Stevano R. Margianto Termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2019 Pilihan NARWASTU”

35
Stevano Margianto. Suarakan kabar baik.

Narwastu.id – Seperti tahun-tahun yang lalu, pada akhir tahun 2019 ini kembali Majalah NARWASTU menampilkan 21 tokoh Kristiani yang beberapa tahun ini menghiasi pemberitaan di majalah yang kita cintai ini. Ke-21 figur ini ada yang berlatar belakang pimpinan organisasi, pendeta, advokat, politisi, profesional, pengusaha dan aktivis gereja. Mereka kami nilai sosok yang mampu menginspirasi, mampu memotivasi, peduli pada persoalan gereja dan masyarakat serta Pancasilais. Bahkan, tokoh-tokoh yang dipublikasikan ini ada pula yang dikenal punya ide-ide atau pemikiran-pemikiran yang kontroversial, inovatif dan mencerahkan serta tak jarang menjadi pembicaraan publik atau jemaat.

Dengan kata lain, seperti yang sudah digariskan Tim Redaksi NARWASTU sejak dulu, tokoh yang bersangkutan mesti pernah tampil di majalah ini atau dikenal sosok “pembuat berita” atas kiprah atau pelayanannya. Tentunya pembuat berita yang positif. Ke-21 tokoh ini kami seleksi dari sekitar 100 figur yang pernah dipublikasikan majalah ini. Dan tokoh-tokoh tersebut kami bahas atau diskusikan lebih dahulu dengan sebuah tim kecil di NARWASTU, dan sejumlah penasihat majalah ini pun ada yang kami mintai pendapatnya tentang seseorang figur sebelum kami angkat.

Sejak medio 2019 lalu, tokoh-tokoh yang akan diangkat sudah kami seleksi, dan beberapa rekan wartawan Kristiani dan tokoh Kristiani ada pula yang kami mintai pendapatnya tentang tokoh yang akan diangkat. Ke-21 tokoh ini memang bukan sosok yang sempurna alias tetap manusia biasa, namun mereka kami nilai figur yang ikut mencerahkan, berjiwa pelayan, Pancasilais, ikut membangun peradaban di tengah masyarakat. Sehingga mereka layak diapresiasi atau diangkat di media ini. Penghargaan ini pun adalah hadiah Natal terindah dari Majalah NARWASTU buat ke-21 tokoh ini, dan ini pula apresiasi kami sebagai insan media kepada mereka. Dan kiranya penghargaan ini bisa memotivasi publik untuk terus berbuat sesuatu yang bermanfaat dan menginspirasi bagi banyak orang di negeri ini.

Ke-21 figur yang termasuk dalam tokoh pilihan Majalah NARWASTU pada 2019 ini, yakni Herman Yosef Loli Wutun (Mantan Anggota MPR-RI dari NTT dan tokoh koperasi), Grace Natalie Louisa (Ketua Umum PSI), Sugeng Teguh Santoso, S.H. (Advokat senior), Pdt. Dr. Tuhoni Telaumbanua, M.Si (Rohaniwan), Susana Suryani Sarumaha (Aktivis perempuan Katolik), Dr. Ir. Asye Berti Saulina Siregar, M.A. (Produser film), Ida Tobing boru Simbolon, S.Sos (Aktivis gereja), Ani Natalia Pinem (Humas di Dirjen Pajak Kementerian Keuangan RI), dan Pdt. Oniwati Ida Turnip, S.Th (Aktivis gereja).

Lalu, Ronald Simanjuntak, S.H., M.H. (Advokat senior), Fredrik J. Pinakunary, S.H. S.E. (Advokat dan rohaniwan), Mangasi Sihombing (Mantan Duta Besar dan mantan Caleg PSI), David M. Lumban Tobing, S.H., M.Kn (Pengacara), Ir. Lintong Manurung, M.M. (Cendekiawan senior), Kamillus Elu, S.H. (Advokat), August H. Pasaribu, S.H., M.H. (Anggota DPRD DKI Jakarta), Dr. Lasmaida Gultom, S.E., MBA (Profesional), Pdt. Dr. Douglas Manurung, MBA, M.Si (Profesional dan rohaniwan), Eloy Zalukhu (Motivator), Stevano Margianto (Jurnalis Kristiani), dan Yosua Tampubolon, S.H., M.A. (Advokat dan aktivis gereja).

Ketua Umum PERWAMKI yang Aktif Menyuarakan Kabar Baik

Jombang  adalah salah satu kabupaten di Jawa Timur yang dikenal sebagai kota yang cukup toleran dalam membangun kerukunan umat beragama. Terbukti, sampai saat ini belum pernah ada kasus intoleran yang mencoreng keharmonisan umat beragama di situ. Sebab,  alm. Gus Dur yang telah mewariskan nilai-nilai toleransi begitu kuat di kalangan grass root basis NU.  Di Kabupaten Jombang inilah pria yang memiliki nama baptis (Stevano) Redino Margianto dilahirkan dan dibesarkan oleh orangtua yang berbeda agama. Ayahnya Soemadi (Kristen) dan ibunya Sarniti Sukarti (Alm.) menganut non-Kristen.

