DPP KERABAT Dukung Penanganan Wabah Covid-19 Hadapi Acara Adat Kesukariaan dan Kedukacitaan

44

Narwastu.id – Pada akhir April 2020 lalu, Ketua Umum DPP KERABAT (Kerukunan Masyarakat Batak), Dr. H.P. Panggabean, S.H., M.S. mengirimkan pernyataan sikap organisasi kemasyarakatan yang dipimpinnya itu ke Redaksi Majalah NARWASTU terkait dengan wabah pandemi Covid-19 yang kini menerjang bumi ini. Berikut tulisan mantan Hakim Agung MA RI dan tokoh masyarakat itu.

Pada akhir Maret 2020 lalu, seorang tetangga kami, seorang lansia meninggal dunia, dan pada malam penghiburan singkat dari gereja, kami sebagai tetangga turut hadir. Setelah pendeta dan rombongan pulang, kami memberi sarana kepada keluarga berduka agar hula-hula dan keluarga dekat diundang seperlunya untuk ikuti acara penghantar kepemakaman. Saran kami, agar hanya ulos Saput yang diminta dari hula-hula, artinya kalau ada hula-hula lain yang hadir, acara adat saur matua ditunda (ulangi ditunda), dan almarhun telah memiliki cucu dari anak laki-laki dan dari anak perempuan.

Mereka setuju dengan sadar bahwa gangguan virus corona tidak mungkin mengharap dongan tubu, hula-hula dan besan bisa hadir. Karena acara adat saur matua ditunda, maka kami tanyakan anak dan hela almarhum, kalau diganti inang hita (istri almarhum berpulang) apakah kalian bersedia melanjutkan adat saur matua, dengan segala kewajiban menyediakan biaya acara adat saur matua lanjutan?

Ternyata keluarga almarhum menyadari bahwa acara saat itu adalah acara adat terbatas dan menyadari acara adat saur matua jadi perlu persiapan diri. Acara adat saur matua adalah acara adat na gok, dan dapat diartikan sebagai acara-acara “mangalindangkon parhepengan na gok” diikuti musik gondang Batak, paling tidak gondang hasapi.

Meski saat ini acara  saur matua di Jakarta sudah kurang memadai, dapat  diartikan kehadiran: (1) Hula-hula bona ni ari, (2) Bona tulang, dan (3) Tulang serta, (4) Tulang rorobot, sudah berjalan timpang, karena belum tentu dapat hadir. Dalam adat na gok/adat saur matua, mengedepankan berkat doa ulos pasu-pasu sampai ke anak cucu. Budaya Batak yang mampu melaksanakan ulaon adat na gok akan sangat mengeratkan hubungan kekerabatan marga-marga Batak bagi semua keturunan ompu martinodohon.

Di luar suku Batak, kegiatan adat na gok  di NTT dan Toraja bisa menghabiskan sedikitnya lima ekor kerbau/sapi. Kekerabatan suku NTT dan Toraja patut diapresiasi suku Batak di seluruh nusantara. Dampak positif adat na gok, semua warga Batak akan semakin membina hubungan kekerabatan itu di perantauan dan di desa-desa. Sejalan dengan gangguan pandemi Covid-19 ini, maka kami juga menyarankan agar acara pernikahan, hari ulang tahun, dll ditunda. Kita berharap gangguan pandemi Covid-19 telah akan berakhir pada akhir bulan Mei 2020, paling lambat medio bulan Juni 2020.

Sebagai orang beriman, kami juga mendukung dalam doa agar bangsa kita segera bisa luput dari gangguan pandemi Covid-19, didasari Injil Mazmur 23:4, “Sekalipun akan berjalan dalam lembah kekelaman, akan tidak takut bahaya, sebaba syukur besertaMu, gadamu dan tongkatmu, itulah yang menghibur aku.” Ada keyakinan kami, gangguan pandemi Covid-19 yang mengharuskan setiap warga kota tinggal di rumah, akan semakin menghargai peranan hukum adat suku untuk membina  kerukunan  antara sesama suku/ marga dengan warga suku lain. FG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here