Tetaplah Berdoa

* Oleh: Dr. Tema Adiputra Harefa, M.A.

56

Narwastu.id – Bila saya ingat judul di atas, maka terbayang kembali sekian tahun lalu saat saya sebagai dosen mata kuliah agama Kristen di kampus S1 swasta, Jakarta. Pada saat mengajar di kelas pagi di hadapan 20-an mahasiswa saya bertanya: Siapa di antara Anda yang tadi pagi, saat baru bangun dari tempat tidur lalu langsung berdoa untuk mengucap syukur pada Tuhan? Dan, siapa di antara Anda saat hendak meninggalkan halaman rumah, sudah berdoa sebelumnya di dalam rumah? Nah, saya minta pada mereka untuk menjawab jujur. Ini hasilnya, hanya 20%-an yang mengangkat tangannya. Melihat hasil tersebut, saya katakan, yang tidak mengangkat tangan berarti tidak berdoa, ya? Malah mendahulukan membuka HP/Medsos, ya? Mendengar pertanyaan dari saya itu, mereka hanya senyum-senyum malu. Ya, selanjutnya saya “kuliahi” mereka tentang pentingnya berdoa.

Tetaplah berdoa! Hanya dua kata. Mudah mengucapkan tapi sulit melaksanakan. Padahal berdoa itu artinya tetap tinggal di hadapan Bapa, senantiasa berseru mendambakan kasih karunia dan berkat-Nya. Berdoa itu sarana berkomunikasi dengan Tuhan, sehingga kita semakin dekat dan melekat pada-Nya, dan pada akhirnya mengetahui apa yang Dia inginkan dari hidup kita. Sedangkan tetaplah berdoa, makna kata “tetaplah” kita artikan: Tidak berarti terus menerus mengucapkan doa yang formal. Sebaliknya, yang dimaksudkan ialah berulang-ulang menaikkan bermacam-macam doa pada segala kesempatan sepanjang hari.

Lukas 18:1 (TB)…Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.

Kolose 4:2 (TB)…Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur. Berdoa, sangat penting dalam kehidupan orang Kristen. Doa adalah nafas kehidupan rohani pengikut Kristus. Haruslah menjadi prioritas. Tuhan Yesus memberi teladan dalam hal ini. Di dalam Markus 1:35…Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.

Oleh sebab itu janganlah kita “permainkan” masalah berdoa ini. Di masa sangat susah ini, masa menghadapi pandemi Covid-19 ini, masihkah kita malas berdoa? Apakah kita begitu sangat percaya diri bahwa tanpa berdoa, tanpa mohon belas kasihan Tuhan kita akan mampu bertahan hidup? Saat ini, “jalan buntu” begitu banyak hadir di setiap solusi yang hendak kita cari. Mengapa? Karena, manusia sangat terbatas pikiran dan kreativitasnya. Manusia, ternyata sekarang barulah “terlihat” di seluruh dunia bagaimana umat berdoa di berbagai tempat mohon dihindarkan dari incaran elmaut virus Corona. Manusia, tidak berdaya. Dia mudah putus asa. Pikirannya buntu. Dia memerlukan pertolongan dari Sang Penciptanya.

Maka, sama halnya dengan jemaat di Tesalonika, tempat pelayanan Paulus dan Timotius yang memberi semangat pada jemaat tersebut untuk tetaplah berdoa (1 Tesalonika 5:17). Agar mereka dimampukan menghadapi dan mengatasi kegelisahan/problema hidup yang ada saat itu. Firman Tuhan adalah jalan keluar/solusi utama dalam menjawab berbagai problema/kegelisahan hidup orang-orang yang percaya pada Yesus Kristus. Pun hal yang sama terjadi pada masa sekarang. Dengan merenungkan firman Tuhan dan berdoa serius tulus untuk dimampukan melaksanakan pesan firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari kita, maka Tuhan memelihara hidup kita. Dia menyertai kita. Kita jadi kuat, semangat, sukacita, dan yakin akan ada pertolongan Tuhan tepat waktu bagi kita saat menghadapi persoalan hidup seberat apapun. Jangan pernah lupakan firman Tuhan ini: Matius 6:33-34 (TB)…Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu khawatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.

Mengakhiri renungan ini, saya sampaikan kesaksian hidup saya. Sekitar 15 tahun lalu, uang di dompet saya sudah sangat “gawat darurat.” Dan semangat untuk tugas siaran malam di acara rohani pun terganggu. Namun, saya paksakan diri saya untuk berdoa dan berangkat tugas menjadi moderator. Tetapi di perjalanan ke studio, ada pengamen bocah cilik dengan wajah memelas menatap saya dan meminta uang. Kami hanya berdua di dalam mikrolet itu. Entah mengapa terjadi pergumulan di hati saya hanya untuk merelakan memberi uang receh padanya. Saya ingat, akhirnya, saya ikhlas melepaskan dua ribu rupiah. (Karena besok pasti akan habis uang sisa sedikit di dompet saya). Nah, usai memberikan uang receh dengan hati tulus itu, saya merasa lega dan lanjut menuju ke studio untuk siaran jam 10 malam. Malam itu ada tamu di acara kami, yakni seorang Ibu Pendeta yang juga memiliki perusahaan bisnis. Dan saya laksanakanlah tugas saya dengan penuh tanggung jawab.

Usai siaran, Ibu Pendeta itu tiba-tiba memanggil saya untuk masuk kembali ke dalam studio. Dan tidak ada orang lain yang melihat. Kemudian dia memberikan pada saya amplop putih dengan berkata, “Tolong terima ini berkat dari Tuhan untukmu.” Saya sangat kaget. Tidak pernah hal ini terjadi, karena Ibu Pendeta ini sudah sering diundang oleh pengurus lembaga yang mengisi acara di radio tersebut. Tentu, dengan ucapan syukur saya terimalah “berkat” yang diberikannya itu. Tidak langsung saya buka amplop itu. Setiba saya di rumah, di dalam kamar saya berdoa dulu sebelum membuka amplop tersebut. Dan…betapa saya terisak-isak, melihat jumlah yang ada di dalamnya yakni: persis 200 kali lipat dari uang receh yang saya berikan pada pengamen bocah cilik yang menatap mata saya penuh harap di dalam mikrolet. Sungguh juga saya rasakan pertolongan Tuhan tepat waktu bagi saya.

Ya, setiap kita tentu memiliki pengalaman rohani saat Tuhan menolong kita tepat waktu. Poin saya adalah, tetaplah berdoa, memuji dan menyembah Tuhan dan memohon pertolongan-Nya. Pertolongan dari Tuhan di masa-masa lalu jangan pernah lupakan, karena DIA pun akan menolong kita saat ini, dan di hari-hari ke depan. Amin. (Renungan ini pengembangan dari Renungan yang disampaikan penulis di acara Mimbar Agama Kristen TVRI Siaran Nasional, Oktober 2020).

 

* Penulis adalah akademisi, rohaniwan, penyiar senior di radio dan anggota pengurus FORKOM NARWASTU (Forum Komunikasi Tokoh-tokoh Kristiani Pilihan Majalah NARWASTU).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here