Pikiran dan Sikap Theophilus Bela di Tengah Umat Beragama

107

Narwastu.id – Di kalangan tokoh lintas agama dan pemuka Kristiani di Indonesia, nama Theophilus Bela, M.A. tak asing lagi. Ia pernah menduduki sejumlah jabatan penting di ormas Kristiani, seperti Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ). FKKJ selama ini aktif dalam membangun kerukunan dan kedamaian di tengah umat beragama, khususnya di DKI Jakarta. Tak heran, kalau nama pria asal Nusa Tenggara Timur (NTT) ini tak asing lagi di kalangan tokoh-tokoh nasionalis. Buku berjudul “Di Tengah Hambatan Beribadah Umat Kristiani” yang ditulis Drs. Paul Maku Goru, M.M., Pemimpin Redaksi kitakatolik.com ini setebal 322 halaman, dan terdiri dari 10 bab.

Di buku ini dikisahkan perjalanan hidup, kesaksian dan pemikiran Theophilus Bela, sejak muda hingga berkiprah di tingkat nasional hingga internasional.

Ada sejumlah tokoh yang memberi pendapatnya tentang Theophilus Bela di buku ini. “Dengan teliti ia mencatat di mana ada kejadian intoleransi, dan melibatkan diri secara pribadi, mengunjungi tempat-tempat yang mengalami masalah, bicara dengan mereka yang terlibat. Pak Theo dipercayai sebagai salah satu aktivis hubungan antar umat beragama” ujar Prof. Dr. Franz Magnis Suseno, SJ. “Meski berusia lanjut, saya masih melihat semangat yang tetap menyala-nyala dalam memperjuangkan serta mengurus tempat-tempat ibadah yang mengalami gangguan tanpa pamrih” ujar Pdt. M. Ferry H. Kakiay (Ketua Umum FKKJ).

Tokoh KWI ini juga memberi komentarnya. “Pak Theo Bela yang saya kenal adalah pribadi yang tulus, mempunyai komitmen sangat kuat, khususnya dalam mewujudkan perdamaian. Salah satu jalan utama menuju perdamaian adalah membangun persaudaraan di antara umat yang berkeyakinan iman berbeda, baik pada tingkat pimpinan maupun pada tataran akar rumput. Rasanya sebagian besar energinya beliau curahkan dalam perjuangan ini” cetus Mgr. Ignatius Suharyo, Pr., Uskup Agung Keuskupan Agung Jakarta.

Tokoh PDI Perjuangan ini pun ikut berkomentar. “Pak Theo mampu memobilisir perhatian dan dukungan dari segala penjuru dunia untuk memberikan perhatian pada persoalan kehidupan kerukunan umat beragama di Indonesia. Peran ini sampai saat ini masih digeluti oleh Pak Theo bersama dengan tokoh-tokoh nasional lintas agama seperti mantan Ketua PP Muhamadiyah Din Syamsudin dalam organisasi Interfaith Dialog,” kata Dr. Andreas Hugo Pareira, anggota DPR RI F-PDIP.

Juga cendekiawan Muslim terkemuka ini memberi pendapatnya. “Pak Theo Bela adalah pribadi yang saleh dan humanis dengan kepedulian untuk penguatan saling pengertian dan penghargaan di antara umat dan komunitas agama berbeda. Tetapi dia juga adalah sosok yang terus terang dan berani menanyakan hal-hal sensitif pada saya baik tentang wacana, pikiran, konsep dan praksis keagamaan tertentu yang sensitif bagi sebagian orang,” papar Prof. Azyumardi Azra, CBE. Buku ini menarik dibaca dan dikemas dengan bahasa yang mudah dicerna oleh Paul Maku Goru. Dan kaum muda perlu membaca buku yang terasa menginspirasi ini.

Sekadar tahu, penulis buku ini, Paul dilahirkan di Bajawa, Flores, NTT,  5 Juli1963. Paul yang mantan Pemred Tabloid “Reformata” dan salah satu pengurus DPP Perkumpulan Wartawan Media Kristiani Indonesia (PERWAMKI) menghabiskan pendidikan menengah dan tingginya di lingkungan seminari. SMP dan SMA di Seminari Menengah St. Yohanes Berchmans, Toda Belu, Ngada, Flores, dan kemudian dilanjutkan di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi, Ledalero, Maumere, NTT. Berbekal ijasah S1 dalam bidang filsafat, sejak 1992 ia bekerja di Jakarta sebagai jurnalis, dosen dan personalia.

Beberapa buku pernah diterbitkannya antara lain, “Mereka pun Kembali Bersujud” (Kumpulan Kesaksian Figur Publik); “Bila Mereka Mengatakan Yesus Bukan Tuhan, Apa Jawab Anda“; “Jangan Sobek Surat Nikahmu” dan “Mengapa Kristen Ditolak.” Paul pun pernah berkarya di Tabloid “Jemaat Indonesia“, dan sudah ikut juga sekarang memberi pelatihan jurnalistik di PERWAMKI serta menyiapkan wartawan-wartawan muda Kristiani.

Buku “75 Tahun Theophilus Bela: Di Tengah Hambatan Beribadah Umat Kristiani” mengungkap perjuangan seorang aktivis kebebasan beragama yang selama dua dekade lebih memperjuangkan hak beribadah dan ketenangan beribadah, khususnya untuk umat Kristiani. Dalam kiprahnya, Theo Bela pernah pula termasuk dalam “20 Tokoh Kristiani 2010 Pilihan Majalah NARWASTU.” Dan oleh Majalah NARWASTU Theo Bela dijuluki “Pembawa Suara Kerukunan dari FKKJ” dan dinilai sosok yang nasionalis dan religius. FG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here