Sabar Menanti

* Oleh: Pdt. Rachman Tua Munthe, M.Th

287

Narwastu.id – Kata “nanti” adalah waktu yang tidak lama dari sekarang. Jadi menanti itu menunggu dalam waktu yang tidak lama akan tiba. Hidup kita di dunia ini adalah hidup yang selalu menunggu. Pagi hari menunggu waktu sarapan, menunggu jam mulai kerja. Seterusnya, menunggu waktu makan siang, menunggu waktu senja. Sesudah malam hari menunggu terbitnya matahari pagi. Para pemuda menunggu waktunya menikah. Suami istri yang baru menikah menunggu kelahiran anak pertama. Orang lanjut usia dan umur sudah panjang sekali, menunggu panggilan Tuhan meninggalkan dunia ini.

Bagaimana bila yang kita hadapi kehadiran atau kejadian yang kita nanti-nantikan, tapi tertunda? Misalnya, penceramah utama yang seharusnya sudah bicara, tetapi belum tiba, katanya pesawat terbangnya tertunda, delay? Atau kelahiran anak pertama yang menurut jadwal perkiraan dokter kandungan, sudah beberapa minggu belum juga terjadi? Dari beberapa contoh di atas, mungkin ada orang bergembira karena suatu acara tertunda, tapi sebaliknya ada orang waswas atau bersedih karena suatu peristiwa yang diharapkan tertunda.

Bila suatu kejadian yang kita nantikan jelas jadwalnya, kemudian tertunda. Berbeda dengan sesuatu peristiwa yang kita tunggu hanya perkiraan, kemudian perkiraan itu meleset. Namun persiapan, kesiapsiagaan atau kewaspadaan yang perlu dilakukan tetap sama saja. Bagaimana sikap kita pada waktu menanti atau menunggu saat-saat yang kita harapkan, yang tepat jadwal atau tertunda? Menurut saya, jawabnya sabar menanti atau sabar menunggu.

Kata “sabar” adalah suatu sikap menahan emosi dan keinginan, serta bertahan dalam situasi sulit dengan tidak mengeluh. Orang-orang yang sabar ialah mereka yang mampu mengendalikan diri. Sikap mengendalikan diri ini mempunyai nilai tinggi dan menggambarkan jiwa orang yang kokoh. Dikatakan dalam Pengkhotbah 7:9, “Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh.” Orang yang mampu mengendalikan diri, memiliki sikap menahan marah. Dan siapa yang mampu menahan marah, selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar, rela mengasihi dan membantu sesamanya (Efesus 4:2). Paulus menghendaki agar kita jangan jemu-jemu berbuat baik (Galatia 6:9). Tetap berbuat yang baik pada saat menanti datangnya yang kita harapkan, pada waktunya kita akan menuai hasil. Karena itu dalam keadaan apa pun jangan menjadi lemah.

Kita harus tetap bekerja pada waktu jeda yang telah ditentukan, tepat waktu atau kemudian molor lagi. Seperti Yakub yang terus bekerja dari 7 tahun menjadi 14 tahun demi cita-citanya memperistri Rahel yang dicintainya. Dia menganggap 7 tahun itu beberapa hari saja (Kejadian 29:20). Yakub tidak menimbulkan perbantahan, karena dia bukan si pemarah (bdk. Amsal 15:18).

Pada waktu menanti perlu tetap “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” (Roma 12:12). Dan tidak menjadi “sarombang” (serupa) dengan orang yang bersikap tidak baik selama ini. Orang yang sabar menanti, dia tetap hidup dalam kasih, murah hati; tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong (1 Korintus 13:4). Sabar menanti tetap bersandar dan mengandalkan Allah dalam pekerjaan dan dalam usaha mencapai cita-cita. Seperti tertulis dalam Mazmur 27:14 “Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!” (Depok, 23 September 2020).

 

* Penulis adalah mantan Kepala Biro Informasi Kantor Pusat HKBP, dan mantan Praeses HKBP Sumbagsel serta pernah melayani di Gereja HKBP Sudirman, Jakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here