Emanuel Dapa Loka Termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2013 Pilihan NARWASTU”

19
Emanuel Dapa Loka. Jurnalis berprestasi.

Narwastu.id – Syalom, pembaca NARWASTU yang terkasih. Sepanjang tahun 2013 ini, ada banyak peristiwa mengejutkan plus menarik kita saksikan dalam perjalanan bangsa ini. Baik itu di bidang sosial, politik, hukum, HAM, kemasyarakatan, ekonomi, budaya dan pendidikan yang patut dicermati dan direkam. Berbarengan dengan itulah muncul sejumlah figur pejuang (Baca: tokoh) yang bersentuhan dengan peristiwa itu, termasuk figur-figur dari kalangan Kristen atau Katolik. Atas dasar itulah, seperti tahun-tahun lalu, pada akhir 2013 ini, Majalah NARWASTU yang kita cintai ini kembali menampilkan tokoh-tokoh Kristiani “pembuat berita” (news maker).

Seperti tahun-tahun lalu, ada tiga kriteria yang dibuat tim redaksi NARWASTU untuk memilih seseorang yang disebut tokoh pembuat berita. Pertama, si tokoh mesti populer dalam arti yang positif di bidangnya. Kedua, si tokoh mesti peduli pada persoalan gereja, masyarakat dan nasionalis (Pancasilais). Ketiga, si tokoh kerap jadi perbincangan dan muncul di media massa (terutama di NARWASTU), baik karena pemikiran-pemikirannya yang inovatif, aktivitasnya atau ide-idenya kontroversial. Alhasil, si tokoh adalah figur inspirator dan motivator di tengah jemaat atau masyarakat.

Tentu, bagi tim NARWASTU, tak mudah untuk memilih seseorang agar menjadi “tokoh Kristiani”. Soalnya, kiprahnya harus kami ikuti pula lewat media massa, khususnya media Kristen, termasuk mencermati aktivitas dan track record-nya. Pada akhir 2013 ini, kami pilih lagi “21 Tokoh Kristiani Pembuat Berita Sepanjang 2013.” Figur yang dipilih ini, seperti tahun lalu, ada berlatarbelakang advokat, politisi, jenderal, tokoh lintas agama, pengusaha, aktivis HAM, pemimpin gereja, aktivis gereja, pimpinan ormas, dan aktivis LSM.

Setelah diseleksi tim NARWASTU secara ketat dari 115 nama yang terkumpul, berikut kami tampilkan 21 tokoh, yakni Laksda TNI (Purn.) Christina M. Rantetana, MPH (mantan Staf Ahli Menkopolhukam), Mayjen TNI (Purn.) Darpito Pudyastungkoro, S.IP (mantan Pangdam Jaya), Marsma TNI (Purn.) Ibnu Kadarmanto, M.Si (mantan Direktur Bidang Kerjasama Luar Negeri BAKIN), Pdt. Dr. Dewi Sri Sinaga (HKBP), Pdt. Palti Panjaitan, S.Th (HKBP Filadelfia), Yohanes Handoyo Budhisejati (FMKI dan Perduki), Dr. Yusmic Daniel, S.H. (Akademisi), Ir. Barnabas Yusuf Hura, M.M. (Profesional dan aktivis Forkoma PMKRI), Hermawi F. Taslim, S.H. (Ketua Umum BPN Forkoma PMKRI).

Juga Said Damanik, S.H., M.H. (Advokat dan aktivis GPIB), Drs. Sonny Wuisan, S.H. (Wartawan Senior), Emanuel Dapa Loka (Jurnalis berprestasi), Aldentua Siringoringo, S.H. (Advokat), St. Drs. Hardy M.L. Tobing (Auditor dan aktivis gereja), Pdt. Dr. Jaharianson Saragih (Ephorus GKPS), Pdt. DR. Theresia Pohe (Dokter), Y. Deddy A. Madong, S.H. (Advokat), Ronny B. Tambayong, S.E., MACM (Pengusaha dan aktivis gereja), dan Pdt. Marudut Manalu, M.Th (HKBP).

Sejumlah figur yang layak diposisikan sebagai “Tokoh Kristiani 2013” sebenarnya ada puluhan lagi, namun karena keterbatasan halaman dan kesepakatan tim, maka dibatasi hanya menampilkan 21 tokoh. Kami menampilkan profil singkat ke-21 tokoh di NARWASTU Edisi Khusus Desember 2013-Januari 2014 ini sebagai wujud apresiasi (penghargaan) kami atas perjuangan mereka selama ini di tengah gereja, masyarakat dan bangsa. Harapan dan doa kami, kiranya kiprah mereka selama ini bisa memberikan inspirasi, motivasi, pencerahan dan pencerdasan untuk kebaikan gereja, masyarakat dan bangsa ini.

