Belajar dengan Karakter dan Berpikir dengan Logika (Pelajaran dari Ruang Kuliah STB HKBP)

* Oleh: Theresnaria Yuliatur Situmorang

2
Sekolah Tinggi Bibelvrouw HKBP Laguboti menyiapkan perempuan-perempuan tangguh menginjili, cerdas dan berkarakter.

Narwastu.id – Apa gunanya pendidikan jika seseorang semakin banyak tahu, tetapi semakin kehilangan kebijaksanaan? Apa artinya memiliki kecerdasan jika pengetahuan tidak membuat seseorang semakin mengenal dirinya, menghargai sesama, dan bertanggung jawab di hadapan Tuhan? Pertanyaan itu terasa relevan ketika mengikuti proses pembelajaran mahasiswa semester V Program Studi Misiologi STB HKBP pada Selasa, 1 September 2026. Dalam perkuliahan Logika dan Statistika yang dikemas dalam bentuk seminar, mahasiswa tidak hanya diajak memahami materi.

Mereka juga belajar mengenali karakter diri, berpikir logis, berdialog, bertanya, menggunakan teknologi, serta merefleksikan kehidupan dalam terang iman. Bagi saya, pengalaman tersebut mengingatkan kembali bahwa pendidikan Kristen tidak boleh berhenti pada pencapaian kecerdasan intelektual. Pendidikan Kristen harus membentuk manusia seutuhnya: Memiliki pikiran yang jernih, hati yang benar, karakter yang kuat, dan kehidupan yang menjadi berkat.

Theresnaria Yuliatur Situmorang

Belajar Adalah Proses Mengenal Diri

Setiap manusia diciptakan Tuhan secara unik. Karena itu, setiap orang memiliki kemampuan, pengalaman, minat, karakter, dan cara belajar yang berbeda. Ada mahasiswa yang lebih mudah memahami sesuatu melalui membaca, sementara yang lain berkembang melalui diskusi, praktik, visualisasi, demonstrasi, atau pengalaman langsung. Belajar sesuai karakter bukan berarti belajar tanpa disiplin. Sebaliknya, dengan mengenali diri, seseorang dapat menemukan cara yang tepat untuk mengembangkan talenta yang Tuhan percayakan kepadanya.

Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya bertanya, “Berapa nilai yang kamu peroleh?” Pendidikan juga perlu bertanya, “Menjadi manusia seperti apakah kamu setelah memperoleh pengetahuan?”

Di sinilah pendidikan karakter menemukan maknanya. Perguruan tinggi teologi dan pendidikan Kristen tidak hanya dipanggil menghasilkan orang yang menguasai teori, tetapi juga pribadi yang memiliki integritas, rendah hati, mampu bekerja sama, menghargai perbedaan, serta memiliki kepedulian terhadap kehidupan. Kepandaian tanpa karakter dapat menjadi alat untuk kepentingan diri sendiri. Namun, pengetahuan yang dipadukan dengan iman dan karakter dapat menjadi sarana pelayanan.

Orang Percaya Juga Membutuhkan Logika

Kita hidup di tengah banjir informasi. Berita, video, komentar, opini, dan berbagai klaim hadir melalui layar telepon dalam hitungan detik. Persoalannya, tidak semua informasi adalah kebenaran.

Di sinilah kemampuan berpikir logis menjadi penting, termasuk bagi orang percaya. Iman bukan alasan untuk berhenti berpikir. Sebaliknya, iman yang dewasa mendorong manusia menggunakan akal budi yang Tuhan berikan. Ketika menerima sebuah informasi, kita perlu bertanya: Apa faktanya? Siapa sumbernya? Apakah informasi tersebut dapat dipercaya? Apakah kesimpulannya sesuai dengan fakta? Apakah saya sedang menilai berdasarkan kebenaran atau karena emosi dan prasangka?

Materi tentang Enam Topi Berpikir Edward de Bono memberikan salah satu pendekatan untuk melihat persoalan dari berbagai sudut pandang. Kemampuan melihat persoalan secara lebih luas sangat dibutuhkan dalam kehidupan gereja dan masyarakat. Kita tidak boleh mudah menghakimi hanya berdasarkan potongan informasi. Kita juga tidak seharusnya menyebarkan berita hanya karena sesuai dengan pandangan kita. Media sosial jangan sampai menjadi ruang untuk memperbesar kebencian, fitnah, dan prasangka. Orang Kristen dipanggil untuk mengatakan kebenaran, tetapi kebenaran harus disampaikan dengan kasih dan tanggung jawab.

