Bertahan Atau Menyerah?

* Oleh: Dr. Tema Adiputra Harefa, M.A.

58

Narwastu.id – Di masa menghadapi pandemi Covid-19 ini ada banyak pengalaman khusus dialami banyak orang. Paling tidak di DKI Jakarta khususnya, saat saya menulis ini baru saja diterapkan lagi PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) setelah “new normal” belum lama dinikmati. Pengalaman kembali lagi ke PSBB jelas sangat menjengkelkan bagi masyarakat yang berbulan-bulan telah “mati-matian” untuk hidup berdisiplin ketat. Taat sepenuhnya pada protokol kesehatan: Menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan. Namun, apa yang terjadi? Gegara sebagian masyarakat pun memiliki kelakuan yang bertolak belakang dengan “3M” di atas, maka penyebaran Covid-19 terus meningkat, yang terpapar semakin bertambah. Dan ini sangat berbahaya. Inilah realitanya.

Di sisi lain, kenyataan yang ada, sebagian besar masyarakat pun mulai mengalami kesulitan keuangan. Penghasilan semakin berkurang bahkan telah buntu, sedangkan biaya keperluan hidup sehari-hari tetap ada dan harus dicari. Sangat dilematis. Hal ini sangat menjadi beban hidup yang lama kelamaan tidak tertanggungkan lagi. Yang pada akhirnya dapat membawa seseorang pada kemenyerahan hidup.

Tetapi, harus juga kita akui, sebagian dari kita yang memiliki iman Kristen yang teguh tidak mau larut dalam persoalan yang ada. Tidak mau terus-menerus menatap gunung persoalan yang ada. Yang harus dipikirkan dalam-dalam adalah mencari solusi dari problema hidup yang sangat berat dan mendunia ini. Ada keyakinan bahwa bila dulu bahkan semenit yang lalu, Tuhan saja sudah menolong dan memelihara hidup kami, maka kami pun akan hidup terus oleh karena kasihNya. Ouuuwww…tidak mudah memiliki prinsip iman seperti ini.

Mari kita ingat kisah nyata ini: Yohanes 21:1-6 (TB), Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-muridNya di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut.

Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang muridNya yang lain. Kata Simon Petrus kepada mereka, “Aku pergi menangkap ikan.” Kata mereka kepadanya, “Kami pergi juga dengan engkau.” Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus.

Kata Yesus kepada mereka, “Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?” Jawab mereka, “Tidak ada.”

Maka kata Yesus kepada mereka, “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh.” Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan.

Sangat kuat pesan iman dari kejadian di atas yang dapat kita aplikasikan dalam kehidupan kita saat ini. Yakni, kalau saja murid-murid Yesus dalam perahu itu terus larut dalam keputusasaannya, kebingungannya, dan akhirnya menyerah dan menerima “nasib” maka, sia-sialah semua waktu, tenaga, pikiran, dana yang telah mereka keluarkan. Tetapi, nyatanya tidak, bukan? Mereka tidak menyerah dan tidak putus asa. Mereka membuka hati dan telinga rohani untuk mendengar “suara” Tuhan, dan melaksanakannya dengan cepat. Dan terjadilah, berkat dan pemeliharaan Tuhan langsung mereka peroleh. Demikianlah para pembaca, jangan pernah berhenti melaksanakan firman Tuhan yang kita baca dan renungkan setiap hari. TUHAN akan berkarya memberkati dan memelihara hidup kita. Amin.

* Penulis adalah akademisi, rohaniwan, jurnalis senior dan anggota pengurus FORKOM NARWASTU.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here