Praeses HKBP Distrik XIX Bekasi, Pdt. Banner Siburian, M.Th Tokoh Kristiani 2018 Pilihan Majalah NARWASTU Layak Menjabat Sekjen HKBP

706
Pdt. Banner Siburian, M.Th bersama istri tercinta.

Narwastu.id – Tuhan pasti menyertai dan memberi tanggung jawab besar bagi yang cakap menanggungnya. Telah menjadi hukum alam orang yang teruji dan cakap untuk mengerjakan tanggungjawabnya akan pasti menerima tugas dan pekerjaan lebih besar. Paling tidak itulah yang mencuak dalam buku Pdt. Banner Siburian. M.Th, Praeses HKBP Distrik XIX Bekasi dalam buku “Tuhan Menyertai dan Melindungi!” Di sana dia mengisahkan banyak kisah inspirasi sekaligus pengakuannya selama hidup, dari sejak kecil hingga dipercayai melayani gerejaNya 26 tahun. Dalam segenap perjalanan kehidupan, itulah pula yang menjadi titik sentral pengakuan iman percayanya, bahkan, dalam segenap arak-arakan perjalanan lika-liku pelayanan, pengakuan itulah juga yang diukir dalam-dalam di hati sanubarinya yang paling mendalam.

Paling tidak itulah pengakuannya bersama isteri Damaris Prayatni boru Siagian dengan anak-anaknya Carel Hot Asi, Carlos Tua March, Caesar Wed Sam serta Chrisman Eben Ezer dalam segenap derap langkah hidup keluarga bahwa Tuhan senantiasa menyertai. Buku yang diterbitkan April 2019, tepat 25 tahun melayani sebagai pendeta. Kisah perjalanan hidupnya sebagai pendeta. Lagi, dia merasakan benar kasih Tuhan sungguh tak terhingga dan tak terselami. Berkat, penyertaan dan perlindunganNya, sesungguhnya telah nyata dalam segenap rangkaian perjalanan kehidupan serta dalam jelajah pelayanan panjang hidupnya.

“Tuhan sungguh-sungguh telah menyertai dan melindungi kami bersama keluarga dalam pelbagai suka-duka pelayanan yang telah kami lalui,” ujar pemilik ayat sidi, “Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke mana pun engkau pergi” (Kejadian 28:15a). Tentu, sebagai manusia dia juga sangat mengimani kekuatan menghormati orangtua, sejalan dengan umpasa Batak, “Tinaba hau toras bahenon sopo di balian. Naburju jala napantun marnatoras ikkon dapot parsaulian. Na tois marnatoras gomahon ni babiat.” Peribahasa Batak mengartikan, bahwa orang yang menghormati orangtuanya akan memperoleh berkat maupun rezeki. Itu menjadi tesisnya. Dan memang hal itu jugalah yang menjadi tesisnya ketika menjelesaikan Magister Teologia dari STT Jakarta.  Di kemudian hari tesis itu dibukukan. Sampai-sampai Pdt. Dr. Robinson Butarbutar mengendor, menyebut sebagaimana ungkapan “Natua-tuami do Debata natarida,” orangtua kita adalah Allah yang kelihatan.

Ungkapan tersebut menyiratkan bahwa memandang orangtua sebagai representasi Allah yang memberi restu dalam kehidupan sehari-hari. “Sebagai seorang dosen teologia, saya melihat ungkapan-ungkapan seperti ini mendalam, dan patut dicermati kedalaman maknanya. Saya kira Pdt. Banner penulis buku tersebut mendalam memahami tentang penghormatan terhadap orangtua,” demikian dalam endorsment Ketua Rapat Pendeta HKBP periode 2017-2021, Pdt. Dr. Robinson Butarbutar itu.

Kisah hidup yang ditorehkannya dari masa-masa kecil hingga menjadi seorang pendeta, masa-masa kecil anak-anaknya hingga bertumbuh remaja dan dewasa, tentu banyak suka duka dalam pelayanan. “Kami harus mengakui bahwa Tuhan telah menyertai dan melindungi kami semua. Seterjal apapun jalan yang kami daki, penyertaan dan perlindungan Tuhan, itulah kekuatan dan senjata bagi kami mengarungi derasnya bahtera kehidupan ini,” ujar organisatoris ini. Sejak mahasiswa dimulai Sekretaris Umum Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) STT HKBP (1989-1990), Sekretaris Umum Senat Mahasiswa STT HKBP (1990-1991), Ketua GMKI Bidang Organisasi dan Kader Cabang Pematang Siantar (1989-1991).

Lagi-lagi, kisah nyata hidup pribadi dan pelayanannya, sebagai sebuah perjumpaan religiusitas bersama Sang Pencipta. “Saya menuliskannya dengan jujur, tanpa banyak bumbu-bumbu narasi. Maksudnya, agar dalam setiap peristiwa atau kisah yang ada, masing-masing pembaca dapat memetik hikmat dan pelajaran iman sesuai dengan keberadaan masing-masing pula. Karena itu, message atau pesan-pesan yang hendak saya sampaikan, biarlah menyatu dan mengkristal dalam kisah dan narasi tersebut,” ujar Praeses HKBP Distrik XXVII Kalimantan Timur-Selatan (2012-2016) yang terpilih dalam Sinode Agung HKBP September 2012, dan Praeses HKBP Distrik XIX Bekasi (2016-2020). Terpilih dalam Sinode Agung HKBP Oktober 2016.

