Anak-anak ini Generasi Hebat, Bukan “Generasi Corona”

* Oleh: Jonro I. Munthe, S.Sos

46
Jonro I. Munthe beserta anak dan istri.

Narwastu.id – Tak ada yang pernah memprediksi bahwa keadaan dunia dan negeri ini akan begitu menakutkan di tahun 2020 ini, karena wabah pandemi virus corona (Covid-19). Wabah Covid-19 tidak saja menakutkan bagi manusia, karena virusnya yang tak terlihat mematikan, tapi wabah Covid-19 ini juga meluluhlantakkan tatanan sosial dan perekonomian dunia secara signifikan. Orang yang terbiasa salaman, rangkulan, cipika-cipiki dan tertawa lepas, tak bisa lagi. Semua takut tertular virus asal Wuhan, Cina ini. Dan vaksinnya belum ditemukan, dan hanya orang yang imunnya kuat yang bisa menghalau virus ini.

Lantaran virus itu pula ekonomi negeri ini terganggu. Lebih dari 6 juta orang sudah kehilangan pekerjaan karena wabah Covid-19 (seperti pernyataan KADIN di Majalah Tempo), dan telah banyak pula perusahaan bangkrut karena tak bisa menggaji karyawan dan berproduksi. Umat Kristiani yang biasanya beribadah di gedung gereja, selama tiga bulan ini pula mesti lewat virtual. Juga anak-anak sekolah mesti belajar dari rumah (home learning) sejak medio Maret 2020 lalu. Keadaan ini sesungguhnya amat menggelisahkan, karena anak-anak tak bisa sembarang lagi bermain ke luar rumah. Sehingga ada istilah “Stay at Home” dan “Work from Home.” Kalaupun keluar rumah mesti pakai masker, rajin membasuh tangan, didampingi orang tua dan harus membersihkan diri setiap kembali ke rumah.

Ketiga buah hati kami: Josua Holong Munthe (14 tahun), Kezia Hasian Munthe (12 tahun) dan Noach Boantua Munthe (10 tahun) pun merasakan keadaan yang tak lazim ini. Mereka akhirnya tiap hari mesti belajar lewat virtual dari rumah. Dan kami selaku orangtua mesti siap mendampingi mereka menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya, serta harus ekstra sabar membimbingnya. Pasalnya, saat di rumahlah ketiga buah hati kami ini kerap bermanja-maja, dan kami harus bersikap bijak agar mereka selalu sehat, semangat dan imunnya kuat supaya jangan tertular virus. Dan pekerjaan kantor pun terkadang kami tinggalkan untuk mendampingi mereka. Tapi puji Tuhan, ibunda dari anak-anakku ini, Faridawati boru Rajagukguk begitu gigih membimbing mereka selama belajar di rumah. Dan setelah tiga bulan anak-anak ini belajar, mereka bebas menikmati masa liburan di rumah. Keadaan ini tetap kami nikmati sebagai sebuah proses kehidupan. Dan kami serahkan semua keadaan ini ke dalam pertolongan Tuhan. Juga masa depan anak-anak ini kami serahkan ke dalam tanganNya. Karena kita tak tahu kapan wabah corona ini akan berakhir, dan ini semua di bawah kendali Tuhan. Yang penting sekarang, di masa new normal ini kita ikuti saja protokol kesehatan yang sudah ditetapkan pemerintah, imun tubuh dijaga, iman atau kerohanian dijaga, rajin membasuh tangan serta selalu siap sedia dengan hand sanitizer.

Pada Sabtu pagi, 20 Juni 2020 lalu, saat pihak sekolah (SD Kristen Saint John, Harapan Indah, Kota Bekasi, Jawa Barat) mengadakan acara live via Zoom atas kenaikan kelas, termasuk anak kami si bungsu Noach Munthe di situ, saya diminta pihak sekolah untuk memberi sambutan (kesan/harapan) mewakili orangtua. Dalam kesempatan itu saya sampaikan, kita patut bersyukur kepada Tuhan karena kita bersama anak-anak ini sehat. Kita juga bersyukur karena kita orangtua masih bisa bekerja di tengah wabah Covid-19 ini. Saya katakan lagi, kita pun harus syukuri karena anak-anak kita ini bisa menjalani tiga bulan belajar lewat virtual, dan proses ini sesungguhnya tak mudah bagi orangtua. Karena di sini butuh energi ekstra, dan orangtua pun merangkap jadi guru bagi anak-anaknya.

“Mereka anak-anak yang hebat dan luar biasa. Mereka bukan generasi corona, seperti sebutan banyak orang selama ini di postingan media sosial (Medsos). Inilah sejarah dunia, karena orangtua bisa mendampingi anak-anaknya belajar di rumah dan beribadah bersama di rumah. Di sini sebenarnya ada hikmah yang patut kita petik. Kiranya Tuhan menolong bangsa ini, dijauhkan dari wabah Covid-19 dan kita semua sehat serta diberkati Tuhan,” kata saya saat memberi sambutan. Salam sehat dan Tuhan Yang Maha Rahmat kiranya terus menyertai kita semua serta menolong negeri ini.

 

* Penulis adalah Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah NARWASTU.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here