Refleksi Pasca Serangan Covid-19

* Oleh:  Dr. Sigit Triyono

17

Narwastu.id – Serangan virus Covid-19 ke tubuh saya tidak datang tiba-tiba. Pelan tapi pasti dan menyerang sangat agresif sampai daya tahan tubuh saya terguncang di titik dimana serasa tak mampu lagi bertahan. Hanya anugerah dan kasih karunia Tuhanlah yang menghadirkan pertolongan melalui berbagai saluranNya. Kompleksitas pikiran, perasaan, kesakitan, kecemasan, ketakutan, dan kesendirian bercampur aduk saat suhu badan panas, seluruh badan berasa sakit, rasa mual dan pusing serta tidak bisa makan dan tidur. Setidaknya tiga hari pertama di rumah dan tiga hari pertama dirawat di rumah sakit harus saya lalui dengan tiada henti berteriak: “Tuhan Yesus, tolonglah saya.”

Rabu, 7 Juli 2021 saya merasakan ada yang tidak nyaman di bagian atas mulut saya. Tapi saya abaikan karena saya anggap itu akan sembuh sendiri. Kamis, 8 Juli 2021 saya masih memberikan sambutan pada acara Zoombore Anak Nasional LAI. Jumat pagi 9 Juli saya masih pergi ke kantor Salemba untuk supervisi dalam situasi PPKM Darurat di Jawa dan Bali 3-20 Juli 2021. Kemudian siang berlanjut supervisi ke Percetakan LAI di Nanggewer, menyapa semua karyawan yang hadir dan makan siang disana. Semua normal, tak ada keluhan apapun.

Sabtu, 10 Juli 2021 saya sempat naik sepeda mencari lauk untuk makan siang dan sesudah makan siang sempat tidur satu jam. Pada saat bangun tidur itulah saya sudah merasa tidak enak badan dan ada sedikit batuk. Tetapi malamnya masih bisa makan Mie Ayam dengan sambal pedas bersama isteri dan anak-anak. Malah berlanjut minum Wedang Ronde dengan jahe cukup pedas. Minggu dini hari jam 2 sampai jam 4 pagi saya tiga kali diare. Tapi tetap tidak terpikir sama sekali soal virus Covid-19.  “Ah ini hanya dampak sambal dan jahe tadi malam,” ujar saya dalam hati.

Minggu pagi, 11 Juli 2021 saya masih sempat nonton final copa America dimana Argentina menang 1-0 melawan Brasil. Sesudah itu saya dua kali diare lagi. Siang saya test swab antigen secara mandiri dengan alat yang diberikan oleh tetangga saya, Pak Andi. Hasilnya negatif. Sorenya saya ke dokter dan didiagnosa typus. Saya patuh dan minum obat-obat yang diberi namun dalam beberapa hari gejala badan panas, sakit seluruh badan dan pusing tidak berkurang. Senin, 12 Juli 2021 saya masih sempat presentasi dan diskusi via Zoom dalam acara Temu Raya LAI-Sinode Gereja. Kondisi saya sebenarnya sudah sangat tidak nyaman, dan sehabis acara tersebut masih sempat hadir rapat Yayasan Mardiko sampai sekira pukul 13.00 WIB. Sesudah itu kondisi badan saya semakin berasa sakit, suhu badan terus meninggi dan berlangsung sampai hari Rabu 14 Juli 2021.

Kamis, 15 Juli 2021 saya test swab antigen mandiri di rumah dan hasilnya positif Covid-19. Lalu saya ke Rumah Sakit (RS) PGI Cikini untuk melakukan test PCR. Atas saran Dr Alphinus Kamboji saya langsung pergi ke IGD untuk diperiksa secara mendetail. Saya menjalani pemeriksaan darah, foto thorax dan menunggu hasilnya selama lebih dari enam jam di atas kursi roda dan kesimpulannya harus dirawat di RS. Sebenarnya kondisi saya tidak terlampau mengkhawatirkan baik dari sisi hasil test darah maupun foto thorax. Tapi karena usia saya yang di atas 55 tahun dan saya mengalami demam selama empat hari, maka dokter menganjurkan untuk dilakukan perawatan di RS. Kondisi ruang perawatan di RS tersebut belum tersedia. Sementara di IGD juga terjadi antrian panjang. Setelah enam jam lebih saya duduk di kursi roda, barulah saya bisa meletakkan punggung saya di dipan darurat yang ditinggalkan oleh pasien sebelumnya karena sudah bisa masuk ke ruang perawatan RS. Tangan sudah mulai diinfus lalu saya terpikir untuk minta bantuan Pak Moenir Ronny (Bendahara Umum LAI) untuk mengontak kolega LAI apakah bisa membantu mencarikan ruang perawatan di RS lain.

