Guru Bangsa dan “Bapak Reformasi” dari HKBP itu Telah Tiada

70
Pdt. Dr. SAE Nababan (Baju putih) saat hadir dalam sebuah kesempatan di acara Pdt. DR. Nus Reimas (Duduk di tengah) yang diadakan di LPMI Jakarta bersama tokoh-tokoh Kristen.

Narwastu.id – Guru bangsa, tokoh gereja dan aktivis gerakan oikoumene nasional dan internasional, Pdt. Dr. Soritua Albert Ernst (SAE) Nababan, telah kembali ke pangkuan Bapa di sorga pada Sabtu, 8 Mei 2021 pukul 16.28 WIB, di usia 88 tahun, dan sempat dirawat di Rumah Sakit Medistra, Jakarta. Almarhum adalah mantan Ephorus Sinode HKBP, mantan Presiden Dewan Gereja-gereja Sedunia, mantan Ketua Umum MPH PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia), mantan Presiden Persekutuan Gereja-gereja Se-Asia, senior GMKI, dan pernah Sekretaris Umum PGI serta mantan Moderator United Evangelical in Mission (UEM).

Pdt. SAE Nababan yang lahir pada 24 Mei 1933 di Tapanuli Utara, Sumatera Utara, boleh disebut “Bapak Reformasi” karena di masa pemerintahan Orde Baru yang otoriter ia salah satu tokoh yang berani mengkritisi penguasa. Ketika rezim Orde Baru berkuasa, ia bersama Gus Dur (Ketua Umum PBNU) dan Megawati Soekarnoputri (Ketua Umum PDIP) bersikap tegas melawan kediktatoran Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun itu. Hingga akhirnya, pada 21 Mei 1998 silam mereka bersama mahasiswa dan kelompok prodemokrasi berhasil menurunkan penguasa Orde Baru dari tahta kekuasaan.

Di masa Pdt. Nababan memimpin HKBP, gereja terbesar di Indonesia itu memang terbelah dua karena intervensi penguasa. Dan ia memimpin HKBP SSA (Setia Sampai Akhir) yang berani menentang kebijakan militer dan penguasa. Bahkan, saat itu banyak kebaktian kebangunan rohani (KKR) yang dipimpin Pdt. SAE Nababan di Sumut diadang oleh aparat keamanan. Dan HKBP SSA tegas menolak intervensi penguasa pada organisasi agama ini. Setelah penguasa Orde Baru jatuh pada Mei 1998, lalu HKBP pada Desember 1998 kembali bersatu lewat Sinode Godang Istimewa tanpa intervensi militer dengan memilih Pdt. Dr. J.R. Hutauruk sebagai Ephorus dan Pdt. WTP Simarmata, M.A. sebagai Sekjen HKBP. Dan di sini Pdt. SAE Nababan berperan besar.

Sahabat baik KH Abdurrachman Wahid (Gus Dur almarhum) ini menempuh pendidikannya di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta dan lulus pada 1956 dengan gelar Sarjana Teologia. Lalu ia mendapat beasiswa dan melanjutkan pendidikannya di Universitas Heidelberg dan lulus dengan gelar Doktor Teologi pada 1963. Pada 1987-1998 ia dipercaya menjabat sebagai Ephorus Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), sebuah gereja beraliran Lutheran terbesar di Indonesia. Jabatan-jabatan lain yang pernah dipegangnya Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) pada 1967-1984 dan kemudian ketua umum dari lembaga yang sama pada 1984-1987. Pdt. Nababan banyak terlibat dalam organisasi gereja di tingkat dunia. Ia pernah menjabat sebagai Sekretaris Pemuda Dewan Gereja-gereja Asia (1963-1967) dan belakangan presiden dari lembaga yang sama (1990-1995), Wakil Ketua dari Komite Sentral Dewan Gereja-gereja se-Dunia (1983-1998), Wakil Presiden Federasi Lutheran se-Dunia dan anggota komite eksekutif dari lembaga yang sama. Pdt. Nababan juga menjabat sebagai ketua pertama dari Vereinte Evangelische Mission (United Evangelical Mission), sebuah lembaga misi internasional yang terdiri atas 34 gereja anggota yang tersebar di Afrika, Asia, dan Jerman.

Pdt. Dr. SAE Nababan.

Dalam Sidang Raya IX Dewan Gereja-gereja Se-Dunia di Porto Alegre, Brasil pada tahun 2006, Pdt. SAE Nababan terpilih menjadi salah seorang presiden dari lembaga persekutuan gereja-gereja sedunia itu yang beranggotakan gereja-gereja Protestan dan Ortodoks. Pdt. SAE Nababan adalah abang kandung dari Asmara Nababan (Mantan Sekjen Komnas HAM) dan Panda Nababan (Tokoh senior PDIP). Pdt. Nababan adalah tokoh umat yang sulit dicari tandingannya, dan selalu menempatkan gereja supaya senantiasa berpihak pada kaum lemah, menciptakan kerukunan, kedamaian, mengupayakan keadilan, peduli pada orang-orang miskin dan tertindas serta peduli pada penegakan hukum, HAM dan demokrasi.

