Narwastu.id – Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia (STTII) Jakarta mengadakan seminar dengan topik “Authority of Scripture in Mission” di Chapel STTII Jakarta, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pada Selasa, 17 Juni 2025. Pada sesi pertama Dr. Mark Tatlock, Presiden The Master’s Academy International (TMAI) dari Amerika membahas mengenai prinsip-prinsip otoritas Alkitab. Menurut Mark Tatlock, firman Tuhan itu bersih, tanpa cacat dan akan tetap untuk selamanya. “Jadi sangat bodoh jika penginjilan dilakukan dengan menggunakan strategi lain hanya untuk menarik orang-orang namun menggeser kebenaran Allah. Dalam penginjilan itu berarti memasuki peperangan rohani dan Paulus mengingatkan kita untuk memakai senjata perang, yaitu pedang/firman Tuhan (Efesus 6:10-18),” terang pendeta yang juga Professor of Mission di TMU. Ia menambahkan, lima komponen dari Paulus kepada Timotius yang dapat digunakan bagi anak-anak Tuhan, yakni pelayanan berbasis firman, amanat pelayanan berbasis firman, memberikan konten, karakter yang diperlukan berbasis firman dan perjalanan di dalam firman. “Kita sudah dipercayakan satu alat terbaik, yaitu pedang roh. Dan inilah membawa kita percaya kepada Tuhan Yesus. Jadi jangan malu untuk melakukan penginjilan,” ucap Mark Tatlock di akhir sesinya.

Di sesi kedua, Dr. Sean Ramson, President The Expositor’s Academy (TEA) berbicara tentang budaya malu dan hormat. Pria asal dari Amerika Serikat yang menetap di Philipina itu memaparkan mengenai sebuah budaya dapat membentuk setiap individu. Sedangkan hormat diartikan sebagai sebuah harga diri di depan orang lain yang membutuhkan pengakuan/ketakutan/keinginan dihormati/ingin menjadi paling sempurna dan semua itu bisa menjadi kecemburuan. Contoh Saul yang iri hati terhadap Daud. “Jadi ada ketegangan antara firman Tuhan dengan rasa malu dan hormat. Disiplin untuk menegur tentang sebuah kesalahan di depan umat baik di Philipina maupun di negara Asia seperti tidak lazim,” tukasnya.
Ia melanjutkan, otoritas Alkitab dan di manapun Allah mengutus anak-anakNya, maka harus berani menolak segala budaya yang bertentangan dengan budaya Allah. “Dikatakan dalam 1 Korintus 5:6-13 tentang ragi yang diumpakan sebagai proses dosa jika diizinkan masuk maka dapat berkembang. Jika ada orang Kristen yang tidak mau diajar dan bertobat maka harus ditegur secara langsung. Karena teguran adalah perintah dan bukan saran. Kegagalan mentaati firman Tuhan akan merusak gereja dan hubungan antar jemaat. Padahal menegur adalah bagian dari disiplin gereja sehingga dapat memberikan ajaran yang benar bagi mereka yang jatuh dalam dosa,” ujar Sean Ramson.

Di sesi terakhir Pdt. John Freiberg, D.Min dari Jakarta Gospel City Church membahas dari Roma 1:1-17. Dalam bahasannya pendeta yang telah menetap di Indonesia selama 7 tahun itu menerangkan cara dalam pemberitaan Injil kepada dunia. Yakni Allah membawa kabar baik melalui kerjasama dalam Injil, kabar baik bisa sampai hingga ujung dunia lewat pemberitaan Injil dan kemitraan Injil dalam melakukan Amanat Agung. “Apa yang dilakukan Paulus adalah patut kita lakukan dalam mengabarkan Injil. Karena kita berhutang kepada mereka yang belum mendengar dan mengenal Yesus. Bagi dunia, Injil dianggap sebagai hal yang memalukan sehingga dihujat. Namun, bagi mereka yang percaya, Injil adalah hal yang berharga. Jadi kita tidak harus hidup dalam rasa malu karena kita adalah milikNya. Amanat Agung adalah bagian dari kemenangan dan kita merupakan bagian dari itu. Jadi harus dibagikan kepada orang-orang di luar sana,” kata John Freiberg semangat.
Seminar yang juga diikuti secara virtual melalui Zoom dari berbagai daerah, bahkan manca negara itu dinilai sengat bermanfaat. Tentang hal itu tidak ditampik oleh Dr. Santono Sinaga, M.Th sebagai Wakil Satu Akademik STTII Jakarta. Menurutnya, seminar tersebut guna memperlengkapi mahasiswa baik program bachelor maupun magister, para gembala dan jemaat. “Bahwa misi itu sangat penting dan menjadi ‘nyawa’ gereja. Cuma sering misi itu tidak dilandaskan pada otoritas Alkitab, akibat dari pengaruh-pengaruh sekularisme, filsafat, humanisme dan sebagainya. Jadi seminar ini dikembalikan kepada biblicalnya/otiritas Alkitabnya,” jelas Santono Sinaga yang juga didapuk sebagai moderator. 
Seminar yang juga diselingi sesi tanya jawab itu, selain dihadiri oleh mahasiwa ada pula pendeta, dosen, pengusaha juga jemaat dari sejumlah gereja. Yang tak kalah menarik adalah keterlibatan Arief Hermato sebagai penerjeman yang sangat membantu, sehingga setiap yang hadir dapat mengikuti setiap sesinya dengan baik dan jelas. Seminar ditutup dengan penyerahan buku berisi kumpulan tulisan dari pembicara kepada Santono Sinaga, Wakil Satu Akademik STTII Jakarta dan kemudian dilanjutkan dengan foto bersama. BTY

























