Cinta Uang: Akar dari Segala Kejahatan

* Oleh: Fredrik J. Pinakunary, S.H., S.E.

20

Narwastu.id – 1 Timotius 6:9-10, “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan; Karena akar dari segala kejahatan ialah cinta uang.”

Artis FTV dan selebgram Hanna Hanafiah mendadak populer setelah ditangkap polisi di salah satu hotel di Medan, Sumatera Utara, atas dugaan tindak pidana prostitusi. Menurut Kapolrestabes Medan, Kombes Pol. Riko Sunarko, alasan Hanna Hanafiah ketagihan dengan dunia prostitusi lantaran uang banyak yang diperoleh dari aktivitas itu (Jatimtimes.com, 15 Juli 2020). Selanjutnya proses hukum akan berjalan bagi mucikari, Hanna Hanafiah dan juga pria yang digrebek bersamanya di kamar hotel itu.

Sahabatku, adalah baik memiliki hidup yang diberkati secara finansial karena Yesus Kristus datang untuk memberikan kita hidup, hidup dalam segala kelimpahan (Yohanes 10.10b). Persoalan muncul ketika kita menjadi pribadi yang mencintai uang karena dengan itu, uang akan menjadi majikan dan kita hambanya. Sebagai majikan, uang akan menyuruh kita melakukan berbagai hal yang bertentangan dengan Firman Tuhan, antara lain seperti dilakukan Hanna Hanafiah.

Sebaliknya jika kita menjadi  tuan atas uang, maka kita dapat memerintahkan uang untuk memfasilitasi berbagai hal baik, seperti membantu orang yang berkekurangan di masa pandemi ini, memberkati anak yatim piatu di panti-panti asuhan yang sekarang ini kesulitan karena donatur mereka pun terimbas krisis akibat Covid-19, mendukung pelayanan pekabaran Injil yang menjangkau orang-orang di daerah terpencil yang belum pernah mendengar nama Yesus Kristus, dan lain-lain. Intinya uang adalah hamba yang baik tetapi tuan yang jahat.

Sepanjang kita dapat menjadi tuan, uang yang kita miliki tidak akan membawa kita kepada kehancuran, bahkan sebaliknya kita dapat menjadi saluran berkat. Saudaraku, percayalah bahwa Yesus Kristus, sang kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan (kejahatan) dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini (Titus 2.11-12). Mereka yang mempercayai hal itu akan menjadi pribadi yang baik, berintegritas dan bijaksana dalam menjalani kehidupan. Amin.

 

* Penulis adalah advokat/pengacara, Ketua Umum Perhimpunan Profesi Hukum Kristiani Indonesia (PPHKI), dan anggota Forum Komunikasi Tokoh-tokoh Kristiani Pilihan Majalah NARWASTU (FORKOM NARWASTU).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here