Narwastu.id – Perhelatan Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPL-PGI) 2026 yang berlangsung selama tiga hari (30 Januari hingga 2 Februari 2026) di Gedung Olahraga (GOR) Hiad Sai, Merauke, Papua Selatan, telah terlaksana dengan baik dan lancar. Seluruh agenda persidangan dapat diikuti peserta sejak hari pertama hingga terakhir tanpa hambatan yang berarti, dan telah menghasilkan sejumlah catatan evaluasi yang akan dimasukkan dalam rencana strategis PGI untuk pelaksanaan tugas-tugas ke depan.

Saat penutupan sidang yang berlangsung di Ballroom Hotel Swisbell, Merauke, Ketua Sinode GPI Papua Pdt. Donald E. Salima menyampaikan terima kasih kepada panitia, PGI, pimpinan sinode gereja, BPS Wilayah, pandu, pimpinan daerah baik provinsi maupun kabupaten, para pendeta, serta jemaat.
“Sekitar tiga hari kita boleh dapat bersama-sama memutuskan, merumuskan, dan juga membuat komitmen untuk melaksanakan seluruh apa yang telah menjadi keputusan-keputusan. Sebagai apa yang dikatakan ketua panitia tadi, yang jelek-jelek, yang tidak baik ditinggalkan untuk kami, dan akan mengevaluasi untuk meramunya kembali untuk menjadi baik. Sedangkan bapak, ibu bawa pulang yang baik-baik,” ujarnya, sambil mengingatkan salah satu pesannya, agar apa yang sudah putuskan dapat laksanakan bersama-sama.
Dia pun memberi apresiasi dan rasa bangga kepada PGI yang telah menunjukkan keberpihakannya kepada masyarakat lewat aksi penyampaian Deklarasi Peserta Sidang MPL-PGI 2026 Tolak Proyek Strategis Nasional (PSN) di Merauke.
“Itu yang sekarang masyarakat nantikan ketika tadi kita buat aksi, maka masyarakat menyaksikan keberpihakan kita kepada mereka, dan itu yang menjadi tujuan daripada kami. Dalam rapat-rapat masyarakat bertanya, apa manfatnya bagi masyarakat? Saya bilang ada hal paling penting untuk kita telah merumuskan kepada masayakat yang ada di Kabupaten Merauke dan seluruh tanah Papua, yaitu komitmen kita secara bersama, bukan hanya aksi itu, aksi itu di follow up-kan pertemuan dialog sebagaimana dirumuskan dalam Komisi Papua,” paparnya.

Sementara itu, Ketua Umum PGI, Pdt. Jacklevyn Fritz Manuputty juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada semua pihak yang telah turut terlibat menyukseskan Sidang MPL-PGI 2026 ini. “Kita tidak hanya mengucapkan syukur dan terima kasih, seperti dikatakan ketua panitia kita memulai tidak dari kelimpahan, tapi dari kekurangan. Namun seperti Tuhan Yesus meminta sediakan segala roti bagi lima ribu orang Tuhan memberi mukjizat, sehingga persidangan bisa berjalan sampai akhir. Tuhan telah menggandakan dan itulah yang terjadi dalam seluruh persiapan persidangan dari awal sampai akhir. Segala sesuatu indah pada waktunya,” ujarnya. Hal tersebut, menurutnya, harus menjadi perjalanan iman spiritualitas bagi pelaksanaan persidangan yang menjadi tuan rumah berikutnya untuk jangan pernah ragu. “Kita telah melampaui tahap demi tahap dalam perjalanan ziarah oikoumene dan mukjizat selalu terjadi,” tukas Pdt. Jacky Manuputty.
