Aminah, Akhirnya Pulang Kampung

* Oleh: Rita Sormin Siahaan

30

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Matius 25 : 40)”

NARWASTU.id – Hari itu Minggu, seperti biasanya kami sekeluarga berangkat ke gereja bersama-sama. Saat melintas di tikungan dekat perumahan, saya menyaksikan wanita tua renta berusia sekitar 60 tahun, duduk di teras warung kosong tidak jauh dari tempat pemancingan ikan. “Ibu yang malang,” guman saya dalam hati. Saya hitung-hitung sudah hampir enam bulan wanita itu berada di tempat itu. Siang dan malam tidur di luar, makan dan minum dari belas kasihan orang-orang yang melintas di sekitar tempat itu.

Ketika itu pendeta dalam khotbahnya mengatakan, ketika kita memberikan pertolongan kepada orang-orang yang selevel dengan kita, itu dengan mudah kita lakukan, tetapi bagaimana sikap kita terhadap masyarakat kecil, orang-orang yang terpinggirkan? Saat itu terbayang wajah ibu tua terlantar yang sering saya lewati. Pulang dari gereja hati saya benar-benar terusik dan memberanikan diri turun dari mobil lalu menghampiri si ibu tua renta tersebut.

Saya menyapanya dengan lembut dan ketika  kami bertemu pandang, jantung saya hampir berhenti berdenyut. Di matanya saya seperti melihat sorot mata Kristus yang menderita. Segera saya berdoa, “Tuhan mampukan saya memulangkan ibu ini ke tempat asalnya, Amin!” Benar kata hati saya, satu-satunya yang diinginkan wanita tua itu adalah pulang ke kampung halamannya, tetapi tidak ada biaya dan tidak ada yang peduli. Dengan sangat hati-hati saya menanyakan agamanya. “Tidak punya agama,” jawabnya singkat. Oke! “Kalau begitu berdoalah untuk saya, ucapkan begini, Tuhan Yesus, tolong Bu Rita untuk mengurus saya pulang ke kampung halaman!” dia tertawa mendengarnya.

Kemudian kami mencari tahu informasi mengenai dia. Namanya, Aminah, wanita pemulung yang tinggal di lapak. Lapak adalah tempat para pemulung dengan gubuk reot yang berdempet-dempet dan bersebelahan dengan perumahan kami. Kampung asal Aminah, Desa Song, di tepi laut di daerah lndramayu. Empat tahun lalu Bu Aminah melarikan diri ke Jakarta, karena masalah keluarga dan akhirnya dia terdampar sebagai pernulung. Beberapa waktu Ialu, salah seorang kawannya, mengantarkan Bu Aminah ke warung kosong di pinggir jalan raya. Dia ditinggalkan komunitasnya, karena sakit-sakitan, tidak dapat lagi menghasilkan uang dan menjadi beban sesama pemulung.

Hari itu juga kami menemui Pak RT/ RW untuk meminta surat rekomendasi melakukan “in teken less” kepada warga kompleks. Ternyata tidak mudah menjalankan misi kemanusiaan, selalu ada rasa curiga, buruk prasangka, pro dan kontra. Tetapi kami bersyukur karena Pak RT/RW sangat mengenal kami sekeluarga. Agar tugas kemanusiaan ini cepat terwujud, saya mengajak kedua anak kami Rina dan Andri dalam pelayanan ini. Dan syukur bagi Tuhan melalui mereka kami mengalami sukacita bersama-sama di dalam melayani.

Keesokan harinya pemungutan sumbangan dilakukan. Kami membuat limit waktu selama tujuh hari kepada 83 keluarga. Puji Tuhan, uang yang terkumpul lebih dari ongkos pulang, bahkan masih ada sisa buat Aminah. Satu hal yang sangat mengharukan justru ada lima ibu-ibu yang bersedia menjalankan in teken les. Ternyata melayani dengan Ora Et Labora tidak mudah tetapi juga tidak terlalu sulit, sebab Tuhan pasti meringankan langkah kita.

Ketika Tuhan menyuruh kita melakukan sesuatu, la akan memperlengkapi kita sehingga kita bisa atau mampu melakukannya. Kami berjanji kepada Bu Aminah untuk membawanya pulang dalam waktu dekat. Sehari sebelum kepulangannya, secara kebetulan salah seorang teman dr. spesialis kulit, berkunjung ke rumah. Segera kami mengajaknya menemui Bu Aminah untuk memeriksa luka-­lukanya. Usai memeriksanya, dokter mengatakan bahwa Bu Aminah terkena penyakit kusta. Hampir sekujur tubuhnya terdapat Iuka. Yang paling parah adalah jari kaki dan telapak kaki kiri sudah tidak ada, yang ada tinggal tumit yang menjorok bolong sampai ke dalam daging.

