Salam Sehat dan Natal di Masa Pandemi Covid-19

* Oleh : Senada Siallagan, S.Th

523

Narwastu.id – Natal di masa pandemi Covid-19 agaknya memiliki nuansa yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Ketika Natal di masa pandemi tidak bisa dirayakan sepenuhnya di gereja, berkumpul bersama dengan keluarga pun tidak bisa dilaksanakan seperti biasa. Semuanya sedang dibatasi, setiap pertemuan dan interaksi tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Perubahan ini sesungguhnya membawa penderitaan dan kesulitan bagi semua lapisan sosial masyarakat. Update data sebaran corona di Indonesia pada 19 November 2020, konfirmasi positif mencapai angka 483.518 kasus, sedangkan yang sembuh mencapai total 406.612 orang (Indra Kurniawan, peny., https://prfmnews.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-13984076/update-data-terkini-sebaran-corona-di-indonesia-19-november-konfirmasi-positif-tambah-4798-kasus, (dikunjungi 20 November 2020).

Adapun yang meninggal karena kasus ini sebanyak 76.906 orang. Belum lagi masalah kesulitan ekonomi yang membuat sedikit banyak orang mengalami kendala dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya termasuk dalam merayakan Natal. Tulisan ini hendak mencoba menggumuli sebaiknya merayakan Natal di masa pandemi tanpa kehilangan makna Natal yang sesungguhnya serta membandingkannya ke dalam sejarah Kristen menghadapi wabah di masa-masa yang lampau.

Sebagai peristiwa yang sakral dan penting, setidaknya ada 8 makna Natal yang sering dijumpai dalam tradisi kekristenan. Pertama, Natal yang dirayakan sejak abad 4 adalah peragaan yang paling gamblang tentang keprihatinan dan perhatian tulus Allah terhadap penderitaan manusia. Ia menunjukkan betapa kasih Allah dalam diri anakNya Yesus, lahir sebagai bayi yang tak berdaya, di kandang hewan. “Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan” (Lukas 2:12). Kedua, dalam Filipi 2:6-8, “Yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”

Natal berarti kesahajaan dan kerendahan hati tentang kesetiakawanan Allah dan manusia. Ketiga, Natal berarti pemulihan manusia agar menjadi utuh dan memperoleh kembali harkat dan martabatnya sebagai insan yang diciptakan menurut citra Allah. Keempat, Natal justru mengubah semangat pengabdian dan kerelaan berkurban, serta menyalakan kembali api nurani kita untuk meningkatkan pelayanan kita kepada sesama manusia. Karena Anak manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang (Markus 10:43-45). Kelima, kekuatan untuk menjalani gaya hidup sedemikian rupa ialah kasih, yang kemudian Yesus mengajarkannya kepada muridNya dan ditinggalkan juga kepada kita semua. Keenam, Natal menuntut perubahan sikap mental secara drastis agar tidak ada jurang pemisah antara si kaya dan si miskin.

Ketujuh, Natal kiranya dapat menjiwai kita sekalian untuk diterjemahkan ke dalam tingkah laku dan tindak perbuatan nyata di tengah-tengah berbagai kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan demikian, makna Natal tidak hanya sebagai formalitas perayaan semata. Kedelapan, dalam Natal tidak sekadar mengingatkan kita pada peristiwa sekitar 2.000 tahun yang lalu. Tetapi juga sekaligus menunjuk pada suatu masa depan, ke detik pulihnya segala ciptaan secara utuh dan menyeluruh, Kristus telah datang untuk menyempurnakan segala sesuatu. Pada hari terakhir itu kelak, Dialah yang berkata: “Lihatlah, Aku telah menjadikan segala sesuatu baru!” (Wahyu 21:5) (Ukur, 2009: 15-19). Kedelapan, makna Natal ini memberikan sebuah pemahaman yang penting agar Natal bukan sesuatu yang rutinitas saja.

Natal di Masa Pandemi: Cara Alternatif Merayakan Natal

Cara orang Kristen dalam sejarah menghadapi pandemi selama periode wabah di era kekaisaran Romawi, orang-orang Kristen terkenal dengan tradisi kasih. Para sejarawan mencatat, wabah Antonie mengerikan dari abad 2 yang mungkin telah membunuh seperempat kekaisaran Romawi pada akhirnya menyebabkan penyebaran agama Kristen. Umat Kristiani saat itu konon merawat orang sakit dan menerapkan model spiritual ketika wabah bukanlah pekerjaan dewa-dewa yang marah dan berubah-ubah, tetapi dari hasil penciptaan yang rusak dalam pemberontakan melawan Kasih Allah. Epidemi yang paling terkenal adalah wabah Siprianus. Namanya berasal dari seorang Uskup yang menyampaikan kisah penuh warna tentang penyakit tersebut dalam berbagai khotbahnya. Diduga sebagai penyakit yang berhubungan dengan Ebola, wabah Siprianus membantu memicu krisis abad ketiga di peradaban Romawi. Namun, wabah itu sebagai pemicu meledaknya kekristenan (Purnama Ayu Rizky, (peny.), https://www.matamatapolitik.com/gereja-dan-corona-tradisi-kristen-tangani-wabah-selama-ribuan-tahun-historical/, (dikunjungi 20 November 2020).