Deklarasi Peserta Sidang MPL-PGI 2026 Tolak PSN
Sebagaimana diketahui, usai ibadah penutupan, digelar jumpa pers dalam rangka penyampaian Deklarasi Peserta Sidang MPL-PGI 2026 Tolak PSN di Merauke. Kepada awak media Pdt. Jacky Manuputty menyampaikan, isu keadilan ekologis telah lama menjadi perhatian serius PGI. Kerusakan lingkungan, tumpang tindih tata kelola hutan dengan hak masyarakat adat, serta pengalaman kegagalan proyek-proyek pangan sebelumnya menjadi dasar keprihatinan gereja-gereja. PGI menilai pembangunan kembali food estate di kawasan yang sangat luas berpotensi memperparah ketidakadilan ekologis dan sosial.
Karena itu, Sidang MPL sengaja dilaksanakan di Merauke agar para peserta dapat melihat, mendengar, dan menyelami langsung realitas yang dialami masyarakat adat dan gereja-gereja setempat, termasuk keluhan, ratapan, bahkan “tangisan tanah dan bumi” Papua. Dia menegaskan, setelah melalui kajian, dialog dengan masyarakat adat, Majelis Rakyat Papua, gereja-gereja lokal, serta pengalaman empirik di lapangan, Sidang MPL merekomendasikan dua sikap utama. Pertama, PGI, yang menaungi 105 sinode anggota dari Aceh hingga Papua, bersama 30 PGI Wilayah dan berbagai lembaga oikoumenis, menyatakan penolakan terhadap Proyek Strategis Nasional yang sedang berlangsung di Merauke. Sikap ini akan dibawa secara resmi kepada pemerintah dan para pemangku kepentingan.
Kedua, PGI menolak militerisasi dan kecenderungan otoritarianisme yang dinilai melemahkan hak-hak masyarakat, demokrasi, serta partisipasi kritis warga.
PGI juga menegaskan dukungan penuh kepada masyarakat adat Papua Selatan yang menyuarakan penolakan terhadap PSN. “Ini bukan sikap institusional yang berdiri sendiri. Kami belajar dari masyarakat, berbicara dengan MRP, dengan mama-mama, dan berdiri bersama mereka,” tegasnya. Sebagai tindak lanjut, PGI berencana meminta pertemuan langsung dengan pemerintah, termasuk dengan Presiden Prabowo Subianto, guna menyampaikan sikap Sidang MPL sekaligus mengajak gereja-gereja dan komponen masyarakat Papua untuk berdialog secara terbuka.
“Waktu akan membuktikan hasilnya. Tetapi ketika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, kami ingin menegaskan, gereja-gereja sudah berbicara,” pungkasnya. Beberapa hari sebelumnya, di pelataran gedung tempat pembukaan sidang juga diwarnai aksi spontan Solidaritas Merauke (umat Katolik dan Protestan), yang menyerahkan surat pernyataan, mendesak pimpinan gereja di Indonesia bersuara hentikan PSN Merauke yang merampas ruang hidup dan melanggar HAM. Pdt. Jacky Manuputty dan Pdt Darwin Darmawan menjumpai mereka.
Mendengar Tangisan Bumi
Closing ceremony Sidang MPL-PGI 2026 di Merauke menjadi penegasan komitmen PGI dan gereja-gereja anggotanya yang mendengar tangisan bumi. Sebagaimana sambutan Pdt. Jacky Manuputty saat pembukaan sidang, bahwa Merauke bukan sekadar sebuah lokasi penyelenggaraan sidang, melainkan ruang pembelajaran dan keberanian bagi gereja-gereja untuk berjalan bersama. Gereja-gereja di seluruh Indonesia adalah satu tubuh yang dipanggil untuk menemani, mendengarkan, dan menyembuhkan luka, rintihan, serta tangis Papua. Sejalan dengan tema sidang, “Hiduplah sebagai Terang yang Membuahkan Kebaikan, Keadilan, dan Kebenaran” (Efesus 5:8b–9), gereja-gereja diingatkan untuk menjadi terang yang menghadirkan kebaikan, keadilan, dan pemulihan bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan seluruh ciptaan. KL


























