Panda Nababan “Sang Petarung” Komunikator Ulung di Panggung Politik

30
Dua buku Panda Nababan "Lahir Sebagai Petarung."

Narwastu.id – Baru-baru ini, tokoh pers legendaris nasional yang juga tokoh senior PDI Perjuangan, Panda Nababan sudah meluncurkan bukunya yang patut dibaca dan penting disimak setiap anak bangsa. Buku berjudul “Panda Nababan Lahir Sebagai Petarung-Sebuah Otobiografi” ini dibuat dalam dua buku. Satu buku berjudul “Menunggang Gelombang” dan buku kedua “Dalam Pusaran Kekuasaan.” Cukup menarik menyimak buku terbitan PT. Mahkamah Keadilan Indonesia ini. Di awal bukunya, sebelum membuka lembaran-lembaran buku yang isinya memang banyak yang mengejutkan, sebagai seorang penganut Kristen, Panda Nababan yang juga ayahanda dari anggota DPR-RI PDIP dan mantan Pemimpin Redaksi “Metro TV” Putra Nababan menuliskan, “Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu? (Galatia 4:16).”

Buku pertama Panda Nababan lebih banyak menceritakan perjalanan hidupnya sebagai wartawan, sejak muda hingga saat ini tetap menjadi Pemimpin Redaksi Majalah “Keadilan.” Sedangkan buku kedua banyak membahas tentang kiprahnya sebagai politisi yang menginginkan Indonesia menjadi sebuah negara yang menghargai demokrasi, HAM dan memelihara kemajemukan dengan ideologi Pancasila. Buku pertama setebal 600 halaman dan buku kedua setebal 1.052 halaman. Sehingga dalam membaca buku Panda Nababan yang terakhir menjabat sebagai Ketua DPD PDIP Sumatera Utara ini mesti serius, dan bisa disimak sembari menikmati kacang kulit plus menyeduh kopi. Ada banyak cerita yang cukup mengejutkan dipaparkan Panda di buku ini, baik saat ia menjadi wartawan maupun setelah menjadi politisi yang amat diperhitungkan banyak pimpinan partai politik, pimpinan media, konglomerat, pengacara hingga Presiden RI.

Lantaran ia seorang wartawan kawakan, dalam berkomunikasi ke banyak pihak pun, termasuk kepada Presiden RI ia selalu terlihat gamblang dan tegas. Di dalam buku ini ada pula diceritakan tentang kehidupan keluarganya, baik dalam hubungan kakak beradik maupun dalam rumah tangga, yang tak bisa dilepaskan dari kehidupannya, sehingga ia bisa sukses hingga menjadi wartawan kawakan dan politisi ulung di negeri ini.

Buku bagian pertama terdiri dari 18 Bab, dan isinya pasti membuat publik terperangah, apalagi jika membaca judul-judul seperti: Menjadi Soekarnois Muda, Diculik Tentara, Disiksa Jaksa Militer, Difitnah Sebagai PKI, Membongkar Korupsi Perwira Polisi (Bintang 3), Persahabatan dengan Rendra, Dekat dengan Kalangan Islam, Ditangkap Aparat Kodim, Menantang Kapolda Metro Jaya, Membongkar Penyeludupan Mobil Mewah, Jacob Utama Meminta Tolong, Meminta Marzuki Darusman Diganti Lopa, SBY Takut Surya Paloh, Menjadi Wartawan Perang, Terpaksa Makan Tikus dan Perang di Afganistan, M. Jusuf Marah Karena Berita, Memecat Jenderal R. Widodo, Prabowo Mau Menangkap L.B. Moerdani dan Duet dengan Karni Ilyas.


Panda Nababan tokoh reformasi dan komunikator politik ulung.

Kemudian di buku kedua, yang diawali dari Bab 19 hingga Bab 28, juga tak kalah dengan isi-isi yang amat mengejutkan, apalagi cerita ini dipaparkan wartawan senior yang tak diragukan kualitasnya menulis dan integritasnya. Ada judul-judul seperti: Ikut Medirikan PDIP, Monster Interupsi, Telepon dari Prabowo, Menjadi Ketua Pansus Provinsi Bangka Belitung, Memimpin dari Balik Jeruji, Sibuk di Penjara, Urusan Cenglie Hary Tanoe, Luhut Binsar Panjaitan Tak Masuk Kabinet, Bolak Balik Menemui Gus Dur, Menegur Kapolri Dai Bachtiar, SBY Dianggap Tukang Bohong, TK Sang Legenda, dan Diancam Calon Mertua Pakai Pistol.

Panda Nababan dalam sebuah kesempatan bersama Presiden RI Joko Widodo dan Ibu Iriana.