Sekira pukul 10 malam saya mendapat kabar WA dari Prof. Dr. Yos E. Susanto, pemilik RS Primaya Grup, bahwa ada kepastian saya bisa dirawat di RS Primaya Bekasi Barat. Setelah saya konsultasi via WA dengan Dr. Alphinus Kamboji, lalu saya meminta ke Suster IGD RS PGI Cikini untuk melakukan proses penghentian perawatan, dan saya mohon ijin akan pindah ke RS lain. Dokter jaga yang bertugas (dokter Pricilla) memberikan keterangan tentang konsekuensi kalau pindah ke RS lain. Bisa dengan jalur rujukan, tetapi memakan waktu yang tidak pasti, atau menyatakan pulang atas kemauan sendiri yang prosesnya lebih cepat namun harus mengganti semua biaya selama dirawat di IGD RS PGI Cikini. Saya memilih cara yang kedua. Kemudian semua berkas hasil pemeriksaan diberikan dan saya harus menyelesaikan proses pembayaran atas semua biaya selama di IGD RS PGI Cikini. Akhirnya sekira jam 12 malam saya bisa meninggalkan IGD RS PGI Cikini dan menuju ke RS Primaya Bekasi Barat diantar oleh Sdr Reza (Driver LAI), yang sejak pagi menemani saya.

Setidaknya berproses selama satu setengah jam di bagian penerimaan pasien RS Primaya Bekasi Barat, akhirnya Jumat 16 Juli 2021 pukul 02.00 WIB mulailah saya dirawat di ruang 505 tempat tidur nomor 4. Tangan mulai diinfus lagi dan pukul 06.30 mulai dimasukkan obat-obatan melalui infus serta 14 tablet berbagai obat harus saya minum pagi itu. Sejak itulah kompleksitas terjadi. Rasa pusing, badan panas dan sakit semua, serta mual-mual mulai menyerang. Tidak bisa makan dan tidur nyenyak sampai hari minggu 18 Juli 2021. Hari senin 19 Juli 2021 kondisi serangan ke badan saya mulai reda. Tidak panas lagi, namun masih mual dan pusing serta mulut pahit. Meski demikian,  saya sudah bisa menikmati susu hangat yang diberikan pihak RS. Hari Selasa 20 Juli saya baru sadar kalau di sekujur dada saya dan perut bagian atas timbul bercak-bercak merah dan sedikit gatal. Kemungkinan besar  akibat alergi. Dari saat itu saya berhenti makan telur rebus dan menolak kiriman susu RS. Lalu hari Rabu diputuskan dihentikan pemberian antibiotik Levofoxacin yang dicurigai menimbulkan alergi. Saya disuntik anti alergi tiga kali sehari. Berangsur menghilang bercak-bercak merah di dada, perut dan tangan saya.

Hari kamis 22 Juli 2021 saya merasa sudah mulai sehat sehingga berani bertanya tentang kemungkinan bisa pulang. Jumat 23 Juli 2021 saya di test PCR. Sabtu pagi saya di foto thorax ulang. Sabtu malam dokter Budhi Imansyah, Spesialis Paru yang merawat saya, memutuskan kalau saya bisa melanjutkan perawatan di rumah selama satu minggu ke depan. Lebih lanjut dokter Budhi menerangkan:

(1) Hasil PCR menunjukkan virus Covid-19 sudah menurun daya serangnya.