Pdt. Banner Siburian, M.Th saat berkunjung ke kantor Majalah NARWASTU pada 18 Agustus 2019 lalu, bersama Ephorus Emeritus HKBP dan anggota DPD-RI, Pdt. DR. WTP Simarmata, M.A. dan diterima Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos.

Pria ini kelahiran di desa terpencil, 21 November 1966, kurang lebih 54 tahun yang lampau. Lahir di sebuah perkampungan kecil dan terpencil, yakni Banjar Nahot Lumbanbarat, Kecamatan Paranginan, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Lahir dari dari rahim ibu Lidia Sianturi dengan ayah Walter Siburian.  Memasuki Sekolah Dasar, Pendeta Banner sekolah di kampung Banjar Nahot ke SD Negeri di Lumbanbarat. Berangkat dari rumah melalui jalan tikus yang menyatu dengan bondar-bondar, semacam tali air ke sawah-sawah. Bila jalan itu kering, tentu sedikit lebih lancar jalannya ketimbang bila dialiri air. Namun, tak begitu berarti perbedaannya, karena sama-sama dijalani dengan jalan kaki juga, tanpa sandal apalagi dengan sepatu. “Saya bersama anak-anak lain, kami semua bersekolah dengan jalan kaki, yang sering disebut dengan berjalan kaki ayam. Dan, seingat saya juga, kami tak ada baju dan celana yang seragam hingga kelas II SD pada tahun 1974,” ujar lulusan SD Negeri 173318 Lumbanbarat, Paranginan, lulus 1979 ini.

Masih terkenang di benaknya sebelum mencapai SD Negeri Lumbanbarat, dia bersama teman-temannya terlebih dahulu harus melewati Gereja HKBP Lumbanbarat. Jarak gereja HKBP ini hanya berkisar 100 meter dengan sekolah. Dan sebetulnya gereja HKBP dan sekolah masih satu area dan satu halaman, karena halamannya yang cukup luas. Dan setelah sekolah kami, terletak juga Gereja HKI (Huria Kristen Indonesia) berada di Lumbanbarat Toruan, berjarak kurang lebih 200 meter dari sekolah SD Negeri Lumbanbarat.

Selulus SD melanjutkan SMP Paranginan. Lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Paranginan melanjutkan Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Siborong-borong, Tapanuli Utara. “Kemudian kuputuskan untuk melamar (istilah yang sering dipakai ayah saya sebagai pengganti kata mendaftar dan ujian) ke STT HKBP. Saya pun mengecek kembali berkas-berkas persyaratan memasuki STT HKBP. Saat kuliah di STT HKBP, sistem pendidikan sejak tahun 1986 sudah masuk dengan Sistem Kredit Semester (SKS), meski pada kenyataannya secara praktis masih sistem semi SKS. Di antara semua mata pelajaran itu, yang paling menarik sekaligus saya minati adalah Bahasa Ibrani, yang diampu oleh dosen kami dari Inggiris, yakni Dr. David L Baker. Beliau waktu itu, selain dosen STT-HKBP, juga tenaga utusan lembaga gerejanya dari  Inggris bekerjasama dengan Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA),” ujarnya. Dua semester mereka belajar bahasa Ibrani darinya, bersama Anwar Chen, dia selalu diberi nilai A.

Sementara dosen-dosennya pada waktu itu, ialah Pdt. Prof. Dr. A.A. Sitompul, Pdt. Dr. S.M. Siahaan, Pdt. Dr. Dieter Becker, Pdt. Dr. J.R. Hutauruk, Pdt. Dr. Robinson Rajagukguk, Pdt. Bonar Tobing, M.Th, Pdt J.M. Manullang, M.Th, Pdt. A. Panggabean, Mag.Teol alias pak Apang, Pdt. P.H. Nainggolan, M.Th, Pdt. Dr. P. Sormin, Pdt. Drs. Saparini Siregar yang terus naik sepeda ke kampus dan Pdt. R. Brutzlaff, sebagai dosen part timer. Belakangan juga hadir Pdt. Dr. B.H. Situmorang, Pdt. Dr. W. Sihite, Pdt. Dr. Jamilin Sirait, Pdt. Johan Siahaan M.A., Pdt. Dr. PWT Simanjuntak, Pdt. Marolop P. Sinaga dan Pdt. MSM Panjaitan, M.Th. Dosen Musikologi adalah Pdt. Waldemar Silitonga (yang familiar disapa dengan Pensilwally) dan Pdt. Waldemar F. Simamora, M.Th (ayahanda dari Pdt. Butong Simamora di Medan) dan dosen konsultatif untuk Bahasa Inggris adalah Miss J. Tutle.

Sejak dirinya sudah naik ke tingkat III, dia diminta Rektor STT HKBP waktu itu, Pdt. Dr. A.A. Sitompul serta oleh Pdt. J.M. Manullang (sebagai Purek III bidang Kemahasiswaan) untuk menjadi asisten dosen, khususnya bidang pengetahuan Bahasa Inggris. “Saya menerimanya dengan senang hati, terutama pada waktu Kursus Intensif Bahasa Inggeris (KIBI) pada setiap penerimaan mahasiswa baru. Dari situ saya memiliki kesempatan yang lebih untuk berkenalan dengan para mahasiswa. Saya juga diberi tugas sebagai mentor kepada mereka. Lumayan juga. Setiap selesai KIBI, saya diberi cenderamata dari tugas membantu sebagai asisten dosen tersebut. Dari reward itu, pernah juga saya dapat membeli jam tangan untuk saya pakai sendiri, membeli tambahan buku bacaan, termasuk sesekali menonton film di Bioskop Pantoan,” kata ujar pemilik motto pelayanan “Menatalayani dengan Akuntabel, Bermartabat dan Bersahabat” dan motto hidup, “Sekuntum bunga yang diberi waktu hidup lebih mulia dibanding beberapa krans bunga waktu mati” ini.

