PERWAMKI, Memberitakan Kabar Baik dan Kepekaan Sosial

24
Acara pelatihan jurnalistik lewat Zoom bersama PERWAMKI.

Narwastu.id – Selama bulan September 2020, Perkumpulan Wartawan Media Kristiani Indonesia (PERWAMKI) menggelar pelatihan jurnalis sebanyak lima sesi lewat Zoom. Pelatihan pertama digelar, pada Selasa malam, 1 September 2020 lalu. Acara dimulai dari sambutan, Rektor STT LETS, Pdt. Ir. Rachmat Manullang, Penasihat PERWAMKI, John Sahap Edward Panggabean, S.H., M.H., dan Ketua Umum DPP PERWAMKI Stevano Margianto. Di tengah webinar berlangsung, Clara Panggabean, S.H. menyumbangkan lagu cinta tanah air. Pelatihan yang dimoderatori advokat Uya Pinta, S.H. ini diikuti 43 orang peserta dari berbagai kalangan, termasuk ada peserta dari Belanda dan dalam negeri.

Pemateri sesi perdana, Pemimpin Redaksi sekaligus Pemimpin Umum Majalah NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos. Dalam pemaparannya, ayah tiga anak ini menyampaikan prinsip-prinsip jurnalis. Menurutnya, menjadi pekerja media itu adalah kehormatan. “Jurnalis itu profesi mulia. Tidak semua orang bisa terpanggil jadi wartawan,” ujar lulusan IISIP (Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) Jakarta dan alumni Lembaga Pendidikan Pers Doktor Soetomo (LPPDS) Jakarta ini. Jonro menambahkan, aktivitas jurnalis itu berfungsi memberi informasi kepada masyarakat, memberi gagasan kepada publik, memberi edukasi pada publik, memberi hiburan. Juga pengontrol sosial dan pembentuk opini publik.

Jonro menambahkan, prinsip-prinsip jurnalis adalah kejujuran. Itu sebabnya, harus hormat pada fakta. Artinya kembali kepada integritas si jurnalis. Prinsip lain adalah berpihak kepada kebenaran. Tentu harus ada cek dan ricek sebelum sebuah karya jurnalis dihasilkan. Selanjutnya, jurnalis mesti independen atau ketidakberpihakan. Selanjutnya, Jonro menyebut seorang jurnalis atau wartawan itu harus memiliki kreativitas. Mengapa wartawan itu disebut harus kreatif? Oleh karena sebelum menyajikan berita jurnalis harus terlebih dahulu aktif menggali dan mencari informasi.

Selain itu, jurnalis harus adaftif, artinya harus terus menjadi manusia pembelajar. Masih menurut Jonro, yang tak kalah penting dimiliki seorang jurnalis adalah kecerdasaan. Kecerdasan itu meliputi kepekaan atas situasi yang ada. Jurnalis juga mesti suka membaca dan tak kalah penting dimiliki seorang jurnalis mengikuti kode etik jurnalis.

Selesai pemaparan Jonro, yang menarik sesi tanya jawab. Ada pertanyaan, adakah dunia pers mengenakan skors dan kena black list untuk wartawan atau media cetak yang melanggar prinsip-prinsip jurnalistik? Pertanyaan lain, jikalau kita bicara vulgar, tajam bicara kebenaran tanpa ditutup-tutupi suatu permasalahan di area tertentu di wilayah tertentu, apakah Dewan Pers melindungi? Lalu, apakah PERWAMKI punya pijakan kebenaran dalam melakukan fungsinya sebagai jurnalis?

Panitia menjawab bahwa kebenaran itu universal, kebenaran yang tidak hanya benar menurut pribadi, kelompok atau golongannya saja. Universal artinya umum. Dan Ketua Umum PERWAMKI Stevano Margianto menjelaskan, walau demikian, PERWAMKI sebagai organisasi wartawan berbasis Kristiani punya pijakan dalam melaksanakan karya jurnalistik didasari dari 2 Timotius 3:16, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” Juga, kata Margianto, PERWAMKI dalam kiprahnya terus memberitakan kabar baik atau kasih pada sesama. Pelatihan ini sangat menarik. Jonro pun menegaskan, wartawan itu adalah intelektual di masyarakat. Sehingga kalau wartawannya cerdas, maka masyarakatnya pun akan cerdas.

Bahkan, selesai pelatihan pun masih saja ada peserta bertanya soal maksud dari “ketidakberpihakan” seorang jurnalis? Menurut penanya tersebut menjadi dilema, apakah benar seorang jurnalis tak boleh berpihak? Sebagaimana pengalaman dari kisah Kevin Carter, seorang wartawan foto Afrika Selatan pemenang penghargaan fotografi Pulitzer Prize oleh karena fotonya tentang seorang anak dan burung bangkai di Sudan pada tahun 1994 lalu. Namun dia akhirnya bunuh diri oleh karena merasa bersalah tak menyelamatkan anak yang difotonya. Tentu jika sebagai tugas jurnalis dia tak ada masalah. Namun hatinya menjerit. Berawal dari saat pertanyaan kepadanya, “Bagaimana nasib anak itu?” Kevin menyesal karena mengutamakan tugas jurnalistiknya, namun melupakan tugas kemanusiaan.

Hal itu tak disangkal Roy Agusta Mantiri, salah satu panitia acara menyebut, “Memang tak mudah menjadi seorang jurnalis.” Tentu bagaimana menyeimbangkan tugas jurnalis tetapi tetap ada keberpihakan pada kepentingan masyarakat. Artinya, jurnalis juga mesti memiliki kepekaan dalam pemberitaan atau punya kepekaan sosial. Itulah keberpihakan seorang jurnalis. Acara Zoom PERWAMKI ini dibuka dengan doa oleh Dr. Antonius Natan (Penasihat PERWAMKI dan Sekretaris Umum PGLII Wilayah DKI Jakarta) dan Paul Maku Goru (Pemred kitakatolik.com, mantan Pemred Tabloid “Reformata” dan pengurus DPP PERWAMKI). HM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here