Narwastu.id- Bencana alam berupa gempa bumi besar yang mengguncang Flores dan beberapa wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 lalu, mengundang empati dari Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Dua hari setelah peristiwa tersebut, Ketua Umum PGI, Pdt. Jacklevyn F. Manuputty, melakukan kunjungan langsung ke sejumlah wilayah yang terdampak. Pada 17 Agustus 2026, Pdt. Jacky bersama tim dari Sinode GMIT dan Klasis Flores Barat melakukan perjalanan dari Labuan Bajo menuju Ruteng, kemudian melanjutkan perjalanan ke Reok, Manggarai Tengah. Reok menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak berat dengan 27 korban jiwa, berdasarkan informasi yang diterima tim di lapangan.
Dari Reok, tim semula berencana melanjutkan perjalanan menuju Mbay, ibukota Kabupaten Nagekeo, yang merupakan salah satu wilayah pusat gempa. Namun, rencana tersebut belum dapat dilakukan karena akses jalan menuju Mbay masih belum terbuka. Tim akhirnya kembali ke Ruteng untuk bermalam dan mempersiapkan perjalanan berikutnya. Perjalanan ke Mbay akan dilanjutkan pada 18 Agustus 2026 melalui jalur selatan, dengan rute Ruteng-Borong (Manggarai Timur)-Aimere-Bajawa (Ngada)-Mbay. Dari Mbay, tim melanjutkan perjalanan menuju Ende untuk bermalam. Perjalanan ini diperkirakan dimulai sekitar pukul 08.00, dan apabila kondisi jalan memungkinkan, tim diperkirakan tiba di Ende sekitar pukul 21.00.
Dari Ende, perjalanan Ketua Umum PGI lalu dilanjutkan menuju Kupang, setelah terlebih dahulu mengunjungi empat kabupaten terdampak di wilayah Flores untuk melihat secara langsung kondisi masyarakat, mendengarkan kebutuhan para penyintas, serta memperkuat koordinasi respons bersama gereja dan jejaring kemanusiaan. Rute ini dipilih karena perjalanan kembali dari Ende menuju Labuan Bajo membutuhkan waktu belasan jam. Perjalanan tersebut bukan sekadar kunjungan untuk melihat kerusakan akibat gempa. Di berbagai titik, tim berjumpa dengan masyarakat yang masih hidup dalam suasana ketidakpastian. Banyak warga masih tinggal di tenda-tenda mandiri dan tenda pengungsian karena gempa susulan dalam skala kecil masih terus terjadi.
Di tengah tenda-tenda tersebut terdapat lansia, anak-anak, perempuan, penyandang disabilitas, dan keluarga yang harus menjalani hari-hari mereka jauh dari rumah. Wajah-wajah mereka menyimpan kecemasan, ketakutan, dan kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi pada hari-hari berikutnya. Sebagian warga kehilangan rumah dan harta benda. Sebagian lainnya harus menghadapi kehilangan orang-orang terkasih. Rumah-rumah rusak, demikian pula sejumlah fasilitas umum dan rumah ibadah, baik gereja maupun masjid.
Dalam perjalanan tersebut, Pdt. Jacky juga menyempatkan diri berbincang dan mendoakan warga yang berada di tenda-tenda mandiri. Kehadiran tersebut menjadi bagian dari upaya untuk mendengarkan langsung pengalaman para penyintas sekaligus menghadirkan penguatan di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.
Kebutuhan Masih Mendesak
Dari komunikasi dengan tim dan warga di lapangan, sejumlah kebutuhan masih sangat mendesak, terutama bahan makanan dan minuman, obat-obatan, minyak angin, serta kebutuhan anak-anak. Ketersediaan barang di Ruteng juga mulai terbatas karena sebagian kebutuhan telah diborong pemerintah daerah untuk mendukung penanganan bencana. Pada sektor kesehatan, ketersediaan tenaga dokter untuk mendukung klaster layanan kesehatan juga masih sangat terbatas. Karena itu, dukungan tenaga kesehatan menjadi salah satu kebutuhan yang perlu segera dikoordinasikan bersama.
Respons gereja juga terus diperkuat melalui Pos Terpadu GMIT yang telah dibentuk sejak 15 Agustus 2026. Pos ini menjadi bagian penting dalam koordinasi pelayanan dan distribusi bantuan, sekaligus menghubungkan kebutuhan di lapangan dengan dukungan dari jejaring gereja dan lembaga kemanusiaan.
Dalam kunjungannya, Pdt. Jacky menegaskan, bencana ini tidak mengenal batas suku maupun agama. Gempa telah membawa penderitaan kepada masyarakat secara luas dan karena itu harus dilihat sebagai persoalan kemanusiaan bersama. “Saat ini akibat bencana alam banyak warga terdampak tidak memandang suku dan agama. Ini adalah musibah kemanusiaan. Tidak gampang kehilangan harta benda, tidak gampang kehilangan orang-orang tersayang. Rumah-rumah rusak, rumah ibadah, masjid dan gereja juga rusak,” ungkapnya.
Situasi ini, lanjut Ketum PGI, sekaligus menjadi ujian bagi kebersamaan masyarakat. Berbagai bantuan akan datang dan koordinasi terus dilakukan oleh pemerintah, gereja, lembaga kemanusiaan, serta berbagai pihak lainnya. Namun, ada sesuatu yang lebih mendasar yang perlu dibangun, yaitu kekuatan masyarakat dari dalam diri mereka sendiri. “Hari ini kebersamaan kita diuji. Akan ada banyak bantuan yang datang, koordinasi-koordinasi telah dilakukan. Tetapi yang terpenting adalah kekuatan kita dari dalam. Bagaimana kita bangkit,” tukasnya.
Semangat solidaritas kemanusiaan tersebut juga tampak dalam respon Pos Terpadu GMIT yang dalam penyaluran bantuannya menjangkau warga terdampak tanpa membedakan latar belakang agama. Bantuan juga disalurkan kepada warga Muslim yang turut menjadi penyintas gempa. Bagi gereja, kehadiran di tengah bencana bukan pertama-tama tentang siapa yang dilayani berdasarkan identitas, melainkan tentang siapa yang sedang membutuhkan pertolongan. Dalam situasi seperti ini, ujar Pdt. Jacky Manuputty, penderitaan menjadi ruang untuk merawat persaudaraan, saling menopang, dan menghadirkan kemanusiaan yang melampaui batas-batas perbedaan. KL
























