NARWASTU.id – Kejahatan manusia kian menjadi-jadi. Satu di antaranya adalah tentang Wadison Pasaribu, yang diduga tega menghabisi nyawa istrinya, Petry Sihombing di kediamannya Puri Anggrek, Kecamatan Walantaka, Kota Serang, Banten, pada 1 Juni 2025. Berawal ketika keduanya terlibat adu mulut, karena ada dugaan kalau Wadison menjalin hubungan asmara dengan wanita lain, Rani. Hingga akhirnya Wadison gelap mata dan mencekik leher Petry. Petry yang saat itu sempat melawan akhirnya tidak berdaya setelah Wadison membekap wajahnya dengan menggunakan kelambu dan menjerat lehernya dengan tambang yang terpasang di kelambu kamar.
Setelah dipastikan istrinya meninggal, kemudian Wadison membuat skenario seolah-olah rumahnya dirampok. Wadison mengikat tangan dan kaki korban dengan kabel ties dan menyimpan jasad korban di kamar. Setelah itu, ia lalu merusak pintu belakang, melukai diri dan masuk ke dalam karung. Kejahatan yang dilakukan Wadison seolah-olah, seperti di film-film produksi Hollywood. Sayangnya kejadian tersebut bukanlah cuplikan dari adegan sebuah film, tapi kisah nyata yang sungguh terjadi. Pada dasarnya kejahatan tidak bisa tiba-tiba terjadi begitu saja. Melainkan berawal dari sebuah bibit kejahatan yang dibiarkan tumbuh dan berkembang dengan subur di dalam hati manusia, hingga akhirnya ada kesempatan untuk melakukannya. Sesungguhnya setiap kita memiliki kecenderungan untuk melakukan kejahatan akibat dosa. Untuk itu firman Tuhan kembali mengingatkan, seperti yang terdapat dalam Amsal 4:23, ”Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena di situlah terpancar kehidupan.” Hati adalah salah satu bagian kecil dari tubuh manusia. Semua yang kita lakukan, pikirkan dan emosi berasal dari hati. Beberapa tokoh di dalam Alkitab melakukan hal yang tidak seharusnya akibat tidak mampu menjaga hatinya. Sebut saja Hawa yang nekad memakan buah terlarang (Kejadian 3:6), Kain yang membunuh Habel karena rasa iri yang hebat (Kejadian 4:6), Saul kepada Daud (1 Samuel 18:7-8), Yudas yang menjual Yesus dengan 30 keping perak (Matius 26:15) dan masih banyak contoh lain.
Sangat beralasan jika kita dianjurkan untuk senantiasa menjaga hati dengan segala kewaspadaan. Sebab manusia sangat mudah terombang-ambingkan oleh segala sesuatu, terlebih lagi jika tidak memiliki hubungan yang karib dengan Tuhan. Dengan tidak jemu-jemunya setiap orang percaya diingatkan agar membawa hati kepada Tuhan melalui doa, belajar mengenal pribadiNya lewat firman Tuhan dan membiarkan Roh Kudus berotoritas sepenuhnya atas tubuh, jiwa dan roh kita. Karena ada hal-hal yang di luar kendali kita sebagai manusia, dan sepatutnya diserahkan kepada Tuhan.
Misalnya, saat suami/istri berada di luar rumah karena pekerjaan/perjalanan dinas, anak-anak dengan lingkungan pergaulannya atau sedang studi di luar negeri/daerah, stabilitas sebuah rumah tangga yang harus terus dijaga agar tidak terjadi perpecahan, menjadi bendahara di sebuah organisasi/gereja dan sebagainya. Dari masa ke masa kejahatan manusia makin di luar akal sehat. Ironisnya, kejahatan tidak mengenal gender dan berlaku lintas usia. Artinya, kejahatan tidak melulu dilakukan hanya oleh orang dewasa saja, baik laki-laki atau perempuan, tetapi anak-anak di bawah umur pun mampu melakukannya, bahkan sadis. Kendati tidak ada hal yang baru di muka bumi ini, tapi satu yang pasti penggenapan akhir zaman sedang terjadi. “Selain itu, perbuatan jahat akan semakin banyak sehingga kasih diantara sesama akan semakin pudar” (Matius 24:13). BTY


























