Kriteria Pemimpin Dilihat dari Budaya Batak

16
Dr. H.P. Panggabean, S.H., M.S.

Narwastu.id Ketua Umum DPP KERABAT (Kerukunan Masyarakat Batak), Dr. H.P. Panggabean, S.H., M.S., baru-baru ini menyampaikan, pemimpin bangsa atau calon-calon pemimpin di negeri ini tak cukup hanya mengetahui kriteria pemimpin dari ilmu manajemen atau ilmu kepemimpinan. Namun, perlu sekali diperhatikan bahwa nilai-nilai budaya suku pun sudah sejak dulu mengangkat soal kriteria pemimpin yang patut diperhatikan. “Dan soal kriteria pemimpin yang kita harapkan itu, baik untuk eksekutif, legislatif dan yudikatif, perlu kita lihat pula dari sisi nilai-nilai budaya orang Batak,” ujar tokoh masyarakat dan mantan Hakim Agung RI, serta dosen etika bisnis di Universitas Pelita Harapan (UPH), Kota Tangerang, Banten, ini.

Menurutnya, pemimpin itu harus, pertama, partutur: tahu silsilah keluarganya, tahu budayanya, tahu dirinya sendiri dan tahu mengenai orang lain. Kedua, partamue: pemimpin itu harus orang yang bijaksana, mau bertukar pikiran, sehingga pengetahuannya luas kalau ia berdiskusi dengan orang lain. Orang yang suka berdiskusi pasti wawasannya lebih luas. Ketiga, parpatik: pemimpin itu harus punya integritas atau satunya kata dengan perbuatan. Kalau salah, katakan salah, dan kalau benar katakan benar. “Sekarang ada banyak pemimpin yang masuk tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), karena tak ada lagi integritas yang bersangkutan,” paparnya.

Menurut Ketua Umum DPP Jaringan Layanan (Jala) Damai ini, kenapa sekarang begitu banyak wali kota, bupati, gubernur, bahkan anggota DPR dan pemimpin partai politik masuk tahanan KPK atau ditahan Kejaksaan Agung atau Kepolisian RI, karena mereka tak punya integritas. “Kalau mereka punya integritas, mereka pasti tak akan mengambil uang rakyat untuk memperkaya diri dan kelompoknya. Banyak orang yang ditahan KPK hidupnya mewah, rumahnya banyak, mobil-mobilnya seharga miliaran rupiah, bahkan mereka berzinah dengan perempuan lain, karena hartanya banyak,” ujar anggota jemaat Gereja HKBP Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, ini.

Sedangkan Golden Ways orang Batak ada lima. Pertama, takut akan Tuhan. Jadi pemimpin itu mesti menghindari kejahatan, menghindari godaan setan atau iblis. “Kalau pemimpin itu mencolek perempuan muda atau cantik, sementara yang bersangkutan sudah punya istri dan anak, itu namanya terjerumus pada kejahatan. Jadi kalau mau jadi pemimpin, maka jangan sampai tergoda pada perzinahan. Dulu Raja Daud jatuh pada dosa perzinahan dengan istri dari anak buahnya. Daud tergoda dengan kecantikan istri anak buahnya, lalu ia jatuh dan ditegur Nabi Natan. Dia terkena jebakan iblis. Jangan ditiru perzinahan seperti itu,” paparnya.

Kedua, santun bicara. Ada ungkapan Mulutmu Adalah Harimaumu. “Jadi kita jangan sesekali berbicara kasar ke orang lain. Kalau berbicara harus tahu etika terhadap orang lain. Ucapan kita itu menunjukkan siapa diri kita, dan apakah kita baik hati atau jahat dari ucapan bisa kita nilai. Ada anggota DPR yang berbicara tidak beraturan dan kasar, itu sebetulnya tidak layak jadi wakil rakyat,” ujarnya. Ketiga, bijaksana. “Ada ungkapan orang Batak berbunyi bisuk marpingkir. Artinya, bijaksana berpikir dan bersikap. Kalau melakukan sesuatu dipertimbangkan dulu segala akibatnya, agar jangan ada yang dirugikan atau jangan sampai menimbulkan dosa,” cetusnya.

