Dr. H.P. Panggabean, S.H., M.S. Harapkan Pemimpin HKBP Peduli Budaya Batak

24
Dr. H.P. Panggabean, S.H., M.S. bersama Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos.

Narwastu.id – Pada Kamis siang, 13 Agustus 2020 lalu, untuk pertama kalinya salah satu Penasihat NARWASTU dan Hakim Agung Mahkamah Agung-RI (1997-2020), Dr. H.P. Panggabean, S.H., M.S. (83 tahun) berkunjung ke kantor NARWASTU. Sebetulnya sudah sejak Februari 2020 lalu, Ketua Umum DPP KERABAT (Kerukunan Masyarakat Batak) dan Ketua Umum DPN KERMAHUDATARA (Kerukunan Masyarakat Hukum Adat Nusantara) ini ingin berkunjung ke kantor majalah ini. Namun baru kali ini ia bisa hadir. Sebelum ke kantor NARWASTU, ia pagi hari berolahraga dulu, lalu memimpin rapat organisasinya di Aula Golf Rawamangun, Jakarta Timur. Dari Golf Rawamangun tokoh nasionalis dan pemuka masyarakat Batak ini dijemput staf NARWASTU menuju kantor majalah ini, yang jaraknya cukup dekat dan ditempuh 8 menit.

Di kantor NARWASTU Pak H.P. Panggabean diterima Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos. Hampir dua jam mereka bertukar pikiran, terutama soal buku hukum Pak Panggabean yang akan terbit lagi dan situasi Indonesia yang tahun ini 75 tahun sudah merdeka. Mereka berdiskusi sembari menikmati roti, kue-kue basah dan menyeduh teh. “Saya senang diskusi di kantor NARWASTU ini,” ucap Pak Panggabean, yang juga tokoh pendiri Gereja HKBP Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, dan termasuk dalam “20 Tokoh Kristiani 2007 Pilihan Majalah NARWASTU” serta “Tokoh Masyarakat Batak yang Peduli Adat Budaya 2012 Pilihan Majalah “Dalihan Na Tolu” ini.

Ketika berbicara mengenai Sinode Godang (Agung) ke-64 HKBP yang akan digelar pada Oktober 2020 ini, Pak Panggabean yang tetap sehat di usianya yang semakin sepuh ini menerangkan, tantangan gereja HKBP mesti dicermati dalam menghadapi era globalisasi ini. Ada banyak tantangan dan pergumulan yang dihadapi HKBP saat ini, antara lain di kampung-kampung di Sumatera Utara (Sumut) gereja lebih banyak didatangi kaum ibu dari pada kaum bapak sewaktu kebaktian Hari Minggu. “Ini perlu dikaji, kenapa hanya ibu-ibu yang kebaktian ke gereja. Sehingga perlu pendekatan adat dan budaya. Juga selama ini saya perhatikan gereja kurang mengapresiasi keberadaan Masyarakat Hukum Adat (MAHUDAT). Ibadah di HKBP juga mestinya diadakan dengan tradisi khas Batak, karena gereja suku. Gereja Katolik, gereja Karo dan gereja Pakpak saya lihat masih mengapresiasi adat Batak dalam acara-acaranya. Sekarang banyak pula  pendeta dan sintua HKBP tidak memakai bahasa Batak saat ibadah, semua telah pakai bahasa Indonesia. Juga tortor harus lebih sering ditampilkan di gereja, karena tortor itu tak hanya untuk acara pesta adat, tapi juga untuk memuliakan Tuhan dan menghormati para tokoh adat dan jemaat,” cetus Panggabean yang juga Ketua Umum DPP Jaringan Layanan Damai (JALA DAMAI) dan kini pun memimpin kantor hukumnya di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Dr. H.P. Panggabean, S.H., M.S.

Sekarang, tukasnya, pelayanan Koinonia mesti diperhatikan lagi. “Koinonia itu ada tiga, Koinonia rohani, yaitu pendidikan sekolah minggu, koor dan penginjilan. Sedangkan Koinonia kultural, yakni acara tortor. Jangan dianggap oleh orang Batak tertentu bahwa tortor (tarian khas Batak) itu untuk memanggil roh leluhur. Tortor itu pun memuliakan Tuhan,” pungkasnya. Berikutnya Koinonia kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI. “Jadi dalam hari-hari besar nasional, seperti HUT kemerdekaan RI, Hari Sumpah Pemuda, Hari Lahirnya Pancasila, dan Hari Kesaktian Pancasila mestinya gereja HKBP mesti ikut berpartisipasi merayakannya sebagai bagian dari bangsa Indonesia,” ucapnya.

