Maretta Dian Arthanti Termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2020 Pilihan NARWASTU”

20
Maretta Dian Arthanti. Peduli rakyat

Narwastu.id – Setiap akhir tahun Majalah NARWASTU yang kita cintai ini selalu hadir dengan sajian khusus, yakni menampilkan “21 Tokoh Kristiani Pilihan Majalah NARWASTU” selain tulisan-tulisan seputar Natal dan menyambut tahun baru. Seperti tahun-tahun lalu, tokoh-tokoh yang ditampilkan ini merupakan figur yang pernah diberitakan di majalah ini. Dan mereka dianggap Tim Redaksi Majalah NARWASTU figur yang inspiratif, mampu memotivasi, Pancasilais dan peduli pada permasalahan gereja dan masyarakat. Ke-21 figur ini diseleksi Tim Redaksi NARWASTU dari 100 lebih tokoh Kristiani yang pernah dipublikasikan Majalah NARWASTU.

Dan ada di antaranya berlatar belakang rohaniwan, akademisi, pakar hukum, pimpinan partai politik, wakil rakyat, pimpinan gereja, motivator, pejabat negara, jenderal purnawirawan, pengusaha, pimpinan ormas Kristen dan jurnalis. Majalah NARWASTU menilai mereka adalah sosok-sosok berpengaruh dan bisa menjadi teladan di tengah masyarakat. “Tokoh-tokoh yang kami tampilkan ini dikenal karena aktivitasnya yang menginspirasi, punya ide-ide atau pemikiran-pemikiran yang inovatif, mencerahkan, bahkan kontroversial, sehingga tak jarang jadi pembicaraan publik atau pemberitaan di media,” kata Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos, kepada pers baru-baru ini di Jakarta.

“Tokoh Kristiani yang ditampilkan ini, kembali kami garisbawahi merupakan sosok yang pernah muncul dalam pemberitaan majalah ini. Dan mereka pernah ‘membuat berita’ atas kiprah atau kegiatannya yang positif. Ke-21 tokoh ini bukanlah figur yang sempurna, karena mereka pun manusia biasa. Namun kami menilai mereka insan-insan Indonesia yang ikut membangun peradaban di tengah masyarakat dan bisa menularkan nilai-nilai kebaikan atau hal-hal yang positif pada sesama. Dan ke-21 tokoh ini sudah kami seleksi sejak Agustus 2020 lalu, dan profil singkat yang dipublikasikan ini merupakan apresiasi kami sebagai insan media bagi mereka di akhir tahun 2020 ini,” pungkas Jonro Munthe, yang merupakan lulusan Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jakarta, alumni Lembaga Pendidikan Pers Doktor Soetomo (LPPDS) Jakarta, dan peraih award sebagai “Jurnalis Muda Motivator 2009 dari Majelis Pers Indonesia.”

Ke-21 tokoh Kristiani 2020 pilihan Majalah NARWASTU kali ini, yakni (1) Mayjen TNI (Purn.) Jan Pieter Ate, M.Bus, M.A., (Mantan petinggi di Kementerian Pertahanan RI), (2) Febry Calvin Tetelepta, M.H. (Deputi I Kantor Staf Presiden RI), (3) Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST (Teolog HKBP), (4) Pdt. Wilhelmus Latumahina/alm. (Pencipta lagu “Hidup ini Adalah Kesempatan”), (5) Kamaruddin Simanjuntak, S.H. (Pengacara), (6) Dr. Rofinus Neto Wuli, Pr. S.Fil., M.Si (Rohaniwan), (7) Hulman Panjaitan, S.H., M.H. (Pakar hukum), (8) Yunie Murwatie, S.E., CTM (Pengusaha), (9) Dr. Sahat HMT Sinaga, S.H. (Penatua gereja dan notaris), (10) Derman P. Nababan, S.H., M.H. (Hakim Pengadilan Negeri), (11) Pdt. Nicodemus Sahbudin, M.Th, M.A. (Rohaniwan), (12) Danang Priyadi, M.M. (Motivator), (13) Darwis Manalu (Pengusaha dan penatua gereja), (14) Dr. Ir. Rahmat Manullang, M.Si (Cendekiawan), (15) Frans M. Panggabean, M.M., MBA (Pengusaha), (16) Dwi Sapta Sedewa Brata (Cendekiawan), (17) Murfati Lidianto, S.E., M.A. (Anggota DPRD Kota Bekasi), (18) Maretta Dian Arthanti (Anggota DPRD Banten), (19) Dr. Ir. Martuama Saragi, M.M. (Tokoh masyarakat), (20) Drs. Paul Maku Goru, M.M. (Jurnalis senior), dan (21) Sahat M.P. Sinurat, S.T., M.T. (Pimpinan ormas Kristen). 

