PGLII di HUT ke-50 Terus Menjaga Api Injil Tetap Menyala

65
Suasana acara HUT ke-50 PGLII dihadiri sejumlah tokoh gereja aras nasional, seperti Pdt. DR. Nus Reimas (Ketua Majelis Pertimbangan PGLII).

Narwastu.id – Moderasi beragama bukan hanya slogan, tapi harus dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal  Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Thomas Pentury, M.Si, ketika menyampaikan sambutan di acara “Ibadah Syukur dan Perayaan Jubileum Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII)” di Aula Bukit Zaitun, Kompleks YPPII, Batu, Jawa Timur, pada 31 Oktober 2021. Hadir pada kesempatan tersebut Wali Kota Batu Dra. Hj. Dewanti Rumpoko, M.Si, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Timur Dr. Himawan Estu Bagijo, S.H., M.H., yang mewakili Gubernur Jawa Timur dan Kepala Kanwil Kementerian Agama Jawa Timur Drs. Nawawi, M.Fil.

Acara tersebut dihiasi atraksi tarian nusantara kontemporer dari Celebraton of Praise (Bandung) dan sambutan video dari Secretary General of World Evangelical Alliance (WEA). Dalam sambutannya Prof. Thomas Pentury menyampaikan tantangan kepada seluruh pimpinan dan anggota PGLII. “Pada usia ke-50 tahun ini, bagaimana api Injil PGLII itu harus tetap menyala dan bagaimana Amanat Agung harus terus diselesaikan,” katanya. Ke-Indonesian memiliki keragaman, kita dalam posisi yang sama, yaitu membangun Indonesia yang lebih baik. Kita memiliki tiga tantangan. “Tantangan pertama, semangat beragama yang kecenderungan ekstrem. Melampaui kebiasaaan,” cetusnya. Dalam perspektif eksklusif itu sangat mungkin, PGLII menyemangati dengan Amanat Agung dan Api Injil Terus Menyala.

Dalam kerangka eksklusif kita berjumpa dengan sesama bangsa yang berbeda agama dan keyakinan, kita butuh proses yang kita sebut penghargaan kepada agama dan perbedaan yang lain. Tantangan kedua adalah klaim kebenaran subyektif. “Dalam lingkup agama, kebenaran itu mutlak. Dalam perjumpaan dengan sesama, kita akan jumpa dengan berbeda agama dan keyakinan. Kita tidak bisa menafikan bahwa kebenaran ada di sini dan tidak ada di di sana. Relasi kemanusiaan kita, kebangsaan kita diuji supaya kebenaran subyektif tidak menimbulkan gesekan,” terangnya.

Tantangan ketiga, klaim kebenaran subyektif yang cenderung mengabaikan Indonesia seperti menolak menghormati bendera dan mengabaikan kehidupan berbangsa. Kita ada dalam bingkai kebangsaan yang menjamin kehidupan beragama. “Tiga tantangan tersebut harus disikapi dengan baik melalui moderasi beragama. Praktik yang tidak cenderung ekstrem dan menghormati ke-Indonesiaan.”

Tokoh-tokoh gereja terlihat antusias saat hadir di acara HUT ke-50 PGLII.

Pentury kemudian menyebut PGLII adalah sebuah pergerakan, dalam perjalanan pelayanannya harus memiliki energi. “Bagi saya, salah satu energi yang penting adalah pendidikan, dan PGLII sudah menghasilkan banyak lembaga pendidikan yang berkualitas,” ujarnya di acara yang dihadiri tokoh-tokoh Injili dan pemuka gereja aras nasional, seperti Pdt. DR. Nus Reimas itu.

Menghadirkan Kabar Baik

Sementara Ketua Umum PGLII Pdt. DR. Ronny Mandang, M.Th., dalam sambutannya mengatakan menghadirkan kabar baik dan membangun bangsa melalui iman yang dalam dan kokoh merupakan acuan bagi pimpinan dan anggota PGLII untuk berkarya dalam periode 2020-2024. “Karena kalau hanya beriman tapi tidak membangun dan mengaplikasikannya tidak ada manfaatnya. Banyak berdoa banyak membaca firman Tuhan tetapi tidak membagi kepada sesama, itu semua percuma,” ujarnya. “Di era disrupsi di mana berita yang kita temui nyaris padat dengan kabar buruk, kita terpanggil untuk menyampaikan kabar baik. Membagikan kabar baik merupakan tugas mulia. Karena begitu langka dan dinanti banyak orang,” paparnya.

PGLII terus menghadirkan Kabar Baik di tengah gereja, masyarakat dan bangsa.

Pemikiran tentang moderasi beragama, di mana PGLII akan terus ambil bagian, sudah jauh dipikirkan para teolog PGLII. Di antaranya, pendiri PGLII Pdt. DR. Petrus Octavianus dalam bukunya “Menuju Indonesia Jaya Indonesia Adidaya” yang merumuskan bahwa pembangunan harus berorientasi kepada manusia, dan setiap manusia bersatu-padu, bahu-membahu untuk kejayaan nusa dan bangsa. Berhenti berasumsi dan mencurigai pihak mana yang paling diuntungkan. “Egosentris tidak dikenal bila ingin membangun bangsa,” tukasnya.

Acara diakhiri dengan peresmian monumen Api Injil melalui penandatanganan prasasti oleh Ketua Umum PGLII Pdt. Ronny Mandang, dan pemotongan pita prasasti oleh Dirjen Bimas Kristen, Walikota Batu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Timur dan Kakanwil Kemenag Jawa Timur.

Rangkaian Jubileum

Perayaan HUT ke-50 PGLII ini merupakan rangkaian dari tiga acara yang dikemas oleh panitia Jubileum PGLII yang diketuai Deddy A. Madong, S.H., M.A. “Sebelumnya kami sudah mengadakan ibadah syukur pada 17 Juli 2021, tepat pada tanggal berdirinya Persekutuan Injili Indonesia (PII) yang kini berganti nama menjadi PGLII. Acara tersebut kami adakan daring dan dihadiri seluruh pengurus wilayah dan anggota PGLII,” ujarnya.

Deddy Madong menerangkan, acara yang akan diadakan adalah Simposium Misi yang akan diadakan pada 8 November 2021 di STT Jaffray, Makassar, dan Konferensi Pekabaran Injili (KPI) pada 17-19 November 2021 di Jayapura. “KPI akan dihadiri 200 orang secara on site dengan protokol kesehatan ketat dan diikuti melalui daring oleh anggota PGLII, pengurus wilayah dan pengurus daerah,” jelasnya. PT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here