(2) Kondisi paru-paru saya sudah menunjukkan perbaikan tetapi belum sangat baik.

(3) Masih harus istirahat dan minum enam jenis obat (antibiotik, antivirus, obat batuk, multivitamin, dan obat lambung) selama satu minggu ke depan.

(4) Tanggal 31 Juli perlu dikontrol lagi keberadaan virus Covid-19 dan keadaan paru-paru saya.

(5) Selama perawatan di rumah harus tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan (Prokes), minum obat, dan berusaha terus meningkatkan imunitas tubuh.

Selama perawatan di RS Primaya Bekasi Barat saya tidak dipungut biaya karena dijamin oleh negara melalui Kementerian Kesehatan RI. Saya dijemput dan diantar ke rumah oleh Pak Sarmadan (Driver LAI). “Kata dokter, saya sudah aman dan tidak menular ya Pak.” Kata saya menenangkan dia.

Pada saat kondisi saya di dalam kesakitan, saya mengalami berbagai macam pikiran yang terbang kemana-mana (setengah halusinasi?). Saat bisa terlelap tidur sebentar, muncul mimpi-mimpi yang semakin menambah rasa cemas dan takut. Yang bisa saya lakukan hanyalah terus berteriak di dalam hati: “Tuhan Yesus, tolonglah saya.” Itulah kekuatan saya dan pengharapan saya. Saya juga berulang kali menggumam: “Puji Tuhan, puji Tuhan, Haleluya.”  Tanggal 31 Juli 2021 saya sudah berkonsultasi dengan dokter Budhi lagi dan masih diberikan obat serta multivitamin untuk beberapa minggu ke depan agar dapat memulihkan paru-paru saya secara paripurna. Saya juga sangat bersyukur pada hari yang sama hasil test isteri saya menyatakan sudah negatif Covid-19 dan sudah bisa beraktivitas normal.

 Teman Satu Kamar Perawatan

Saat saya masuk di ruang perawatan RS Primaya Bekasi Barat pada Jumat dinihari, di kamar 505 tersebut sudah ada tiga orang yang dirawat. Tempat tidur yang kosong tinggal nomor 4 dan itu yang saya tempati selama sepuluh hari sampai saya meninggalkan RS. Masing-masing tempat tidur hanya dibatasi tirai gorden yang bisa digeser untuk membuka dan menutupnya.

Pasien sebelah tempat tidur saya (tempat tidur nomor 3) namanya Pak Haji Dody. Usianya kelihatan lebih tua dari saya. Sejak saya masuk dia selalu berteriak-teriak minta tolong dan memanggil Suster. Karena saya merasa iba, maka saya berulang kali memencet tombol panggilan ke Suster agar ada pertolongan. Namun rupanya Suster tidak segera datang, dan kalaupun datang selalu menegur Pak Dody yang tidak disiplin mengenakan peralatan oksigennya. “Kalau ingin cepat sembuh, dipakai oksigennya Pak”, kata Suster dengan nada setengah kesal. “Saya tidak tahan Suster. Tolong teleponkan isteri saya. Saya mau bicara.” Jawab Pak Dody. “Ini masih jam tiga pagi Pak. Isteri Bapak masih tidur. Sekarang Bapak istirahat saja dulu. Dipakai oksigennya.” Perintah Suster perawat lebih lanjut. “Tolong saya disuntik anti sakit Suster. Saya tidak tahan,” pinta Pak Dody. Dan Suster menjanjikan akan minta obat ke dokter jaga.

Demikian keadaannya sepanjang Jumat dinihari sampai hari sabtu siang, Pak Dody selalu berteriak minta tolong, lalu sempat berbicara per telepon dengan isterinya dan minta cepat pulang. Isterinya bilang: “Abah kalau di rumah nanti sesek lagi. Di rumah kan tidak ada oksigen. Lagian Sabtu kan harus HD (Cuci darah), jadi lebih baik habis HD nanti Abah pulangnya. Sekarang sabar saja ya.” Pak Dody kelihatan mereda dan dia berkata: “Aku mendengar suaramu ini sudah setengah kekuatanku. Sebenarnya aku sudah tidak tahan.”

