Hermawi F. Taslim, S.H. Termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2013 Pilihan NARWASTU”

50
Hermawi F. Taslim, S.H. Nasionalis.

Narwastu.id – Syalom, pembaca NARWASTU yang terkasih. Sepanjang tahun 2013 ini, ada banyak peristiwa mengejutkan plus menarik kita saksikan dalam perjalanan bangsa ini. Baik itu di bidang sosial, politik, hukum, HAM, kemasyarakatan, ekonomi, budaya dan pendidikan yang patut dicermati dan direkam. Berbarengan dengan itulah muncul sejumlah figur pejuang (Baca: tokoh) yang bersentuhan dengan peristiwa itu, termasuk figur-figur dari kalangan Kristen atau Katolik. Atas dasar itulah, seperti tahun-tahun lalu, pada akhir 2013 ini, Majalah NARWASTU yang kita cintai ini kembali menampilkan tokoh-tokoh Kristiani “pembuat berita” (news maker).

Seperti tahun-tahun lalu, ada tiga kriteria yang dibuat tim redaksi NARWASTU untuk memilih seseorang yang disebut tokoh pembuat berita. Pertama, si tokoh mesti populer dalam arti yang positif di bidangnya. Kedua, si tokoh mesti peduli pada persoalan gereja, masyarakat dan nasionalis (Pancasilais). Ketiga, si tokoh kerap jadi perbincangan dan muncul di media massa (terutama di NARWASTU), baik karena pemikiran-pemikirannya yang inovatif, aktivitasnya atau ide-idenya kontroversial. Alhasil, si tokoh adalah figur inspirator dan motivator di tengah jemaat atau masyarakat.

Tentu, bagi tim NARWASTU, tak mudah untuk memilih seseorang agar menjadi “tokoh Kristiani”. Soalnya, kiprahnya harus kami ikuti pula lewat media massa, khususnya media Kristen, termasuk mencermati aktivitas dan track record-nya. Pada akhir 2013 ini, kami pilih lagi “21 Tokoh Kristiani Pembuat Berita Sepanjang 2013.” Figur yang dipilih ini, seperti tahun lalu, ada berlatarbelakang advokat, politisi, jenderal, tokoh lintas agama, pengusaha, aktivis HAM, pemimpin gereja, aktivis gereja, pimpinan ormas, dan aktivis LSM.

Setelah diseleksi tim NARWASTU secara ketat dari 115 nama yang terkumpul, berikut kami tampilkan 21 tokoh, yakni Laksda TNI (Purn.) Christina M. Rantetana, MPH (mantan Staf Ahli Menkopolhukam), Mayjen TNI (Purn.) Darpito Pudyastungkoro, S.IP (mantan Pangdam Jaya), Marsma TNI (Purn.) Ibnu Kadarmanto, M.Si (mantan Direktur Bidang Kerjasama Luar Negeri BAKIN), Pdt. Dr. Dewi Sri Sinaga (HKBP), Pdt. Palti Panjaitan, S.Th (HKBP Filadelfia), Yohanes Handoyo Budhisejati (FMKI dan Perduki), Dr. Yusmic Daniel, S.H. (Akademisi), Ir. Barnabas Yusuf Hura, M.M. (Profesional dan aktivis Forkoma PMKRI), Hermawi F. Taslim, S.H. (Ketua Umum BPN Forkoma PMKRI).

Juga Said Damanik, S.H., M.H. (Advokat dan aktivis GPIB), Drs. Sonny Wuisan, S.H. (Wartawan Senior), Emanuel Dapa Loka (Jurnalis berprestasi), Aldentua Siringoringo, S.H. (Advokat), St. Drs. Hardy M.L. Tobing (Auditor dan aktivis gereja), Pdt. Dr. Jaharianson Saragih (Ephorus GKPS), Y. Deddy A. Madong, S.H. (Advokat), Ronny B. Tambayong, S.E., MACM (Pengusaha dan aktivis gereja), dan Pdt. DR. M.R. Lumintang, MBA (Rektor STT IKAT).

Sejumlah figur yang layak diposisikan sebagai “Tokoh Kristiani 2013” sebenarnya ada puluhan lagi, namun karena keterbatasan halaman dan kesepakatan tim, maka dibatasi hanya menampilkan 21 tokoh. Kami menampilkan profil singkat ke-21 tokoh di NARWASTU Edisi Khusus Desember 2013-Januari 2014 ini sebagai wujud apresiasi (penghargaan) kami atas perjuangan mereka selama ini di tengah gereja, masyarakat dan bangsa. Harapan dan doa kami, kiranya kiprah mereka selama ini bisa memberikan inspirasi, motivasi, pencerahan dan pencerdasan untuk kebaikan gereja, masyarakat dan bangsa ini.

