain si tokoh bisa bahkan sering menjadi the news maker (pembuat berita). Ketiga, si tokoh mesti mampu menginspirasi dan memotivasi banyak orang dengan kiprahnya, apakah itu di bidang sosial kemasyarakatan, gereja, hukum, politik, ekonomi, pendidikan, media, organisasi maupun profesionalisme.

Ada pun ke-21 tokoh pilihan tersebut, yakni (1) Pdt. Dr. Andar Ismail, (2) Raden Y. Dian Setio Lelono, (3) Pdt. Gomar Gultom, M.Th, (4) Djarot Subiantoro, (5) Erwin Ricardo Silalahi, S.E., (6) Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham, (7) Pdt. Lusiana Harianja Pella, M.Th, (8) Pdt. Banner Siburian, M.Th, (9) Cara Laksono, MBA, (10) Ir. Jannerson Girsang, (11) Adri Lazuardi, (12) Pdt. Dr. Ir. Tjepy Jones Budhidarma, M.Sc, (13) Viktus Murin, S.Pd, (14) Dr. Angel Damayanti, M.Si, (15) Bangun Salmon Siagian, S.H., M.H., (16) DR. (HC) Esther Sijabat, (17) Pdt. Mangasa Butarbutar, S.E., M.Th, (18) Pdt. Jimmy Jackson Iskandar, (19) Heben Heser Ginting, S.E., A.Md, (20) Lidya Natalia Sartono, M.Pd dan (21) Pdt. Sapta B.U. Siagian, M.Th.

Tokoh-tokoh yang kami pilih ini berasal dari berbagai etnis (suku), denominasi gereja maupun latar belakang politik. Dan kami berikan apresiasi atau award sebagai tokoh Kristiani kepada mereka sebagai hadiah Natal dan Tahun Baru 2019 terindah di akhir tahun 2018 ini. Tentu saja, figur-figur pilihan NARWASTU yang sudah diseleksi sejak Juli 2018 lalu dari 100-an tokoh yang pernah dipublikasikan di majalah ini, tetaplah insan biasa yang punya kekurangan.

Hanya saja, ada dalam diri mereka nilai-nilai juang dan kegigihan dalam mengupayakan pencerdasan, kedamaian, kerukunan, kebaikan dan kesejahteraan kepada sesama. Akhirnya Tim Redaksi Majalah NARWASTU mengucapkan, selamat dan sukses kepada “21 Tokoh Kristiani 2018” ini, kiranya Bapak/Ibu terus ditolong dan diberkati Tuhan Yang Maha Rahmat di dalam kiprah selanjutnya di tengah gereja, masyarakat dan negeri tercinta ini. Syalom dan salam kasih NARWASTU.

Dulu Sekjen Presidium GMNI Kini Wakil Sekjen Partai Golkar

Pria asal Nusa Tenggara Timur (NTT) ini, lahir di Kabupaten Lembata, NTT, pada 1 Januari 1969. Dalam kiprahnya sebagai tokoh muda nasionalis, sejak era Orde Baru ia sudah dikenal aktivis mahasiswa yang kritis dan vokal. Bersama para mahasiswa dan kelompok prodemokrasi, Viktus Y.K. Murin, S.Pd ikut berjuang menurunkan penguasa Orde Baru pada 1998 silam. Tak heran, kalau ia sudah kerap mendapat teror saat dulu berjuang. Viktus yang kini menjabat sebagai salah satu Wakil Sekjen DPP Partai Golkar, mengikuti studi S1 di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di Universitas Nusa Cendana (Undana), Kupang, program  Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (1995).

21 Tokoh Kristiani 2018 Pilihan Majalah NARWASTU saat menerima penghargaan di Graha Bethel, Jakarta Pusat, pada Januari 2019. Pemberian penghargaan seperti ini sudah dimulai sejak 2007 lalu di Gedung LPMI, Jakarta Pusat.

Sembari kuliah, mantan Calon Wakil Bupati Lembata (2011) yang diusung Partai Golkar bersama Calon Bupati Herman Y.L. Wutun ini, pun aktif di organisasi kemahasiswaan. Misalnya, ia aktivis GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) Cabang Kupang (1992-1996), Ketua Komite Kaderisasi Presidium GMNI (1996-1999) dan Sekjen Presidium GMNI (1999-2002).  Di samping itu, Viktus yang beribadah di Gereja (Paroki) Santo Yoseph, Matraman, Jakarta Timur, pernah menjadi wartawan di Pos Kupang, Berita Yudha, Majalah Skala, koran Proaksi dan koran Ratra. Dan kini ia menjabat sebagai Pemimpin Perusahaan medio online Bersih.id, yang punya motto “Meretas Jalan Menuju Indonesia Bersih.”

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos diwawancarai wartawan TV, media cetak dan online di sebuah acara pemberian penghargaan kepada 21 tokoh Kristiani Pilihan Majalah NARWASTU.