Di masa kuliah dia juga aktif di berbagai organisasi. Sejak tingkat 1 sudah terlibat berorganisasi kecil-kecilan di Kampus STT HKBP. Di tingkat 1 dan 2, dia menjadi anggota Seksi Selativ Senat Mahasiswa, yakni Seksi Pengembangan Rekreasi, Seni, Pelatihan dan TV. Dan di tingkat 3, dirinya ditugaskan menjadi ketua seksinya, salah satu bagian di bawah naungan Badan Pengurus Harian (BPH) Senat Mahasiswa. Di tingkat 4, dipercaya teman-teman sekelas menjadi anggota Badan Perwakilan Mahasiwa (BPM). Setelah anggota BPM terpilih juga jadi Sekretaris BPM. Setelah jadi Sekretaris BPM tahun berikutnya terpilih jadi Sekretaris Senat Mahasiswa. Pengurus dan anggota BPM di STT HKBP itu ada sejumlah 12 orang, terdiri dari perutusan dua orang setiap tingkatan. Dan juga menjadi Ketua Badan Pengurus Cabang (BPC) Bidang Kader dan Kerohanian di BPC GMKI Pematangsiantar, yang waktu itu melayani bersama-sama dengan Rekson Silaban sebagai Ketua Cabang.

Pdt. Banner Siburian, M.Th bersama Menkumham RI, Prof. Dr. Yasonna Laoly, S.H.

Dipenjara di Gaperta

Sinode Godang HKBP pada November 1992 silam merupakan sejarah penting bagi HKBP. Baginya, itulah kali pertama mengikuti Sinode Godang sebagai peserta peninjau. Oleh karena Sinode Godang belum tuntas mengambil keputusan, maka Danrem KS 023 Kol. Daniel Toding waktu itu mengangkat caretaker pejabat Ephorus HKBP, namun dicabut kembali karena desakan dari peserta sinode. Kemudian muncul SK pengangkatan Pejabat Ephorus HKBP oleh Bakorstanasda Sumbagut, dengan nomor: Skep/3/Stada/XII/1992, yang kontroversial dan memicu perbedaan yang tajam antara umat HKBP dan para pendeta. Biduk HKBP menjadi retak. Muncullah dua kelompok di HKBP, satu disebut sebagai kelompok SSA (Setia Sampai Akhir) dan satu lagi SAI Tiara (Sinode Agung Istimewa) Tiara. Kelompok SSA sering disebut sebagai par-SSA, dan dari kelompok SAI Tiara sering disebut sebagai Monjo.

Tentulah, secara psikologis, pada umumnya warga jemaat mengharapkan agar persoalan gereja tak dicampuri oleh mereka yang tak berwewenang, meskipun ada juga yang memahami agar menerimanya begitu saja. Tahun 1993, biduk gereja HKBP ternyata tetap semakin tajam. Waktu itu, setiap pendeta bahkan warga jemaat selalu bertanya, “SSA do hamu manang Monjo.” Artinya, apakah pendukung SSA sebagai kelompok Aturan dan Peraturan, dan kelompok lain sebagai kelompok SAI Tiara. Yang terjadi curiga mencurigai semakin tinggi. Lalu, ketika terjadi rencana perebutan Kantor Pusat HKBP, Pendeta Banner pun berkeinginan melihat keadaan yang sebenarnya. Maka pada suatu ketika, mereka beribadah di gereja HKBP Pearaja Tarutung. Mereka melihat polisi dan intel sudah lalu lalang ke sana ke mari. Namun, karena mereka beribadah Minggu, tak terlalu menghiraukannya.

Namun sore harinya, saat mau istirahat, lalu menumpang tidur di rumah Pdt. Gomar Gultom di Tarutung. Tiba-tiba, pada pagi hari itu, mereka diciduk polisi dan tentara dari rumah itu. Mereka dibawa dengan naik truk menuju Kodim Tarutung. Di situ, Pdt. Banner bersama-sama teman yang lain diinterogasi dengan macam-macam, siapa yang menyuruh, dituduh makar serta melawan pemerintah. “Baju kami pun dibuka. Kami disuruh duduk berbaris di lantai bagaikan pengungsi. Berkali-kali saya ditampar serta diejek-ejek sebagai pemberontak yang melawan pemerintah. Kudengar juga mereka berkata: Saya saja tak bisa kau lawan, apalagi jenderal. Bodoh kau! Sayang sekali, saya tak mengetahui nama-nama mereka, sebab emblem namanya tak saya lihat di baju dinas mereka sebagaimana pada umumnya,” kenangnya ketika masih vikaris Pendeta di HKBP PTP-IV Kantor Direksi Gunung Pamela (1992-1994), baru kemudian pendeta jemaat di HKBP Kantor Direksi PTP IV Gunung Pamela (1994-1996). Lama jadi vikaris setelah Pdt. Dr. SAE Nababan, LID menjadi Ephorus HKBP, praktis kebijakan penerimaan pelayan menjadi diperketat.

