Tokoh Lintas Agama Berdoa Menyikapi Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan)

6
Para tokoh lintas agama peduli terhadap situasi bangsa dan negara tercinta ini.

Narwastu.id – Perwakilan agama-agama satu persatu menaikkan doa permohonan dan anugerah bagi kondisi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dampaknya dirasakan masyarakat di Sumatera, Kalimantan dan Papua, bahkan negara-negara tetangga. Diawali agama Islam dan ditutup oleh seorang pendeta dari Kristen Protestan. Prosesi tersebut berlangsung dalam acara refleksi dan doa lintas iman yang diinisiasi oleh Departemen Germasa dan Lingkungan Hidup GPIB bersama Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Institut WJ Rumambi, WWF Indonesia, Interfaith Rainforest Initiative (IRI), Eco Bhinneka Muhammadiyah, Ummah for Earth, Eksekutif Nasional WALHI, Forest Watch Indonesia (FWI), serta Indonesian Working Group on Forest Finance (IWGFF), di Gereja GPIB Imanuel, Jakarta, pada Selasa, 27 Oktober 2026 mulai pukul 15.30 WIB.

Sebelum doa-doa dinaikkan, Ketua Umum Majelis Sinode GPIB Pdt. Nitis Putrasana Harsono menyampaikan, ucapan terima kasih sekaligus menyampaikan bahwa inisiasi doa lintas iman dari pergumulan GPIB yang dampaknya dirasakan jemaat GPIB di wilayah Kalimantan dan Sumatera dan tidak bisa dilakukan sendiri. Dijelaskan Pdt. Nitis Putrasana Harsono, kita semua merasakan keprihatinan terhadap kondisi bangsa saat ini. Dari keprihatinan itu, kita berangkat menaikkan doa dan Tuhan tahu kondisi kita. “Terima kasih partisipasi bagi tokoh-tokoh agama yang hadir dan organisasi-organisasi masyarakat sipil yang juga mendukung kegiatan ini. Allah yang telah menjadikan negeri ini, dan kita semua yang berbeda keyakinan, bahasa dan budaya menjadikan hal itu anugerah yang harus disyukuri. Dari keragaman itu, menjadi kekuatan spirit untuk mewujudkan umat manusia yang sejahtera,” ujarnya.

Dia menambahkan, kehadiran umat dalam kegiatan tersebut selain menguatkan dan meneguhkan, sekaligus memberikan harapan baru bagi mereka semua, terlebih saudara-saudara kita yang dirundung bencana. Dan mereka masih memiliki harapan masa depan. “Kami sebagai GPIB tidak bisa berdoa sendiri dan untuk itu mengajak bapak dan ibu dari lintas iman, organisasi masyarakat sipil dan roh Allah menolong doa kita,” kata Pdt. Nitis. Hal tersebut menjadi pembuka kegiatan yang dilanjutkan dalam refleksi kondisi bangsa yang disampaikan Pdt. Prof. Binsar Pakpahan (Ketua STFT Jakarta) yang menyampaikan dengan tegas bahwa yang diperlukan saat ini bagi bangsa Indonesia adalah keteladanan.

Menurutnya, keteladanan itu adalah orang yang bicara dan apa yang dilakukan sama. Keteladanan berarti orang yang memperlihatkan bahwa apa yang dia kerjakan sama dan menjadi sesuatu yang kita tiru dan kita gugu. “Data dari riset yang saya baca bahwa 95 persen masyarakat berdoa setiap hari, tetapi ironisnya persepsi korupsi Indonesia juga rendah atau berarti tingkat korupsinya tinggi. Bagaimana mungkin orang yang berdoa rajin tetapi tingkat kerusakannya lebih tepat,” ujar Pdt. Binsar Pakpahan.

Dia pun menyampaikan kerinduan melihat orang yang mengerjakan apa yang dikatakannya mengenai masyarakat miskin yang harus dijadikan. Rindu melihat orang yang merusak hutan, mencabut konsesi para penerbang hutan, para pemuka agama berani mengerjakan membantu yang menjadi korban.