Bapak/Ibu/Saudara yang terkasih, boleh-boleh saja pembaca menganggap pemilihan para tokoh ini subjektif, tapi percayalah, kami sudah berupaya objektif untuk memilihnya. Memang kami tak bisa memuaskan harapan semua pihak, dan amat manusiawi kalau tokoh-tokoh yang tampil ini punya kekurangan, karena mereka bukan orang suci atau malaikat. Sekadar tahu, di tengah tim majalah ini tak jarang ada perdebatan mengenai figur seseorang saat namanya dimunculkan. Dalam pemilihan ini, perlu dicatat kami menghindari agar dalam 21 tokoh ini tak ada “orang dalam” dari NARWASTU, seperti Pembina/Penasihat, meskipun kami akui ada di antaranya yang layak masuk.

Bapak/Ibu/Saudara yang terkasih, lewat tulisan ini, kiranya kita bisa melihat sisi positif atau nilai-nilai juang dari ke-21 tokoh ini. Kepada mereka yang termasuk dalam 21 tokoh ini, kami sampaikan pula bahwa inilah hadiah Natal terindah dari NARWASTU sebagai insan media Kristiani kepada Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang telah berupaya ikut membentuk karakter bangsa ini. Akhirnya, kami sampaikan, selamat Hari Natal 2013 dan Tahun Baru 2014. Kiranya, Tuhan selalu memberkati kita semua, syalom.

Bukan Wartawan Kristiani Biasa

Tokoh-tokoh Kristiani pilihan Majalah NARWASTU hadir saat acara pemberian penghargaan di Jakarta.

Harian Kompas pada akhir 2012 lalu telah mengadakan lomba menulis dengan tema Bahasa dan Kita. Acara ini diadakan dalam rangka Bulan Bahasa 2012. Dalam lomba itu, wartawan Kristiani yang juga mantan Ketua PERWAMKI (Persekutuan Wartawan Media Kristiani Indonesia), Emanuel Dapa Loka, dan kini Ketua Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) meraih juara 3 dari 1.200 tulisan yang diterima panitia. “Tanpa banyak berharap, saya ikutkan tulisan saya berjudul Berbahasa, Jangan Hanya Berprinsip ‘Asal Bisa Dimengerti’. Di luar dugaan, saya ‘ditaruh’ di posisi juara 3. Saya senang bahwa yang saya pikirkan diapresiasi,” ujar mantan jurnalis Majalah Inspirasi, yang baru-baru ini sudah meluncurkan bukunya Orang-orang Hebat Dari Mata Kaki ke Mata Hati ini.

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos saat diwawancarai wartawan seusai memberi penghargaan kepada para tokoh Kristiani pilihan Majalah NARWASTU.

Eman, begitu ia akrab disapa, adalah salah satu pendiri PERWAMKI. Ia tamat dari SMA Katolik Anda Luri, Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 1990. Setelah itu, ia masuk ke Seminari Menengah Petrus Kanisius, Mertoyudan, Magelang. Kelas di seminari ini disebut Kelas Persiapan Atas (KPA). Biasanya, yang tak mengikuti pendidikan seminari menengah, tapi mau jadi imam Katolik, mereka diwajibkan untuk masuk KPA. “Saya dari SMA non-seminari sehingga harus ikut KPA,” cetusnya.

Setelah KPA, imbuhnya, ia dan teman-temannya memasuki masa novisiat selama setahun (masa pendidikan khusus untuk menjadi calon imam, setelah itu baru terima jubah). “Setahun kemudian kami masuk dalam rumah pendidikan kongregasi di Yogyakarta, namanya Wisma Sang Penebus. Rumah ini adalah biara, para penghuninya kuliah filsafat dan teologi di Universitas Sanata Dharma. Pada tiga tahun pertama, para mahasiswa lebih banyak belajar filsafat daripada teologi. Namun, saya hanya kuliah 4 semester. Saya mengundurkan diri dari biara sekaligus dari Sanata Dharma. Mengetahui saya gagal jadi imam, mama saya ngambek, sempat tak mau makan selama tiga hari,” kenangnya.