Masih kisah tentang di penjara. Dia sering dibentak-bentak di situ, didorong dan dicampakkan masuk ke mobil truk tersebut. Sangat melelahkan, menyakitkan, mabuk dan pusing di dalam truk itu. Tidak makan kecuali minum air putih yang disediakan dalam plastik putih. Hingga pada pagi harinya, tibalah mereka di sebuah area yang kelihatan asri dari luar dengan cet kantornya seperti markas tentara. Belakangan diketahui, bahwa itulah yang disebut dengan penjara Jalan Gaperta, Medan.

“Kami dimasukkan ke dalam sebuah ruangan, yang terdiri dari dua bagian. Di bagian sebelah kiri ada semacam selokan air dan sebelah kanan semacam ruangan kelas yang pengab tanpa cahaya. Ke situlah kami dimasukkan. Di situlah kami satu per satu diinterogasi. Bahkan, di situlah kami sering dibentak-bentak oleh orang-orang tegap, namun tak berbaju dinas. Sebelumnya dalam beberapa ruangan yang kami lewati, ada juga wajah orang-orang yang sepertinya baru disengat listrik, kulitnya seperti kena panggang api dan lain-lain. Dari beberapa teman kemudian saya mendengar bahwa mereka adalah para pemberontak di Aceh yang sering disebut dengan Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) Aceh dan sebagian lagi sebagai anggota residivis. Namun, sampai di mana kebenarannya, saya pun tidak mengetahuinya dengan pasti,” ujarnya.

Seingatnya, bersama beberapa teman menghuni ruangan itu selama kurang lebih enam hari. Di situlah mereka makan nasi bungkus dengan telor dan air putih dalam plastik putih. Di ruangan sebelah tadi, tersedia ada satu toilet yang sudah mulai busuk.  “Di situlah kami kencing dan BAB, meskipun mungkin karena kurang minum, sering juga tak kencing karena dehidrasi dan tak BAB dalam dua bahkan tiga hari. Di ruangan pengab itulah kami tidur memanjang dengan beralaskan lantai kardus dan koran, tanpa sarung tanpa selimut serta tanpa obat nyamuk,” katanya.

Pdt. Banner Siburian, M.Th dalam sebuah acara di kampong halaman di Sumatera Utara.

Pertanyaan yang tak terjawab olehnya hingga sekarang adalah, mengapa oknum tentara yang menangkap  mereka, sekiranya benar mereka telah melakukan kejahatan? Mengapa tak diberi waktu untuk membela diri? Mengapa tak dibawa dan diproses di pengadilan? Mengapa dengan mempertanyakan sebuah kebijakan Bakorstanasda, lalu diperlakukan sekeji itu? Sampai hari ini, semua perlakuan ini tak pernah diproses, melainkan sudah tertutup rapat-rapat seakan-akan tak pernah terjadi. Alangkah getirnya hidup di negara ini, pikirnya dalam hati. “Seperti sudah mati rasanya saya selama seminggu di ruangan itu. Saya rasa, dalam tempo seminggu itu, mungkin satu gelas besar darahku sudah tersedot oleh nyamuk-nyamuk yang bebas berkeliaran di situ,” katanya.

Pengalaman di penjara ini menjadi pengalaman tragis yang tak akan pernah dia lupakan. “Tidak ada pula dari mereka yang bertanya, mengapa saya tak memberitahu majelis dan warga jemaat bila saya telah bepergian. Saya merasa trauma, di samping rasa takut, juga karena ingin rasanya saya memukul mereka untuk balas dendam. Setiap saya melihat tentara, terutama dengan baju lorengnya, saya menjadi spontan tak merasa simpatik dengan mereka. Meskipun ini karena ulah oknum tertentu, tetapi agak susah bagi saya untuk meredam memoriku yang amat menyakitkan dan menyedihkan itu,” cetusnya.

Masih bening dalam kenangannya, ketika masih ditahbiskan. Di satu subuh Minggu itu, sekitar pukul 05.00 WIB, mereka pun sudah semua lengkap memakai baju toga hitam di mobil yang akan membawa mereka ke suatu tempat. Pagi itu, ternyata mereka akhirnya tiba di HKBP Pulo Mas, Jakarta Timur. “Pendeta saat itu di situ seingat saya adalah Pdt. Budiman Nababan. Saya lihat Pdt. Dr. SAE Nababan sudah ada di situ. Lalu, kami pun segera siap-siap untuk mengikuti ibadah sekaligus acara penahbisan pendeta bersama dengan Guru Huria dan Bibelvrouw, pada hari Minggu Jubilate, 24 April 1994,” ujarnya.

Saat ditugaskan, surat penugasan yang diterima dituliskan menjadi Calon Pendeta pertama di HKBP PTPN-IV Gunung Pamela, Ressort Kotabaru, Tebing Tinggi-Deli. Waktu itu, pimpinan jemaat ini sudah sedang kosong. Dalam surat keputusan yang diterima per tanggal 20 Agustus 1996, dia bertugas menjadi pendeta diperbantukan di HKBP Palembang, tetapi dengan catatan tambahan membantu melayani mahasiswa di Palembang. Kampus Universitas Sriwijaya (UNSRI) kala itu sudah pindah ke Inderalaya, kecuali beberapa fakultas tertentu.