Wakil Rakyat dari PSI yang Melayani Warga Banten

Wakil rakyat yang satu ini dikenal rajin turun ke lapangan melihat kondisi masyarakat, tak heran kalau ia cukup merakyat di daerah Banten. Saat ini pun wakil rakyat dari PSI (Partai Solidaritas Indonesia) ini giat berkampanye untuk calon kepala daerah nasionalis yang didukung partainya. Maretta Dian Arthanti, tak pernah membayangkan dirinya akan duduk sebagai anggota DPRD di Komisi II, Banten. Setelah terjun di panggung politik, matanya kian terbuka, bahwa sebagai wakil rakyat ia harus memiliki kepekaan untuk meresponi suara masyarakat agar aspirasi mereka terjawab.

Maretta menyadari bahwa berlaga di kancah politik merupakan pengalaman baru baginya. Sis Maretta, demikian sapaannya, tidak terlalu ambisius, namun bisa berjuang memperkenalkan PSI sebagai partai yang memberikan harapan baru, dan memiliki idealisme kebangsaan sudah cukup membahagiakannya. Terlebih ketika ibu dari satu anak inilah yang mendapatkan suara tertinggi di tingkat provinsi di pemilu lalu. “Saya menyadari  keberhasilan ini bukan murni usaha saya. Tapi dari totalitas suara partai untuk mendorong ke satu kursi di provinsi, dan tentunya juga karena tangan Tuhan,” ujar Maretta soal prosesnya bisa jadi anggota DPRD Banten.

Saat ini tanggung jawabnya memang besar. Istri dari Adrianus Agung Nugroho, S.H., M.H., pengacara dan  aktif dalam kegerakan pria sejati CMNI Banten ini, bersyukur karena Tuhan mengirimkan penolong-penolong terbaik untuk mengawal dirinya. Dalam pekerjaannya ini tangan Tuhan selalu menopangnya. Ia selalu waspada, namun ia tak khawatir berlebihan. Ia cepat belajar dan tetap berjalan dalam Tuhan.

21 Tokoh Kristiani 2019 Pilihan Majalah NARWASTU saat menerima penghargaan di Graha Bethel, Jakarta Pusat, pada 11 Januari 2019. Pemberian penghargaan seperti ini sudah dimulai sejak 2007 lalu di Gedung LPMI, Jakarta Pusat.

Perempuan kelahiran Malang, 30 Maret 1980 ini kini duduk di Komisi II yang membidangi perekonomian. Menurutnya, sesungguhnya sebagai anggota dewan yang dibutuhkan bukan pendidikan atau gelar. Tapi justru kemampuan agar memiliki hati untuk merespons aspirasi masyarakat. “Berpengalaman di politik, tapi minim respons nggak guna juga,” tegas Alumnus Unika Soegijapranata, Semarang, Jawa Tengah ini.

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos diwawancarai wartawan TV, media cetak dan online di sebuah acara pemberian penghargaan kepada 21 tokoh Kristiani Pilihan Majalah NARWASTU.

“Negara punya apa dan masyarakat butuh apa. Nah, kitalah di tengah-tengah. Bagaimana kita menerjemahkan kebutuhan masyarakat. Bagaimana pun politik itu bicara kekuasaan. Tapi setidaknya satu perwakilan rakyat itu ada. Saya tidak pesimis, minimal ada perwakilan daripada tidak sama sekali,” tukasnya.  Ia sadar bahwa segala sesuatu tidak bisa dikerjakan secara sepihak, negara sudah membagi peran dan kewenangannya masing-masing. Ada legislatif, yudikatif dan eksekutif. Tiga lembaga negara ini harus memiliki frekuensi yang sama untuk memajukan bangsa dan mensejahterakan rakyatnya. Ia berprinsip mendahulukan kepentingan rakyat di atas segalanya, dan bukan golongan apalagi diri sendiri.

