No Viral, No Justice Kritik Boleh Tajam, Etika Jangan Hilang

* Oleh: Serepina Tiur Maida, S.Sos., M.Pd., M.I.Kom

52

Narwastu.id – Di tengah derasnya arus media sosial, tidak sedikit persoalan yang baru mendapat perhatian ketika sudah ramai dibicarakan. Sebuah video tersebar, warganet ikut bersuara, media mengangkatnya menjadi berita, dan akhirnya pihak terkait memberikan respons. Fenomena inilah yang kemudian melahirkan ungkapan “No Viral, No Justice” seolah-olah suara masyarakat baru akan benar-benar didengar ketika sudah menjadi perhatian publik. Padahal, media memiliki peran penting bukan hanya untuk menyebarkan informasi, tetapi juga mengawasi, mengkritisi, dan menyuarakan persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat. Pentingnya media untuk masyarakat.

Persoalannya, dalam perlombaan mendapatkan perhatian dan views, apakah kritik masih bisa disampaikan tanpa mengabaikan etika?

Apakah sebuah persoalan memang harus viral terlebih dahulu agar mendapat perhatian dan penyelesaian? Tantangannya adalah bagaimana media tetap berani mengungkap fakta dan menyampaikan kritik, tetapi tidak berubah menjadi ruang penghakiman, perundungan, atau pengorbanan martabat seseorang demi sebuah berita yang viral. Ada sindiran “Kalau tidak viral, apakah suara kita akan didengar?” sungguh sangat prihatin. Kalimat ini terdengar sinis. Namun di tengah derasnya arus media sosial, pertanyaan tersebut semakin relevan. Hari ini, sebuah video berdurasi satu menit dapat mengubah perhatian publik dalam hitungan jam. Unggahan yang awalnya hanya dilihat beberapa orang bisa menyebar ribuan bahkan jutaan kali. Media memberitakan, warganet berkomentar, lembaga terkait memberikan respons, dan persoalan yang sebelumnya sepi mendadak menjadi perhatian. Penulis membaca salah satu buku Mikhael Dua dalam bukunya “Filsafat Ilmu Sosial,” gagasan yang paling relevan adalah tentang pengalaman hidup manusia sebagai sesuatu yang perlu dipahami maknanya, bukan sekadar dijadikan objek informasi. Dalam sinopsis bukunya bahkan ditegaskan bahwa pengalaman hidup sehari-hari dapat dipandang sebagai “teks” yang berbicara tentang manusia dan pengalaman-pengalamannya. Buku yang mengupas refleksi atas pengalaman orisinal manusia.

Serepina Tiur Maida, S.Sos., M.Pd., M.I.Kom

Sederhananya, masyarakat merasa bahwa sebuah persoalan baru akan benar-benar diperhatikan ketika sudah menjadi konsumsi publik.

Tetapi, apakah keadilan memang harus menunggu viral? Media memang harus berani mengkritik. Media bukan sekadar tempat menyampaikan informasi. Media juga memiliki fungsi kontrol sosial. Karena itu, kritik terhadap pemerintah, lembaga, perusahaan, tokoh publik, maupun institusi pelayanan publik adalah bagian penting dari kehidupan demokratis. Media tidak harus selalu menjadi penyampai kabar yang menyenangkan. Ketika ada pelayanan buruk, media perlu bertanya. Ketika ada kebijakan yang merugikan masyarakat, media perlu menguji. Ketika ada dugaan penyimpangan, media perlu melakukan investigasi. Ketika suara kelompok masyarakat tidak terdengar, media dapat menjadi ruang bagi mereka untuk berbicara.

Namun ada garis yang tidak boleh dilewati yaitu kritik harus tajam terhadap persoalan, tetapi tetap beretika terhadap manusia. Namun terkadang kita sebagai manusia yang tidak sempurna terlewatkan hal yang harusnya kita jaga dalam memberi argumen. Kritik bukan berarti menghakimi, Inilah tantangan media di era digital. Di tengah persaingan media digital, berita seolah berpacu dengan waktu. Yang paling cepat memberitakan mendapat perhatian, yang paling menarik judulnya mengundang klik, dan yang paling banyak meraih views dianggap paling berhasil. Akibatnya, kecepatan dan angka tayangan kadang lebih diperhatikan daripada kedalaman dan ketepatan informasi.

