Narwastu.id – Di balik setiap langkah bidak di atas papan catur, ada proses belajar, kesabaran, disiplin, dan dukungan keluarga. Hal itulah yang tergambar dalam perjalanan Galang Ozora Hutabarat, pecatur cilik asal Jambi yang sejak usia dini mulai menapaki dunia turnamen catur. Di usianya yang masih belia, Galang telah menunjukkan prestasi tidak selalu harus menunggu dewasa. Dengan bimbingan orang tua, semangat berlatih, dan kecintaan terhadap catur yang tumbuh di lingkungan keluarga, ia mulai membangun langkahnya menuju masa depan.

Galang Ozora Hutabarat lahir di Jambi pada 13 Desember 2016. Ia siswa kelas 4 di Tunas Pelita Bangsa, Jambi. Galang menjalani masa kanak-kanak yang juga diwarnai dengan aktivitas mengasah kemampuan berpikir melalui permainan catur. Bagi sebagian orang, catur sekadar permainan di atas papan dengan 64 kotak. Namun, bagi Galang dan keluarganya, catur merupakan ruang belajar yang mengajarkan konsentrasi, kesabaran, keberanian mengambil keputusan, serta kemampuan memperhitungkan langkah sebelum bertindak. Ketertarikan Galang terhadap catur tidak tumbuh begitu saja. Ia berkembang di lingkungan keluarga yang memiliki kedekatan dengan dunia catur. Orangtuanya Miduk Hutabarat, M.N., bukan hanya memberikan dukungan, tetapi juga berperan sebagai pelatih yang mendampingi proses belajarnya. Dengan pengalaman dan gelar Master Nasional (MN) di bidang catur, orangtuanya memiliki bekal untuk memperkenalkan teknik, strategi, dan nilai-nilai olahraga catur secara lebih terarah. Salah satu pengurus catur di Jambi dan membuka usaha Dubov Foundation Chess DFC, kelas catur baik kelas privat maupun reguler yang siswanya selalu diikutsertakan dalam turnamen pada setiap ada kesempatan.
Pendampingan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan Galang. Anak tidak hanya membutuhkan kesempatan untuk mencoba, tetapi juga membutuhkan orang dewasa yang bersedia membimbing, memberikan teladan, dan membantu mengevaluasi setiap proses yang dijalaninya.
Prestasi yang Tumbuh dari Proses
Perjalanan Galang mulai memperlihatkan hasil melalui keikutsertaannya dalam berbagai kompetisi. Pada Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Catur tahun 2025, Galang berhasil meraih juara II tingkat Provinsi Jambi. Prestasi ini menjadi pengalaman berharga sekaligus motivasi untuk terus mengembangkan kemampuannya.
Langkah berikutnya semakin membanggakan. Galang berhasil meraih juara I tingkat Provinsi Jambi pada turnamen yang diikutinya. Capaian tersebut menunjukkan perkembangan yang patut diapresiasi, terutama karena ia masih berada pada usia sekolah dasar.

Pada tahun 2026 Galang juga mengikuti Turnamen Walikota Cup 2026 serta berkesempatan bertanding dalam Kejuaraan Nasional (Kejurnas) di Banten. Keikutsertaannya dalam kompetisi di luar daerah menjadi pengalaman penting untuk mengenal lawan dengan kemampuan dan gaya bermain yang beragam. Bagi seorang pecatur muda, mengikuti turnamen bukan semata-mata tentang membawa pulang piala. Setiap pertandingan merupakan kesempatan untuk belajar mengendalikan emosi, menerima kekalahan dengan lapang dada, menghargai lawan, dan memperbaiki strategi. Kemenangan patut dirayakan, tetapi proses yang membentuk karakter dan kedisiplinan juga layak mendapatkan penghargaan.
Orang Tua sebagai Pelatih, Pendamping, dan Sumber Semangat
Salah satu hal menarik dalam perjalanan Galang adalah peran orangtuanya yang sekaligus menjadi pelatih catur. Peran ganda ini menuntut keseimbangan antara membina kemampuan teknis dan menjaga agar anak tetap menikmati proses belajarnya.
Sebagai pelatih, orang tua membantu Galang mempelajari pembukaan, membaca posisi, menyusun strategi, dan mengevaluasi pertandingan. Sebagai orang tua, mereka juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa latihan tidak menghilangkan hak anak untuk bermain, beristirahat, belajar, dan menikmati masa kecil.