Saya sangat terharu mendengar dialog melalui telepon antara Pak Dody dengan isterinya. Saya baru paham bahwa dia memiliki komorbit gagal ginjal. Saya jadi teringat adik ipar saya yang juga penderita gagal ginjal dan terpapar covid-19, yang akhirnya di bulan April lalu harus kembali ke rumah Bapa di Sorga. Kondisi saya yang tidak bisa tidur dengan badan sakit, mual, mulut pahit, kepala pusing bertambah beban dengan pikiran yang macam-macam.

Pada Sabtu siang 17 Juli 2021 Pak Dody dibawa ke ruang HD dan ruang perawatan menjadi sepi. Penghuni tempat tidur nomor satu dan dua tampak sudah dalam kondisi membaik dan siap akan pulang ke rumah. Sementara saya masih terus berjuang dengan kondisi yang lemah dan lebih banyak tiduran.

Sabtu sore Pak Dody dibawa masuk ruang perawatan sesudah selesai proses HD. Tampak kondisinya tidak membaik. Dia tidur telentang dengan telanjang dada. Dua tangannya diikat dan dia sudah tidak banyak berteriak-teriak. Sekali-sekali dia memanggil nama Indra (tampaknya salah satu nama anaknya) untuk minta tolong. Suster tidak banyak keluar masuk ruangan memberikan perhatian khusus seperti hari sebelumnya.

Sabtu malam sekitar pukul 22.00 WIB saya tidak mendengar lagi suara Pak Dody. Tidak berapa lama dua suster datang dan sibuk mencopot segala alat yang menempel di tubuh Pak Dody. Ternyata Pak Dody sudah wafat. Dan selama beberapa jam jenasah masih dibiarkan di kamar perawatan 505. Baru sekitar pukul 02.00 minggu dinihari beberapa petugas masuk membawa peti mati dan memasukkan jenasah Pak Dody ke dalam peti dan kemudian dibungkus dengan plastik.  Suara paku yang dipukul dengan martil yang timbul dari proses penutupan peti mati, dan suara krek-krek-krek yang timbul dari lakban di tengah kesunyian ruangan, membuat campur aduk suasana pikiran saya. Sesudah jenasah Pak Dody dibawa keluar ruang perawatan, senyaplah suasana ruang perawatan. Sesekali hanya terdengar suara batuk dari pasien di tempat tidur nomor satu.

Minggu siang 18 Juli 2021 ada pasien baru masuk menempati tempat tidur Alm. Pak Dody. Nama Pasiennya Pak Gatot Raharjo. Sejak masuk pertama dia banyak tidur dan mendengkur. Praktis kami tidak pernah berkomunikasi kecuali hanya mendengar suara bicaranya saat Suster masuk memberikan obat, mengingatkan untuk makan, dan memberitahukan hal oksigen. Pada hari senin,19 Juli 2021 pasien di tempat tidur nomor 2 sudah boleh pulang. Lalu digantikan oleh pasien baru bernama Pak Subandriyo. Usia sekitar 40an. Rupanya dia pasien dari ruang ICU. Dia tidak banyak berkomunikasi karena tampak masih sangat bergantung pada bantuan oksigen.

Hari selasa, 20 Juli pasien di tempat tidur nomor satu sudah boleh pulang karena sudah dinyatakan sembuh. Saya turut bersukacita karena menumbuhkan pengharapan untuk sembuh dan sehat.

Hari Kamis, 22 Juli 2021 Pasien di sebelah saya (Pak Gatot Raharjo) dipindah ke ruangan lain, dan ada pasien baru yang bernama Pak Sumarsono. Pensiunan Jasa Marga yang baru satu setengah bulan menikmati masa pensiunnya, dan ternyata harus terpapar covid 19. Karena kondisinya tidak memerlukan dibantu oksigen, maka dia banyak berkomunikasi dengan saya. Dia banyak cerita tentang pekerjaan dan keluarganya. Saya baru paham bahwa isterinya sudah wafat tiga tahun lalu karena sakit jantung dan dirawat di RS Primaya Bekasi Barat juga. Belakangan dia banyak merasa sedih karena ditinggal wafat Buliknya (tante) sebagai satu-satunya orang tua yang masih tersisa. Kemungkinan itulah yang menyebabkan dia terpapar covid19. “Terus terang, sampai minggu lalu saya masih tidak percaya adanya virus covid19 Pak. Sampai saya di PCR dan dinyatakan positif, barulah saya percaya bahwa virus ini memang ada,” katanya.