Sambil menuliskan resep, dokter setengah berbisik, “Untung cepat-cepat menolongnya karena dia tidak akan berumur panjang lagi melihat seluruh kondisi fisiknya sangat lemah dan virus yang menyerang tubuhnya sangat berbahaya.” Suatu hari selepas magrib, dengan penuh kasih, bersama kedua anak saya Andri dan Rina, kami menolong Bu Aminah untuk mandi dan keramas sebersih-bersihnya. Kemudian, kami membersihkan luka-­lukanya dengan rivanol, menaburinya dengan serbuk sulfanilamid, lalu membalutnya dengan kasa steril dan perban putih bersih. Selesai makan kami beri obat sesuai resep dokter. Semua pakaian-pakaian dan buntelannya kami bungkus lalu dibakar. Kemudian memberinya pakaian yang layak dipakai.

Kembali ibu-ibu yang ada di komplek ikut menyumbang. Ada yang memberi selimut, baju hangat dan sarung. Putri kami Rina bertugas menyortir dan mengumpulkannya untuk dibawa pulang oleh Bu Aminah. Malam itu tampak sinar kebahagiaan terpancar dari wajahnya yang sayu. Sebelum meninggalkannya, kami menyelimutinya dan kembali kami katakan supaya berdoa dan besok siang kami akan menjemputnya. “Masih ingatkah ibu doa yang saya ajarkan?” dengan tersenyum Aminah mengangguk.

Sebelumnya, kami telah menghubungi tetangga sekampung Aminah bernama Mbak Win, tukang cuci gosok, juga bersuamikan pemulung dengan satu putri. Mbak Win bersedia mengantar Bu Aminah pulang dengan syarat diberi ongkos pergi dan pulang, upah dan uang jajan. Dengan senang hati kami memenuhinya. Besoknya, sekitar pukul 13.00 kami dan Mbak Win sesuai perjanjian bertemu di tempat Aminah. Uang yang terkumpul Rp 1.162.000 dan pengeluaran Rp 240.000. Sisa Rp 922.000, semua kami serahkan kepada Aminah. Sesuai pesan dokter, kami memberi kaus kaki putih bersih untuk membungkus kaki kirinya yang buntung, supaya orang-orang di dalam bus tidak merasa terganggu.

Bersama supir taksi kami menaikkan Bu Aminah ke dalam taksi, dan kami berpesan agar supir taksi menolong Aminah naik ke bus menuju Indramayu. Ketika bus akan berangkat, sambil menahan air mata saya mengucapkan selamat jalan kepada Bu Aminah, dan kembali kami bertemu pandang. Pada matanya yang berbinar, kali ini saya menyaksikan sorot mata Kristus yang penuh welas kasih.  “Terima kasih, Bu Rita,” ucap Aminah lirih. “Sama-sama Bu, Tuhan Yesus menjagamu.” Kami sama-sama tersenyum. Ketika bus berangkat saya tak henti-hentinya melambaikan tangan sampai bus hilang di kejauhan.

Keluarga kami menerima surat ucapan terima kasih dari pengurus RT/ RW atas gagasan menjalankan misi kemanusiaan ini. Bagi saya pribadi hal itu adalah pekerjaan kemanusiaan yang digerakkan oleh kuasa Roh Kudus dan kekuatan sebuah khotbah dan doa. Ya, sebuah doa yang tulus dan sederhana, ternyata mampu membuahkan sebuah pekerjaan yang membawa perubahan dan kesembuhan bagi umat Tuhan yang terlantar dan terabaikan.

Tidak lama berselang, Mbak Win datang ke rumah kami memberitahukan bahwa Bu Aminah disambut penuh suka cita oleh keluarganya terutama oleh adik kandungnya. Terima kasih, Tuhan, kasihMu sungguh menyembuhkan. Amin.

Rita Sormin Siahaan

Penulis yakin lebih dari yang kami lakukan ini, telah dilakukan oleh anda para pembaca yang berbahagia dalam bentuk pelayanan yang beragam. Hanya, mungkin tidak pernah terpikirkan untuk menuliskannya menjadi sebuah kisah sejati. Tapi percayalah malaikat di surga senantiasa menulis di dalam “kitab kehidupan kekal” semua perbuatan-perbuatan baik yang anda lakukan yang telah membawa berkat bagi sesama dan kemuliaan bagi namaNya. Thank you, God bless us.

* Penulis adalah anggota jemaat gereja HKBP Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here