Narwastu.id – Di tengah kondisi keamanan dunia yang belum pulih benar akibat peperangan di berbagai belahan, Piala Dunia FIFA 2026 digelar, dengan 3 negara sekaligus menjadi tuan rumah; AS, Mexico, dan Kanada. Perhelatan Piala Dunia kali ini diikuti oleh 48 negara. Asia (AFC) diwakili oleh 9 negara, Afrika (CAF) diwakili 10 negara, Amerika Utara, Tengah, Karibia (CONCACAF) diwakili 3 negara, Amerika Selatan (CONMEBOL) oleh 6 negara, Oseania (OFC) 1 negara, serta Eropa (UEFA) diwakili 16 negara.

Belakangan Iran sempat diisukan tidak diizinkan bermain di laga Piala Dunia kali ini oleh AS, karena alasan politik. Tapi FIFA tegas. “Iran is coming for sure,” kata Presiden Infantino. Akhirnya Iran tetap bermain dengan laga pertama melawan Selandia Baru di Los Angeles. Lalu apakah laga sebesar World Cup ini mampu menjadi ajang perdamaian khususnya bagi negara-negara yang sedang berseteru? (1) Turnamen “Damai” Pertama dalam Sejarah Modern. Piala Dunia 2026 beda dari semua edisi sebelumnya. Ini kali pertama ada 3 negara tuan rumah: Amerika Serikat, Kanada, Mexico. Tiga negara yang secara politik sering berseberangan, tapi sepakat membuka pintu bersama untuk 48 negara + 6 juta penonton.
Ini sendiri sudah merupakan pesan damai: Tembok bisa diturunkan kalau soal bola. Perbatasan AS-Mexico yang setiap hari jadi berita konflik, selama Juni-Juli 2026 akan jadi “koridor fans.” Bendera Iran bisa berkibar di Texas, bendera USA disambut di Guadalajara. Lapangan jadi satu-satunya wilayah yang tidak butuh visa buat “saling mengerti.”
(2) Laga Sebagai Bahasa Diplomasi. Sepak bola punya tradisi unik: Setelah 90 menit saling jegal, peluit akhir = salaman. Tidak ada perang sungguhan. Bayangkan laga-laga ini: Iran vs USA: Dua negara yang hubungan diplomatiknya beku sejak 1980. Tapi 1998 di Prancis, mereka main bersama, tukar bunga, foto bareng. Dunia menangis. 2026 bisa jadi “jilid 2” di tanah USA sendiri. Itu bukan soal mengalahkan musuh, tap mengalahkan ego. Ukraina vs Rusia: Kalau Rusia lolos, FIFA akan menghadapi dilema. Tapi kalau Ukraina vs Rusia terjadi, 22 pemain di lapangan bisa menunjukkan: konflik politik tidak harus jadi permusuhan personal. Israel vs negara Arab: Setiap gol jadi uji toleransi stadion. Tapi juga jadi panggung: wasit tidak akan tanya KTP, cuma tanya offside atau tidak.

Sepak bola memang tidak menyelesaikan sengketa wilayah. Tapi sepak bola mengingatkan: Lawanmu juga manusia yang berkeringat, kecewa, dan pengen dipeluk timnya saat kalah (3) Stadion = Laboratorium Toleransi Sementara. 48 negara berarti 48 cara nyanyi, 48 cara makan, 48 cara marah. Di Fan Fest LA, NYC, Mexico City, orang Palestina bisa nonton bareng orang Israel. Suporter Serbia duduk sebelah suporter Kroasia. Anak Gaza dan anak Tel Aviv sama-sama minta foto dengan maskot. Satu bulan ini dunia dipaksa melatih hal yang paling susah: “Beda tapi satu tribun.” Tidak harus jadi sahabat, cukup tidak saling lempar botol. Itu sudah kemajuan.
FIFA juga biasanya menyelipkan kampanye “Football Unites the World.” Kapten tim mengenakan ban lengan “No Discrimination.” Iklan jeda pertandingan isinya anak-anak dari negara perang tertawa bersama. Propaganda? Iya. Tapi propaganda damai lebih baik dari propaganda perang. (4) Batas Realistis: Piala Dunia Bukan Tongkat Nabi Musa.
Kita harus jujur: 19 Juli 2026, setelah Argentina/Jerman/Brazil angkat trofi, bom di Gaza tidak otomatis berhenti. Sanksi ke Rusia tidak otomatis dicabut. Perang dagang AS-Tiongkok tidak otomatis reda.

Kenapa? Karena perdamaian dunia itu urusan meja perundingan, bukan meja VAR. Piala Dunia cuma bisa memberikan 3 hal: (1) Jeda Napas: 1 bulan di mana headline bukan “serangan rudal”, tapi “gol menit 90+3.” Dunia butuh jeda buat ingat: kita lebih dari konflik kita. (2) Wajah Manusia: Media gampang bilang “Iran itu musuh.” Tapi susah bilang “Taremi yang nangis karena gagal penalti itu musuh.” Piala Dunia kasih wajah, nama, dan cerita ke “musuh” yang selama ini hanya jadi statistik. (3) Bukti Konsep: Kalau 11 orang Nigeria bisa bekerja sama dengan 11 orang Swis untuk mengalahkan Brazil, berarti manusia berbeda bangsa bisa kerja sama. Kalau bisa di lapangan, kenapa tidak di meja G20?
Damai Dimulai dari Peluit
Piala Dunia 2026 tidak akan “mewujudkan” perdamaian dunia. Itu pekerjaan dan tanggung jawab para pemimpin, tentara, dan diplomat.
Tapi Piala Dunia bisa “mengingatkan” dunia apa itu damai: Damai itu bukan tidak ada konflik. Damai itu ada wasit. Ada aturan. Ada peluit akhir. Ada jabat tangan walau habis ditekel keras.
Mungkin 19 Juli 2026 tidak ada perjanjian damai ditandatangani. Tapi jika ada seorang anak di Kyiv yang hari itu tertawa melihat gol, ada seorang veteran Vietnam di Houston yang memeluk fans Iran, ada seorang ibu di Gaza yang 90 menit lupa suara sirine karena nonton Maroko… bukankah itu juga bentuk perdamaian? Trofi akan dibawa pulang 1 negara. Tapi harapannya, “rasa kemanusiaan” dibawa pulang 48 negara.
“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9).
* Penulis adalah aktivis gereja serta pemerhati sosial dan kemasyarakatan.

