Pasien baru yang menempati tempat tidur nomor 1 bernama Pak Miftahul Choir. Kondisinya tidak memerlukan bantuan oksigen, jadi masih bisa berkomunikasi dengan lancar. Apalagi Sabtu pagi baik Pak Sumarsono maupun Pak Miftah bergantian berjemur di jendela dekat dengan tempat tidur saya. Sambil berjemur  Pak Miftah bercerita tentang keluarganya. Dia sangat khawatir dengan anak bungsunya karena sudah pernah dioperasi dan diambil separuh paru-parunya. Saat dia dinyatakan poisitif, dia selalu memikirkan bagaimana kalau anaknya juga positif. Akhirnya yang dia khawatirkan terjadi, anak yang hanya memiliki paru-paru separuh juga dinyatakan positif covid 19 dan segera diisolasi di RS Mitra Keluarga Bekasi Barat. Namun kondisinya semua baik. Betapa berat beban pikiran Pak Miftah ini.

Ada kejadian sedikit lucu yang mampu membuat saya tersenyum dan bahkan tertawa. Satu sore HP Pak Sumarsono menyala dan ternyata ada kawannya yang menelepon. Dengan speaker HP dinyalakan, saya dan pasien lain di ruang 505 jadi ikut mendengar. “Pak Sumarsono yang penting makan banyak, melihat youtube yang lucu-lucu, gak usah mikir macam-macam. Pasti cepat sembuh pak,” kata suara di seberang. Pak Sumarsono hanya bisa menjawab dengan suara lemah: “ Iya Pak. Terima kasih. Iya. Iya…”

Setelah suara telepon berakhir, saya menimpali ke Pak Sumarsono: “Sampai youtubenya gak ada yang lucu lagi ya Pak?” Lalu kami tertawa bersamaan. Boro-boro melihat Youtube, merasakan badan yang sakit semua, nual-mual, mulut pahit dan kepala pusing sungguh sangat tidak nyaman melakukan apapun.

Saat saya  berpamitan pulang, saya bertukar nomor dengan Pak Sumarsono dan Pak Miftah. Kami masih saling kirim pesan melalui WA, saling menyemangati sebagai sesama penyintas covid-19. Dengan Pak Subandriyo tidak sempat bertukar nomor karena dia lebih banyak bergumul dengan kondisi yang terus bergantung bantuan oksigen.

Meskipun hanya dalam waktu yang singkat, namun rasa senasib sepenanggungan mengakrabkan kami. Percakapan dan komunikasi di sela-sela penderitaan kami masing-masing sungguh mampu menguatkan dan menumbuhkan harapan untuk cepat pulih. Rasa kesendirian menjadi sangat berkurang karena ada saling menyapa dan berbagi cerita.

 Menelusuri Penyebab

Sejak tanggal 7 Juli 2021 sampai saya keluar perawatan dari rumah sakit, saya tidak pernah mencari dari mana asal virus dan mengapa saya bisa diserang. Saya hanya konsentrasi bagaimana agar bisa cepat sembuh. Saya tidak ingin membuang-buang energi karena memikirkan penyebab terjadinya serangan Covid-19. Terlebih lagi saya juga sudah divaksinasi dua kali di bulan Maret dan April 2021. Saya juga rutin mengonsumsi vitamin D, vitamin C dan Zink setiap hari. Jadi saya berpikir hanya fokus saja menjalani perawatan sakit ini agar bisa cepat sembuh. Yang sudah terjadi harus dijalani. Begitu saja.