Pdt. Nababan juga peduli menyiapkan kader-kader Kristen. Kader-kader yang pernah dibinanya, yakni Pdt. Saut Sirait, M.Th, Pdt. Gomar Gultom, M.Th, Pdt. DR. WTP Simarmata dan Ephorus HKBP sekarang Pdt. Dr. Robin Butarbutar. Di mata tokoh gereja aras nasional, Pdt. DR. Nus Reimas (Ketua Majelis Pertimbangan PGLII), Pdt. SAE Nababan adalah tokoh yang peduli untuk mempersatukan tokoh-tokoh gereja di Indonesia serta memberikan hati, pikiran dan waktunya guna membangun kebersamaan tokoh-tokoh gereja di Indonesia. “Pak Pdt. Nababan tidak hanya sahabat bertukar pikiran bagi saya. Tapi juga sahabat yang suka curhat, baik tentang masalahnya maupun masalah gereja dan bangsa. Kalau kami bertemu makan siang dan ngopi berdua, bisa sampai dua atau tiga jam bertukar pikiran. Beliau orang yang luar biasa, tokoh yang patut diteladani, mampu memotivasi dan menginspirasi,” ujar Pdt. Nus Reimas yang berdarah Ambon.

Pdt. Dr. SAE Nababan (kanan) bersama Pdt. DR. Nus Reimas (kiri) di acara COU 2013 saat berdoa di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta.

Pada 2013 lalu, Pdt. Nus Reimas diminta oleh Pdt. Nababan jadi Ketua Umum Panitia COU (Celebration of Unity) 2013 di Jakarta. Saat itu PGI, PGLII, PGPI, KWI dan organisasi-organisasi gereja aras nasional beserta tokoh-tokohnya bisa dihimpun Pdt. Nus Reimas di sebuah acara doa akbar. Dan di situ Pdt. Nababan memuji kerja keras dan pengaruh Pdt. Nus Reimas yang sudah dua periode jadi Sekretaris Umum PGLII dan Ketua Umum PGLII. Waktu itu, Pdt. Nus Reimas bersama Pdt. Dr. A.A. Yewangoe, Pdt. Gomar Gultom dari PGI serta pimpinan PGLII, PGPI, KWI dan tokoh lainnya sukses menggelar COU 2013 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Dan Pdt. Nababan meminta agar kebersamaan tokoh-tokoh gereja seperti COU itu terus dilanjutkan, karena doa Tuhan Yesus adalah supaya semua menjadi satu.

Jenazah Pdt. Dr. SAE Nababan disemayamkan di Rumah Duka RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Dan akan dimakamkan di kampung halaman Tapanuli Utara, Sumatera Utara.

Menurut Pdt. Nus Reimas yang juga Pembina Majalah NARWASTU, Penasihat Lembaga Alkitab Indonesua (LAI) dan Penasihat Forum Komunikasi Tokoh-tokoh Kristiani Pilihan NARWASTU (FORKOM NARWASTU), Pdt. Nababan di dalam kiprahnya selama ini sebagai pemimpin gereja, tidak hanya diakui di dunia internasional, tapi ia pun peduli dalam membina kerukunan umat beragama di Indonesia serta concern menyiapkan kader-kader muda Kristen. Menurutnya, banyak kesamaan pemikiran dan gagasan Pdt. Nababan dengan tokoh legendaris PGI almarhum Letjen (Purn.) T.B. Simatupang. Keduanya selalu berupaya menempatkan gereja bersikap kreatif dan kritis serta menciptakan kedamaian serta kerukunan di tengah masyarakat dan bangsa. “Pak T.B. Simatupang dan Pak Pdt. SAE Nababan itu tokoh yang cerdas, visioner dan memberikan hatinya untuk kemajuan gereja, masyarakat dan bangsa. Sulit mencari tandingannya,” ujar pria berusia 70 tahun ini.

Pdt. Nus Reimas mengenang Pdt. Nababan seorang figur yang tak lelah berupaya membangun kebersamaan gereja-gereja di Indonesia agar hidup rukun, damai dan peduli pada persoalan bangsa. “Dalam acara-acara Sidang Raya PGI yang kami hadiri, selalu disampaikan gagasannya agar kita jangan lelah membangun kebersamaan itu. Sejak muda di LPMI saya sudah mengenalnya. Bahkan, di sebuah acara Sidang Raya PGI di Kinasih Bogor khotbah yang saya sampaikan di acara penutupan dijadikannya jadi pokok-pokok pemikiran. Saya masih ingat, ketika Pdt. Ruyandi Hutasoit menikah dan saya MC, saat itu ia sampai keluar dari antrian undangan, lalu mendatangi saya dan menyampaikan, mantap acara ini dengan MC-nya,” kenang Pdt. Nus Reimas.

Ia menambahkan, selama ini Pdt. Nababan dikenal sangat anti untuk berziarah ke Israel. “Dan dia tak suka itu. Tapi menjelang tahun 2020 beliau bersedia saat saya ajak agar bisa berkunjung ke Israel dan kita ingin berdoa bersama di sana. Dan Ibu Yudit Suryadjaya siap memfasilitasi, dan acara COU juga Ibu Yudit yang dipakai Tuhan untuk membantu pembiayaannya. Tapi karena muncul wabah Covid-19 rencana kami ke Israel akhirnya tak jadi, hingga ia dipanggil Tuhan ke sisiNya. Dalam beberapa kali acara ulang tahun saya dan acara LPMI beliau selalu hadir. Dan kami amat dekat. Dulu saya selalu dipanggil Pak Nus, tapi belakangan dipanggil Bung Nus,” kenang Pdt. Nus Reimas.

“Kita berdukacita dan kehilangan tokoh besar Pak Pdt. SAE Nababan. Beliau bagi saya, bukan hanya guru bangsa tapi juga ‘Bapak Reformasi dari HKBP’ karena perjuangannya untuk gereja dan masyarakat luar biasa. Kiprahnya di luar negeri pun diakui,” ucap Pdt. Nus Reimas yang sudah bersahabat dengan Pdt. Nababan sejak ia muda di Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI). Kini Pdt. Nus Reimas adalah Ketua Dewan Pembina LPMI. KL

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here