Film Keluarga “Antara Mama, Cinta dan Surga” Menarik Disimak

12

Narwastu.id – Tiap orang bebas menentukan pilihan bagi masa depannya. Gambaran itulah yang mewakili film “Antara Mama, Cinta dan Surga” yang mengisahkan tentang kehidupan anak bungsu keluarga Batak bernama Bernard (Aldy Maldini) yang digadang-gadang bisa menjadi PNS. Hal itu bukan tanpa alasan, karena status profesi tersebut dipandang menjanjikan selain juga mengikuti jejak keluarganya. Selesai menempuh ilmu, Bernard merasa ada panggilan yang berbeda dalam hidupnya dan hal itu mempengaruhi pikirannya. Ia berkeinginan untuk menjadi seorang pendeta. Tentu saja tentang keinginannya itu sangat jauh dari harapan orang tuanya.

Alhasil, keputusan Bernard tersebut menimbulkan konflik dalam keluarganya. Sebab dinilai telah memilih jalan yang tidak biasa. Padahal, Bernard senantiasa mengalami mimpi mengenai almarhum Pdt. Dr. I.L. Nommensen (Pembawa Injil ke Tanah Batak) yang juga adalah nama tengahnya. Akibat dari keputusannya tersebut Bernard dicap sebagai pembangkang, hingga mengakibatkan hubungan dengan keluarganya tidak harmonis. Belum lagi perihal perjodohan yang sebetulnya ia sudah memiliki tambatan hati yang amat dicintainya, yakni Anindita (Anneth Delliecia).

Film yang disutradarai oleh Agustinus Sitorus itu diproduksi oleh PIM Pictures, dan merupakan hasil kolaborasi antara HKBP dan BPODT. Film tersebut   mengambil tema tentang persoalan yang dekat dengan realita kehidupan sehari-hari. Apa yang dialami Bernard dapat dialami oleh siapa saja. Bahwa jalan hidup yang dipilih dengan menjadi seorang pendeta di zaman ini bisa dikatakan kurang diminati khususnya di kalangan anak muda. Selain dianggap sebagai profesi yang tidak menjanjikan secara finansial dan stigma dekat dengan penderitaan, tuntutan untuk menjadi teladan-tindak tanduk dan segala prilaku tak lepas dari sorotan orang sekitarnya dan jemaat.

Ditambah lagi dilarang untuk berbuat salah. Padahal, pendeta tetaplah manusia biasa dan jauh dari kata sempurna. Melalui film yang telah tayang pada 19 Februari 2026 lalu ini, setiap kita diajak untuk kembali merenungkan makna dari sebuah panggilan hidup. Bahwa menjadi pendeta adalah sebuah panggilan dan bukanlah profesi. Mengapa, karena jika itu adalah panggilan, tidak ada kata mundur dari mimbar, kecuali dipisahkan oleh maut. Memang bukan hal yang mudah jika melihat standar yang ditetapkan, seperti harus memiliki hati hamba (Doulos), hidup dalam kekudusan (1 Timotius 4:7), rendah hati dan lemah lembut (2 Timotius 2:24), setia dan dapat dipercaya (2 Timotius 2:2), memiliki karakter Kristus (1 Timotius 4:12) serta dipanggil dan diurapi.

Namun semua standar tersebut dapat terwujud dengan mengandalkan kuasa Roh Kudus, yang bekerja seluas-luasnya dalam diri setiap pribadi hamba Tuhan. Dan pengajarannya harus bersumber dari kebenaran firman Tuhan (Alkitab) dan bukan yang lain. Itu artinya menjadi hamba Tuhan harus bersedia mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kemuliaan Allah. BTY/Dbs

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here