Setelah melayani di HKBP Palembang waktu itu, sejujurnya sudah serasa melayani di Sumatera bagian Selatan. Sebelum dimutasi ke HKBP Maranatha, Rawalumbu, Kota Bekasi (Jawa Barat), baru saja HKBP Baturaja diresmikan menjadi resort yang baru oleh Ompui Ephorus HKBP Pdt. Dr. J.R. Hutauruk bersama Praeses HKBP Distrik XV Sumatera Selatan, Pdt. EJP Lumbantoruan. Di Palembang di samping pelayanan yang cukup luas tersebut serta melayani pemuda dan mahasiswa. Dari Palembang  menuju Kota Bekasi, Jawa Barat. Dari bumi Sriwajaya, kota empek-empek, Pendeta Banner dipercayakan melayani di HKBP Rawalumbu di Kota Bekasi. Memang saat itu, HKBP Rawalumbu sendiri adalah merupakan jemaat cabang atau pagaran dari HKBP Rawamangun.

Pdt. Banner Siburian, M.Th dalam sebuah acara bersama tokoh lintas agama.

Pdt. DMT Hutagalung yang sebelumnya adalah Praeses HKBP Distrik VIII Jawa Kalimantan, yang juga adalah sebagai Bapak Asramanya dahulu di STT-HKBP. Sebenarnya ketika Surat Keputusan (SK)-nya ditempatkan di HKBP Maranatha Rawalumbu, Pendeta Hutagalung pernah bertelepon kepadanya di Palembang, agar secepatnya datang ke Bekasi. “Saat itu, beliau juga menyampaikan isi hatinya kepadaku, agar kami dapat bekerjasama dengan sebaik-baiknya. Tak perlu mengingat-ingat masa lalu di STT HKBP, termasuk masa-masa suram yang telah menimpa HKBP. Di mana saya dan beliau kebetulan berada dalam posisi berseberangan waktu itu. Sebagai senior, apalagi pernah menjadi Bapak Asrama bahkan menjadi Praeses di Jawa Kalimantan, tentu sayapun menyambutnya dengan tangan terbuka,” kisahnya.

Setelah melayani di HKBP Maranatha Rawalumbu, dia sudah bertekad sebelumnya tak akan berseberangan dengan Pendeta Hutagalung. “Bila kami berseberangan, saya memandang tentu hal itu akan sangat merugikan bagi kami, bagi gereja, termasuk bagi saya pribadi, yang waktu itu serasa memiliki tambahan misi khusus menjaga kondusifitas warga jemaat, khususnya beberapa kelompok sesama majelis jemaat dan kelompok tertentu di kategorial perempuan. Bagi saya, mengedepankan kepentingan umum, dalam hal ini kepentingan segenap warga jemaat, sungguh jauh lebih mulia dan berakhlak dari pada mendengar kepentingan diri sendiri, meskipun hal itu mungkin saja bisa memuaskan bahkan menguntungkan bagi kita,” katanya.

Melatih Diri Menulis

Sejak mahasiswa melatih diri untuk jadi penulis. Ada ratusan artikel dan renungan yang sudah ditulisnya. Termasuk tiga buku yang ditulisnya. Sejak awal dia ingin bertekad di hatinya harus bisa mengikuti jejak mereka para tokoh yang menulis. “Saya pun membeli beberapa buku, khususnya yang membahas bagaimana kiat-kiat praktis untuk menulis. Dengan bersusah payah saya melatih diri dan mencobanya. Terlalu banyak yang gagal. Habis waktu. Habis kertas. Habis tinta. Habis energi. Termasuk habis kesempatan untuk bercinta dan lain-lain,” ujarnya.

Selama satu tahun pertama, praktis tak ada tulisannya yang dimuat di manapun. Namun dirinya tak patah semangat. “Saya terus berlatih untuk menulis, meskipun kadang-kadang bila kita kemudian membaca tulisan kita sebelumnya, ada rasa geli dan lucu. Apakah itu karena menyangkut isi, menyangkut bahasa, menyangkut pesan yang hendak disampaikan, atau menyangkut aspek sejarah yang dikandung, menyangkut estetika bahasa yang lebih menarik atau rasa konyol karena tak mengerti apa yang kita tulis dan macam-macam lagi,” katanya.

Baginya, kegagalan adalah sukses yang tertunda, itulah kata orang-orang yang sering kudengar pada saat mereka memberi penguatan kepada orang yang belum berhasil. Betul juga. Pada semester ketiga tahun kedua, tulisannya mulai diterima dan diterbitkan di Majalah Parsaoran Ina HKBP, Majalah Lam Magodang dan Majalah Immanuel HKBP. Pada semester keempat di tahun kedua, tulisannya pun sudah diterima dan diterbitkan di koran Sinar Indonesia Baru (SIB), Medan. “Dan pada tahun ketiga dan keempat dan seterusnya, saya menjadi kolumnis rutin di koran SIB,” imbuhnya.

“Dari situlah awalnya saya menulis. Selanjutnya saya menulis lepas di berbagai media lain, seperti Majalah Nusalima di Pekanbaru. Juga menulis buku-buku kecil, menulis artikel, menjadi editor atau kontributor di majalah tertentu seperti majalah Berita Batak dan belakangan di Majalah NARWASTU. Terakhir, saya dipercaya HKBP menjadi anggota Dewan Redaksi Majalah Immanuel HKBP selama dua periode berturut-turut pada tahun-tahun sebelumnya. Tak pintar-pintar amat, namun juga tak bodoh-bodoh amat. Seperti kata banyak orang: Ya, cukup-cukup makanlah,” katanya.

Pdt. Banner Siburian, M.Th dalam sebuah acara HKBP.