Suami tercinta Deisy Debra Kasenda ini, punya satu anak, yakni Alexander Ernst Matur Murin, yang kini duduk di bangku kelas 6 SD. Pada 2004-2009 Viktus pun dipercaya sebagai anggota Tim Ahli Menpora RI era Dr. Adhyaksa Dault, S.H., dan berperan sebagai penulis pidato Menpora. Dan pada 2009-2013 ia dipercaya sebagai Tenaga Ahli Kemenpora RI. Selain itu, Viktus Murin dipercaya sebagai Ketua Bidang Kepemudaan Depinas SOKSI yang dipimpin Ali Wongso Sinaga, salah satu organisasi kemasyarakatan pendiri Partai Golkar.

Dalam kiprahnya selama ini di organisasi kemasyarakatan pemuda, sebagai jurnalis dan sebagai politisi, Viktus Murin dikenal figur yang nasionalis dan religius. Dan dia punya prinsip kuat untuk mempertahankan ideologi Pancasila agar tegak berdiri di negeri ini. Pendiri dan Wakil Ketua Umum DPP PRO JOKOWI (PROJO), Budianto Tarigan, S.Sos, S.H. yang merupakan sahabat Viktus Murin saat bersama-sama berjuang di GMNI, berkomentar, “Sahabat saya Viktus Murin ini seorang tokoh nasionalis yang punya prinsip kuat. Dia punya komitmen pada politik kebangsaan dan teguh mempertahankan Pancasila. Dia pun seorang anggota gereja yang imannya teguh. Setahu saya sahabat saya ini masuk ke Partai Golkar diajak Pak Theo Sambuaga (Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Golkar), karena memang dia kader yang bagus,” ujar Budianto Tarigan, yang juga Caleg DPR-RI di Partai Golkar dan Ketua Persatuan Alumni GMNI.

Lantaran peduli pada persoalan gereja, masyarakat dan bangsa,  pada 18 Oktober 2018 lalu Viktus Murin yang mantan Wakil Ketua PP Badan Informasi dan Komunikasi (BIK) Partai Golkar bersama rekan-rekannya dari media Bersih.id mengadakan sebuah diskusi panel bertajuk “Peran Politisi Kristiani dalam Penguatan Politik Kebangsaan” di Restoran Handayani Prima, Matraman, Jakarta Timur. Diskusi ini menghadirkan tokoh-tokoh nasionalis, terutama dari Katolik seperti Cyrillus Kerong, mantan Ketua Presidium PMKRI dan cendekiawan untuk berbicara. Acara ini pun dihadiri sejumlah caleg dari berbagai parpol, cendekiawan, rohaniwan dan puluhan jurnalis dari berbagai media.

Menurut Viktus, sekarang masing-masing kelompok di negeri ini sering bergerak sendiri-sendiri, dan dilatari arus politik SARA (suku, agama, ras dan antargolongan). Dan kini perpolitikan kita kerap beraroma eksklusif, bahkan cenderung sektarian. “Kemajemukan yang ada di negeri ini sesungguhnya adalah anugerah Tuhan. Dan kita harus perbaiki kembali kualitas hidup kita sebagai bangsa yang majemuk dengan ideologi Pancasila. Persoalan kebangsaan saat ini, seperti korupsi dan politik instant salah siapakah ini. Kalau kita dari pendekatan otokritik, ini salah kita semua,” pungkas mantan Wakil Sekjen DPP Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) pada 2003-2008 dan mantan Pemimpin Redaksi website Partai Golkar, www.golkar.or.id (2008-2009) ini.

Yang berbahaya sekarang, ujarnya, ada sentimen-sentimen sempit beraroma SARA. Dan ini mengakibatkan tatanan politik nilai menjadi lemah. Dan nafsu politik instant dengan beraroma politik SARA terlihat muncul. “Dari perspektif etika sosial harus dikatakan, ada yang salah di dalam konteks spirit kolektif kehidupan berbangsa, bermasyarakat dan bernegara,” papar penulis buku “Mencari Indonesia Balada Kaum Terirusir” (Pengantar Menpora RI/2005), “Menabur Asa di Tanah Asal” (2006), “Geliat Demokrasi di Kampung Halaman” (2009) serta pernah menulis artikel rohani di Majalah NARWASTU.

Dalam acara diskusi itu pula sempat disinggung para narasumber bahwa sesungguhnya dunia politik itu penuh dengan orang-orang jahat dan serigala. Sehingga politisi Kristiani dalam menjalankan perannya harus cerdik, seperti ular dan tulus seperti merpati.

Politisi Kristiani, disimpulkan dalam acara tersebut, pun harus memperhatikan ajaran-ajaran gereja dan tampil beda. Tujuan politik adalah mensejahterakan orang banyak. Sehingga ia jangan menipu, jangan korupsi dan harus punya karakter yang baik. Politisi Kristiani harus punya kualitas yang baik, harus punya warna dan memegang etika. Dikatakan pula, politisi Kristiani mesti jadi garam dan terang, profesional dan jujur. Bagi politisi Kristiani, sesungguhnya jabatan adalah alat untuk pelayanan. Sehingga kalau jabatannya semakin tinggi, maka pelayanannya pun harus lebih baik. Dan yang tak kalah pentingnya, politisi Kristiani mesti rajin berdoa, rajin baca Kitab Suci dan berperilaku baik di dalam keseharian. Kalau memanfaatkan media sosial (medsos) politisi Kristiani jangan sampai membuat komentar-komentar yang tidak bijaksana. JK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here