Keempat, suka menolong. “Pemimpin itu harus peduli terhadap sesama, tulus dan ikhlas membantu. Kalau ada yang kemalangan, sakit atau ditimpa bencana alam, maka kita harus mau menyisihkan rezeki yang kita miliki untuk membantu yang bersangkutan. KERABAT baru-baru ini sudah menyumbangkan dana, pakaian-pakaian layak pakai ke korban erupsi Gunung Sinabung, Tanah Karo, itu wujud kepedulian kami sebagai organisasi sosial kemasyarakatan. Kalau ada saudara kita atau sahabat kita yang sakit, besuklah dia, doakan, dan bawa buah pisang atau kue-kue. Itulah kepedulian atau kasih,” terangnya.

Kelima, rajin bekerja. “Kita lihat orang Batak, kalau sudah sampai di ibukota Jakarta, maka ia mau jadi kondektur, mau jadi sopir, mau jualan di Pasar Senen. Lalu ada yang jadi pengacara, wartawan, politisi bahkan preman. Itu benar-benar ditekuni, sehingga ia bisa menghidupi keluarganya. Pekerjaan harus ditekuni dengan baik, dan harus setia. Orang Batak banyak yang punya keinginan sukses, makanya ia bekerja keras. Orang Batak yang merantau dari Sumatera Utara banyak yang sukses di Jakarta, karena ia kerja keras dan berdoa dengan tekun,” terangnya.

Katanya lagi, pemimpin itu harus banyak membaca agar ia semakin bijaksana dan arif dalam melihat berbagai persoalan kehidupan. “Orang yang banyak membaca pasti sikap hidupnya berbeda dengan orang yang malas membaca. Makanya, saya selalu ajarkan kepada generasi muda supaya rajin membaca. Orang yang gemar membaca Alkitab atau Injil, maka dia akan tahu tentang Kain yang membunuh adiknya Habil, namun Tuhan memaafkan Kain. Itu mengajar orang agar bijaksana, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Daud meskipun berzinah dan membunuh dengan keji, tapi dia dikasihi Tuhan, itu bisa kita baca di Alkitab,” tuturnya.

Menurut H.P. Panggabean, orang Batak banyak yang jadi pemimpin di berbagai bidang atau jadi profesional, karena mereka tahu etika budaya Batak, tahu etika Pancasila, terutama sila ke-3 tentang etika kasih bangsa dan tahu nilai-nilai Injil. Etika kasih bangsa itu juga disebut etika patriotisme. Mengenai etika agama, ada tiga hal yang perlu diperhatikan. Pertama, takut akan Tuhan, kedua, jauhi iblis, dan ketiga, hargai orang lain melebihi dirimu. “Kalau caleg-caleg yang ada di setiap pemilu itu, banyak yang hanya menghargai orang lain demi meraih suara. Lalu, setelah lolos atau dapat kursi ia lupa akan janji dan lupa pada pendukungnya,” ungkapnya.

Selain itu, mengenai kekerabatan di tengah masyarakat Batak ada tiga, pertama, asal kampung, kedua, satu marga, dan ketiga, karena perkawinan. “Kalau kita memahami etika budaya suku, seperti etika budaya Batak, maka kita akan mampu menghargai orang lain, seperti diri kita sendiri. Saya memperhatikan di Eropa tak ada lagi mengenal kata tulang (paman), namboru (bibi), ompung (kakek-nenek) atau lae. “Sekarang kita perhatikan di sejumlah daerah, tingkat perceraian, seperti di Sulawesi Utara begitu tinggi, karena nilai-nilai budaya diabaikan, padahal di sana kegiatan ibadah begitu marak,” ungkap H.P. Panggabean. KKH

 

 

Dr. H.P. Panggabean, S.H., M.S. saat menyalurkan sumbangan kemanusian kepada korban erupsi Gunung Sinabung, Tanah Karo, Sumatera Utara, bersama tim KERABAT.

 

Dr. H.P. Panggabean, S.H., M.S. 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here