Bapak/Ibu/Saudara yang terkasih, boleh-boleh saja pembaca menganggap pemilihan para tokoh ini subjektif, tapi percayalah, kami sudah berupaya objektif untuk memilihnya. Memang kami tak bisa memuaskan harapan semua pihak, dan amat manusiawi kalau tokoh-tokoh yang tampil ini punya kekurangan, karena mereka bukan orang suci atau malaikat. Sekadar tahu, di tengah tim majalah ini tak jarang ada perdebatan mengenai figur seseorang saat namanya dimunculkan. Dalam pemilihan ini, perlu dicatat kami menghindari agar dalam 21 tokoh ini tak ada “orang dalam” dari NARWASTU, seperti Pembina/Penasihat, meskipun kami akui ada di antaranya yang layak masuk.

Tokoh-tokoh Kristiani pilihan Majalah NARWASTU hadir saat acara pemberian penghargaan di Jakarta.

Bapak/Ibu/Saudara yang terkasih, lewat tulisan ini, kiranya kita bisa melihat sisi positif atau nilai-nilai juang dari ke-21 tokoh ini. Kepada mereka yang termasuk dalam 21 tokoh ini, kami sampaikan pula bahwa inilah hadiah Natal terindah dari NARWASTU sebagai insan media Kristiani kepada Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang telah berupaya ikut membentuk karakter bangsa ini. Akhirnya, kami sampaikan, selamat Hari Natal 2013 dan Tahun Baru 2014. Kiranya, Tuhan selalu memberkati kita semua, syalom.

Tokoh Katolik yang Berjuang Lewat Partai NasDem

Selama ini, Hermawi F. Taslim, S.H. dikenal mantan Ketua DPP PKB (Partai Kebangkitan Bangsa), dan dulu cukup dekat dengan Gus Dur (alm.), pendiri PKB. Hermawi Taslim pun kerap diundang sebagai pembicara dan moderator di berbagai diskusi dan seminar, baik bersama tokoh-tokoh nasional maupun bersama tokoh-tokoh Kristiani. Di Forum Diskusi Daniel Indonesia (FDDI) ia sering tampil sebagai narasumber dan moderator. Saat berbicara di sebuah diskusi FDDI, Taslim pernah menyatakan, sekarang tak bisa dipungkiri bahwa di negeri ini ada kaum fundamentalis yang sering merusak milik orang lain dan membuat peraturan-peraturan dengan dasar agama tertentu.

Bahkan, di Solok, Sumatera Barat dan Sumenep, Jawa Timur, katanya, pernah kepala daerahnya membuat peraturan dengan Syariat Islam. Katanya, kita bukan indekos di negeri ini, kita ikut berjuang untuk kemerdekaan bangsa ini. “Bahkan, darah orang Kristen dan Katolik tercurah untuk memerdekakan bangsa ini,” tegasnya. Dengan optimis Taslim menuturkan, warga gereja jangan hanya sibuk bergaul dengan komunitasnya, namun kita harus bergaul dengan saudara-saudara kita kaum Muslim.

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos saat diwawancarai wartawan seusai memberi penghargaan kepada para tokoh Kristiani pilihan Majalah NARWASTU.

“Sebenarnya banyak teman-teman kita dari kaum Muslim yang tidak setuju dengan aksi-aksi kekerasan dan penutupan tempat ibadah yang dilakukan sekelompok massa intoleran itu. Bahkan, NU sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia saat mengadakan muktamarnya, ada komisi khusus yang dibuat untuk membahas perusakan-perusakan tempat ibadah umat Kristen. Ini artinya, kita sebagai sesama anak bangsa saling peduli,” tukasnya.

Di negeri ini, kata Taslim, kita adalah warga negara yang harus mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. “Kita jangan eksklusif dengan hanya menonjolkan identitas Kristen, kita harus mau bergaul dan berbuat yang baik terhadap saudara-saudara kita yang lain,” tuturnya. Katanya lagi, kalau sekarang ada mantan aktivis GMKI dan PMKRI yang berubah jadi pragmatis, terlibat korupsi dan masalah moral, kita jangan hanya  menyalahkan, tapi itu harus menjadi refleksi kita bersama. “Sekarang keadaan makin sulit, jadi perlu peran dari kita semua untuk membangun bangsa dan negara ini,” pungkasnya.