Sesudah saya kembali ke rumah dan suasana pikiran mereda serta bisa menata perasaan, saya mencoba menelisik peristiwa sebelum tanggal 7 Juli 2021. Saya ingin agar ke depan bisa mencegah peristiwa yang sangat tidak enak ini terulang kembali. Saya teringat betul sepertinya saya mengalami stres yang berlebihan. Sejak sebelum ditetapkannya PPKM Darurat di Jawa dan Bali tanggal 3-20 Juli 2021, saya sudah melihat fakta-fakta yang membuat saya sulit tidur dan banyak pikiran.

Pada pertengahan Juni 2021 di kompleks perumahan saya banyak sekali penduduk yang terpapar Covid-19. Setiap hari ada laporan tetangga yang terpapar Covid-19. Dalam dua minggu lebih dari 60 orang terpapar Covid-19 di lingkungan RW saya. Hati mulai waswas, dan ada beban pikiran bertambah. Apalagi tetangga kiri, kanan dan depan rumah saya ada yang terpapar Covid-19 dan harus isolasi mandiri selama 14 hari. Saya tinggal di zona merah. Beban untuk acara penyerahan 14.000 Alkitab bantuan bencana NTT dari Mitra LAI, yang seharusnya diserahkan di akhir Juni 2021, tidak dapat dilaksanakan karena tanda-tanda serangan Covid-19 menunjukkan penambahan korban yang semakin banyak. Kami menyerahkan kepada para relawan LAI (Pengurus Kelompok Kerja Penggalangan Dukungan Mitra LAI Kupang) untuk mengatur penyerahan Alkitab ke Kupang, Alor dan Flores, namun juga tertunda karena banyak pejabat Gereja yang terpapar covid-19. Bagaimanapun menjadi beban pikiran tersendiri karena menyangkut pertanggung-jawaban dan transparansi LAI kepada para donator yang sudah mendukung program ini.

Di Akhir Juni 2021, beberapa karyawan LAI tiba-tiba terpapar positif covid-19. Setidaknya ada enam orang secara hampir bersamaan dinyatakan positif covid-19. Bagaimanapun menjadi beban pikiran tersendiri untuk memastikan mereka bisa dirawat dengan baik dan mengupayakan kesembuhan dengan segera. Belum lagi harus tetap berpikir keras bagaimana agar LAI tetap mampu hadir melayani di tengah umat di masa PPKM Darurat Jawa dan Bali. Sangat tidak mudah.

Disusul kejadian di GKI Jatiasih, Kota Bekasi, di mana saya berjemaat. Ada enam orang teman satu gereja yang terpapar Covid-19 dan secara berturut-turut wafat satu demi satu. Hampir setiap hari saya turut memonitor, mendoakan dan menghadiri pemakaman para sahabat yang wafat melalui link zoom. Saya merasakan beban yang begitu berat dan membuat saya kurang tidur dalam dua minggu terakhir.

Saya merasa sangat lelah dan tidak seoptimis pada masa pertama-tama ada pandemi Covid-19 di bulan Maret 2020. Kala itu saya gencar sekali menyebarkan ide-ide terobosan dan berbagai kalimat penguat dalam menghadapi pandemi Covid-19. Entah mengapa pada akhir Juni 2021 sampai masuk di masa PPKM Darurat di Jawa dan Bali, energi optimis saya seperti terkuras habis dan sulit sekali mengembangkan ide terobosan serta membangun optimisme. Ada rasa kelelahan yang amat sangat.

Rasanya itulah yang menyebabkan imunitas saya menurun dan akhirnya terpapar Covid-19 yang memang ada dimana-mana keberadaannya. Saya cukup disiplin menerapkan prokes dengan “double masker”. Namun pada saat makan siang di luar rumah, saya masih membuka masker dan di mana ada orang lain yang juga membuka masker. Jelaslah ini menjadi peluang infeksi Covid-19 itu terjadi. Saya banyak membaca berbagai teori dan pengalaman tentang mencegah dan menghadapi terpaparnya Covid-19. Tetapi pada saat mengalami sendiri, dengan penderitaan cukup serius, rasanya lupa semua teori, pengalaman dan berbagai nasihat. Ternyata tahu banyak belum tentu mampu menerapkannya. Akhirnya saya harus mematuhi perintah dokter, dan berproses menjalani penderitaan setahap demi setahap. Saya sama sekali tidak menyalahkan orang lain, dan apalagi menyalahkan Tuhan. Yang saya pahami, saya harus menjalani penderitaan ini sebagai konsekuensi dari perjalanan hidup saya dengan segala tugas serta tanggungjawab yang harus saya pikul. Yang saya yakini, Tuhan akan tetap menolong dan tidak meninggalkan saya.