Khotbah Siprianus memberi tahu orang-orang Kristen untuk tidak berduka bagi para korban wabah, tetapi sebaiknya untuk melipatgandakan upaya dalam merawat yang masih hidup. Rekan uskupnya Dionysius menggambarkan bagaimana orang-orang Kristen, “Tidak peduli mengambil bahaya biaya perawatan orang sakit dan memenuhi setiap kebutuhan mereka.” Bukan hanya orang-orang Kristen yang mencatat reaksi umat Kristiani terhadap wabah. Satu abad kemudian, Kaisar Julianus yang secara aktif menganut paham mengeluh dengan sengit tentang bagaimana “orang-orang Galilea” merawat bahkan orang-orang sakit yang bukan Kristen. Sementara itu, sejarawan gereja Pontianus menceritakan bagaimana orang-orang Kristen memastikan, “Kebaikan telah dilakukan untuk semua orang, tidak hanya dikeluarga umat beriman.” Sosiolog dan ahli demografi agama dari Amerika Serikat Rodney Stark mengklaim, tingkat kematian di kota-kota dengan komunitas Kristen mungkin hanya setengah dari kota-kota lain.

Kebiasaan perawatan yang penuh dengan pengorbanan ini telah muncul sepanjang sejarah. Pada 1527, ketika wabah pas melanda Wittenberg, Jerman, profesor teologi dan pendiri gerakan Protestan Martin Luther menolak panggilan untuk melarikan diri dari kota dan melindungi dirinya sendiri. Sebaliknya, ia tetap tinggal dan dan melayani orang sakit. Penolakan untuk melarikan diri tersebut telah mengorbankan puterinya Elizabeth. Namun, pengorbanan itu juga menghasilkan risalah, “Whether Christians Should Flee the Plague”, ketika ia menuturkan dengan jelas tentang respons epidemi oleh umat Kristen: Kita mati di pos-pos kita. Para dokter Kristen tidak dapat meninggalkan jemaat mereka. Wabah tidak dapat membatalkan tugas kita, menurut Martin Luther, melainkan mengubah tugas kita menjadi jalan salib, yang dengannya kita harus siap untuk mati. Bagi orang Kristen, lebih baik mati melayani tetangga daripada dikelilingi oleh tumpukan masker yang tidak pernah digunakan. Jika peduli satu sama lain, jika kita berbagi masker dan sabun serta makanan kaleng, jika kita  menjadi “penjaga saudara kita”, kita sebenarnya dapat mengurangi jumlah kematian juga.

Senada Siallagan, S.Th

Esai Luther mendorong orang percaya untuk mematuhi perintah karantina dan mengambil tindakan pencegahan untuk menghindari penyebaran penyakit.

Motif Kristen untuk kebersihan dan sanitasi tidak muncul dalam pemeliharaan diri tetapi dalam etika pelayanan kepada tetangga. Kita ingin merawat orang yang menderita, yang pertama dan yang terpenting berarti dengan tidak menginfeksi yang sehat. Orang-orang Kristen menciptakan berbagai rumah sakit pertama di Eropa sebagai tempat yang higienis untuk menyediakan perawatan selama masa wabah, dengan memahami kelalaian dapat menyebarkan penyakit lebih lanjut. Perintah-perintah tersebut patut diingat ketika badan-badan keagamaan di Amerika Serikat, Korea Selatan, Singapura, Iran, Hongkong, Malaysia dan bahkan Indonesia telah berada di garis depan dalam penularan penyakit Covid-19 secara pesat (Purnama Ayu Rizky, (peny.), https://www.matamatapolitik.com/gereja-dan-corona-tradisi-kristen-tangani-wabah-selama-ribuan-tahun-historical/, (dikunjungi 20 November 2020). Wabah pada masa ini merupakan pemicu meledaknya kekristenan. Adapun cara orang Kristen menghadapi wabah dengan menjadi penjaga bagi saudaranya, mematuhi perintah karantina dan mengambil tindakan pencegahan untuk menghindari penyebaran penyakit.