Dalam kondisi bangsa dan negara seperti sekarang, kita jangan hanya meratapi nasib. “Pengkaderan terhadap orang-orang muda, baik di gereja maupun di GMKI dan PMKRI harus diperhatikan. Kalau dibilang, banyak kader Kristen tidak bisa mendapatkan jabatan di departemen-departemen pemerintahan, sebenarnya itu tidak semata-mata karena agama. Kalau kita punya kualitas, saya yakin kader Kristen akan tetap bisa memegang jabatan-jabatan strategis di Indonesia ini,” tukas mantan Ketua PMKRI Cabang Medan ini.

Di sisi lain, Taslim menyatakan prihatin dengan kader-kader Kristen yang terjerumus pada penjualan-penjualan aset Kristiani yang tergolong bersejarah, sehingga keadaan ini membuat integritas para kader Kristen terpuruk. “Seperti gedung di Salemba 10 yang dekat PGI, kita tentu prihatin karena gedung bersejarah itu dijual. Padahal gedung tersebut termasuk bersejarah. Makanya, pernah saya telepon Goklas Nababan (Ketua Umum PP GMKI saat itu) bahwa Forkoma PMKRI pun bisa membantu dari sisi hukum secara gratis,” ucap lulusan Fakultas Hukum USU, Medan, yang lahir di Sumatera Barat, 6 Oktober 1961 ini.

Tokoh nasional dan politisi senior PDIP, Sabam Sirait pernah mengatakan, orang Kristen adalah bagian dari bangsa ini, jadi kita harus ikut berbuat untuk kesejahteraan dan kemakmuran negeri ini. “Saya senang, ada orang seperti Hermawi Taslim yang dekat dengan Gus Dur, sehingga keberadaan kita dekat dengan semua pihak, termasuk dengan Islam bermanfaat. Dulu ada almarhum Victor Matondang (tokoh PARKINDO) yang cukup berani, dan disegani oleh NU dan Muhammadiyah. Kalau ada acara-acara NU dan Muhammadiyah ia sering diundang berbicara,” papar Sabam Sirait.

Di PKB yang didirikan Gus Dur, Hermawi F. Taslim, dulu dipercaya sebagai Ketua Bidang Hukum dan Tata Negara DPP PKB. Sebelumnya tak pernah terlintas di benak lelaki yang punya tiga anak ini untuk menjadi pengurus PKB. Taslim yang juga advokat (pengacara) dan bekas Staf Ahli di MPR-RI, kini aktif sebagai Managing Partner Taslim and Associates Law and Mediation Office.

Kiprah Taslim di dunia politik berawal dari keaktifannya di organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan. Pada akhir 2011 lalu, Taslim bersama sejumlah advokat yang tergabung di dalam Forum Advokat Pengawal Konstitusi (FAKSI) mengadakan aksi damai ke Gedung DPR-RI Senayan untuk memberikan teguran keras kepada elite politik dan penguasa agar menjalankan tugasnya dengan penuh integritas dan tidak melanggar konstitusi negara. Menurut FAKSI, aksi mereka untuk menegur elite bangsa ini, semata-mata dimaksudkan untuk mengingatkan para pemimpin bangsa ini agar tidak lalai dalam menjalankan tugasnya dalam melindungi dan mensejahterakan rakyat Indonesia.

Mantan Staf Ahli di Komisi Kerasulan Awam Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) dan bekas aktivis Kelompok Cipayung ini, kini maju sebagai Caleg DPR-RI dari Partai NasDem (Nasional Demokrat) daerah pemilihan (Dapil) Banten 3 (Tangerang Raya) nomor urut 4. Menurut Taslim, ia masuk ke Partai NasDem setelah melalui pergumulan yang cukup lama. Sebelumnya sejumlah parpol nasionalis sudah meminangnya untuk menjadi pengurus dan caleg. Sekarang ia masuk ke Partai NasDem yang dibidanai tokoh nasional Surya Paloh itu, setelah ia melihat visi perubahan dan figur-figur nasionalis yang ada di Partai NasDem sesuai dengan gagasan dan pemikiran yang selama ini kerap dilontarkannya, baik dalam berbagai tulisannya, maupun dalam berbagai diskusi. CF

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here