Harus “Berdamai” dengan Covid-19?

* Oleh: Yohanes Handoyo Budhisedjati, S.H.

18

Narwastu.com – Suasana pandemi Covid-19 saat ini seharusnya masih menghantui Indonesia. Angka positif terkena Covid-19 menunjukkan kenaikan dalam beberapa minggu terakhir. Tetapi masyarakat DKI Jakarta dan sekitarnya seperti tidak merasakan hal itu. Aktivitas sudah mulai seperti biasa. Lalu lintas sudah mulai padat kembali. Fase transisi ke new normal sangat terasa di pusat perbelanjaan. Walaupun kapasitas pengunjung belum seramai seperti sebelum pandemi menyerang Indonesia, namun suasana keramaian sudah hampir pulih kembali. Toko dan restoran sudah mulai buka seperti biasa. Para pengunjung mall diwajibkan menggunakan masker, cuci tangan/menggunakan hand sanitizer yang disediakan dan cek suhu badan adalah pedoman standar masuk ke pusat perbelanjaan. Beberapa mall menambahkan aplikasi check in dan check out bagi para pengunjung.

Aktivitas transisi menuju era new normal sudah menjadi arahan Pemerintah. Sehingga memang terlihat kehidupan perekonomian mulai menggeliat kembali setelah selama beberapa bulan seolah beristirahat.

Ini menunjukkan bahwa musibah pandemi dan kemerosotan ekonomi dapat berjalan paralel apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat. Tidak aneh kalau seorang Presiden Jokowi sampai naik pitam melihat kelambanan pembantunya dalam menyikapi musibah yang luar biasa ini. Masih banyak pembantu Presiden Jokowi yang tidak menyadari sence of urgency dari situasi Indonesia saat ini. Work as usual masih menjadi perilaku saat seperti ini. Dan kemarahan seorang Presiden RI sampai tertumpah yang kemudian ditanggapi beraneka ragam oleh netizen.

Sangat disayangkan bahwa penanggap kemarahan Presiden Jokowi masih begitu tega memberikan ulasan yang mendiskreditkan Kepala Negara yang sedang menegur pembantunya. Situasi pandemi yang belum dapat diprediksi berakhirnya dengan akumulasi situasi perekonomian dunia yang juga berimbas pada Indonesia menjadikan situasi yang “menyeramkan” terhadap masa depan bangsa. Belum lagi masih banyak masalah internal Pemerintah, birokrat yang belum sepenuhnya loyal dan menjaga integritasnya, masalah penyalahgunaan wewenang, korupsi di kalangan internal birokrasi, dan lain-lain yang masih menjadi beban seorang Presiden RI. Tidaklah mengherankan kalau sampai Presiden Jokowi mengeluarkan pernyataan yang agak keras.

Hendaknya sebagai bangsa, harus menyadari bahwa musibah berupa pandemi dan kekacauan perekonomian dapat disikapi dengan introspeksi dan saling mengingatkan yang positif. Jangan dalam masa sulit seperti ini, masyarakat disuguhi tontonan “maling teriak maling”, kritik yang destruktif, gerakan-gerakan yang ujungnya untuk berebut kekuasaan. Masyarakat tentunya ingin ketenangan karena iklim usaha juga belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan, dunia kerja masih penuh dengan berita perumahan karyawan, pengakhiran hubungan kerja bahkan ketidaksanggupan pembayaran pesangon masih menghantui para pekerja saat ini.

Semua musibah ini hendaknya menjadi pelajaran bersama bagi seluruh anak bangsa agar peningkatan kerja sama untuk mengatasi kesulitan baik karena pandemi Covid-19 maupun ekonomi dapat berlangsung dengan baik. Imbauan berikut yang tidak kalah pentingnya adalah, untuk tidak  menggunakan kesempatan dalam kesempitan saat ini untuk mencari untung. Di tengah musibah pandemi masih ada saja pihak-pihak yang mencari cara untuk meraih untung dalam pendistribusian APD, sembako, dan lain-lain. Tuhan tidak pernah tidur.

 

* Penulis adalah pemerhati ketenagakerjaan dan sosial politik serta Ketua Umum DPN Vox Point Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here