Kata “merayakan” berarti memuliakan, memperingati, memestakan. Ini berarti kita harus mempermuliakan, memperingati Natal. Dengan demikian setiap perayaan Natal kita haruslah mempermuliakan Allah (Basuki, 2013: 7). Virus corona sesungguhnya membuat lebih dari 95% korban masih dapat bernafas. Meski demikian, hampir setiap anggota masyarakat merasa takut, cemas, terasing, sendirian, dan tetap bertanya-tanya apakah akan ada yang merasa kehilangan jika mereka kelak telah tiada. Merayakan Natal di tengah masa pandemi virus corona ini, hendaknya setiap umat semakin mengenal dan menyembah Dia semakin dalam dan dalam lagi. Menyembah Dia dengan turut serta memperhatikan kesehatan mental masing-masing. Merayakan Natal di masa pandemi Covid-19 dapat dilakukan dengan beberapa model.

Model pertama, cara merayakannya secara online dengan memanfaatkan teknologi video conference. Seperti dilansir The Guardian, platform Zoom atau media sosial lainnya menjadi cara termudah untuk bertatap muka dengan sanak saudara, di saat perayaan Natal (Voice of Indonesia, https://voi.id/bernas/19456/persiapan-natal-dan-oportunis-sinterklas-di-tengah-pandemi, (dikunjungi pada 23 November 2020).

Model kedua, dengan cara menjaga kesehatan mental. Penting sekali juga memahami cara menjaga kesehatan mental dalam menghadapi pandemi ini, yakni mampu memahami diri sendiri, mempunyai kemampuan adaptif dan mampu mengenali berbagai emosi yang dirasakan.

Pendapat ini penting sekali dan inilah yang kerap disebut dengan gerakan “lebih baik mencegah dari pada mengobati” dengan cara melakukan kebersihan tangan menggunakan hand sanitizer jika tangan tidak terlihat kotor atau cuci tangan jika tangan terlihat kotor, menghindari menyentuh mata, hidung dan mulut, terapkan etika batuk atau bersin dengan menutup hidung dan mulut dengan lengan atas bagian dalam atau tisu ke tempat sampah, pakailah masker medis jika memiliki gejala pernapasan dan melakukan kebersihan tangan setelah membuang masker, menjaga jarak (minimal 1 meter) dari orang yang mengalami gejala pernapasan (Fatmawati, 2020: 39). Adapun tips untuk menjaga kesehatan mental selama pandemi virus corona, yakni melakukan aktivitas fisik, mengkonsumsi makanan bergizi, menghentikan kebiasaan buruk seperti merokok, membuat rutinitas sendiri seperti mengembangkan keterampilan, lebih bijak memilah informasi, menjaga komunikasi dengan keluarga dan sahabat, jangan lupakan jadwal rutinitas “normal”, tetap mencari informasi terbaru, jangan malas-malasan, tetap bersosialisasi dan mencari sumber kenyamanan. Ubah sudut pandang, ketika mengalami suatu kecemasan sebagai upaya kita untuk lebih sadar dan waspada dalam menghadapi wabah pandemi covid 19 ini (Fatmawati, 2020: 52-53).

Model ketiga, dengan bersikap rendah hati, mengabdi dan kesediaan berkorban. Dalam memahami makna Natal yang sesungguhnya ini sebagai alternatif di tengah pandemi, dapat dipahami dengan turut ambil bagian dalam setiap proses yang dikerjakan oleh Yesus demi kesejahteraan seluruh umat manusia. Kerendahan hati Yesus terlihat dari kata-kata yang begitu sederhana dan arif, bahkan seluruh kehidupanNya, segala pekerjaan-Nya dan pengaruh-Nya untuk seluruh kehidupan manusia (Ukur, 2003: 19).

Kerendahan hati, pengabdian dan kesediaan berkurban yang diwujudnyatakan Yesus dalam peristiwa Natal kiranya dapat diteladani oleh para pengikutNya dalam setiap tindakan dan keseharian sebagai gaya hidup dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan juga bernegara. Inti Natal adalah kesahajaan dan kerendahan hati, dan inti kesahajaan dan kerendahan hati itu adalah kesetiakawanan sosial. Dengan kata lain, Natal serentak bertutur tentang kesetiakawanan Allah terhadap manusia. Natal juga menantang umat Kristen untuk tidak selesai hanya dengan perayaan-perayaan dan kesemarakannya, tetapi Natal justru menggugah semangat pengabdian dan kerelaan berkurban, serta menyalakan kembali semangat dari hati nurani kita demi meningkatkan pelayanan kita kepada sesama manusia.