Sewaktu masih melayani di HKBP Rawalumbu, sebagian warga jemaat ternyata ada juga yang berlangganan Majalah Immanuel HKBP. Tentu, pastilah mereka bertemu dengan tulisannya. “Di situ lewat tulisan atau artikel-artikel yang saya tulis,” ujarnya. Barangkali, melihat itulah beberapa warga jemaat sering juga mengajukan agar dirinya melanjutkan pendidikan sebagai penulis yang lebih profesional. “Kadang-kadang saya merasa bangga juga dengan usulan tersebut. Tetapi dalam hati saya hanya berkata: Bila saya bisa menulis renungan-renungan kecil sajapun di gereja, itu sudah syukur,” tukasnya.

“Sejak tahu menulis, saya baru tahu ternyata setiap tulisan kita dihargai juga oleh penerbit. Sejak dari Kampus STT-HKBP, memang saya sudah membuktikannya. Seperti managemen koran SIB, setiap tulisan yang terbit, maka akan dikirim kemudian semacam honor menulis, yang dikirim lewat wesel pos. Bila teman-teman mahasiwa kelasku sudah mengetahui tulisanku terbit, mereka sudah menanti-nanti kapan wesel itu akan tiba. Sebab bila itu tiba, biasanya kami akan makan bersama di luar, minimal makan mie di kedai si Patuteng atau Indomie goreng di kantin kampus. Namun setelah itu, setiap honor menulis, akan selalu saya sisihkan sebagai simpanan. Khusus yang ini, aku sudah beritahu isteriku Damaris, biarlah itu menjadi kas kecilku. Kalaupun ada simpananku sedikit, biasanya itu merupakan akumulasi dari honor-honor menulis yang kuikuti selama ini,” terangnya.

Menjadi Blessing in disguise. Sempat digadang-gadang menjadi pendeta resort di HKBP Rawalumbu, namun entah apa sebab itu tak jadi namun dipindahkan ke HKBP Rawamangun tetap menjadi pendeta pembantu. Tak jadi dipercaya menjadi Pendeta Ressort di HKBP Maranatha Rawalumbu, namun dengan pindah ke HKBP Rawamangun. “Saya menarik sendiri hikmah dari situ, bahwa Tuhan lebih menghendaki saya belajar studi lanjut di STT Jakarta, sehingga selain tempatnya lebih dekat, sayapun dapat membagi waktu seefektif dan seefisien mungkin untuk melayani di HKBP Rawamangun di satu sisi dan mencuri-curi waktu untuk kuliah di sisi lain,” katanya.

Menjadi Anggota MPSD

Ketika masih melayani di Rawalumbu, ia terpilih menjadi utusan Sinode Godang HKBP. “Otomatis, saya menjadi peserta Sinode Distrik juga. Tentu, jarang seorang pendeta diperbantukan beroleh kesempatan seperti ini. Namun itu mungkin karena sebelumnya dia berperan sebagai pelaksana Guru Huria, sebagai jabatan yang masih diperhitungkan waktu itu, karena diposisikan sebagai jabatan struktural di HKBP,” ujarnya. Bila tiba waktunya Sinode Godang dilaksanakan, sering juga masuk sebagai anggota Panitia Tona. Bahkan, hingga menjadi Praeses pun, acap kali tugas itu selalu diembankan sinode kepadanya. “Sedangkan di Sinode Distrik, selain menjadi panitia Tona (panitia pesan sinode), saya juga sering dipercaya menjadi Sekretaris Kelompok, yang tentu saja akan senantiasa memaparkan hasil kerja kelompok. Momentum ini menambah kesempatan bagi saya berkenalan dengan banyak Pendeta Ressort, tokoh-tokoh gereja dan utusan lain di jajaran HKBP Distrik Jakarta-2,” katanya.

Ketika Sinode Distrik periode digelar waktu itu pada tahun 2004 di Hotel Santo Jaya, Puncak, Bogor, Jawa Barat, dia pun terpilih menjadi salah seorang anggota Majelis Pekerja Sinode Distrik (MPSD). Waktu itu, dia sendiri tak membayangkan terpilih menjadi MPSD, padahal sebagian senior para Pendeta Ressort tidak terpilih. Ini menjadi kepercayaan dan kesempatan yang harus diterima dengan rendah hati dan dengan sebaik-baiknya. Ini menjadi momentum baginya, untuk mengenal dan memasuki seluk-beluk pelayanan di tingkat Distrik HKBP. Bersama-sama dengan praeses waktu itu, Pdt. Armada Sitorus, M.Th, “Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dari beliau,” ujarnya.

Membangun Synnantam

Ketika melayani di HKBP Rawamangun saat Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) Sekolah Minggu keluar. Dengan kerja keras panitia serta dukungan doa segenap warga jemaat, harus mengajukan lebih dahulu pendirian sebuah yayasan. Hal ini amat perlu dalam mendukung serta mempercepat proses pengajuan ijin bangunan tersebut. Waktu itu, dia mengajukan namanya adalah SYINNANTAM. Dan syukur bagi Tuhan, Yayasan ini telah terbit dengan akte Notaris PPAT Arnasya A. Pattinama, SH No. 7 tanggal 15 Juli 2006 lalu. Tentu saja, hal itu sangat menolong dan mendukung dalam hal mempercepat proses pengurusan ijin Gedung Sekolah Minggu tersebut.

Pdt. Banner Siburian, M.Th. Pendeta yang teguh dalam iman dan tangguh.