 Kekuatan di Balik Kerapuhan

Filipi 4:6-7, “Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”

Saya yakin dan percaya bahwa Tuhanlah penguasa hidup saya. Tuhanlah penolong dan penyembuh sejati. Saya selalu ingat Firman Tuhan: tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan.  Dalam kesakitan saya. Dalam setengah halusinasi saya, tidak pernah saya putus meneriakkan permohonan akan pertolongan Tuhan. Saya juga terus “ndremimil” (mengucapkan kata yang sama berulang-ulang) kata-kata “Puji Tuhan. Puji Tuhan. Haleluya.” Syukur kepada Tuhan saya bisa melewati masa-masa kritis. Meskipun saya pernah mengalami sakit dan hampir mati pada tahun 1984, dimana saat itu usus buntu saya terlambat dioperasi dan menimbukkan infeksi serius, namun sakit akibat terpapar Covid-19 lebih  membuat saya mengalami ketakutan, kecemasan, dan kekhawatiran yang amat sangat. Mungkin waktu itu saya masih sangat muda (21 tahun) dan dikelilingi orang tua serta teman-teman yang menunggu saya di RS. Sedangkan saat ini saya berusia 58 tahun dan menghadapi semua proses penderitaan nyaris sendirian. Dan ada juga banyak beban pikiran serta ada misteri yang saya alami sepanjang saya terpapar Covid-19.

Di satu sisi saya harus bertahan dan berjuang melawan serangan Covid-19, di sisi lain saya juga memikirkan isteri saya di rumah yang sejak tanggal 17 Juli 2021 dinyatakan positif Covid-19. Pikiran saya bercabang-cabang. Kekhawatiran saya bertambah-tambah. Namun demikian ternyata Tuhan menolong kami semua. Isteri saya bisa bertahan isolasi mandiri di rumah. Meski kadang ada gejala-gejala yang cukup menyiksa dialaminya. Dia terbukti jauh lebih kuat dibandingkan dengan saya. Sampai hari ini kami masih bersama-sama berproses untuk pulih tuntas. Tuhan sungguh maha baik dan memberikan pertolongan dari berbagai saluran. Dukungan doa, baik dari teman sekantor, teman se-gereja, bahkan dari gereja lain, saudara-saudara dekat dan jauh, para sahabat di berbagai komunitas, bahkan para sahabat di luar negeri dalam persekutuan United Bible Societies khususnya di wilayah Asia Pasifik, sungguh sangat menguatkan kami.

Pertolongan dari para tenaga Kesehatan (Nakes) sungguh sangat-sangat luar biasa. Saya respek dan salut kepada semua Suster Perawat yang dengan setia keluar masuk ruang perawatan untuk menolong keluhan pasien, mensuplay obat-obatan dan infus, mengambil darah, mengukur suhu tubuh, saturasi, tekanan darah, membersihkan tempat tidur, mengingatkan untuk makan dan minum yang cukup, dan bahkan membantu membersihkan kotoran bagi pasien yang terpaksa dipasang kateter serta memakai pempres karena tidak bisa beranjak dari tempat tidur. Saya respek dan salut kepada dokter jaga dan dokter spesialis paru yang setia mengunjungi, menyapa dan berdialog dengan pasien. Mereka semua masuk ke dalam wilayah dengan risiko tertinggi tertular covid-19, namun dedikasi dan pengabdian mereka demi kesembuhan pasien mampu melampaui segala risiko. Saya berdoa khusus agar mereka selalu sehat dan kuat.