Kalau diumpakan pesona Yesus sebagai permata, maka permata itu memang masih terbungkus oleh tanah yang kotor, yang hina, yang kecil, yang tidak menarik dan juga yang lemah. Natal juga begitu. Yang kelihatan adalah sosok bayi yang lemah. Natal juga begitu. Yang kelihatan adalah bayi yang lemah, Yusuf dan Maria yang amat sederhana, palungan yang hina, kandang yang kotor, kain lampin sepotong. Tetapi, mengapa para gembala dan orang-orang majus dari jauh mau datang untuk menyembah Dia?

Karena mereka berhasil melihat “permata” di balik “tanah” yang kotor itu. Mereka melihat tangan Allah yang terulur menawarkan alternatif bagi kehidupan mereka: hidup yang  tidak lagi cuma bergantung kepada potensi dan prestasi diri sendiri yang sering membuat orang cenderung berhenti pada kesombongan pribadi yang kosong atau rasa frustrasi yang sangat melainkan hidup yang lebih mampu terarah kepada Allah dan kepada sesama manusia, yang  membuat hidup menjadi lebih sarat makna (Dharmaputera, 2008: 34-35).

Model keempat, dengan hidup di dalam kasih, keadilan, kerelaan berkorban yang sesungguhnya. Di balik kesederhanaan Natal itu, setidaknya ada pilihan: hidup di dalam kasih, keadilan, kebenaran, kerelaan berkorban yang sesungguhnya tidak mudah atau sebaliknya hidup dalam keserakahan, kepalsuan, kesewenang-wenangan, yang pastinya mencelakakan. Pilihan hidup di dalam kasih, keadilan, kebenaran dan kerelaan untuk mau berkorban mengharuskan setiap umat senantiasa bersyukur dan taat kepada kehendak Allah.             Lalu, dalam memahami makna Natal, sudah mampukah menemukan permata kehidupan itu? Permata kehidupan yang mengajarkan, bahwa kebahagiaan manusia itu tidak terletak ketika mempunyai lebih banyak, melainkan ketika bisa menjadi manusia yang lebih baik, lebih bermanfaat bagi Tuhan dan bagi sesama. Agaknya, berkesinambungan dengan cara orang Kristen menghadapi wabah yang pernah terjadi sebagai salah satu alternatif untuk merayakan Natal, yakni dengan menjadi penjaga bagi sesama. Turut serta dalam pencegahan dan penyebaran penyakit virus corona seperti berbagi masker, menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

Natal di masa pandemi Covid-19 ini merupakan momentum penting bagi seluruh umat Kristen untuk dapat mengimplementasikan makna Natal yang sesungguhnya. Sebagai rincian ringkas dari hasil temuan yang sudah dipaparkan sebelumnya. Model pertama, sebagai alternatif cara merayakannya secara online dengan memanfaatkan teknologi video conference. Kemudian, selayaknya Natal di masa pandemi ini sebagai sebuah alternatif dapat diupayakan dengan menjaga kesehatan mental sebagai model kedua. Penting sekali juga memahami cara menjaga kesehatan mental dalam menghadapi pandemi ini, yakni mampu memahami diri sendiri, mempunyai kemampuan adaptif dan mampu mengenali berbagai emosi yang dirasakan. Model ketiga, dengan bersikap rendah hati, mengabdi dan kesediaan berkorban. Dalam memahami makna Natal yang sesungguhnya ini sebagai alternatif di tengah pandemi, dapat dipahami dengan turut ambil bagian dalam setiap proses yang dikerjakan oleh Yesus demi kesejahteraan seluruh umat manusia. Kerendahan hati Yesus terlihat dari kata-kata yang begitu sederhana dan arif, bahkan seluruh kehidupanNya, segala pekerjaanNya dan pengaruhNya untuk seluruh kehidupan manusia.

Kerendahan hati, pengabdian dan kesediaan berkurban yang diwujudnyatakan Yesus dalam peristiwa Natal kiranya dapat diteladani oleh para pengikutNya dalam setiap tindakan dan keseharian sebagai gaya hidup dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan juga bernegara. Model keempat, dengan hidup di dalam kasih, keadilan, kerelaan berkorban yang sesungguhnya. Di balik kesederhanaan Natal itu, setidaknya ada pilihan: hidup di dalam kasih, keadilan, kebenaran, kerelaan berkorban yang sesungguhnya tidak mudah atau sebaliknya hidup dalam keserakahan, kepalsuan, kesewenang-wenangan, yang pastinya mencelakakan. Pilihan hidup di dalam kasih, keadilan, kebenaran dan kerelaan untuk mau berkorban mengharuskan setiap umat senantiasa bersyukur dan taat kepada kehendak Allah. Salam sehat dan selamat Natal.

* Penulis adalah lulusan STT Nommensen, Pematang Siantar, Sumatera Utara. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here