Di sisi lain, H.P. Panggabean juga mengkritisi beberapa pendeta di HKBP yang kurang menghargai acara pemberian ulos dan acara mengucapkan umpasa Batak. “Memberi ulos (mangulosi) itu bukan hanya dilakukan oleh hula-hula di acara adat, tapi memberi ulos juga bisa kepada orang yang dihormati seperti pejabat. Karena makna ulos tersebut juga penghormatan, persaudaraan dan doa. Sementara itu, saya lihat juga banyak pendeta HKBP tak mau atau malu menyampaikan umpasa saat berkhotbah atau berbicara. Padahal umpasa Batak itu pun doa. Di sinilah seharusnya gereja mesti ikut berperan melestarikan adat Batak,” tukasnya.

H.P. Panggabean mengatakan, ia rindu memberi ceramah tentang adat budaya Batak kepada para pendeta dan pelayan HKBP supaya semakin memahami nilai-nilai luhur adat Batak yang sesungguhnya tidak bertentangan dengan Injil. “Saya sudah pernah diundang Pdt. Dr. Japarlin Marbun, tokoh gereja Karismatik dari Gereja Bethel Indonesia (GBI) untuk memberi ceramah seputar adat Batak. Dan mereka sangat memahaminya, bahkan saya jelaskan dan ajarkan kepada ratusan pendeta tentang tortor yang memuliakan Tuhan,” paparnya. Menurut H.P. Panggabean, ia sudah membaca pemikiran-pemikiran Ephorus Emeritus HKBP Pdt. Justin Sihombing yang luar biasa tentang Injil dan adat Batak. Dan pemikiran tokoh legendaris HKBP itu, bahkan dituangkan H.P. Panggabean dalam buku yang ditulisnya berjudul “Pembinaan Kehidupan Beragama dengan Dukungan Nilai-nilai Adat Budaya Dalihan Na Tolu.”

Dr. H.P. Panggabean, S.H., M.S. saat berkunjung ke kantor Majalah NARWASTU dan diterima Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos.

H.P. Panggabean menambahkan, bahwa tantangan yang dihadapi HKBP di dalam jemaatnya saat ini juga masalah kemiskinan di desa, masalah rebutan harta warisan, perceraian yang meningkat, kekerabatan yang makin retak, materialisme, dan individualisme. Bahkan, saat ini masalah sengketa aset di HKBP juga banyak terjadi. Sehingga pemimpin HKBP mendatang mesti banyak mendengar masukan dari pakar tentang tantangan-tantangan ini. “Sekarang dalam acara-acara adat Batak, misalnya, kita lihat masih ada keluarga-keluarga yang menggelarnya dengan biaya beratus-ratus juta dan jorjoran serta waktunya yang amat panjang. Memang HKBP sudah mengkritisi ini, tapi gaya hidup seperti ini harus terus dikritisi gereja,” katanya.

Selain itu, katanya, yang tak kalah pentingnya diperhatikan pemimpin HKBP mendatang adalah bahaya Radikalisme, Anarkisme dan Terorisme (RAT). “Sehingga gereja bersama pemerintah harus bersama-sama memerangi bahaya teroris seperti ISIS. Kalau ada gereja-gereja yang diganggu saat beribadah, itu karena perlakuan dari kelompok radikal. Sehingga ini harus tetap diwaspadai,” ujar tokoh masyarakat yang pernah ikut berperan mendirikan Gereja HKBP di Jambi, Palembang, Jawa Barat dan kawasan Indonesia Timur itu.

Terkait dengan adat budaya orang Batak, H.P. Panggabean menuturkan, sikap batin orang Batak itu, yakni manat mardongan tubu, elek marboru dan somba marhula-hula. “Itu wujud kasih yang diajarkan Injil juga dan sangat bagus diterapkan di tengah masyarakat Batak,” terang H.P. Panggabean yang pada September 2020 ini akan meluncurkan buku hukum terbarunya berjudul “Perspektif Reforma Agraria Mendukung Revitalisasi Sistem Pemerintahan Desa Adat.” Sedangkan tujuan hidup atau filosofi orang Batak itu, yakni meraih hagabeon (punya keturunan), meraih hamoraon (punya kekayaan agar mampu membantu sesama) dan meraih hasangapon (mendapat kehormatan). Ini semua, imbuhnya, tidak bertentangan dengan Injil. GH

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here