Esra Manurung Maleakhi: Perempuan Harus Bisa Melihat dari Sudut Pandang Berbeda

52
Buku "Perempuan di Rumah Bercahaya Emas" karya Esra Manurung Maleakhi.

Narwastu.id – Dalam bukunya yang baru diluncurkan baru-baru ini, motivator dan perempuan nasionalis, Esra Manurung Maleakhi banyak menulis refleksi tentang perempuan dan kehidupan. Salah satu yang ditulis figur yang termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2017 Pilihan Majalah NARWASTU” dalam buku berjudul “Perempuan di Rumah Bercahaya Emas” itu adalah tentang sudut pandang perempuan, seperti tulisan di bawah ini.

Ditulisnya, kalau kamu tidak bisa bersyukur segera ubah sudut pandangmu. Kita pasti sering melihat seorang perempuan berfoto sendiri atau berswafoto. Perhatikan tingkahnya. Dia pasti selalu mencari angel paling pas, yang membuat dirinya terlihat paling cantik. Ketika sudah menemukan sudut itu, maka percayalah dia akan selalu berfoto dari sudut yang membuatnya terlihat paling cantik.

Dalam kehidupan pun tak jauh berbeda. Seorang perempuan harus bisa melihat dari sudut pandang yang berbeda. Dan menemukan sudut pandangnya sendiri, yang membuat dia merasa nyaman, bahagia, dan penuh ucapan syukur.  Aku sudah berkeluarga selama dua puluh satu tahun. Selama dalam perjalanan itu, enam tahun pertama, suamiku benar-benar memimpin semuanya, uang dan sebagainya. Itu enam tahun pertama. Tahun ke tujuh keadaan mulai terbalik, dari sisi finansial, suamiku tidak lagi penopang utama, tapi aku. Itu berjalan terus sampai tahun ke-20.

Selama itu pula, orang-orang bertanya-tanya, kenapa bukan suamiku yang bekerja keras. Kenapa harus kamu, seorang perempuan yang harusnya berada di rumah, mengurus anak. Apakah aku terganggu dengan semua pertanyaan itu? Tidak! Karena aku mempunyai sudut pandang sendiri tentang hidupku. Aku tidak berpandangan bahwa suamiku tidak mau bekerja keras, tapi dia memberi aku kesempatan untuk berkembang. Sampai pada satu titik, yaitu tahun ke-21, suamiku tiba-tiba dia bilang, “Sekarang saatnya bagiku untuk berkembang. Aku sudah cukup mendukung kamu selama 16 tahun.”

Sekarang, yang kulakukan adalah mendukung suamiku untuk berkembang, sementara aku akan tetap bertumbuh. Kalau waktu itu kami berdua sama-sama bertumbuh, tak ada yang mengalah, maka rumah tangga kami bisa pecah karena dua-duanya akan jarang di rumah. Itu yang kusebut sebagai sudut pandang seorang perempuan. Kalau kita letakkan benda di atas meja, maka bentuk benda itu akan berbeda-beda tergantung dari sudut mana kita melihatnya.

Seperti juga ketika berfoto, maka kita akan mengetahui dari sudut mana kita terlihat paling bagus. Dari situ, aku belajar bahwa sebenarnya pola berpikir (mindset) adalah sudut pandang kita. Setiap orang bebas memilih mau melihat dari sudut pandang yang mana. Tapi, hanya orang “bodoh” yang akan mengambil angle dari sisi yang jelek dan bertahan terus di situ. Lalu, aku mulai berpikir apa yang mempengaruhi cara berpikir seseorang? Sama seperti Ketika kita berdiri di bawah matahari. Pada jam tiga siang, bayangan kita ada di mana. Kalau jam 6 sore, maka bayangan kita akan lurus.

Ternyata, refleksi dari tindakan kita sangat dipengaruhi cara berpikir kita. Kalau begitu, siapa atau apa yang bisa mengubah cara berpikir kita. Aku menemukan kontrolnya ada di diri kita sendiri, dan itu dipengaruhi kemauan kita untuk mengubah cara berpikir.

Suatu hari, teman aku bilang begini, “Kamu ngapain sebagai perempuan jualan asuransi, capek, kan? Kamu punya anak, kenapa tidak suamimu saja yang bekerja.” Kondisi dia tentu saja sangat berbeda dengan aku dan suami.

Aku bilang ke dia, “Pendapatmu ada benarnya, tapi itu buat kamu. Kalau buatku, aku tidak bisa mempunyai prinsip seperti itu karena aku dan suami sangat menyadari posisi kami, sedang mendobrak keterbelakangan bersama-sama, karena itu dibutuhkan kerja sama. Kalau cerita kamu dan aku disamakan, nanti jadinya ‘maksa’.” Dia mempunyai cerita sendiri, aku mempunyai jalan hidup sendiri. Aku yang tahu pasti cerita hidupku. Suatu hari mungkin aku bisa seperti dia atau setidaknya menyiapkan anak-anakku supaya bisa seperti dia.

Bayangkan, kalau aku dan perempuan-perempuan lain tidak mengerti posisinya ada di mana. Tidak mengerti bahwa ceritanya berbeda dengan cerita semua orang, maka aku akan dipengaruhi perasaan (mood) yang buruk. Aku akan bertanya-tanya, “Kenapa ya, suamiku tidak berjuang untukku? Mengapa aku harus bekerja sementara anak-anakku masih sangat kecil untuk ditinggal ibunya bekerja?”

Semua itu pasti mempengaruhi perasaan seseorang. Kenapa? Karena dia dibawa ke angle atau sudut pandang lain. Aku harus kembali ke angle-ku. Inilah hidupku. Bahwa aku dan suami, kami berdua harus berjuang yang membuat ceritanya menjadi lain. Jadi aku tetap pada tatakan yang ada. Kalau aku pindah ke tatakan lain, pasti akan bertengkar dengan suami. Aku pulang dengan perasaan yang jelek dan menggerutu, “Kenapa ya suamiku tidak sehebat suami dia. Suami dia hebat karena sudah ada yang memberi jalan sebelumnya, yang membuat mereka sampai di titik itu. Jadi kita harus mengerti, kita menikah dengan siapa? Kenapa kita menikah dengan dia?”

Apa yang kita lakukan mempengaruhi cara berpikir kita.

Orang mengatakan roda kehidupan berputar. Buatku, there is a season in life. Nikmati saja, karena masa-masa hidup manusia itu berbeda-beda, terkadang panas, hujan, hujan lalu panas lagi. Nikmati masa-masa yang ada karena dia tidak akan pernah Kembali. Dalam sekedipan mata, kamu tidak bisa balik ke situ lagi. Perempuan harus mempunyai soft skills in their mind. Banyak orang yang hidup, tapi sebenarnya dia sudah mati. Aku pernah menonton film “Life is Beautiful.” Di film itu, yang bercerita tentang seorang bapak yang akan dieksekusi mati oleh Nazi Jerman, tetap menunjukkan kegembiraan dan kebahagiaan di depan anaknya. Dia menyetel dirinya bahagia karena dia harus berada pada satu angle, yaitu dia adalah ayah untuk seorang anak yang dia cintai. Sebagai ayah, apakah berada di kamp perang, atau suasana tidak enak lainnya, tetap harus menjadi seorang ayah yang menikmati kebersamaan dengan anak. Angle dia di situ. Film berakhir bahagia. Setelah kamp selesai, sang anak bertemu mamanya. Sang ayah memang dieksekusi, tapi sang anak tidak pernah mendapakan angle kesedihan dari ayahnya. CU

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here