Pendeta Senior di Sinode HKBP Bersaksi Lewat Buku

48

Narwastu.id – Pada Kamis siang, 28 Oktober 2021 kantor Majalah NARWASTU mendapat kiriman dua buku yang cukup menarik disimak. Buku berjudul “Tanda Tuhan Berbuat Jauh Lebih-72 Tahun Perjalanan Kehidupan” adalah kesaksian pendeta senior di Sinode HKBP, Pdt. Marudut Manalu, M.Min. Di kalangan pelayan HKBP ia dikenal figur luar biasa, sederhana dan setia, serta pernah melayani di Gereja HKBP Sudirman, Jakarta dan Kantor Pusat HKBP. Saat Gereja HKBP diintervensi penguasa Orde Baru pada 1992-1998, ia adalah satu dari sedikit pendeta yang berani bersuara mengkritisi teror penguasa waktu itu. “Pak Pendeta Manalu ini pendeta langka,” ujar Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos saat menyimak buku kirimannya itu.

Pdt. Marudut Manalu di masa-masa terakhirnya melayani, ia dipercaya sebagai Koordinator Doa di Rumah Sakit PGI Cikini, Jakarta. Tak heran, ia berhadapan banyak dengan orang-orang yang tergeletak lemah karena fisik lemah, dan butuh dukungan doa hamba Tuhan. Pada akhir 2015 lalu, Pdt. Marudut Manalu termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2015 Pilihan Majalah NARWASTU” karena dia dinilai figur pendeta yang langka, inspiratif dan mampu memotivasi. Dan di bukunya yang terdiri dari 19 bagian ini, tentang penghargaan yang ia terima dari Majalah NARWASTU itu ia tulis pula.

Ada enam catatan menarik yang bisa disimak dari buku ini. Pertama, Pdt. Marudut adalah anak desa yang kemudian dipakai Tuhan menjadi alatNya untuk mengabarkan Injil di tengah dunia ini. Sebagai pendeta ia tak hanya memberitakan Injil lewat mimbar gereja, tapi ia menggembalakan jemaatnya kala lemah iman serta ia membimbing pendeta-pendeta muda agar kudus dalam melayani. Di sebuah bagian buku ini ada diceritakan mengenai pelayanan pelepasan Pdt. Marudut terhadap seorang pendeta yang memiliki jimat. Konon jimat itu dipakai si pendeta muda agar percaya diri saat berkhotbah.

Pdt. Marudut Manalu, M.Min dalam sebuah kesempatan bersama Pdt. Lusiana Harinja Pella, M.Th, keduanya merupakan tokoh Kristiani pilihan Majalah NARWASTU bersama Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos.

Kedua, saat Pdt. Marudut dikirim mengikuti pendidikan konseling di India selama enam bulan, ia mengalami banyak suka duka, termasuk karena soal bahasa, budaya dan makanan yang tak biasa dilahap, namun semua proses itu diikutinya sebagai sebuah proses kehidupan. Dan pendidikan konseling itu sangat bermanfaat baginya saat melayani di HKBP. Ketiga, Pdt. Marudut pun manusia biasa, namun pertolongan Tuhan selalu nyata ia alami saat kesulitan menerpanya. Misalnya, saat ia pulang dari luar negeri dan mendarat di Medan ia ditolong seorang pedagang India yang tak dikenalnya, karena saat itu ia tak punya uang. Saat istrinya dirawat inap di rumah sakit selama dua minggu saat keadaannya sulit, Tuhan menolong dan membebaskan biaya perawatannya.

Keempat, Pdt. Marudut adalah figur hamba Tuhan yang tegas dan berani. Seorang konglomerat Batak yang disegani pun pernah dilawannya, karena si konglomerat itu merasa dirinya paling benar dan mampu mengatasi kasus di HKBP saat masa Orde Baru berkuasa. Kelima, Pdt. Marudut merupakan figur yang terus mengembangkan diri dan semangat belajarnya tinggi. Ia semangat mengikuti seminar hingga ke luar negeri, dan senang berdialog serta tak sungkan meluruskan pendapat tokoh-tokoh gereja dan pemuka Batak. Keenam, ia terbiasa berhadapan dengan orang yang sakit parah di rumah sakit untuk didoakan. Bahkan, pernah seorang perempuan yang menderita kanker payudara mengejutkannya, karena memperlihatkan fisiknya yang sakit pada Pak Pendeta. Tak ayal, Pdt. Marudut saat itu terkejut luar biasa. Buku yang bahasanya populer dan mudah dicerna ini menarik dibaca, dan mengungkap banyak hal yang selama ini belum terungkap, terutama saat ia melayani di gereja HKBP. KJ 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here