Selepas dari biara, ia memeriksa dasar bakat dan kemampuannya. “Saya putuskan kuliah di bidang jurnalistik. Karena sebelumnya saya sudah beberapa kali menulis berita atau opini kecil-kecilan di beberapa media. Saya mengira, inilah bakat saya. Saya ambil jurusan jurnalistik di Akademi Komunikasi Yogyakarta (AKY). Jadi, saya hanya lulusan D3, meski ada yang mengira saya S1 sehingga ada pihak tertentu yang mau membiayai untuk ambil S2 ha…ha,” ujar Eman.

Saat kuliah dulu, Eman terbiasa menulis di koran atau majalah. Motivasi utamanya untuk mendapatkan uang dan agar diperhitungkan oleh teman-temannya. “Dan keduanya saya dapatkan. Bahkan, dari uang honor yang tidak seberapa, saya bisa berbagi dengan beberapa adik yang juga kuliah,” papar Eman yang punya ayah guru SD yang punya 10 anak. “Saat kuliah, saya rajin ikut seminar untuk bisa menulis berita seminar itu ke majalah yang biasa memuat tulisan saya. Ketika itu saya tak punya kartu pers, hanya modal nekad. Kalau panitia membolehkan saya ikut, saya senang. Tapi kebanyakan membolehkan,” kisah pria kelahiran Sumba, NTT, 18 Desember 1969 ini. Eman menikah dengan Ambrosia Suryani Gultom, dan punya satu anak Theresia Loise Angelica Dapa Loka.

Kemudian setamat kuliah, karena sudah sering menulis di Majalah Bahana, Eman dipanggil untuk bergabung di media Kristiani terbitan Yogyakarta itu pada akhir 1999 lalu. Lima tahun kemudian ia mundur dan bergabung di tabloid Mitra Indonesia. Ia lalu mendirikan media pendidikan Inside. Karya Eman lainnya di bidang tulis menulis, yaitu buku Artis juga Umat Tuhan (Penerbit Andi, Yogyakarta), dan In Providentia Dei: Narasi Kehadiran Rahmat Allah (Pustaka Nusatama, Yogyakarta).

Tak hanya itu, ia pun editor novel Perempuan itu Bermata Saga (Elex Media Komputindo-Gramedia Group) karya abang Eman sendiri, Agust Dapa Loka. Novel ini memenangkan NTT Academia Award 2011 bidang humaniora. Juga editor novel remaja ilmiah populer Nanosamo karya Dr. Kebamoto dan editor beberapa buah buku. Saat ini, ia pun mengelola majalah Paroki Santa Clara Bekasi, Suara Clara.

Tentang aktivitasnya di bidang tulis menulis, Eman menuturkan, dengan tulisan ia hendak mengajak orang untuk berbahasa dengan baik. “Kalau berbahasa dengan baik, apa yang hendak disampaikan akan diterima dengan baik pula. Sayangnya banyak kaum terpelajar tak bisa membedakan hal-hal dasariah, seperti kata depan dan imbuhan. Atau menggunakan ungkapan secara sembrono. Salah satu yang saya kritik adalah penggunaan bentuk pasif dan ungkapan bus way. Bus way dan transjakarta disamakan begitu saja. Transjakarta adalah salah satu moda transportasi di Jakarta, sedangkan bus way adalah jalan khusus untuk transjakarta,” paparnya.

Eman adalah salah satu wartawan kebanggaan umat Kristiani. Selain menulis buku, memimpin organisasi pers, ia pun menulis di sejumlah media nasional, seperti Kompas, Suara Pembaruan, Sinar Harapan, Jakarta Post dan Gatra. Tak hanya itu, ia piawai sebagai moderator. Baru-baru ini, di Gedung LPMI, Jakarta Pusat, saat diadakan diskusi soal media religi dan peranannya dalam membangun persatuan bangsa oleh Kementerian Polhukam RI, PERWAMKI dan PWKI, Eman kembali menunjukkan kemahirannya sebagai moderator.

Mantan Ketua PERWAMKI yang juga Redaktur Pelaksana Majalah Berita Oikoumene, Markus P. Saragih, S.Sos berkomentar, penghargaan yang diterima Eman ini sangat patut diapresiasi. “Ini tentu kebanggaan buat PERWAMKI. Eman dapat penghargaan dari Kompas, itu luar biasa. Sebelumnya Jonro I. Munthe (Pemimpin Redaksi NARWASTU) dapat award sebagai Jurnalis Muda Motivator dari Majelis Pers Indonesia (MPI) pada 2009 lalu, itu berarti ada pengakuan institusi luar terhadap kader-kader PERWAMKI. Semoga penghargaan seperti ini bisa memacu teman-teman wartawan Kristen agar terus mengembangkan diri,” ujar Markus yang sukses mengadakan Mubes IV 2013 PERWAMKI di Bali.  HG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here