Menyemai Nilai-nilai

* Oleh: Sigit Triyono

21

Narwastu.id – Nilai-nilai sama pentingnya dengan strategi dalam rencana strategis lembaga. Sehebat apapun strategi bila tanpa ditopang oleh nilai-nilai yang diimplementasikan, maka strategi tersebut tidak dapat berjalan efektif. Nilai-nilai yang baik dan dijalankan dengan konsisten akan menjadi kekuatan tersendiri bagi sebuah lembaga.

Nilai-nilai di dalam lembaga adalah prinsip-prinsip dan ide-ide bersama yang menuntun pikiran serta tindakan individu dalam hidup sehari-hari. Nilai-nilai juga bias berarti pernyataan ringkas yang menjadi pedoman berperilaku bersama dalam suatu lembaga. Ada tiga tingkat nilai-nilai, yaitu: (1) nilai-nilai ideal, dasar ideologis suatu lembaga guna mempersatukan semua unsur di dalamnya, (2) nilai-nilai inkremental, pedoman etika dan perilaku warga lembaga dalam keseharian kerja, dan (3) nilai-nilai operasional, petunjuk praktis untuk mengekspresikan kualitas kerja keseharian.

Sebagai contoh nilai-nilai ideal adalah Pancasila. Ini adalah dasar ideologis sebuah negara yang mampu menjadi pemersatu bangsa. Nilai incremental contohnya adalah pernyataan di beberapa lembaga: “Melayani dengan hati”, “Mengutamakan kekeluargaan dan kebersamaan.” Sedangkan nilai operasional contohnya adalah pedoman kerja di suatu lembaga: “cepat”, “ramah” dan “tepat.”

Tidak mudah menginternalisasi (menyemai) nilai-nilai di suatu lembaga. Membutuhkan strategi, rencana aksi dan kepemimpinan dengan komitmen yang kuat. Dalam penyemaian nilai-nilai setidaknya ada 3 (tiga) strategi, yaitu: (1) Keteladanan, (2) pelatihan/pemberian pengalaman, dan (3) pembiasaan-pembiasaan. Tiga strategi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.

Keteladanan adalah strategi pertama yang membutuhkan figure khusus dengan integritas dan kredibiltas yang tidak diragukan. Dia harus konsisten menerapkan nilai-nilai yang diyakini bersama. Dia harus memiliki legitimasi dan kewenangan yang cukup agar keteladananya lebih efektif. Bila posisinya adalah pemimpin, maka dia lebih efektif menjadi teladan dibandingkan bila dia hanya sebagai anak buah. Pemimpin selalu dilihat oleh banyak orang. Pemimpin memiliki pengaruh bagi semua pengikutnya. Bila dia memberi contoh dalam implementasi nilai-nilai, maka akan cenderung ditiru oleh anak buahnya.

Keteladanan harus dijalankan dengan konsisten dan terus menerus agar benar-benar berdampak positif. Ini tidak mudah karena nilai-nilai lain dari luar yang bias bertentangan dengan nilai-nilai yang harus diimplementasikan di lembaga. Misalnya suatu lembaga berusaha mengimplementasikan nilai “keadilan” bagi semua, sementara di luar lembaga banyak sekali perlakuan diskriminatif dan ketidakadilan. Dapatkah sang teladan tetap konsisten menerapkan nilai  “keadilan” di lembaganya? Ini adalah tantangan besar.

Strategi yang kedua adalah pelatihan/pemberian pengalaman. Strategi ini paling banyak dilakukan oleh lembaga-lembaga dalam menyemai nilai-nilai. Dengan pemberian pengalaman, maka warga lembaga akan merasakan secara riil penting dan mendesaknya nilai-nilai untuk segera diimplementasikan. Metode yang dapat dilakukan bias in class, out bond, on the job dan berbagai diskusi serta sharing bersama. Dengan pemberian pengalaman secara riil dalam implementasi nilai-nilai, maka nilai-nilai akan lebih terpatri dalam sanubari peserta. Pelatihan juga terus dibutuhkan dalam penyegaran-penyegaran dan update pemahaman serta penghayatan nilai-nilai bersama.

Strategi ketiga adalah pembiasaan-pembiasaan. Lembaga harus membuat program pembiasaan harian, mingguan, bulanan, semesteran dan tahunan. Pembiasaan ini akan “memaksa” semua warga lembaga untuk menjalankan nilai-nilai yang disepakati bersama. Misalnya untuk penyemaian nilai-nilai “melayani” yang salah satunya harus “ramah dan selalu menyapa” konsumen. Setiap pagi ada sebuah toko yang mewajibkan semua manajer dan pegawainya berdiri di dekat pintu atau di depan konternya untuk menyapa lebih ramah bagi konsumen yang pertama datang. Ini adalah salah satu contoh pembiasaan harian. Pembiasaan mingguan misalnya dengan mewajibkan semua karyawan untuk memberikan contoh terbaik dalam melayani konsumen  di depan semua koleganya di dalam rapat bersama.

Strategi pembiasaan harus diikuti dengan sistem “reward and punishment” yang jelas dan tegas. Pemberian penghargaan bagi siapa saja yang konsisten menjalankan nilai-nilai. Sebaliknya diberikan “hukuman” yang tegas bagi yang melanggar.

 

* Penulis adalah Founder &CEO SHI Consultant – Strategic Consulting, Training, Outsourching& Research.Dapatdiikutijuga di youtube: triyonosigit

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here