Di sinilah makna pendampingan yang sesungguhnya. Anak yang berprestasi bukan hanya membutuhkan latihan yang teratur, melainkan juga suasana yang mendukung, apresiasi terhadap usaha, dan ruang untuk berkembang sesuai kemampuannya. Tidak setiap pertandingan berakhir dengan kemenangan. Ada kalanya strategi tidak berjalan sesuai rencana, ada pula saat lawan tampil lebih baik. Dalam situasi seperti itulah peran orang tua menjadi sangat berarti. Dukungan yang menenangkan dan evaluasi yang membangun akan membantu anak memahami bahwa kekalahan bukan akhir perjalanan, melainkan bagian dari proses belajar. Bagi para orang tua yang ingin mengembangkan bakat anak, kisah Galang membawa pesan sederhana: Temukan minat anak, berikan kesempatan untuk berlatih, dampingi dengan sabar, dan hargai setiap kemajuan. Tidak semua anak harus menjadi juara, tetapi setiap anak berhak memperoleh dukungan untuk mengembangkan potensinya.
Warisan Keluarga dan Nilai yang Diteruskan
Kecintaan terhadap catur dalam keluarga Galang juga memiliki akar sejarah. Keluarga ini memiliki hubungan dengan almarhum S.T. Hutabarat, S.H., yang dikenal dalam kisah keluarga sebagai sosok pecatur. Jejak tersebut menjadi bagian dari cerita tentang kecintaan terhadap catur dapat diteruskan antargenerasi. Warisan keluarga tidak selalu berbentuk harta atau benda. Ia juga dapat hadir melalui kebiasaan, nilai, pengetahuan, dan semangat yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Dalam keluarga Galang, catur menjadi salah satu ruang untuk meneruskan kecintaan tersebut.
Namun, meneruskan warisan bukan berarti membebani anak dengan kewajiban untuk selalu menang. Sebaliknya, warisan yang paling berharga adalah kesempatan untuk mengenal, mempelajari, dan mencintai sesuatu yang telah menjadi bagian dari perjalanan keluarga. Galang memiliki kesempatan untuk membangun jalannya sendiri. Dengan bimbingan orang tua dan pengalaman bertanding yang terus bertambah, ia dapat belajar menentukan target, mengenali kekuatan dan kelemahannya, serta mengembangkan karakter yang berguna tidak hanya di papan catur, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Catur Mengajarkan Kehidupan
Catur mengajarkan bahwa setiap langkah memiliki konsekuensi. Pemain harus berpikir sebelum bertindak, membaca kemungkinan, dan menyiapkan alternatif ketika keadaan berubah. Nilai-nilai ini relevan bagi anak dalam menghadapi pelajaran, pergaulan, dan berbagai tantangan kehidupan.
Melalui catur, anak juga belajar bahwa keberhasilan membutuhkan proses. Kemampuan tidak terbentuk hanya karena bakat, tetapi melalui latihan, ketekunan, evaluasi, dan kemauan untuk terus belajar. Prestasi Galang menjadi contoh bahwa kesempatan dan pendampingan yang tepat dapat membantu anak mengembangkan potensinya sejak dini. Meski demikian, perjalanan seorang pecatur muda masih panjang. Prestasi yang diraih hari ini merupakan awal untuk terus bertumbuh, bukan alasan untuk berhenti belajar. Yang terpenting adalah menjaga semangat, kesehatan, keseimbangan pendidikan, dan kebahagiaan anak selama menjalani proses tersebut.
Langkah Kecil Hari Ini, Harapan Besar untuk Masa Depan
Kisah Galang Ozora Hutabarat memberikan inspirasi bagi keluarga yang ingin mendukung minat dan bakat anak. Dukungan orang tua, pengalaman berkompetisi, dan lingkungan yang dekat dengan dunia catur dapat menjadi bekal berharga bagi perkembangan seorang anak. Di balik prestasi seorang anak, sering kali ada orang tua yang bersedia meluangkan waktu, mendampingi latihan, memberikan arahan, dan tetap hadir ketika anak menghadapi kegagalan. Peran tersebut mungkin tidak selalu terlihat oleh publik, tetapi menjadi bagian penting dari perjalanan menuju prestasi.
Galang masih memiliki banyak kesempatan untuk belajar dan bertanding.
Setiap turnamen akan memberinya pengalaman baru, setiap lawan akan mengajarkannya sesuatu, dan setiap langkah di papan catur akan menjadi bagian dari proses pendewasaan.
Sebab, pada akhirnya, keberhasilan membimbing anak bukan hanya tentang seberapa banyak piala yang berhasil dikumpulkan. Keberhasilan juga terletak pada bagaimana orang tua membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang disiplin, tangguh, rendah hati, dan berani menghadapi tantangan. Langkah Galang mungkin masih kecil, tetapi dengan latihan, dukungan keluarga, dan semangat untuk terus belajar, langkah itu dapat menjadi awal dari perjalanan yang besar.
* Penulis adalah dosen ilmu komunikasi di Universitas Mpu Tantular, Jakarta, praktisi komunikasi dan kolomnis di Majalah NARWASTU.