Di Bab 1 buku pertama ada yang menarik ditulis Panda Nababan tentang penyiksaan yang begitu kejam dialaminya dari militer karena dia dianggap pengikut Soekarno dan dianggap anggota PKI. Saat disiksa Panda merasa dikuatkan dengan ayat Alkitab dari 1 Korintus 10 ayat 13, “…Sebab Allah setia dan karena itu Dia tak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai, Ia akan memberi kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” Di penjara pula Panda pernah menato lengannya dengan gambar bintang, salib dan burung merpati sebagai simbol GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia), yang merupakan organisasi yang pertama kali diikutinya.

Di kemudian hari, Panda akhirnya keluar dari tahanan militer yang sempat membuatnya berdarah-darah, karena disiksa setelah abangnya Pdt. Dr. SAE Nababan (Sekretaris Umum DGI, kini PGI) bicara dengan Wakil Panglima ABRI Jenderal M. Panggabean. Dan SAE Nababan menyampaikan bahwa adiknya bukanlah anggota PKI dan tak terlibat Gerakan 30 September 1965 (Halaman 65). Setelah keluar dari tahanan ia mulai bekerja sebagai wartawan di “Warta Harian” milik Mas Isman, tokoh Kosgoro. Kemudian ia beralih lagi ke harian “Sinar Harapan” yang pernah dibreidel. Lalu ia bersama Surya Paloh mendirikan harian “Prioritas”, yang juga pernah dibreidel penguasa Orde Baru karena berani memuat berita-berita yang mengusik penguasa. Selanjutnya ia mendirikan Majalah “Forum Keadilan” bersama Karni Elyas, namun nama Panda sebagai wakil pemimpin umum tak bisa dicantumkan di majalah itu karena larangan Harmoko, Menteri Penerangan saat itu. Forum Keadilan pernah menjadi majalah yang amat diperhitungkan penguasa pada saat itu. Dan sekarang Panda menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Majalah “Keadilan.”

Menyimak kedua buku ini, ada gambaran dan kesimpulan yang bisa dicatat. Pertama, sejak mahasiswa, wartawan muda hingga wartawan senior dan politisi senior, Panda tak takut menyuarakan apa yang ada dalam hatinya. Tak heran, ada banyak pihak yang merasa tidak nyaman dengan sikap dan tulisannya. Kedua, Panda adalah sosok yang berani menembus narasumber saat menjadi wartawan, dan ia selalu ingin membongkar kasus yang berkaitan dengan kepentingan orang banyak. Ketiga, Panda adalah figur yang piawai bergaul dan berkomunikasi dengan berbagai kalangan. Terbukti tokoh-tokoh politik, seperti Megawati Soekarnoputri, Gus Dur, Akbar Tanjung, Wiranto, Jusuf Kalla, Surya Paloh, SBY dan para jenderal serta Presiden RI yang pernah kontak dengannya bisa menerimanya, dan menangkap pesan yang disampaikan Panda. Keempat, karena Panda berlatar belakang wartawan, sehingga saat ia menjadi seorang politisi PDIP ia bisa bersikap seperti halnya wartawan untuk mengorek informasi dari setiap lawan bicaranya. Kelima, Panda adalah figur komunikator politik ulung. Karena saat banyak orang tidak bisa mendapatkan informasi tentang isu-isu politik yang sedang ramai, ia bisa mendapatkannya karena sejak muda ia sudah terbiasa menembus narasumber untuk mendapatkan informasi.

Keenam, dilihat dari rekam jejaknya sebagai wartawan dan politisi, Panda sesungguhnya amat layak dijuluki “Tokoh Reformasi” karena sejak muda ia sudah menunjukkan diri sebagai wartawan yang berani mengkritisi penguasa yang “bertangan besi.” Dan perannya bersama Megawati Soekarnoputri dan Taufiq Kiemas di PDIP, yang pernah ditekan penguasa Orde Baru, begitu besar dalam mengangkat PDIP di panggung politik nasional. Ketujuh, sejarah mencatat bahwa munculnya Joko Widodo sebagai calon Presiden RI dari PDIP pun tak bisa dilepaskan dari peran Panda yang saat itu Ketua DPD PDIP Sumatera Utara. Pasalnya, di acara rakernas PDIP di Jakarta pada 2013 lalu, saat tak ada yang berani (sungkan) bicara capres dari PDIP, DPD PDIP Sumut yang pertama kali menggaungkan nama Jokowi yang saat itu Gubernur DKI Jakarta sebagai Capres RI di acara resmi partai. Dan kemudian Megawati mendukung pencalonan Jokowi yang menang di Pilpres 2014 dan Pilpres 2019. Kedelapan, saat Panda menjadi Ketua Pansus Provinsi Bangka Belitung, dan kemudian provinsi itu  terbentuk, sebagai seorang Kristen ia pun menyampaikan pesan kepada ribuan masyarakat Bangka Belitung dan tokoh-tokohnya agar memberi kemudahan dalam membangun tempat ibadah bagi orang Kristen. Karena Indonesia ini adalah negara yang menghargai kemajemukan dan berdasarkan Pancasila, sehingga agama yang ada mesti dihormati keberadaannya. LM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here