Maretta jadi wakil rakyat mewakili daerah pemilihan (Dapil) Tangerang Selatan, meliputi Serpong, Serpong Utara, Pamulang, Ciputat, Setu, Ciputat Timur, dan Pondok Aren. “Dengan posisi satu orang di Banten sebenarnya bisa menarik semangat teman-teman di Banten untuk bisa terus bersama-sama dengan PSI. Karena satu pesan yang harus saya jalankan adalah amanah dari partai, yaitu menebar kebajikan, antikorupsi dan antiintoleransi selain amanah dari rakyat,” ujarnya.

Maretta pun turun ke lapangan untuk mewujudkan aspirasi masyarakat. Pernah ia mencoba menolong seorang ibu prasejahtera yang anaknya menjadi korban pelecehan seksual oleh bapak kandung sendiri. Peristiwa ini membuat dirinya tidak bisa tinggal diam, membayangkan bagaimana agar anak dan keluarga ini bisa tetap memiliki masa depan. Maka ia putuskan untuk berbuat sesuatu. “Saya dampingi ke kantor polisi, psikolog anak dan mengurus masalah pendidikan serta kependudukan keluarga itu. Saya bekerjasama dengan P2TP2A, salah satu unit pemberdayaan perempuan dan anak yang menfokuskan kekerasan perempuan dan anak. Saya juga melihat banyak masyarakat yang gaptek (gagap teknologi) dan masih bingung isi formulir untuk dapat memiliki KTP. Nah, di sinilah bagaimana hak-hak sebagai warga Tangsel bisa terwujud dan saya perjuangkaan. Saya bersyukur dengan kewenangan saya bisa membantu mereka,” katanya.

Baginya, membantu masyarakat tanpa memandang suku, agama dan status sosial, merupakan sebuah anugerah dari Tuhan yang patut disyukurinya. Panggilan sebagai anggota dewan diyakininya merupakan cara Tuhan untuk memperbesar kapasitasnya agar dapat melayani sesama. “Tuhan mau pakai saya lebih luas bukan hanya di lingkup gereja, tapi di masyarakat. Melayani makhluk Tuhan siapapun mereka, iya, berarti saya melayani Tuhan,” ungkap anggota jemaat dari GBI Christ Cathedral, Tangerang ini.

Di DPRD Banten total anggota dewan berjumlah 85 orang dengan kuota perempuan 15 orang, termasuk Maretta, dan satu-satunya Kristiani. Kendati demikian ia tidak pernah merasa sebagai minoritas, tapi punya hak dan kesempatan yang sama. Ia bersyukur menjadi kader PSI. Betapa tidak, dalam setiap kegiatan yang dilakukannya, di situ anggotanya dituntut untuk terbuka dan transparan. Maretta berkisah PSI memperlengkapi sebuah aplikasi agar kadernya bisa melaporkan seluruh aktivitas yang dapat diketahui oleh semua orang. Termasuk agenda dan jadwal kegiatan, sehingga tidak ada kesempatan untuk memanipulasi karena ada kontrol ketat.

Maretta kini disibukkan untuk melayani sesuai panggilannya sebagai abdi masyarakat. Ia menyadari kalau keberhasilannya bisa duduk sebagai anggota dewan sesungguhnya karena anugerah Tuhan dan dukungan dari keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Namun, Maretta tetap memprioritaskan keluarga sebagai urutan kedua setelah Tuhan.

Bicara soal keluarga, menurutnya, keterbukaan adalah awal dari pemulihan, dan itu pula ia terapkan dalam kehidupan keluarganya. Sebagai seorang istri dengan posisinya saat ini, tentu memiliki kapasitas yang besar. Tapi ia tetap harus tunduk pada otoritas suami, dan berperan sebagai penolong, serta  bukan perongrong dalam keluarga. Ia merasa harus bisa bertanggung jawab sebagai istri dan ibu yang memberi teladan bagi buah hatinya. Ia pun berharap jika suatu hari nanti bisa memiliki sebuah lembaga untuk para kaum milenial yang bisa membawa milenial pada kesuksesan di dalam Tuhan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here