Menjaga Hati, Menjernihkan Pikiran

Ada hubungan yang erat antara logika dan iman. Amsal 4:23 berkata, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”

Pikiran yang cerdas dapat menghasilkan keputusan yang keliru jika hati dikuasai kesombongan, kebencian, kepentingan pribadi, atau prasangka. Sebaliknya, hati yang baik juga membutuhkan pikiran yang jernih agar tidak mudah disesatkan oleh informasi yang salah. Karena itu, pendidikan Kristen harus membentuk keduanya. Kita membutuhkan manusia yang cerdas tetapi tidak sombong, kritis tetapi tidak sinis, berani menyampaikan kebenaran tetapi tidak kehilangan kasih, serta memiliki pendirian tetapi tetap mampu mendengarkan orang lain. Inilah karakter Kristiani yang seharusnya terus bertumbuh.

Teknologi Harus Menjadi Alat Pelayanan

Demonstrasi Scalar yang dilakukan Dr. Ir. Bambang SPA, alumnus ITB tahun 1975, memberikan pengalaman bahwa pembelajaran dapat mempertemukan pengetahuan dengan teknologi. Mahasiswa melihat demonstrasi, berdialog, dan diberi kesempatan bertanya. Namun, ada pelajaran yang lebih besar: Teknologi adalah alat. Ia tidak boleh menggantikan nalar manusia, apalagi menggantikan relasi manusia dengan Tuhan. Kecanggihan teknologi seharusnya membuat manusia semakin mampu melayani, bukan semakin kehilangan kemanusiaan. Dalam konteks gereja, teknologi dapat digunakan untuk pendidikan iman, komunikasi, penginjilan, dan memperluas akses terhadap pengetahuan. Namun, penggunaannya tetap membutuhkan hikmat. Teknologi boleh semakin canggih, tetapi hati manusia tetap membutuhkan tuntunan Tuhan.

Ruang Kuliah sebagai Ruang Pembentukan

Tanya jawab, permainan, ice breaking, kuis, doa, dan kebersamaan dalam perkuliahan mungkin terlihat sederhana. Namun, di sanalah relasi manusiawi dibangun. Mahasiswa belajar bahwa bertanya bukan tanda kebodohan. Berbeda pendapat bukan permusuhan. Berdiskusi bukan pertandingan untuk menentukan siapa yang paling hebat.

Dalam suasana demikian, ruang kuliah menjadi lebih dari sekadar tempat menyampaikan materi. Ia menjadi ruang pembentukan karakter. Pendidikan Kristen pada akhirnya bukan hanya transfer pengetahuan. Pendidikan adalah proses membentuk manusia agar semakin mampu menggunakan pengetahuannya untuk mengasihi Tuhan dan sesama.

Yesus mengajarkan agar manusia mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi serta mengasihi sesama seperti diri sendiri. Di situlah kecerdasan menemukan arah. Akal budi membutuhkan iman. Pengetahuan membutuhkan karakter. Dan pelayanan membutuhkan kasih. Karena itu, pelajaran dari ruang kuliah STB HKBP tersebut sesungguhnya melampaui satu mata kuliah. Belajarlah sesuai karakter, tetapi tetap disiplin. Berpikirlah dengan logika, tetapi tetap rendah hati. Gunakan teknologi, tetapi jangan serahkan nalar kepadanya. Kejarlah pengetahuan, tetapi jangan kehilangan iman.

Sebab pendidikan Kristen yang sejati bukan hanya menghasilkan orang yang mampu menjawab pertanyaan. Pendidikan harus membentuk manusia yang tahu kepada siapa hidupnya dipertanggungjawabkan, untuk apa pengetahuannya digunakan, dan kepada siapa hidupnya harus menjadi berkat.

Pada akhirnya, ruang kuliah tidak hanya menghasilkan lulusan. Ia harus melahirkan manusia yang berpikir jernih, hidup dalam kebenaran, bertumbuh dalam karakter, dan menghadirkan kasih Kristus di tengah keluarga, gereja, masyarakat, bangsa, dan dunia.

* Penulis adalah dosen di  STB HKBP,  dan kini menempuh pendidikan doktoral di Universitas Negeri Medan (UNIMED) Sumatera Utara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here