Dukungan berbagai macam nasihat, sebagai tanda simpati kepada kami, meskipun kadang sangat sulit dilaksanakan (misalnya nasihat untuk makan sebanyak-banyaknya di saat mulut pahit dan perut mual serta kepala pusing, juga nasihat menonton youtube lucu-lucu di saat tidak bisa konsentrasi), sungguh sangat menghibur kami. Nasihat dari dokter Alphinus Kamboji untuk segera masuk ke IGD RS PGI Cikini sungguh sangat menolong di saat antrian ke IGD sampai di tenda-tenda RS. Juga pertolongan untuk pindah perawatan di RS Primaya Bekasi Barat di saat dimana-mana RS penuh,  adalah suatu mujizat tersendiri yang datang dari Tuhan. Dukungan kiriman makanan, berbagai vitamin dan jamu juga banyak mengalir ke kami. Sungguh semuanya sangat menguatkan. Sejak saya pulang dari RS, segala macam makanan yang tersedia di rumah, menambah semangat saya untuk makan banyak (dimana mulut saya sudah tidak pahit lagi, juga sudah tidak mual dan pusing lagi). Hal ini bisa menutup defisit berat badan saya yang turun tiga kilogram sepanjang saya dirawat di RS. Tentu juga secara bertahap memulihkan stamina saya.

Meskipun saya sudah boleh pulang ke rumah, sebenarnya saya masih mengalami siksaan yang luar biasa, yaitu mengalami sembelit, susah BAB. Pada hari pertama sampai ketiga saya di rumah, saya sampai teriak-teriak memohon pertolongan Tuhan karena begitu sakitnya saat saya berjuang mengeluarkan kotoran. Keringat bercucuran dan rasa sakit sangat menyiksa di bagian saluran pembuangan saya. Lagi-lagi Tuhan menolong saya bisa melewati hal ini. Ada juga bantuan advis dan obat dari dokter Christian, seorang dokter yang praktik di kompleks perumahan kami. Dampak serangan Covid-19 ternyata memang kemana-mana dan membutuhkan waktu khusus untuk menuju kesembuhan tuntas. Semoga tanggal 31 Juli 2021 nanti saya dinyatakan sembuh total dengan stamina kembali 100 persen. Saya sungguh menyampaikan banyak-banyak terima kasih kepada semua sahabat, saudara, Ibu dan Bapak sekalian  serta semua pihak yang sudah mendoakan saya dan isteri saya, yang sudah men-support dengan barbagai atensi, nasihat dan kiriman jamu, buah-buahan, makanan, minuman, vitamin dan berbagai macam obat. Tuhan sendirilah yang akan membalas segala kebaikan para sahabat, saudara, Ibu dan Bapak sekalian yang sangat baik dan sangat mengasihi kami.

Akhirnya saya benar-benar mengalami anugerah yang sangat luar biasa dari Tuhan. Dalam kesendirian menghadapi penderitaan yang tidak mungkin digantikan orang lain, sungguh Tuhanlah penolong sejati melalui berbagai saluranNya. Dia bukan hanya menolong saya, tetapi juga menemani saya setiap saat. Ada kekuatan yang nyata dari Tuhan di balik kerapuhan diri saya. Damai sejahtera yang melampaui segala akal sungguh hadir di tengah penderitaan yang nyaris meruntuhkan pertahanan diri. Tidak ada alasan untuk tidak setia melanjutkan amanat dan tugas pelayanan dari Tuhan. Hanya itu yang mampu saya lakukan sebagai ucapan syukur karena anugerah dan kasih setiaNya. Peristiwa terpaparnya Covid-19 menjadi momentum untuk instrospeksi dalam segala hal. Tidak boleh jumawa meskipun sudah divaksinasi. Tidak boleh lengah sedikitpun dalam menerapkan prokes. Tidak boleh stress berlebihan yang bisa membuat imunitas menurun. Dan tetap mengandalkan Tuhan, sebagai pemberi kesempatan untuk hidup dan berkarya bersamaNya. Kota Bekasi, 3 Agustus 2021.

 

* Penulis adalah Sekretaris Umum Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) periode 2018-2023.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here