Menatap Indonesia Emas dari Altar Sejarah (Jejak Juang Tokoh Kristen dan Panggilan Profetik Umat dalam Mengisi Kemerdekaan pada HUT RI ke-81)

3
Logo hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 tahun.

Narwastu.id – Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 yang jatuh pada tanggal 17 Agustus 2026 bukanlah sekadar rutinitas seremonial yang dihiasi oleh dentum petasan dan barisan umbul-umbul. Di ambang usia yang semakin matang, perayaan ini merupakan sebuah momentum retrospeksi teologis dan kebangsaan yang amat mendalam. Kita sedang berdiri di sebuah jembatan waktu yang krusial, di mana bangsa ini tengah berderap meletakkan fondasi kuat menuju visi besar Indonesia Emas. Namun, di tengah deru modernisasi, pembangunan infrastruktur fisik, dan transformasi digital yang masif, ada satu kebenaran historis yang tidak boleh luntur atau dikaburkan oleh zaman: Kemerdekaan bangsa ini adalah buah dari rajutan tenun kebangsaan yang melibatkan tetesan keringat, curahan darah, dan air mata tokoh-tokoh Kristen.

Pdt. Dr. Abdon A. Amtiran

Bagi umat Kristen di seluruh pelosok Nusantara, momentum ulang tahun kemerdekaan ini membawa sebuah panggilan ganda. Pertama, sebuah panggilan untuk mengingat kembali (anamnesis) akar sejarah, bahwa kekristenan tidak pernah absen dalam kandungan ibu pertiwi saat melahirkan republik ini. Kedua, sebuah konfrontasi rohani yang menantang kita untuk merefleksikan sejauh mana peran umat Kristen hari ini dalam mengisi kemerdekaan. Kita dipanggil bukan sekadar menjadi penonton yang pasif di tribun sejarah, melainkan sebagai aktor utama, agen transformasi yang aktif, yang menumpahkan kasih Kristus dalam tindakan nyata demi kesejahteraan seluruh ciptaan di bumi Indonesia.

ALTAR PERJUANGAN: JEJAK EMAS TOKOH KRISTEN DALAM MEREBUT KEMERDEKAAN

Sejarah mencatat dengan tinta emas yang tak terhapuskan bahwa kekristenan di Indonesia tidak pernah berdiri di luar pusaran perjuangan nasional. Iman Kristen yang murni tidak pernah melahirkan sikap apatis terhadap penindasan kolonial. Sebaliknya, para pendahulu iman kita memahami betul bahwa seruan untuk merdeka adalah bagian dari mandat ilahi untuk membebaskan manusia dari belenggu ketidakadilan. Mereka menerjemahkan kasih kepada Tuhan melalui cinta yang radikal kepada tanah air yang terjajah.

Sejarah pergerakan kemerdekaan kita diwarnai oleh kepemimpinan intelektual dari tokoh-tokoh muda Kristen. Kita mengenang sosok Amir Sjarifuddin dan Johannes Leimena. Pada tahun 1928, ketika sekat-sekat kesukuan masih begitu tebal, pemuda-pemuda Kristen ini telah melintasi batas identitas untuk mencetuskan ikrar monumental Sumpah Pemuda.

Dr. Johannes Leimena tokoh bangsa yang dikenal negarawan ulung.

Dr. Johannes Leimena, yang di kemudian hari dikenal sebagai seorang negarawan ulung, adalah contoh utama bagaimana integritas iman berpadu dengan pengabdian publik; ia dipercaya oleh Presiden Soekarno dalam berbagai kabinet, Leimena meletakkan fondasi sistem kesehatan masyarakat yang dikenal dengan Bandung Plan—cikal bakal Puskesmas yang hari ini melayani jutaan rakyat kecil di pelosok negeri. Beliau adalah potret politisi Kristen yang bersih, jujur, dan dihormati oleh kawan maupun lawan politiknya. Di panggung diplomasi dan perumusan dasar negara, kita juga mengenal Alexander Andries Maramis. Tokoh asal Sulawesi Utara ini merupakan anggota BPUPKI dan PPKI yang ikut merumuskan naskah Piagam. Perannya sangat krusial dalam menjembatani dialog kebangsaan demi menjaga persatuan Indonesia yang majemuk.

Sebagai Menteri Keuangan di masa awal republik, A.A. Maramis adalah orang yang menandatangani naskah Oeang Republik Indonesia (ORI) yang pertama—sebuah simbol kedaulatan ekonomi mutlak bagi sebuah negara yang baru saja memproklamasikan dirinya.