Genaplah dia melayani di gereja HKBP Rawamangun selama tiga tahun delapan bulan setelah “diojakhon” di gereja ini pada Minggu, 12 Februari 2006 lalu. Kurun waktu tersebut di atas memang terasa masih sangat singkat, mengingat banyaknya suka-duka, belajar timbal-balik, kesan dan dinamika pelayanan di gereja ini. Perpisahan di Rawamangun memang sangat tiba-tiba. “SK perpindahan kami ke HKBP Sukajadi Pekanbaru Riau tertulis dalam SK tertanggal 11 September 2009. Tetapi, sesungguhnya, SK itu baru sampai kepadanya minggu kedua pada bulan November. Hingga pada hari Jumat, 11 Desember 2009, saya tak tahu sedikitpun tentang siapa yang akan mengganti saya. Semua serba dirahasiakan. Saya hanya tahu sepihak, bahwa saya akan diberangkatkan ke tempat pelayanan yang baru,” tukasnya.

Namun baginya itu tak apa-apalah. Dia merasa memang dirinya orang kecil di HKBP. “Saya memang tak memiliki pengaruh sedikitpun di HKBP. Saya memang sudah biasa diperlakukan seperti itu. Saya baru tahu, pendeta yang menggantikan saya, ternyata sudah beberapa hari berada di Jakarta, tinggal di penginapan. Di sini saya belajar banyak hal. Mungkin di dalamnya ada skenario, ada ketidakjujuran, tak ada transparansi, bahkan mungkin ada juga di dalamnya aspek intimidasi. Namun, waktu itu kami memutuskan untuk melaksanakan mutasi tersebut, meskipun tinggal satu minggu lagi setelah perpisahan itu sudah tiba pada saat-saat perayaan Natal,” katanya.

“Pengalaman sedih dan memilukan yang dialaminya ialah saat harus membuka kembali pohon Natal yang sudah terpasang sebelumnya. Pada Minggu 13 Desember 2009, saat perpisahan di HKBP Rawamangun, memang sudah tiba pada Minggu Advent II. Pohon Natal sudah terpasang dengan baik. Lampu-lampu pohon terang pun sudah gemerlapan di rumah. Pertanyaan anak-anaknya waktu itu sangatlah mengiris hati: ‘Pak, mengapa pohon Natalnya dicabut kembali, kan, kita masih Natal di sini? Mendengar inilah saya pertama sekali menangis, karena saya tak pintar mencari alasan yang pas untuk anak-anak Sekolah Dasar, TK dan Play Group. Isteriku, Damaris, dialah yang memberi penjelasan kepada anak-anak.  Namun itulah pilihan menjadi pelayan. Siap dalam setiap kondisi,” katanya.

Jubileum 150 Tahun HKBP

Hari Minggu, 1 Mei 2011, HKBP Sukajadi Ressort Sukajadi mensyukuri berkat Tuhan dalam rangka menyambut genapnya 150 tahun HKBP pada Oktober 2011. Para anak-anak dan remaja, pemuda dan pemudi, bapak dan ibu, orangtua dan ompung-ompung, semua ikut terlibat serta berpartisipasi secara bersama-sama untuk menyukseskan pesta sukacita jubileum tersebut. HKBP Suakajadi Pekanbaru mengisi acara syukuran jubileum tersebut dengan rangkaian kegiatan seperti Kebaktian Raya Jubileum, yang digelar pada Minggu, 1 Mei 2011 itu. Segenap warga jemaat memakai ulos Batak dalam ibadah tersebut secara serentak. Pakaian ulos itu mensimbolkan, bahwa kita akan tetap menjadi orang Batak, dan dengan identitas sebagai orang Batak, dengan budaya khas serta pakaian orang Batak, tetapi yang telah dimenangkan menjadi anak-anak Tuhan melalui Injil dan karya keselamatan Yesus Kristus.

“Menjadi Kristen, tak berarti kita harus melepas ‘kebatakan’ kita, namun ‘kebatakan’ tersebut kita pakai menjadi saluran berkat bagi orang lain. Ulos tak lagi dipahami sebagai bagian kekafiran, tetapi sebagai identitas budaya yang telah diperbaharui oleh darah Yesus Kristus. Karena kita sudah menjadi Kristen, maka ke depan, ulos dan perangkat kebatakan lainnya tidak boleh lagi kita isi untuk muatan-muatan kekafiran. Ibadah pun dikemas dengan narasi perjalanan Injil di tanah Batak,” katanya.

Puji Tuhan, setelah 17 tahun menjadi pendeta pembantu, kemudian dirinya dipercayakan menjadi Pendeta Ressort. Dia tergolong pendeta yang sangat lama sebagai pendeta pembantu. Saat serah terima jabatan Pendeta HKBP Ressort Immanuel Dumai, pada Minggu pagi, 21 Agustus 2011 (yang sebelumnya direncanakan 20 Agustus 2011). Semua itu diterima, meski sudah terlalu banyak penunda-nundaan. Surat Ketetapan itu sendiri sudah berlaku efektif tanggal 1 April 2011. Pada tanggal 21 Agustus itu jugalah dia dilantik menjadi Pendeta Ressort di Immanuel Dumai.

Pdt. Banner Siburian, M.Th bersama keluarga tercinta.