Padahal, berita bukan perlombaan siapa yang paling cepat membuat orang marah. Kita perlu berhati-hati dengan judul yang sengaja membangun kemarahan, mempermalukan seseorang, membesar-besarkan fakta, atau menyembunyikan konteks hanya demi clickbait. Sebab satu judul dapat membentuk persepsi jutaan orang. Dan ketika ternyata informasi tersebut keliru, klarifikasi sering kali tidak pernah seviral kesalahan awalnya. Di sinilah tanggung jawab media menjadi sangat penting. Menjadi mediator untuk pesan ke masyarakat perlu membuka pikiran orang lain dan pesan bisa diterima dan bisa juga tidak.

Jurnalisme bukan hanya tentang “apa yang bisa diberitakan?”, tetapi juga “apa yang layak diberitakan, bagaimana memberitakannya, dan apa dampaknya bagi publik?” Berita harus memberi ruang untuk klarifikasi. Dan seberapa berani orang untuk mengklarifikasi sebuah pesan karena akan masuk kembali animo pesan yang disampaikan. Salah satu bentuk etika paling penting dalam pemberitaan adalah memberikan kesempatan kepada pihak yang diberitakan untuk memberikan penjelasan. Jangan hanya menghadirkan satu sisi cerita, jangan menjadikan potongan video sebagai keseluruhan fakta, jangan menjadikan komentar warganet sebagai bukti. Dan jangan menjadikan dugaan sebagai fakta.

Sebuah berita yang baik tidak takut menghadirkan dua sisi atau lebih, justru karena tugas media adalah membantu masyarakat memahami persoalan secara utuh. Kritik akan jauh lebih kuat ketika berdiri di atas fakta. Bukan karena suaranya paling keras, tetapi karena datanya paling jelas. Viral bukan ukuran kebenaran dan viral tidak selalu berarti benar.

Ada fenomena lain yang perlu kita waspadai. Ketika sebuah berita menjadi viral, masyarakat dapat berubah dari publik yang kritis menjadi massa yang menghakimi. Komentar berubah menjadi penghinaan. Kritik berubah menjadi serangan pribadi. Perbedaan pendapat berubah menjadi perundungan. Bahkan identitas, keluarga, pekerjaan, atau kehidupan pribadi seseorang kadang ikut diseret ke ruang publik. Padahal, kesalahan seseorang tidak otomatis menghapus haknya untuk diperlakukan secara manusiawi. Media harus mampu membedakan antara kepentingan publik dan rasa ingin tahu publik. Tidak semua hal yang membuat orang penasaran layak dipublikasikan. Tetapi, semuanya harus berjalan dengan satu prinsip, yaitu kritik boleh keras. Fakta harus jelas. Etika jangan lepas.

Sebab ketika media memberitakan sebuah persoalan, yang dipertaruhkan bukan hanya nama orang yang diberitakan. Yang dipertaruhkan juga adalah kepercayaan publik terhadap media itu sendiri. Pada akhirnya, kita tidak ingin hidup dalam masyarakat yang hanya mendapatkan keadilan ketika kamera menyala. Kita ingin hidup dalam masyarakat di mana keadilan tetap bekerja meskipun tidak ada yang merekam. Karena berita yang viral belum tentu bermutu. Tetapi berita yang beretika akan selalu punya nilai bagi publik.

* Penulis adalah dosen Ilmu Komunikasi Universitas Mpu Tantular, Jakarta, praktisi pendidikan, pemerhati sosial dan kemasyarakatan serta kolomnis Majalah NARWASTU. Dan sekarang mahasiswa Program Doktoral Universitas Sahid, Jakarta .

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here