Narwastu.id – Menarik untuk dikupas saat kita ingin mendapatkan sebuah berita. Dulu ketika kita ingin membaca berita, kita ingin membeli koran, ketika kita ingin mendengar berita atau informasi bahkan mendengarkan hiburan kita nyalakan radio, ketika kita ingin menonton berita, musik, film bahkan program visual yang menarik, kita menyalakan televisi.
Tapi sekarang, satu konten bisa hidup di banyak tempat Instagram, TikTok, YouTube, Facebook, podcast, dan lainnya. Media menjadi lebih menyala dan tidak fokus pada satu media saja.
Teknologi semakin bermain cantik mengemas berita, sehingga bisa cepat sampai atau tersiar. Inilah kenyataan perubahan penting dalam cara kita memahami komunikasi. Komunikasi bukan hanya tentang siapa mengirim pesan kepada siapa, tetapi juga tentang bagaimana manusia bersama-sama menciptakan dan memberi makna terhadap pesan tersebut.

Ketika algoritma ikut menentukan keberhasilan sebuah media, maka kehidupan media tanpa “rumah” bukan berarti media menjadi sepenuhnya bebas. Karena ada penghuni baru yang sangat kuat dalam ekosistem digital.
Apa yang kita lihat di layar tidak sepenuhnya terjadi secara kebetulan. Platform digital menggunakan berbagai sistem untuk menentukan konten yang kemungkinan menarik bagi pengguna. Banyak media salah satunya blogpun menjadi salah satu menyampaikan informasi baik bahkan informasi kritis.
Konten yang berhasil di YouTube belum tentu berhasil di TikTok. Konten yang menarik di Instagram belum tentu memiliki bentuk yang sama ketika disampaikan melalui podcast. Karena itu, media saat ini tidak hanya memproduksi pesan. Media juga harus memahami ruang digital tempat pesan tersebut beredar.
Apakah Media Benar-Benar Tidak Punya Rumah?
Sebenarnya, istilah homeless media tidak harus dipahami secara harfiah. Media tetap memiliki organisasi, redaksi, studio, wartawan, kreator, atau institusi yang menjadi basisnya. Yang berubah adalah tempat bertemunya media dengan publik. Dulu, tempat tersebut relatif tetap. Sekarang, tempat itu berpindah-pindah. “Rumah” media bukan lagi hanya gedung redaksi atau stasiun televisi. Rumah media dapat berada di layar telepon genggam kita, di komunitas digital, di platform media sosial, bahkan di ruang percakapan yang dibangun oleh penggunanya sendiri. Dengan kata lain, rumah media sekarang bukan hanya tempat media berada, tetapi tempat publik menemukan, menggunakan, membicarakan, dan memaknai media.
* Penulis adalah dosen ilmu komunikasi di Universitas Mpu Tantular, Jakarta, praktisi pendidikan, kolomnis, dan pemerhati sosial serta kemasyarakatan.

