Tepat di Desa Mojoroto, Mojowarno, Jombang, berjarak sekitar 15 kilometer dari Pondok Pesantren Tebuireng—makam alm. Gus Dur (Presiden RI ke-4), Anto atau Santo, sapaan kecilnya, mengaku tidak pernah dididik kerohaniannya oleh orangtuanya. “Maklum ayah dan ibu saya waktu itu belum mengerti iman Kristen. Walaupun akhirnya ibu saya  menjadi Kristen setelah menikah dengan ayah saya. Sejak kecil justru saya banyak dididik oleh nenek yang paranormal. Dan saya diminta oleh nenek saya agar menjadi pewaris tunggal seluruh ilmu perdukunannya,” tutur pria kelahiran Jombang, 7 Maret 1975 ini pada Majalah NARWASTU.

Para tokoh Kristiani pilihan Majalah NARWASTU yang religius, inspiratif dan Pancasilais.

Sejak umur 6 tahun, Anto pun terjerat dalam perdukunan yang diajarkan oleh neneknya Minarsih. “Jadi waktu kecil, saya sudah diajar untuk puasa 3 hari, 7 hari hingga puasa 21 hari untuk memperoleh ilmu,” tukas Ketua Umum DPP Perhimpunan Wartawan Media Kristiani Indonesia (PERWAMKI) dan suami dari Herdalina Rike Silaban sembari tertawa mengenang masa kelamnya. Singkat cerita, setelah lulus SMA tahun 1992, ia merantau ke Jakarta, dan berkat doa tantenya (sudah menjadi majelis gereja) setiap tengah malam selama 6 bulan, akhirnya Anto bertobat di sebuah Gereja Misi Injili Indonesia.

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos diwawancarai wartawan TV, media cetak dan online di sebuah acara pemberian penghargaan kepada tokoh-tokoh Kristiani pilihan NARWASTU di Jakarta.

Setelah bertobat, Anto mencari pekerjaan untuk menopang hidupnya di Jakarta. Peluang emas diberikan oleh tantenya dan menawarkan pekerjaan sebagai tenaga gudang di perusahaan garmen. “Awalnya saya disponsori agar masuk Sekolah Teologi di Malang. Tetapi karena tante saya tawarkan kerja, iya, saya pilih kerja cari uang sembari kuliah,” papar pria yang hobi tenis meja ini.

Alumni Sastra Inggris di Akademi Bahasa Asing tahun 2000 ini beruntung. Sebab, awalnya ia bekerja di perusahaan garmen dan ditempatkan sebagai kuli panggul (tenaga gudang). Berkat ketekunannya  3 bulan kemudian kariernya naik jadi tenaga pengecekan barang hingga tenaga administrasi gudang. “Mungkin saya dulu rajin dan cepat mengerti tugas yang diberikan pimpinan, karier saya cepat naik. Atasan menilai cara saya bekerja dan cocok menjadi pemimpin. Singkat cerita saya dipercayakan sebagai kepala gudang  cabang di Denpasar, Bali, selama hampir 4 tahun,” ungkap Anto yang termasuk pendiri PERWAMKI pada Oktober 2093 lalu.

Pada tahun 1999, setelah sukses menjadi pimpinan cabang garmen di Denpasar,  Anto kembali ke Jakarta. “Nah, tahun 1999 itulah ada lowongan di Tabloid Kristen ‘Victorious’ yang didirikan oleh Pdt. Abraham Conrad Supit. Saya berdoa dan memutuskan untuk alih profesi. Akhirnya saya mencoba melamar dan diterima sebagai wartawan. Mulai saat itulah saya banyak belajar menulis, meliput dan dikejar deadline tabloid mingguan cetak. Kiprah saya sebagai wartawan makin terasah, mengikuti pelatihan jurnalistik di berbagai tempat. Saya juga banyak belajar kepada mentor Pak Suratinoyo saat itu. Iya, puji Tuhan, banyak suka maupun duka selama menjadi wartawan, apalagi awal berdirinya ‘Victorious’ menjadi media yang lebih banyak menyoroti sosial kebangsaan dibandingkan sisi rohani Kristen,” ujar ayah dari Mario (11 tahun) ini.

Anto adalah tipe orang yang setia. Dalam perjalanan kariernya ia telah berhasil mengawal “Victorious” hingga edisi 947 terhitung sejak tahun 2000 hingga sekarang. Buah kesetiaannya membuahkan hasil, ia dipercayakan menduduki jabatan redaktur pelaksana hingga pemimpin redaksi.  Walaupun pada akhirnya, Tabloid “Victorious” berubah menjadi media online victoriousnews.com. “Iya, banyak sekali tantangan di media Kristen. Apalagi di era digital saat ini, jika kita tidak mengikuti perkembangan zaman, maka akan ketinggalan,” papar Anto yang sampai saat ini juga setia melayani di GBI REM (Kini: GBI Victorious Family) mulai dari penerima tamu, pembaca warta gereja, hingga pengkhotbah di ibadah malam maupun ibadah puasa yang digelar setiap bulan.