“Kita perlukan adalah orang yang berani mengerjakan apa yang dikatakan. Mari kerjakan perbaikan bagi bangsa Indonesia. Kerjakan dan lakukan apa yang bisa kita buat di tempat kita masing-masing. Doamu tidak cukup kalau tidak disertai perbuatan. Jadilah teladan bagi bangsa Indonesia,” ujarnya tegas.

Para rohaniwan menyikapi Karhutla yang kini memprihatinkan.

Refleksi juga disampaikan Sekretaris Umum PGI Pdt. Dr. Darwin Darmawan, yang mengingatkan bahwa kehadirannya di acara ini adalah untuk mendengarkan jeritan dan kesedihan hati mereka yang terdampak. “Wajah saya tidak terlalu ceria, karena lebih dalam melihat situasi bangsa yang ada saat ini, kita punya banyak sekali alasan untuk betul-betul menangis sebagai keluarga besar Indonesia. Saya baru beberapa hari dari Kalimantan, pulang dari sana, suara saya parah. Saya betul-betul merasa hidup saya berbeda. Saya menyaksikan bagaimana yang membakar hutan adalah mereka yang mendapat konsensi. Bagaimana mungkin dalam situasi yang betul-betul berat bagi manusia untuk sekadar bernafas tapi melakukan hal yang lain. Semangat politik itu harusnya membangun bangsa ini, tapi berpihak pada mereka yang punya dana dan kuasa,” ungkapnya.

Dalam kondisi saat ini, lanjut Pdt. Darwin Darmawan, banyak orang berharap, menunggu perubahan tapi justru diperhadapkan pada naik-naiknya harga bahan pokok. Dan ini, seharusnya alasan kita menangis. Itu sebabnya kita berdoa. Banyak orang yang meneriakkan masukan kepada pemerintah, termasuk kepada Pak Presiden RI supaya tata kelola negara ini berubah. “Dan, saya masih percaya pada pengharapan, kalau manusia tidak bisa berubah, kalau kita masih frustrasi melihat negara ini, kita serahkan kepada Tuhan dalam keyakinan yang dalam. Iman kita masing-masing berkata, tidak mustahil bagi Tuhan, termasuk mengubah kehidupan kita sendiri. Rusaknya negeri ini bukan hanya di pemerintahan Pak Prabowo,.” tukasnya.

Rusaknya negeri ini, imbuhnya, karena kontribusi kita juga yang belum betul-betul hidup di dalam integritas. Mari kita berdoa, mengharapkan di tengah-tengah kegelapan dan kesuraman yang kita rasakan. “Supaya ada perubahan dalam pengelolaan negara ini. Tuhan yang melakukan, kita yakin bisa melakukan segala sesuatu, termasuk mengubah kehidupan kita pribadi, lepas pribadi,” kata Pdt.Darwin. Perwakilan organisasi masyarakat sipil dari Eco Bhineka Muhammadiyah, WALHI, WWF dan lainnya menyampaikan kondisi kerusakan yang saat ini terjadi di sejumlah daerah kerja mereka masing-masing, dan menuntut pemerintah untuk dapat mengatasinya. Hal itu juga disampaikan dalam konferensi seusai kegiatan, di situ ada langkah-langkah yang telah mereka lakukan dan mendorong lewat doa bersama ini suara mereka dapat didengarkan oleh pemerintah.

Ketua II Majelis Sinode XXII GPIB Pdt. Semuel Karinda menambahkan, GPIB sebagai gereja melihat keprihatinan dari dampak kahutla bukan hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia. “Itulah panggilan kita sebagai gereja, berdoa dan bertindak. Kita mendukung dan memberikan bantuan bagi mereka yang terdampak, tak hanya dana tetapi juga hal-hal yang konkret, seperti rumah oksigen di Kalbar dan Palangkaraya yang bekerjasama dengan pemerintah setempat. Dan ini juga sebagai wujud nyata tindakan kepedulian gereja lewat doa,” ujar Pdt. Semuel. Kegiatan ini ditutup dengan pemberian bibit tanaman untuk ditanam di tempat masing-masing sebagai bentuk kepedulian pembaharuan dan harapan untuk perubahan yang lebih baik bagi Indonesia. PG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here