“Inilah efek bila saya ternyata sudah terlalu lama menjadi seorang pendeta diperbantukan (sebagai pendeta pembantu, yang sekarang disebut dengan pendeta fungsional). Sampai-sampai rasanya sudah tertanam dalam hati bahwa saya telah menerima diri sendiri dengan harga mati sebagai pendeta diperbantukan. Kenyataannya, memang sudah 17 tahun lamanya kami menjalani tugas sebagai pendeta diperbantukan, sebuah kurun waktu yang sudah cukup panjang dalam posisi sebagai pendeta pembantu. Orientasi pikiran saya waktu itu jujur belum merasa diri dalam posisi sebagai Pendeta Ressort, karena terlalu lama menjadi pendeta pembantu,” terangnya.

Jalan Tuhan. Menghadapi Sinode Godang 2012, ketika terdengar berita bahwa dirinya terpilih menjadi Praeses HKBP, secara umum warga jemaat HKBP Immanuel Dumai turut merasa senang dan bangga. Hasil Sinode Agung HKBP ke-61 di Sipoholon tanggal 10-16 September 2012 lalu itu, kemudian menugaskan menjadi Praeses di HKBP Distrik XXVII Kaltimsel. Distrik termuda ini, yang baru diresmikan tanggal 3 Juni 2012, waktu itu meliputi pelayanan di dua wilayah pemerintahan provinsi, yaitu Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Dia dilantik di HKBP Balikpapan, pada Minggu 25 November 2012 oleh Pdt. Marolop P. Sinaga, M.Th sebagai Kepala Departemen Marturia. Praeses yang digantikan waktu itu adalah seniornya, yakni Pdt. Midian K.H. Sirait, M.Th yang kemudian menjadi Praeses HKBP Jakarta.

Begitu juga pada Sinode Agung HKBP tanggal 12-18 September 2016 lalu telah berlangsung dengan baik. Dia kemudian kembali dipercaya Sinode Agung menjadi Praeses HKBP untuk periode kedua, yang selanjutnya ditugaskan untuk melayani di HKBP Distrik XIX Bekasi. “Kami pun kemudian diberangkatkan dari Distrik Kaltimsel-Kaltara menuju Bekasi, Bumi Patriot, pada tanggal 16 Oktober 2016 lalu,” tukasnya.

Terpanggil Menjadi Calon Sekjen HKBP

Dari jejaknya sebagai pelayan di HKBP, setelah 26 tahun melayani di HKBP, dan sukses dua periode menjadi Praeses, dia ingin melayani dan menerima tanggung jawab yang lebih besar, menjadi Calon Sekjen HKBP. Tentu, suami dari Damaris boru Siagian jika melihat dari perjalanan pelayanannya, salah satu dari “21 Tokoh Kristiani 2018 Pilihan Majalah NARWASTU” ini layak menjabat Sekretaris Jenderal Sinode HKBP.

Setelah selesai menggelar Sinode Distrik XIX Bekasi, pada 15 Agustus 2020 lalu di Sopo Marpingkir, Jakarta, dia berpesan agar apa yang sudah dilakukan Distrik XIX Bekasi, terutama pelayanan Orangtua Asuh, membantu anak-anak jemaat yang kurang beruntung untuk diteruskan. Dia juga berpesan, walau tak mungkin lagi ditempatkan di Bekasi, kepada semua peserta Sinode Distrik XIX Bekasi haruslah tetap rukun, damai dan kompak, sekaligus menunjukkan karakter yang terpuji dan dewasa dalam memaknainya. Kita semua berkomitmen mengawal agar Distrik XIX Bekasi tetap sejuk, kompak dan bersahabat terutama dalam pengejawantahan nilai-nilai kehidupan beriman yang matang dan dewasa.

Dia menambahkan, perbedaan tak harus membuat kita berjauhan, tetapi untuk saling mengisi dan menopang demi kemajuan bersama terutama kemajuan distrik ini. “Peserta sinode memiliki tugas panggilan dan tanggung jawab untuk mengisi dan memaknai Aturan dan Peraturan gereja sebagai ekklesiologi yang harum di hadapan Tuhan. Bila di sana sini ada kekurangannya, hendaklah kesadaran bersama ini memacu kita serta menjadi langkah maju ke depan, untuk men-design sebuah aturan gereja yang melayani, yang memperkuat semangat persaudaraan serta mempersatukan segenap stakeholders di HKBP,” tambahnya. Di akhir sambutannya, dia memohon doa dan dukungan segenap peserta Sinode Distrik, warga jemaat maupun Majelis, agar bila Tuhan berkenan serta dikehendaki Sinodestan untuk jabatan sekjen.

“Saya mempersembahkan diri sebagai Sekjen di HKBP periode ke depan ini. Saya hanya mengandalkan kuasa Tuhan serta topangan kita semua. Kita harus sepakat, Sinode Distrik terutama Sinode Godang nanti, haruslah kudus, bersih dari money politics maupun kepentingan politik,” ujarnya. Tentu, diharapkan Distrik HKBP XIX Bekasi diimbau bergandengan tangan di Sinode Distrik, dan jika Praeses XIX Bekasi dipercayai Sinodisten nantinya mengemban tugas sekjen, tentu tugas utama untuk memperbaiki administrasi HKBP, sebagaimana salah satu tugas utama dari sekjen,  memimpin administrasi HKBP sesuai dengan Aturan Peraturan di HKBP. Katanya lagi, kita harus bergandengan tangan di Sinode Godang HKBP. Menurutnya, tugas utama adalah penataan administrasi dan penatalayanan yang bersih dan akuntabel di HKBP, managemen keuangan sesuai SOP, managemen sumber daya manusia sesuai tupoksinya serta penataan asset HKBP yang lebih rapih. Dan, katanya, ditopang dengan database yang lebih update berbasis komputer. HM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here