A.A. Maramis tokoh bangsa dari Indonesia.

Tidak kalah heroik, di medan pertempuran fisik, nyawa dan tubuh dipersembahkan di atas mezbah tanah air. Nama-nama seperti Agustinus Adi Sutjipto di udara (TNI AU), Komodor Yos Sudarso di lautan luas (TNI AL), hingga pemuda tangguh Robert Wolter Mongisidi di daratan Makassar, menjadi bukti bahwa umat Kristen tidak pernah hitung-hitungan dalam berkorban.

Kata-kata terakhir Mongisidi di depan regu tembak eksekutor kolonial, “Setia hingga akhir dalam keyakinan,” menggaungkan sebuah pesan teologis yang sangat kuat: bahwa bagi seorang Kristen, kesetiaan kepada Kristus dan kesetiaan kepada perjuangan bangsanya adalah dua hal yang menyatu dan tidak dapat dipisahkan (Kemendikbud).

Perjuangan mereka adalah manifestasi nyata dari teologi kontekstual yang hidup. Mereka tidak berjuang demi supremasi golongan atau mendirikan negara agama, melainkan demi tegaknya sebuah rumah bersama yang bernama Indonesia.

UMAT KRISTEN DIPANGGIL UNTUK MERDEKA DAN MEMBAWA KESEJAHTERAAN

Bagi umat Kristen, kemerdekaan politis sebuah bangsa bukanlah sebuah kebetulan sejarah atau sekadar hasil kalkulasi politik semata. Kemerdekaan berakar kuat pada kedaulatan Allah yang menguasai jalannya sejarah umat manusia. Alkitab memberikan fondasi teologis yang sangat kaya mengenai arti kebebasan yang sejati dan bagaimana tanggung jawab sipil harus diemban oleh orang-orang yang telah ditebus.

Rasul Paulus dalam suratnya di Galatia 5:13 memberikan sebuah penegasan yang sangat tajam bagi kita: “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk hidup di dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.”

Ayat ini secara tegas menggeser paradigma kita tentang kemerdekaan. Kemerdekaan tidak boleh dipahami secara egois sebagai kebebasan tanpa batas untuk menuruti keinginan diri sendiri (freedom from). Sebaliknya, kemerdekaan adalah sebuah ruang anugerah yang Tuhan berikan agar kita bebas untuk melayani sesama manusia (freedom for). Dalam konteks Indonesia ke-81, kemerdekaan yang kita nikmati saat ini adalah sebuah mandat ilahi. Tuhan membebaskan bangsa ini dari penjajahan masa lalu agar Gereja-Nya memiliki kebebasan penuh untuk keluar dari dinding-dinding kenyamanan gedung gereja dan menjadi pelayan bagi masyarakat.

Potret kemiskinan yang ada di negara kita saat sudah merdeka 81 tahun.

Lebih jauh lagi, ketika kita merenungkan posisi umat Kristen sebagai bagian dari warga negara, mandat yang disampaikan oleh Nabi Yeremia kepada orang-orang buangan di Babel menjadi sangat relevan. Dalam Yeremia 29:7, Tuhan berfirman: “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” Kata “mengusahakan” di sini menggunakan kata kerja aktif yang menuntut inisiatif, kerja keras, dan keterlibatan emosional serta fisik. Indonesia adalah “kota” atau tanah tempat di mana Tuhan menempatkan, menanam, dan mengutus kita. Umat Kristen tidak memiliki opsi untuk menarik diri, bersikap apatis, atau menjadi eksklusif dengan hanya memikirkan kelompoknya sendiri. Kesejahteraan bangsa Indonesia—baik secara ekonomi, sosial, politik, maupun spiritual—adalah tanggung jawab iman kita. Ketika bangsa ini mengalami kemunduran atau kesakitan, gereja tidak boleh diam; kita harus menjadi komunitas yang paling depan dalam membawa kesembuhan dan pemulihan.

MENGISI KEMERDEKAAN DI USIA KE-81: PERAN PROFETIK UMAT KRISTEN SAAT INI

Kini, di usia yang ke-81 tahun, musuh yang dihadapi oleh Republik Indonesia tidak lagi memakai seragam militer asing atau membawa senapan laras panjang. Tantangan zaman telah bergeser secara dramatis. Bangsa kita hari ini sedang bertarung melawan musuh-musuh internal yang tidak kalah merusak: Kemiskinan struktural, ketimpangan akses pendidikan di daerah terdepan, degradasi moral, gurita korupsi, krisis ekologi yang mengancam masa depan alam, serta benih-benih intoleransi yang kerap kali mengoyak rajutan kebinekaan kita.