Di tengah kehidupan bermasyarakat, Anto adalah sosok yang supel dan pandai bergaul. Ia juga tidak pernah membeda-bedakan suku, ras dan agama seseorang yang dikenalnya. “Saya juga pernah menjadi pengurus RT periode 2008-2011. Kemudian selang beberapa tahun, saya jadi pengurus RW, dipercayakan sebagai Sekretaris RW periode 2013-2016 di Komplek Griya Tipar Cakung yang memimpin 1.000 KK atau 100 KK per RT. Di situlah leadership saya teruji sebagai pemimpin masyarakat yang paling bawah, tapi kerjanya cukup berat. Karena seringkali diuji untuk menyelesaikan persoalan warga. Misalnya, KDRT, miras, perkelahian warga, dan lain sebagainya. Ini risiko sebagai pemimpin. Tapi puji Tuhan, berkat doa, semuanya tuntas baik,” ungkapnya.

Bicara kiprahnya di dunia jurnalistik, Anto pun turut membidani berdirinya organisasi wartawan Kristiani, PERWAMKI tahun 2003 lalu di kantor “Victorious”, lalu pengurusnya dipilih di kantor Majalah NARWASTU. “Jika mereview kembali, kenapa PERWAMKI didirikan,  agar sesama jurnalis Kristen saling peduli, guyup dan punya komunitas untuk bertukar pikiran, baik di lingkup kerohanian maupun kebangsaan. Kita saling peduli jika ada yang sakit, meninggal dan sebagainya. Dan kita menyuarakan kabar baik pada umat,” kata Sekretaris Umum PERWAMKI periode 2005-2008 mendampingi ketua umum Eman Dapaloka.

Dalam perjalanannya, Anto pernah pula diakomodir sebagai salah satu ketua DPP di sebuah organisasi wartawan sejenis. Namun, ia kembali “pulang kampung” ke PERWAMKI, dan dipilih sebagai Ketua Panitia Musyawarah Nasional VI PERWAMKI pada Maret 2019 lalu. Hal ini patut diapresiasi karena di pembukaan munas di Hall Rehobot Mall Artha Gading, Jakarta Utara, itu dihadiri oleh tokoh-tokoh Kristiani dan Menkoinfo RI yang diwakili oleh Sekjen Kominfo.

Kemudian di persidangan Munas VI PERWAMKI di Villa Pondok REM milik Pdt. Abraham Conrad Supit, di kawasan Gunung Salak, Bogor, Anto terpilih menjadi ketua umum menggantikan Yusak Tanasyah yang telah memimpin PERWAMKI selama dua periode. “Jujur saja, sebenarnya saya tidak ingin jadi ketua umum. Karena, bagi saya, bukan soal jabatan, tapi bagaimana PERWAMKI bisa eksis dan jadi organisasi berwibawa. Sebelum munas, saya beberapa kali dilobi dan diminta untuk memimpin PERWAMKI. Awalnya saya menolak dan saya usulkan agar senior, seperti Pak Celestino, Pak Suratinoyo atau Pak Jonro Munthe saja memimpin PERWAMKI. Uniknya, Pak Jonro dan beberapa teman justru melobi teman-teman agar mendukung saya. Ternyata dukungan teman-teman semakin deras. Kemudian saya katakan, beri waktu saya akan berdoa. Singkat cerita, dalam pemilihan paket ketum dan sekum, saya dan Agus Panjaitan terpilih. Semua adalah kehendak Tuhan,” urai Ketua Umum PERWAMKI periode 2019-2023 ini.

“Saat ini saya rindu agar PERWAMKI menjadi pusat berita kekristenan di Indonesia. Bagaimana mewujudkannya? Iya, tentu dibutuhkan kekompakan kita. Banyak orang yang tanya saya, berapa jumlah umat Kristiani Indonesia. Apakah data dari gereja aras nasional valid. Berapa jumlah pendeta, pengacara Kristen, artis kristen, dan sebagainya. Ini penting. Jika PERWAMKI bisa wujudkan hal ini, saya yakin ke depan akan menjadi organisasi  berwibawa. Banyak program kerja yang telah diputuskan di Raker PERWAMKI pada Juli 2019 lalu di Bandung. Di antaranya pelatihan jurnalistik, penulisan buku, pendataan dan penerbitan kartu anggota, pembentukan DPD, dan penerbitan AD/ART. Doakan agar PERWAMKI dapat menjadi garam dan terang di tengah masyarakat, bangsa dan negara,” pungkasnya. FD

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here