Dalam kehidupan sehari-hari, komunikasi menjadi jembatan utama dalam membangun relasi antarmanusia. Namun, tak jarang gaya komunikasi yang dipengaruhi oleh kepribadian tertentu justru menjadi pemicu ketegangan dan ketidaknyamanan dalam interaksi sosial. Lalu bagaimana kita menyikapi jika terjadi di sekitar kita atau ke diri kita yang menjadi korban? Beberapa tipe kepribadian dapat menjadi penghalang dalam terjalinnya komunikasi yang efektif. Individu dengan karakter dominan atau terlalu agresif, misalnya, sering kali tidak menyadari bahwa cara mereka berkomunikasi yang cenderung mendesak dan penuh tuntutan dapat membuat orang lain merasa tertekan atau terintimidasi.
Di sisi lain, kepribadian pasif-agresif juga kerap menjadi pemicu konflik, karena kecenderungan untuk tidak secara langsung menyampaikan ketidaksetujuan. Sebaliknya, ketidaknyamanan mereka diekspresikan melalui sindiran, sikap diam berkepanjangan, atau tindakan yang bersifat menyabotase secara halus. Hal ini sangat mengganggu, terutama dalam konteks profesional atau akademik, karena menciptakan komunikasi yang tidak terbuka dan kurang produktif. Selain itu, individu dengan kepribadian narsistik yang mendambakan pengakuan dan cenderung menguasai percakapan juga dapat menyebabkan ketegangan dalam kelompok. Pola komunikasi yang berpusat pada diri sendiri membuat lawan bicara merasa diabaikan dan tidak dihargai.
Dari sudut pandang komunikasi yang efektif, keberadaan berbagai tipe kepribadian ini menggarisbawahi pentingnya kesadaran diri (self-awareness) dalam berinteraksi. Memahami dampak gaya komunikasi pribadi terhadap orang lain merupakan langkah awal menuju hubungan yang lebih sehat dan penuh empati. Perlunya pelatihan komunikasi interpersonal di berbagai sektor, mulai dari institusi pendidikan hingga lingkungan kerja, guna menciptakan budaya komunikasi yang inklusif, terbuka, dan saling menghormati.

Komunikasi yang baik tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berbicara, tetapi juga mencakup keterampilan mendengarkan, memahami situasi, dan menghargai batasan orang lain. Bagaimana kepribadian dengan gaya komunikasi playing victim? Dalam interaksi sosial, individu yang sering menempatkan dirinya sebagai pihak yang dirugikan dikenal sebagai “playing victim” semakin banyak menjadi perhatian. Meskipun tampak lemah dan menarik simpati, pola perilaku ini justru dapat memicu konflik dan rasa tidak nyaman dalam hubungan antarpribadi. Gaya komunikasi seperti ini bukan sekadar luapan kesedihan, melainkan sering dimanfaatkan secara manipulatif untuk menghindari tanggung jawab atau mengalihkan permasalahan.
Kerap memutarbalikkan keadaan, sehingga tampak seolah-olah pihak lain yang sepenuhnya bersalah, meskipun sesungguhnya kedua belah pihak turut berperan dalam konflik. Dalam konteks komunikasi kelompok, individu dengan kecenderungan “playing victim” umumnya menolak kritik dengan alasan merasa diserang, mengalihkan inti persoalan, dan menimbulkan ketegangan emosional yang berkepanjangan. Pola ini sangat mengganggu, karena menghambat penyelesaian konflik secara terbuka. Komunikasi menjadi tidak sehat. Bukan karena tidak adanya dialog, tapi karena dialog dibelokkan untuk mempertahankan citra sebagai korban. Konteks ini, penting bagi lingkungan sosial untuk memahami tanda-tanda komunikasi manipulatif, seperti playing victim, dan mengedepankan komunikasi asertif, yakni menyampaikan pendapat secara jujur, terbuka, namun tetap menghargai pihak lain. Komunikasi yang sehat butuh keberanian untuk bertanggung jawab atas peran masing-masing. Playing victim justru merusak kepercayaan dan membuat orang lain merasa tidak dihargai.
Lalu bagaimana playing victim dalam organisasi? Perilaku playing victim dalam konteks organisasi umumnya muncul sebagai reaksi terhadap kritik, tuntutan pekerjaan, atau perselisihan internal. Alih-alih menghadapi persoalan secara terbuka, individu dengan pola ini cenderung menyembunyikan diri di balik cerita bahwa mereka telah diperlakukan secara tidak adil. Sikap tersebut berpotensi menurunkan motivasi kerja tim dan mengganggu kepercayaan antaranggota. Playing victim merupakan salah satu bentuk manipulasi emosi yang dapat mengganggu kelancaran operasional organisasi. Bila tidak segera ditangani, perilaku ini bisa membentuk lingkungan kerja yang tertutup, di mana individu enggan mengungkapkan pendapatnya. Akibatnya, pengambilan keputusan menjadi kurang objektif. Lebih jauh, pola semacam ini juga dapat menurunkan kinerja dan semangat tim. Anggota yang berkomitmen dan bekerja dengan sungguh-sungguh bisa merasa tidak dihargai, karena perhatian organisasi justru tersita untuk menangani konflik emosional yang terus berulang dari pihak yang sama.
Pentingnya edukasi literasi komunikasi semakin mendesak, terutama di era digital, di situ pola playing victim juga sering terjadi di media sosial dan perlu adanya pelatihan komunikasi empatik di lingkungan pendidikan dan kerja untuk membentuk budaya dialog yang adil dan terbuka.
* Penulis adalah dosen ilmu komunikasi, pemerhati sosial dan kemasyarakatan, serta praktisi pendidikan dan kolomnis Majalah NARWASTU.

