Di sinilah peran profetik umat Kristen diuji. Mengisi kemerdekaan di abad ke-21 menuntut kita untuk menerjemahkan iman ke dalam aksi nyata yang relevan di berbagai sektor kehidupan, yakni: (1) Menegakkan Integritas di Ruang Publik: Meneladani Dr. Johannes Leimena yang dikenal luas sebagai “menteri yang paling jujur dan bersih”, umat Kristen yang berkarier di sektor pemerintahan, korporasi swasta, maupun lembaga masyarakat sipil harus berani tampil beda. Kita dipanggil untuk menjadi “garam” yang mencegah pembusukan moral akibat budaya korupsi, kolusi, dan nepotisme. Integritas di tempat kerja, menolak suap, dan mempraktikkan keadilan adalah bentuk kesaksian iman (marturia) tertinggi di tengah-tengah dunia sekuler saat ini.

Kini tantangan besar yang dihadapi Indonesia saat sudah merdeka 81 tahun adalah bahaya korupsi.

Lalu (2) Transformasi melalui Pendidikan dan Layanan Sosial: Sejak masa sebelum kemerdekaan, jaringan sekolah Kristen dan rumah sakit misi telah menjadi pilar penting dalam mencerdaskan dan menyehatkan bangsa. Di usia RI yang ke-81 ini, kontribusi tersebut tidak boleh kendor. Lembaga-lembaga Kristen harus terus berdiri di garis depan untuk memberikan pendidikan berkualitas tinggi dan layanan kesehatan yang inklusif, khususnya bagi masyarakat yang terpinggirkan (marginal), tanpa memandang apa suku, ras, atau agama mereka.

Dan (3) Merawat Tenun Kebinekaan sebagai Peacemaker: Di tengah ancaman polarisasi ideologi dan politisasi identitas, Gereja harus hadir sebagai ruang perlindungan yang inklusif dan agen rekonsiliasi. Menjadi pembawa damai (peacemaker) berarti kita harus berani membuka pintu-pintu dialog antariman, menghancurkan tembok prasangka, dan bergotong-royong dengan seluruh komponen bangsa untuk menjaga Pancasila sebagai satu-satunya penyangga tunggal rumah besar Indonesia.

MENJADI SURAT KRISTUS YANG TERBUKA UNTUK INDONESIA

Lampu-lampu panggung perayaan pergelaran HUT RI ke-81 di berbagai alun-alun kota lambat laun akan meredup seiring berakhirnya bulan Agustus. Perlombaan-perlombaan rakyat akan usai, dan dekorasi merah-putih di sepanjang jalan mungkin akan disimpan kembali ke dalam kotak. Namun, satu hal yang tidak boleh ikut pudar adalah api perjuangan dan spiritualitas umat Kristen untuk tanah air ini. Indonesia bukanlah sebuah penginapan atau tempat persinggahan sementara di mana kita hanya menumpang lewat. Indonesia adalah tanah suci, ladang subur yang sengaja dipilih oleh Tuhan Yesus Kristus sebagai tempat di mana kita ditanam untuk bertumbuh, berakar, dan berbuah lebat bagi sesama.

Kita adalah “Surat-surat Kristus yang terbuka”, yang ditulis bukan dengan tinta biasa, melainkan dengan Roh Allah yang hidup, yang dapat dibaca dan dirasakan kebaikannya oleh seluruh rakyat Indonesia. Mari kita genapi panggilan iman yang agung ini. Kita bawa semangat sportivitas, integritas, dan pengorbanan para pahlawan Kristen terdahulu ke dalam ruang-ruang kelas, ke dalam meja-meja kantor, ke dalam kebijakan politik, dan ke dalam setiap doa-doa pribadi kita. Ketika umat Kristen Indonesia hidup dalam kasih yang berdampak, merawat keadilan sosial, dan konsisten memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, saat itulah kita sedang menyanyikan lagu “Indonesia Raya” dengan nada yang paling indah dan khidmat di atas altar kehidupan nyata.

Selamat Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia. Kiranya Tuhan Yesus Kristus, Sang Kepala Gereja dan Penguasa Sejarah, senantiasa memberkati, melindungi, dan mempererat tali persatuan bangsa kita dari Sabang sampai Merauke. Merdeka!

* Penulis adalah akademisi dan gembala jemaat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here